Kekerasan Psikis Sulit Dibuktikan, 7 Hal Ini Bisa Menjadi Tanda Anda Mengalaminya

Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) tidak melulu harus berbentuk fisik. Perbuatan yang menyakiti aspek psikologis juga masuk KDRT.

Dilansir dari solider.id, kekerasan psikis termasuk kasus yang mendapat payung hukum sebagaimana KDRT fisik. Jadi, bila ada orang yang mengalami itu bisa mendapatkan perlindungan, baik dari pihak berwajib maupun organisasi perlindungan perempuan.

Hanya saja, seringkali orang kurang menyadari dirinya sedang mengalami KDRT Psikis. Terutama jika tingkatannya ringan dan tidak begitu serius.

perempuan menangis, gambar perempuan sedih, wanita yang sedih, kekerasan psikis, kekerasan emosional, kdrt psikis, kdrt psikis dalam rumah tangga, kekerasan dalam rumah tangga, kekerasan psikis dalam rumah tangga, tanda istri mengalami kdrt, tanda perempuan mengalami kdrt
kdrt psikis by Pixabay
Kekerasan psikis yang sering mendapat perhatian biasanya hanya kasus-kasus besar. Seperti kasus yang disebutkan di laman kompasiana, kasus yang dialami ibu A. Ia diabaikan terus menerus oleh suaminya dalam waktu lama hingga kehilangan rasa berharga. Ibu A akhirnya sampai bunuh diri karena sikap suaminya itu.

Contoh lainnya adalah adanya ancaman terus menerus akan disakiti (padahal belum terjadi). Misal suami mengancam akan membunuh bila tidak patuh. Melanggar sedikit langsung diancam, sehingga istri selalu ketakutan dan sampai pada depresi.

Kedua contoh KDRT psikis itu mungkin terlalu jelas dan nampak ya. Namun, sebenarnya banyak KDRT psikis yang mungkin dianggap ringan bahkan tidak disadari oleh perempuan.

Sebagaimana disebutkan dalam situs tempo.co, bahwa KDRT psikis punya kompleksitas tersendiri. Ada tanda-tanda bahwa seseorang mengalami kekerasan psikis oleh pasangannya. Mungkin ia tidak sadar, tapi hanya merasakan dirinya tersiksa dan merasa dirugikan. 

KDRT psikis sebenarnya bisa dialami siapa saja, apakah perempuan atau laki-laki. Namun, mayoritas yang mengalami kdrt adalah kaum perempuan. Banyak sumber menyebutkan hal ini. Terlebih lagi, masih adanya budaya yang kental mengenai kekuasaan ada di tangan laki-laki. Maka sangat besar celahnya bagi perempuan mengalami kdrt. 

#1 Menjalani Sesuatu Atas Dasar Paksaan, Bukan Keinginan Sendiri
Bila dalam pernikahan seseorang selalu melakukan sesuatu sesuai keinginan pasangan terus menerus, maka bisa jadi ia mengalami kekerasan psikis. Terutama jika ia tidak bahagia menjalani itu.

Hal yang paling umum adalah adanya kekuasaan pria atas wanita yang menutup ruang komunikasi. Tidak ada celah bagi istri untuk bernegosiasi. Kalaupun ada saatnya suami mendengarkan, namun pada akhirnya istri digiring untuk mengikuti keinginan dan kehendak suami. Pokoknya keputusan final ada pada suami.

Adanya kuasa atas komunikasi dalam pernikahan membuat istri akhirnya selalu menjalani sesuatu bukan karena benar-benar ingin. Namun, karena mengalah dan mencari aman. Tidak ada harapan untuk menyampaikan aspirasi.

#2 Selalu Salah di Mata Pasangan
Bentuk kekerasan lainnya adalah istri selalu salah. Berbuat ini salah, berbuat itu pokoknya semua salah.

Kasus seperti ini terjadi bila pasangan tidak memiliki rasa empati, tidak menghargai istri sebagai pendamping hidup.

Pasangan yang baik biasanya akan mensupport istri jika istri mengusahakan sesuatu. Misal istri masih belajar dalam mengasuh anak, maka suami yang mendukung akan selalu melengkapi kekurangan istri atau jika tidak bisa, ia akan memberikan dukungan positif supaya istri lebih semangat dalam menjaga anak-anak.

Sedangkan suami yang selalu menyalahkan cenderung tidak punya rasa peduli. Apapun yang dilakukan istri bukan mendapatkan dukungan, melainkan memojokkan bila salah dan tidak memberikan pujian jika istri berbuat baik atau berhasil dalam suatu hal.

Hasilnya, istri merasa selalu salah di mata suami. Tidak nyaman dan bahkan kehilangan semangat untuk menjalani peran dalam rumah tangga maupun hal lainnya yang melibatkan komentar pasangan.

#3 Selalu Merasa Kesepian Padahal Suami Selalu Ada
Hidup bersama namun selalu kesepian seolah tidak punya pasangan hidup. Kondisi ini biasanya dialami oleh orang yang diabaikan atau pasangan punya dunia nya sendiri. Entah asik bergaul terus dengan teman-temannya, terlalu sibuk dengan pekerjaan dan chatting di handphone.

Meski terkesan sepele (mungkin), tapi beban istri yang seharian mengurus rumah dan anak, seolah tidak punya reward bila diperlakukan seperti ini.

Jika diabaikan, otomatis istri akan merasa kesepian, merasa bahwa dirinya membosankan bagi suami, tidak berharga lagi.

Padahal istri punya hak selain diberikan nafkah fisik, juga nafkah batin berupa penghargaan, kasih sayang dan perhatian. Mengabaikan juga termasuk kekerasan emosional atau psikis ya.

#4 Merasa Rendah Diri Akibat Selalu Diejek atau Dihina
Bila pasangan selalu mengejek fisik maupun pribadi istri, artinya pasangan termasuk melakukan KDRT psikis. Mengatai istri "gendut", "jelek", "tak punya akal", dan lain-lain adalah perbuatan yang melukai hati.

Ejekan dan hinaan jika dilakukan dalam waktu lama dan terus menerus, apalagi oleh orang yang tinggal satu atap, oleh orang yang dijadikan tempat bersandar, akan menggerus harga diri, baik cepat atau lambat. Istri pada akhirnya mempercayai kata-kata suaminya bahwa ia buruk dan tidak layak merasa berharga.

#5 Kehilangan Kebebasan Bergaul Maupun Berkarya
Sudah menjadi kepercayaan umum bahkan agama, bahwa suami adalah pemimpin. Namun, tidak semua laki-laki mengerti arti kepemimpinannya dalam keluarga.

Memimpin ia artikan sebagai hak paten untuk membuat berbagai larangan, termasuk melarang bekerja, melarang bergaul, hingga melarang istri menekuni sebuah bidang atau passion. Alasannya supaya anak dan dirinya mendapat perhatian penuh.

Masalahnya kemudian adalah banyak juga istri yang (walau terpaksa) harus mengikuti itu. Alasannya takut dosa, takut masuk neraka. Padahal, baik laki-laki maupun perempuan punya hak yang sama dalam porsi bergaul maupun berkarya.

Silahkan cek lagi, apakah benar segala paket pelayanan dan bakti (termasuk: melayani, mengurus anak, membuatkan kopi, servis biologis, pekerjaan rumah) semua tugas istri. Sehingga dengan alasan itu suami harus melarang ini itu karena merasa dirinya pemimpin.

Bila istri sudah merasa dikekang dalam bergaul dan berkarya, artinya kekerasan psikis sedang ia alami. Do something, ladies. Jangan lupa, suami yang agamis sekalipun bisa melakukan kekerasan kepada istrinya, seperti disebutkan dalam sebuah studi yang dipaparkan kompasiana di atas. Jangan karena alasan agama, maka istri harus mengorbankan kebahagiaan. 

#6 Merasa Terancam dan Takut oleh Pasangan
Mungkin pasangan tidak melakukan kekerasan fisik. Namun, prilaku nya membuat takut. Entah itu karena mengancam akan memukul, selalu melotot, atau membentak. Pasangan yang kasar terhadap orang lain maupun binatang juga bisa membuat takut kalau sewaktu-waktu ia akan menyakiti.

Rasa terancam dan takut bila pasangan tipe orang yang terlalu keras dan galak. Meskipun ia tidak secara langsung menyakiti istri. Ia mungkin hanya menakut-nakuti. Tapi, perasaan takut itu sendiri sudah menjadi tanda kekerasan psikis lho.

#7 Tidak Punya Kesempatan Bersuara dan Mengutarakan Pendapat
Saya pernah membaca sebuah penelitian desertasi seorang mahasiswa S3 di sebuah pondok pesantren. Tapi saya tidak bisa melampirkan penelitian itu di sini, baik judulnya, pengrangnya, maupun subjek penelitian. Alasannya untuk menjaga nama baik pesantren yang bersangkutan.

Isi penelitian tersebut menerangkan bahwa istri seorang kyai di sana tidak pernah dilibatkan dalam hal-hal penting. Bahkan untuk membeli mobil keluarga saja, istri tidak diberi tahu. Kyai malah memilih mendiskusikan soal membeli mobil ini dengan beberapa santri laki-lakinya.

Perlakuan tidak setara, tidak diberikan kesempatan menyampaikan pikiran, pendapat, atau bahkan mengambil keputusan, adalah bentuk lain dari prilaku merendahkan istri.

Sayangnya, karena istri merasa bahwa itu wajar dilakukan suami karena doktrin agama, sebenarnya hati kecil mungkin ada rasa sakit dan merasa tidak bahagia. Pikiran membenarkan tapi hati tersakiti.

Kekerasan itu seringkali tidak disadari oleh perempuan. Bahkan perempuan itu sendiri menerima perlakuan suami maupun lingkungan karena patuh kepada budaya turun temurun yang dianggap benar.

Selain faktor doktrin agama, ego pribadi suami juga bisa membuatnya merasa superior. Suami yang melakukan kdrt psikis semaunya menyuruh istri diam, tidak mendengarkan perkataan dan pendapat istri, serta mengambil keputusan sendiri.

Prilaku itu juga adalah jenis lainnya dari kekerasan psikis, karena secara tidak langsung suami merendahkan dan menganggap diri istri tidaklah lebih penting dari dirinya.

Suami yang punya rencana sendiri mengenai masa depan keluarga, mengenai pendidikan anak, mengenai bisnis, bahkan hingga rencana soal istrinya harus bekerja atau di rumah, semua direncanakan sendiri. Pendapat istri tidak dianggap dan dihargai.

Padahal, pernikahan itu dijalani bersama dan dibangun bersama. Tidak ada pimpinan dan bawahan. Tidak ada pemandu dan pengikut. Keduanya saling melengkapi dan mendukung satu sama lain.

Perasaan tidak dianggap penting, kehilangan rasa percaya diri, kehilangan kebebasan, dan lain lain merupakan KDRT psikis. Kondisinya jika parah mungkin bisa dikenali. Namun jika ringan atau mungkin berat tapi disepakati kebenarannya oleh dogma agama maupun budaya, akhirnya istri hanya bisa merasa sakit, namun tidak bisa mengungkapkannya.

Beruntung bila orang yang mengalami KDRT Psikis mendapat dukungan dari orang sekitar. Namun, bila tidak ada orang yang mengerti, sebaiknya istri mulai mencari orang atau media yang bisa membuatnya bangkit dari kondisinya.

Artikel Terkait

Komentar

  1. Ternyata banyak ciri atau tanda kalo seseorang mengalami KDRT ya. Sebaiknya sih dibicarakan dengan pasangan, jgn dipendam, apa yg membuat sang istri (atau suami) merasa tidak nyaman. Dari sini nanti dicarikan solusinya

    BalasHapus
    Balasan
    1. solusi nya memang komunikasi sih kak.. cuma tidak semua pasangan mampu berkomunikasi dengan baik.

      Hapus
  2. nah ini harus di komunikasikan adagar tidak terjadi KDRT, bukan sekedar untuk istri untuk suami juga terkadang memiliki ciri ciri tersebut

    BalasHapus
  3. Begitulah. Banyak yang mengalami KDRT psikis dan fisik tapi diam. Entah diam karena nggak sadar itu KDRT, atau diam karena nggak berani bicara. Ada juga korban KDRT yang "dipaksa diam" oleh pasangan, keluarga, dan masyarakat sekitar.

    BalasHapus
  4. Ngeri jg ya kl kayak gini, jangan2 istriku jg kena kekerasan psikis dr ku kl tiap kerja fokus n abai dgn semua

    BalasHapus
  5. Ketika mencoba terus2an kuat dengan kondisi di atas juga perlu hati2 nih karena nanti berdampak ke kehidupan. Betul harus mencari pertolongan karena pernikahan ya harus terbuka dan kerja sama antar keduanya, ini jadi pembelajaran keterbukaan sebelum menikah untuk para calon nanti ya

    BalasHapus
  6. Jadi catatan penting ini, semoga ke depan tidak mengeluarkan kalimat atau tindakan yang membuat istri tersakiti.

    BalasHapus
  7. Beberapa hari ini aku sering baca isu terkait permasalahan dalam rumah tangga, ada yang selingkuh sampe kekerasan fisik maupun psikis.
    Jadi takut kalo nanti ngalamin hal kayak gini (amit-amit) semoga engga.

    BalasHapus
  8. Iya, yang paling sering adalah minimnya support system yang dimiliki korban. Bahkan, lebih seringnya tak ada support system. Dan keputusan cerai pun tidak bisa langsung dijadikan rujukan. Karena biasanya mereka berpikir mengenai biayanya. Semoga Tuhan melindungi semua perempuan yang menjadi korban kdrt

    BalasHapus
  9. Kdrt emang banyak ya jenisnya.
    Emang yg psikis yg susah dibutuktikan ya.
    Harus berani speak up

    BalasHapus
  10. Banyak perempuan yang lebih memilih diam daripada bersuara, meski KDRT yang dialami sudah fatal. Mereka lebih memilih bertahan daripada keluar dari hubungan yang tidak sehat tersebut. Banyak faktor yang menjadi penyebabnya. Hufh, saya suka sedih kalau ngomongin soal beginian.

    BalasHapus
  11. Alhamdulillah saya gak mengalami tanda2 di atas karena emang suami begitu support dan dewasa pemikirannya malah mngkin aku yang perlu bersikap lebih lembut.

    BalasHapus
  12. Masih banyak masyarakat yang belum paham tentang kekerasan psikis. Di sisi lain, jika ada lelaki yang mengalami KDRT dan bersuara, seringkali dianggap lelaki lemah. Padahal KDRT, apapun bentuknya itu bisa terjadi pada siapa saja. Karena itulah, untuk memilih pasangan hidup harus hati-hati dan dibutuhkan keterbukaan di antara pasangan supaya bisa saling memahami.

    BalasHapus
  13. Kalau baca tentang KDRT gini, rasanya sedih banget
    Pernah lihat salah satu orang dekat jadi korban KDRT bertahun-tahun
    Duh semoga tak ada lagi orang yang jadi korban ya
    Semoga makin banyak yang sadar, betapa indahnya hidup dalam cinta dan kasih

    BalasHapus
  14. Teringat pas sekolah, ada temenku korban kekerasan oleh pacarnya. sedih bangeeet

    BalasHapus
  15. Sebagai wanita ,jika udah mengalami KDRT Psikis semacam itu, sebaiknya segera bertindak. Kita yang nanggung jika lama ditahan. Kadang KDRT Psikis tu lebih menyakitkan ketimbang KDRT fisik. Luka, tapi tak nampak. Bener kan?

    BalasHapus
  16. Subhanallah, semoga saja kita yg sudah berumah tangga jangan sampai mengalami hal demikian.

    Agar rumah tangga lebih harmonis, menurut saya kuncinya hanya satu yaitu saling menghargai antar sesama pasangan dan saling menanamkan rasa percaya

    BalasHapus
  17. Sebagian besar masyarakat menilai yang disebut KDRT itu hanya yang berhubungan dengan fisik. Padahal kekerasan secara psikis sangat besar pengaruhnya pada mental seseorang dan dampaknya lebih bahaya lagi

    BalasHapus
  18. Saya selalu prihatin terhadap para wanita yg jd korban KDRT ini. Tapi lbh prihatin lagi saat istrinya sendiri yg melakukan KDRT pada suami sedangkan suaminya sudah tergolong lelaki baik. Ini fakta yg pernah kutemukan lho. Padahal jika muslim, sungguh surga neraka istri itu ada pada suami.

    BalasHapus
  19. Ternyata KDRT itu bisa dalam bentuk psikis juga, mesti hati-hati sekali ya, Semoga semua para ibu rumah tangga bisa lebih aware lagi

    BalasHapus
  20. Saya setuju poin 5 mbak. Banyak yang begini berdalih dosa ma suami, tapi kadang cerita di luar dia nurut karena terpaksa. Kalau menurut aku mending didiskusikan sih ya daripda bikin sakit.

    BalasHapus
  21. Benar mbak. Perempuan pintar dan cerdas jarus bisa mengutarakan apa-apa yang mengganjal dan dikominikasikan dengan suami. Harus bertindak cepat kalau sekiranya merasa kdrt psikis. Krn kalau dibiarkan terlalu lama bisa timbul trauma

    BalasHapus
  22. Info seperti ini buka. Hanya penting untuk yang sudah berumah tangga. Bagi yang lajang juga perlu tahu, menghindari pelaku yg melakukan kekerasan fisik pada pasangan atau menjadi sasaran kekerasan itu sendiri. Agar bisa lebih menekankan komunikasi yg baik dg pasangannya kelak

    BalasHapus
  23. Kekerasan psikis ini beberapa kali terjadi diteman2 mbak dan saya mendukung mereka karena butuh teman. Sebenarnya jadi pelajaran yang berharga saat lelaki memiliki istri atau pasangan sebaiknya menjaga kalimat dan lebih menghargai seorang wanita.

    BalasHapus
  24. Seorang imam itu akan benar menjadi imam ketika ada makmumnya. Sayangnya banyak yang belum memahami bahwa menjadi imam yang benar, tak hanya harus memiliki kemampuan memimpin, namun juga harus memiliki kemampuan mendengar. Pastinya dalam pernikahan itu butuh SALING. Marriage is about team.

    BalasHapus


  25. Ini adalah dampak jika terjadi kekerasan psikis ya kak... bahaya juga... nah solusinya bagaimana ketika mengetahui seorang perempuan mengalami kdrt psikis

    BalasHapus
  26. Sampai saat ini pun saya gak habis pikir sama laki-laki yang suka menjelekkan fisik dari pasangannya sendiri. Kalau gasuka ya jangan dinikahin. Kata-kata seperti ngejekin istri gendut, jelek, gapunya akal, gapunya otak, itu sebenarnya memang sangat menyakitkan dan melukai perasaan dari si perempuan. Sebagai lelaki tak sepatutnya berkata seperti itu.

    BalasHapus
  27. Benar banget nih, kekerasan gak selamanya pada fisik, justru jika psikis yg sakit itu efeknya bakalan lebih parah.
    Tapi gak perlu ditakuti, semuanya harus dikomunikasikan agar keduanya merasa lega dan nyaman.

    BalasHapus
  28. Ada tuh tetanggaku yang selalu dibilangin oleh suaminya kalau surganya istri ada di suami. Jadi setiap perkataan dan perintah suami harus dijalankan. Kalau membantah dikit ujung-ujungnya bertengkar. Tapi sekarang mereka udah cerai krn ketidakcocokan pendapat

    BalasHapus
  29. KDRT Psikis itu lebih berbahaya dibandingkan KDRT Fisik ya.
    Klo fisik keliatan, bisa kita jadikan bukti. Tp klo psikis, cuma kita yg bisa ngerasain sakitnya kayak apa.
    Berat, aku pernah nemuin RT yg seperti ini. Gak pernah diakui suaminya, dicela2 mulu kerjaannya. Kasian

    BalasHapus
  30. Banyak banget kasus-kasus KDRT psikis ini yah,memang sering lihat sih yang begini. Cuma bisa nangis menahan sakitnya perasaan bahkan hingga depresi gitu. Mau cerita ke orang sekitar pun takut malu juga, ada sih pernah mendapati temen gitu.

    BalasHapus
  31. Tanda-tandanya banyak, kadang disadari, kadang nggak. ada perempuan yang tahan bertahun-tahun, ada yang cuma beberapa minggu. semuanya butuh perlindungan namun sampai sekarang UU yang mendukung perempuan dalam kasus kdrt ini masih juga belum disahkan.

    BalasHapus
  32. selalu salah di mata pasangan, ini kayaknya yang umum terjadi. Emang susah sih kalo udah dijudge salah sama pasangan. apapun pasti dimentahkan. Dan efeknya yang luar biasa kedepannya mempengaruhi psikik orang itu sendiri, :(

    BalasHapus
  33. Ya Allah semoga jangan sampai ya, terjadi lagi dengan korban yang lebih banyak
    kasihan kalau dengan berita begini ini mba. Wanita yang harusnya di sayangi malah dijahati

    BalasHapus
  34. 7 kekerasan psikis ini tuh sebenernua sering terjadi di sekeliling kita... tapi banyak yg belum tahu kalau ada hukumnya. Temenku salah saty contoh yang enggak punya kebebasan berkarya karena suaminya tuh dikit2 ngelarang

    BalasHapus

Posting Komentar