Pantai Menganti, Surga Tersembunyi di Kebumen Jawa Tengah, Bikin Tak Mau Pulang

"The Hidden Paradise", begitu kalimat tertulis di papan kayu. Kayu itu dipaku di salah satu pohon kelapa pantai Menganti. Surga yang tersembunyi, sepertinya sebutan yang tidak keliru untuk pantai yang satu ini. Keindahannya tiada duanya.

Bisa dikatakan tersembunyi karena pantai ini seperti dihalangi bebukitan tinggi. Layaknya harta karun yang berada di tempat tak terjamah. Memang, untuk tiba di destinasi wisata Menganti harus melalui perjalanan menegangkan. Naik turun bukit dan lembah dulu.

Saya dan anak dibonceng suami harus dug dug ser, melewati jalan aspal berkelok kelok dengan perjalanan naik turun yang tajam. Bayangkan saja, jalan menanjak hampir 45 derajat sekaligus belokan tajam. Begitu pula jalan menurun. Benar-benar beresiko.

Tapi, semua ketegangan perjalanan terbayar kontan saat tiba di lokasi. Bahkan, apa yang saya rasakan benar-benar di luar ekspektasi. Tadinya hanya ingin tahu saja seperti apa Pantai Menganti itu. Kepo karena banyak orang menyebutkannya. Rupanya... memang layak dikatakan "The Hidden Paradise" alias surga yang tersembunyi.

bukit sigatel pantai menganti, pantai menganti, bukit sigatel, pantai menganti kebumen,
foto dari atas bukit
Untuk bisa merambah semua area Pantai Menganti, rasanya akan kurang jika hanya setengah hari. Apalagi hanya hitungan jam. Bahkan sehari penuh masih belum puas rasanya.

Tapi, apa daya, waktu dan tenaga kami terbatas. Jadi, hanya spot tertentu saja, yang hanya terlewati saja, yang bisa kami jelajahi. Lain kali, semoga bisa ke sana lagi.

Dimulai dari Jembatan Merah
jembatan merah, jembatan merah pantai menganti, foto jembatan merah pantai menganti, foto jembatan merah
jembatan merah koleksi foto idntimes
Sebenarnya, tidak langsung cus ke jembatan merah. Hanya saja, spot terkenal pertama yang kami tuju adalah jembatan merah.

Sebelum parkir, kami sudah melewati pantai berpasir putih. Tapi kita lewati dulu. Selain area parkir kendaraan di atas bukit, juga suami ingin memulai dari lokasi yang jauh dulu katanya.

Kami langsung berjalan melewati warung-warung penjual kelapa muda dan aneka makanan ringan hingga menu sarapan dan makan siang. Lalu masuk hutan yang rute nya tidak terlalu panjang. Dalam sekejap memasuki area jalan setapak yang dicor. Ada banyak saung atau gazebo di sekitar jalan serta pedagang kecil yang menjual mendoan dan es teh serta kopi. Sedia pula lesehan supaya pengunjung duduk-duduk dulu sambil beli makanan minuman dari sang bakul.

Menuruni bukit masih banyak spot menarik berupa bebatuan yang bisa jadi lokasi swafoto keren. Tangga dan berbagai gazebo sekitar pantai juga layak jadi tempat bernaung. Hanya saja, naluri pelesir kami mendorong untuk terus melangkah. Baru pertama ke sana, tapi sepertinya ada sinyal di pikiran bahwa kami harus terus maju.

Dan, taraa... ada jembatan merah yang terkenal itu. Segeralah kami percepat langkah. Bukan semata jembatannya yang menarik, tapi view laut dan pantai jadi semakin keren jika dilihat dari Jembatan Merah.

nunggu deburan ombak di batu karang
Tapi, sayang sekali si jembatan populer itu penuh sesak. Banyak orang mengantre untuk selfie dan groupy. Kami hanya bisa bertengger sebentar di salah satu tepian jembatan. Bisa sih, dapat giliran berfoto di ujung. Namun, sebentar dan kurang dapat hasil jepretan yang bagus.

Kami dapat hasil foto di lokasi dekat jembatan. Tapi, tak kalah menarik. Bisa jeprat jepret lama karena lokasinya tidak begitu diincar orang. Yups, batu besar yang terus terbentur ombak besar juga tidak kalah seru untuk menikmati view laut luas dan pantai indah ini. Percikan ombak juga bikin anak saya haha hihi karena mungkin sensasinya seru. Kadang-kadang saya ikutan konyol menjulurkan lidah saat ombak datang. "Asin kan Bu, air lautnya?" teriak anak saya begitu sumringah sambil tertawa. Ah seru.

Naik ke Bukit Sigatel, Menikmati View Laut dari Atas
bukit sigatel, foto bukit sigatel, bukit sigatel pantai menganti, foto bukit sigatel pantai menganti, foto bukit sigatel menganti kebumen
pinjam foto dari idntimes lagi, biar bisa mewakili cerita indahnya
Setelah puas menikmati deburan ombak, hati bergemuruh melihat lokasi bukit. Excited! Itu yang kami rasakan melihat bukit Sigatel pada pandangan pertama.

Memang lumayan capek dan pegal harus mendaki. Tapi, tetap terkalahkan dengan nice view nya. Pemandangan indah semakin kentara dari atas. Tidak ragu, smartphone dikeluarkan dan.. jepret! Hasil foto mewakili memori keindahan pemandangan di sana. Warbyasah sobat! Fotonya yang paling atas di artikel ini.

Eh ya, kalau capek atau perbekalan habis, tenang saja. Di puncak bukit tidak terlalu jauh, ada pedagang minuman dan aneka gorengan buat ganjal lapar. Waktu itu, saya beli lutis, mendoan, dan snack taro dan lays. Tarif makanan di sana bukan harga-harga nakal seperti beberapa kasus lokasi wisata di berita kok. Normal saja. Lutis harga 5000, es teh 2500, taro dan lays agak lupa. Tapi tidak terlalu jauh dari harga di supermarket. Tenang saja.

Oh ya, tips (mumpung relevan), ketika ke lokasi wisata yang baru kita kunjungi, Anda bisa pastikan harga makanan sebelum beli. Jangan sampai kejadian tembak harga kaya kasus di lokawisata seperti di berita-berita itu. Tanya dulu harga makanan dan minuman sebelum dimakan dan dibeli, bukan hal yang salah kok.

Mata Belum Puas, Istirahat di Gazebo. Bayar 10.000 Bisa Duduk Sepuasnya
gazebo pantai menganti, foto gazebo pantai menganti, pantai menganti, pantai menganti kebumen, foto pantai menganti kebumen, foto pantai menganti dari atas
gak sempat foto, kita duduk di salah satu gazebo ini Gaes (foto by Darwinchai
Gazebo - gazebo ini, jika Anda datang dari bawah (baca: spot pantai) lebih dulu dilewati sebelum sampai ke puncak bukit Sigatel.

Saya, suami dan anak lebih dulu duduk di Gazebo sebelum naik ke puncak bukit. Buat Anda yang ingin ke sana, lebih baik naik dulu ke atas, dan beli makanan atau minuman, foto foto dari atas, lalu balik lagi untuk istirahat di Gazebo. Mengapa? Soalnya di puncak bukit tidak ada tempat khusus untuk duduk-duduk lama. Kami sendiri memilih duduk di rumput sambil khawatir ada ular atau hewan melata yang mungkin saja bersemayam di bawah rumput. Mau balik lagi ge gazebo, rasanya kurang afdol.

Jadi, lebih oke kalau gazebo terakhir deh.

Angin semilir pantai, cuaca cerah menerangi seantero lautan dan pantai sejauh mata memandang. Sempurna.

Kalau waktu masih lama, saya sih pasti ingin duduk lebih lama lagi di sana.

Oh ya, setiap gazebo di tarif 10.000 untuk berapapun orang yang duduk di sana. Tapi, waktu itu tidak ada orang yang narik pembayaran. Kami juga bingung harus bayar ke siapa. Ya, sudahlah free. Mungkin karena momen lebaran sudah lama berlalu dan penjaga lokasi lagi pengen rehat (sotoy ya saya).

Balik ke Pantai Pasir Putih
pasir putih pantai menganti, foto pasir putih pantai menganti, foto pasir putih pantai menganti kebumen
pasir putih pantai Menganti by idntimes
Awal masuk lokasi melewati pantai dengan pasir putih. Pemandangan terindah dari sana selain lautnya, adalah tebing 180 derajat yang seolah menjadi pembatas keindahan pantai dengan dunia luar. Beautiful.

Memang pasir putihnya tidak terlalu luas. Namun, cukup menyenangkan untuk bermain bersama keluarga. Kalau beruntung, bisa nemu biota laut seperti bintang laut, kerang, atau ikan kecil. Asik bukan?

Airnya juga tenang dan dangkal, sehingga aman untuk anak-anak. Tapi, menjelang siang sekitar jam 11 ke atas, akan ada peringatan agar berhati-hati dengan ombak besar tak terduga. Soalnya itu jamnya laut pasang.

Jangan lupa, siapkan baju ganti supaya tidak pulang basah-basahan.

Terakhir, Menyantap Ikan Kakap Bakar Hasil Tangkapan Nelayan
ikan kakap bakar, foto ikan kakap bakar di pantai menganti, rumah makan enak, rumah makan enak pinggir pantai menganti, rumah makan enak di pantai menganti kebumen
ikan kakap bakar plus pelengkap, bikin acara wisata makin sempurna
Yummy... tidak ada rasa selezat makan ikan bakar sesudah berenang. Apalagi kondisi capek jalan-jalan. Perut lapar dan badan butuh charging energi.

Pilihan kami makan di salah satu rumah makan pinggir pantai dengan menu Seafood. Aroma Seafood bakar menyeruak saat lewat, membuat saya tidak bisa menolak menu makanan yang melambai-lambai minta disantap.

Posisi rumah makan juga sangat memuaskan karena langsung berada di pinggir pantai. Malah bisa dikatakan di atas pantai langsung. Deburan ombak terdengar di kolong (baca: bagian bawah bangunan kayu) RM Seafood yang menggunakan kayu sebagai penyangga. Sayangnya, kami tidak bisa pesan meja yang menghadap pantai langsung. Sudah penuh pelanggan lain.

Tiba waktunya pesan menu, pelayan langsung mengajak saya ke box putih besar berisi aneka Seafood yang masih mentah. Saya diminta memilih ikan mana yang mau dipesan. Setelah tanya-tanya harga dan rasa, pilihan jatuh pada ikan kakap batu. Soalnya ikan kakap merah jauh lebih mahal. Berapa per kilogram gitu. Maaf saya lupa. Satu ekor ukuran kaki pria dewasa sekitar 250.000. Sedangkan ikan kakap batu yang saya pesan hanya 70.000 saja.

Menunggu pesanan matang, lumayan lama. Kami memilih sholat duhur bergantian. Letak musholla ada di bawah RM. Cukup turun tangga dan belok kiri. Tempatnya memang sempit dan mukena nya agak kekecilan dan kotor, kurang nyaman dan aman digunakan untu sholat. Tapi maklum di tempat wisata. 

Saran saya, bawa saja mukena sendiri supaya lebih afdol sholatnya. Jika tidak ingin terlalu besar bawaan, bisa hanya bawa penutup aurat lainnya seperti kaus kaki bersih dan pakai pakaian tertutup.

Selesai sembahyang, makanan telah datang satu per satu. Ada ikan kakap bakar, nasi putih untuk 4 porsi, tumis kangkung, lalapan, sambal, es teh, dan seperangkat alat makan. Menggugah selera.

Saya paling lahap makan kayaknya. Maklum, memang doyan makan dan cinta kuliner banget. Apalagi menu yang jarang ada serta suasana langka. Benar-benar nikmat menyantap makan siang ditemani deburan ombak di pantai. Anda harus coba pokoknya.

Sudah kenyang dan makanan habis, tiba waktunya bayar ke kasir. Total semuanya 170.000. Relatif terjangkau.

Kami pun langsung capcus pulang dengan sebongkah rasa bahagia dan puas. Tidak hanya saya, suami dan anak juga nampak sumringah.

Bahkan pas pulang dimarahi mertua pun masih bisa senyum-senyum. Ahihi.. Maaf ya Bumer, sudah bikin khawatir. Memang jalan ke Pantai Menganti itu bikin siapapun yang di rumah jadi lebih deg degan lagi. Apalagi kami berangkat bilang mau Ke Pantai Petanahan yang dekat rumah, malah labas ke Menganti.

Tak apa, walau dimarahi, kami dapat kenangan indah tak terlupakan ini. Rasanya kalau ada kesempatan, ingin ke sana lagi. Kalau ada jalan pintas sih, bisa bareng-bareng keluarga besar. Semoga.

Oh ya, tips tambahan bagi yang ingin ke Pantai Menganti,
Pertama, siapkan kondisi kendaraan sebaik mungkin dan driver nya yang sudah benar-benar handal. Perjalanan ke lokasi lumayan butuh keahlian dan jam terbang yang tinggi bagi pengendara. 
Kedua, badan harus fit, sayang tempat seindah itu kalau body nggak ikut menikmati. Ya kan?
Ketiga, kalau jauh atau dari luar kota, bisa pertimbangkan untuk menyewa penginapan di lokasi.

Yups, itu dia review pengalaman wisata ke Pantai Menganti, Kebumen Jawa Tengah. Tiket masuk murah kok, 12.500 saja per orang. Tambahan mungkin di dalam lokasi ada gazebo 10.000 per gazebo dan wahana lain sekitar 15.000. Selamat berekreasi, dan covid 19 segera berlalu.

Artikel Terkait

Komentar

  1. Aku juga pernah ke pantai Manganti ini, sempet kaget ada pantai sebagus itu di sana. Hahahaha.. lumayan buat olahraga juga kalo ke sini ya Mak. Secara luas. Hihi.. pas jaman aku kesana, duduk di gazebo nya ngga bayar , soalnya sepi dan pas hari biasa, ngga ada yg minta retribusi juga

    BalasHapus
  2. Pantainya cantik. Apalagi kalau dilihat dari atas. Musti masuk daftar kunjungan wisata, nih. Meski jalan ke sana rada horor, keknya terbayar dengan pemandangannya 😃.

    BalasHapus

Posting Komentar