Sayang Saja Tidak Cukup, Menjadi Orang Tua yang Baik Butuh Lebih Dari Itu

Banyak orang bilang bahwa perilaku mencerminkan isi hati. Saya sendiri menganggap itu tidak selalu benar.

Orang tua yang sering memarahi anaknya belum tentu ia tidak sayang kepada anaknya. Pelayan hotel yang begitu manis kata-kata dan perbuatannya bukan berarti ia mencintai pelanggannya.

Begitupun kekasih yang selalu mengucapkan kata-kata romantis belum tentu benar-benar mencintai kekasihnya. Bahkan suami atau istri yang selalu cemberut atau bermuka masam belum tentu juga tidak sayang pasangannya.

ibu dan anak by Pixabay

Cerita Anak yang Terjatuh dan Menumpahkan Air di Depan Dua Orang Ibu
Ada seorang anak kecil bernama Eli sedang bermain ayunan di depan rumah tantenya. Eli saat itu dijaga tante Yeni pemilik rumah. Kebetulan saat itu tante Yeni sedang duduk di teras rumah bersama teman SMA nya tante Uni.

Mereka ngobrol di teras sambil sekalian mengawasi Eli. Keponakan yang masih berusia lima tahun.

Tiba-tiba Eli terjatuh dari ayunan hingga terluka cukup parah di bagian lutut. Berdarah cukup banyak sehingga Eli menangis dengan keras.

Tante Yeni dan tante Uni sontak kaget langsung berdiri dan berlari ke arah Eli. Tante Yeni yang melihat kondisi Eli langsung panik dan memarahi Eli sambil menangis. Antara kesal mengapa Eli ceroboh sampai jatuh seperti itu dan juga khawatir dengan keadaan anak itu. Tante Yeni memang sayang kepada Eli.

Sedangkan tante Uni, tahu persis apa yang harus dilakukan pada saat itu. Meskipun ia baru bertemu Eli di hari itu, namun sudah selayaknya Eli ditolong segera.

Uni pun menanyakan apakah ada P3K di rumah Yeni. Saat diketahui ada, ia dengan sigap memberikan pertolongan pertama dengan membalut luka Eli supaya pendarahan bisa dihentikan.

Saat itu pula Uni mendorong supaya Yeni segera membawa Eli ke rumah sakit supaya diperiksa dan ditangani dengan baik. Hari itu juga Eli dirawat di rumah sakit dengan bantuan tante Uni.

Singkat cerita, Eli pun sembuh. Ia bisa bermain seperti sedia kala.

Hari berlalu dan Eli mulai sering bertemu dengan tante Uni saat berkunjung ke rumah tante Yeni. Tante Uni bukan sosok orang yang begitu manis. Biasa saja seperti kebanyakan ibu-ibu lain yang dikenal Eli. Bertanya dan menyapa dengan wajar.

Kejadian lain pun dialami Eli. Kali ini ia menjatuhkan gelas berisi air putih. Sontak tante Yeni kaget dan refleks membentak Eli. Kenapa tidak hati-hati?

Tante Uni yang melihat itu, langsung menghampiri Eli dan membereskan gelas serta mengelap air yang membasahi lantai. Uni pun segera meminta Eli supaya bermain agak jauh dari meja. Eli pun menurut.

Bila Harus Memilih Hidup Bersama Orang yang Sayang atau yang Perhatian
Sekarang, pertanyaannya. Kita sebagai orang yang sudah dewasa seperti saat membaca tulisan ini, sosok mana yang lebih baik kita pilih? 

Bila saya pribadi harus memilih, maka saya akan memilih orang yang menyayangi saya sekaligus dia perhatian. Hehe.. tapi masalahnya di sini hanya boleh memilih satu saja. Apakah yang sudah jelas menyayangi (seperti tante Yeni), atau yang belum tentu sayang tapi dapat diandalkan (tante Uni).

Saya pribadi memilih orang yang perhatian dan dapat diandalkan. Jika jadi Eli, maka saya lebih mengandaikan bisa hidup diurus oleh tante Uni. 

Tapi dalam kasus Eli, mau gimana lagi, tante kandungnya adalah tante Yeni kan? Walau suka marah-marah, walau lebih suka mendahulukan interogasi sebelum menolong atau memperbaiki keadaan, walau lebih sering mengatakan Eli lambat dalam belajar membaca ketimbang mengajarinya dengan telaten setiap malam. 

Kini, bila kita diberikan perandaian atau memang dihadapkan situasi nyata, harus memilih hidup dengan siapa. Apakah orang yang kita tahu betul sayang sama kita atau orang yang dapat diandalkan? Anggaplah hanya bisa memilih salah satu kriteria ya.

Oke, biar lebih jelas ya.. Orang yang sayang sama kita adalah orang yang biasanya sedih bila kita sedih, menangis (mungkin) bila kita terluka, atau bisa jadi selalu memeluk dan mengecup pipi sambil berkata sayang. Sedangkan orang yang dapat diandalkan yaitu mereka yang sigap membalut luka saat terluka, orang yang selalu menelepon untuk memastikan kondisi kita, selalu jadi tempat pelarian saat butuh pertolongan, dan kita percayakan banyak tanggungjawab menyangkut hidup kita.

Dengan sosok demikian, kalau saya sebagai orang dewasa saat ini lebih akan memilih hidup dengan orang yang dapat diandalkan sekalipun di hati ragu tentang perasaan orang tersebut. Entah dia punya rasa sayang kepada saya atau tidak.

Mungkin di antara Anda ada yang berpikir, "Lho, bukannya orang yang bisa diandalkan kaya gitu sudah jelas dia juga pasti sayang?"

Saya bisa menjawab iya. Memang banyak dan kebanyakan orang begitu. Untuk apa memberikan bantuan pada orang yang tidak kita sayangi? Begitu kira-kira.

Namun, saya pribadi menemukan jenis orang yang punya rasa sayang pada saya dan ada juga yang hanya dapat diandalkan (namun entah sayang entah tidak).

Mengapa orang-orang yang dapat diandalkan layak dipilih? 
Perhatian dan peka terhadap orang sekitar adalah cermin orang-orang bermoral tinggi. Itu yang saya yakini saat ini. Orang yang sigap dalam mengambil tindakan yang tepat tidak dibentuk dalam waktu singkat. Mereka biasanya dibentuk dalam waktu lama. Salah satunya dengan didikan keluarga terus menerus, dengan adanya figur ayah atau ibu yang jadi panutan.

Hidup dekat dengan mereka bukan sekedar merasa aman, tapi juga bisa memberi pengaruh positif bagi diri dan mungkin anak-anak kita.

Pelajaran Bagi Para Orang Tua yang Katanya Sayang Pada Anaknya
Sayang saja tidak cukup jika tidak dibuktikan dengan perbuatan. Bukti kasih sayang tidak harus jadi orang tua kaya raya atau punya banyak fasilitas mewah.

Bukti kasih sayang adalah adanya rasa aman, nyaman, dan layak dijadikan teladan.

Akan sangat aneh bila kita mencintai anak kita, tapi membentaknya sehingga ia menangis dan trauma. Lalu setelah itu bilang bahwa kita sebenarnya sayang padanya.

Pun, bila anak terjatuh namun kita malah memarahinya dengan alasan khawatir dan gugup. Atau diam saja saat anak menangis sendiri di kamarnya dengan alasan bingung memulai pembicaraan dari mana. Atau mengatakan anak "bodoh" hingga mengatainya dengan ucapan-ucapan menyakitkan dengan alasan khilaf.

Banyak orang punya kasih sayang, namun tidak menjamin setiap mereka cerdas membuktikannya.

Semua orang tua pasti sayang anak-anaknya. Namun, masalahnya apakah kita mampu membuktikan itu? Sehingga anak-anak kita benar-benar merasakannya.

Mencintai dan menyayangi itu mudah karena merupakan insting alami yang diberikan Tuhan. Sementara cara membuktikan kasih sayang memerlukan usaha keras. Butuh kesabaran, kekuatan, kemampuan meredam amarah, kepandaian menjaga perkataan, hingga berjuang keras bekerja siang malam untuk kehidupan yang layak bagi anak-anak kita. 

Menjadi sosok orang tua yang dapat diandalkan juga butuh proses lama yang tidak sembarang orang memiliki kriteria itu. 

Kini, sudahkah kita menjadi orang tua yang dapat diandalkan anak-anaknya? Menjadi teladan, mampu membuat anak-anak merasa dicintai? 

Artikel Terkait

Komentar