Positif Feeling Namun Tetap Logis Terhadap Informasi Covid 19

"Jangan panik tapi tetap waspada." Itu adalah seruan yang terus diulang-ulang oleh pemerintah maupun juru bicara pemerintah.

Kalimat ini saya rasa sangat lebih dari cukup untuk mewakili dua perintah; pertama, jangan panik (artinya tetap tenang dan berpikir positif) dan kedua, tetap waspada (artinya selalu melek akan kenyataan dan bertindak logis).

menghadapi pandemi covid 19, panik menerima informasi seputar covid 19, virus corona, pencegahan corona, apa itu corona, covid 19, covid indonesia, tentang covid 19, covid 19 di indonesia, corona indonesia, berita covid 19, coronavirus
informasi seputar coronavirus by bbc news
Jangan Hanya Positive Thinking, Tapi Juga Harus Logisa dan Positive Feeling
Banyak orang menganggap bahwa positif thinking melulu harus dengan mengucapkan bahwa semua baik-baik saja. Harus selalu mengatakan sebaliknya dari kenyataan (yang sebenarnya mungkin dalam keadaan tidak baik).

Padahal, dalam berbagai wacana yang tersebar di media sosial, di media mainstream (koran nasional maupun televisi) yang memberitakan situasi nyata maupun yang masih berupa analisis, ada banyak yang logis. Masuk di akal. Suatu kenyataan pahit yang memang benar-benar layak dipertimbangkan.

Kalau di media sosial salah satu contohnya adalah status seorang dokter Singapura asal Indonesia ini. Beliau mengatakan bahwa jumlah orang yang terjangkit virus corona saat ini jumlahnya jauh melebihi yang terkonfirmasi. Beliau juga menyampaikan alasan-alasan yang masuk di akal.

Dan benar, beberapa hari setelah itu jumlah pasien positif corona di Indonesia jumlahnya naik tajam.

Lalu, apakah itu karena ucapan dokter tersebut yang menjadi doa?Pasti kitas setuju, itu bukan karena ucapan dokter itu. Itu kenyataan yang sebenarnya telah terjadi bahkan sejak beliau belum menulis statusnya. Bahkan sebelum pasien yang tertular di Singapura kembali dari Indonesia. 

Berpikir positif bukan berarti menutup telinga dan pikiran kita dari kenyataan pahit. Atau dari kenyataan yang masih berupa asumsi. Ketika itu logis, dan bahkan di atasnya logis, itu sangat sangat layak kita dengarkan.

Bahkan media mainstream beberapa bulan lalu juga mempertanyakan sikap santai dan tenang negara kita saat banyak negara lain terkena wabah. Khususnya saat banyak kemungkinan besar kita bisa juga terjangkit.

Mencoba mencermati perkembangan isu, menerima semua informasi yang masuk, tidak sekedar perlu dihadapi dengan positif thinking. Perlu juga dihadapi dengan positif feeling.

Kalau positif thinking kita berpikir yang baik-baik. Mungkin dengan mencoba untuk berpikir bahwa semua akan baik-baik saja. Kita dan keluarga akan sehat selalu.

Sedangkan positif feeling dengan tidak kagetan, tidak langsung baper, tidak panik, dan hal-hal lain yang sifatnya terguncang secara psikologis. Tetap berpikir jernih dan tenang. 

Ketika ada asumsi bahwa Covid 19 akan begini begitu menurut analisis orang, tidak langsung memborong peralatan medis. Tentu kita teliti dulu kebenaran setiap informasi, dan jika benar atau masuk akal, tetap tenang supaya bisa mengambil tindakan yang tepat.

Berpikir Logis Dapat Menghindarkan Diri dari Bahaya yang Lebih Besar
Kalau sudah berpikir logis dan positif feeling, maka sudah pasti kita akan bertindak dengan tepat. Bahkan sebelum pemerintah memberikan imbauan (bisa jadi).

Orang yang berpikir logis bisa saja sudah karantina diri sendiri sebelum pemerintah memberi instruksi. Atau dengan kesadaran sendiri mendatangi rumah sakit untuk periksa. Semisal dia habis bepergian ke luar negeri atau dari kota terjangkit.

Tindakan seperti itu tentu bukan panik, tapi pandai memilih dan menganalisis dan inisiatif sendiri.

Bahkan, bisa jadi pemerintah mengambil berbagai kebijakan terkait Covid 19 ini juga karena orang-orang seperti itu. 

Sebarkan Afirmasi Positif dan Berikan Informasi yang Valid Hanya Kepada Orang yang Tepat
Afirmasi positif seperti dilansir dari beritagar.id, merupakan teori yang menyebutkan bahwa ucapan yang baik secara berkala akan membentuk kenyataan baik seperti apa yang kita ucapkan. Misalnya "saya orang yang bahagia" maka alam akan mendukung supaya itu menjadi kenyataan. 

Banyak orang percaya khususnya penganut afirmasi bahwa kondisi wabah Covid 19 saat ini dapat diatasi dengan afirmasi positif. Misalnya dengan mengatakan "saya sehat" atau "semua baik-baik saja", "wabah ini akan segera berlalu".

Saya sendiri termasuk orang yang percaya teori ini. Juga mungkin orang-orang yang aktif menyebarkan informasi seputar Covid 19 di media sosial. Tapi kenapa saya atau mereka melakukan itu? Jawabannya simpel yaitu "sharing is caring". Niatnya hanya berbagi dan peduli dengan teman, saudara, keluarga, bukan untuk merusak atau memperburuk keadaan.

Afirmasi positif merupakan salah satu solusi untuk memperbaiki kondisi saat ini. Ingat, hanya salah satu solusi. Bukan satu-satunya solusi. Cara lainnya banyak, khususnya yang berbentuk tindakan.

Oleh karena itu, bukan berarti kita tidak boleh menyebarkan informasi yang kita dapatkan. Selama itu baik, masuk akal, valid, kenapa tidak?

Hanya saja, patut dipertimbangkan kepada siapa kita menyebarkan informasi. Jangan sampai apa yang kita maksud baik justru memberikan efek yang tidak diinginkan.

Informasi yan cukup kontroversial atau lumayan bikin kepikiran tentu jangan disampaikan kepada pekerja yang memang tidak bisa untuk tetap bertahan di rumah. Menyebarkan informasi seputar Covid 19 yang kontennya bisa membuat mereka waswas bukan hal yang tepat.

Juga kepada grup WhatsApp berisi orang-orang yang memang terlalu heterogen baik pendidikan, latar belakang, dan karakternya. Di mana tidak semua orang bisa memahami tujuan kita. Alih-alih pesan yang kita sampaikan bermanfaat, justru yang ada malah membuat panik, tertekan, atau malah menimbulkan konflik. Tentu itu bukan hal yang kita inginkan, bukan?

Kondisi saat ini butuh melek informasi, tapi juga perlu pikiran positif supaya semua orang bisa tetap sehat. Melek informasi agar tidak terlalu santuy, berpikir positif supaya keadaan menjadi lebih baik, hingga akhirnya kita benar-benar keluar dari problem saat ini. Dan.. tentunya positif feeling dengan tidak gugup, panik, dan baper, sehingga mengambil tindakan yang keliru atau sikap negatif. 

Semoga kita bisa jadi masyarakat yang cerdas membaca situasi namun tetap positif feeling. Ada kenyataan pahit tidak lantas mudah berpikir negatif dan pesimis. Stay logis tapi jaga positif thinking dan positif feeling.

Artikel Terkait

Komentar