Cerita Pengalaman Melahirkan Normal Usia Kehamilan 41 Minggu Part 2

Setelah dinyatakan bukaan empat, perawat langsung mengantar saya ke ruang bersalin. Saya diminta berbaring. Namun, waktu itu saya merasa nyaman berdiri di samping tempat tidur dan bisa berpegangan ke pembatas ranjang saat kontraksi datang.

Perawat mengiyakan. Tapi, tak berselang lama datang dua perawat lain dan meminta saya naik dan tiduran untuk periksa tekanan darah, ambil sampel darah, dan periksa bukaan lagi.

Saat tiduran, mulai lah rasa sakit mendera. Yang tadinya masih bisa saya nikmati, jadi menyakitkan. Saya berpegang ke besi ranjang menahan rasa sakit. Waktu itu suami masih di area IGD katanya mengurus administrasi dan lain sebagainya.

ilustrasi melahirkan di Rumah Sakit by Pixabay (saya sendiri sebenarnya tidak dipasangi alat apa-apa)
Beberapa saat kemudian, suami saya datang dan memegang tangan saya. Saya tanya pukul berapa, suami bilang pukul jam 9.00 WIB.

Suami mulai siaga menyiapkan minum di samping saya dan bertanya minta apa. Saya minta minum dan minta ia berdiri di samping saya. Suami mengelus elus punggung saya untuk meredakan rasa sakit.

Tak henti-hentinya suami menyuruh saya sabar, berdzikir, dan menawari minum atau madu. Saya pun mengiyakan.

Lama kelamaan rasa sakit kontraksi makin menjadi dan makin sering. Sampai akhirnya saya tidak bisa menahan diri untuk tidak menangis. Entah bagaimana saya tidak bisa mengontrol diri sehingga saya menangis keras sejadi-jadinya. Suami menenangkan dan meminta untuk beristighfar dan bersabar. Ia menuntun saya bernafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Namun masih belum bisa saya ikuti.

Aneh, walau sudah belajar dan latihan sewaktu hamil, tetap saja saat melahirkan ilmunya jadi susah diamalkan. wkwk

Saya berkali-kali masih menangis cukup keras sehingga suaminya pasien melahirkan di ruang sebelah sampai menengok ruangan kami. Mungkin ia jadi kepo. Hehe.. Apalagi tangisan saya lumayan memilukan. atau mungkin ia dan istrinya terganggu. Istrinya juga sama-sama sedang proses menuju lahiran dan telah datang lebih awal.

Suster pun datang dan meminta saya tidak bersuara. Karena malah menambah rasa sakit, katanya. Ia menyuruh saya bernafas panjang dan sebisa mungkin tidak mengeluarkan suara sama sekali. Saya berusaha keras untuk menuruti petunjuk mereka. Dan syukurlah akhirnya berhasil.

Sekuat apapun kontraksi yang datang, saya hanya menarik nafas dan membuang nafas sambil memeluk erat perut suami. Yang saya ingat saya begitu gemetar menahan sakit dan mulas yang mendera berkali-kali. Rasanya luar biasa.

Sampai akhirnya saya tidak bisa menahan diri ingin mengejan berkali-kali. Perawat bilang belum saatnya. Apalagi terhitung waktu itu masih pukul 09.30 Masih sekitar satu jam lebih dari bukaan 4.

Proses Mengejan Penuh Drama
Sekitar 09.40 ketuban pecah dan suster sepertinya langsung mengabari dokter obgyn. Saya kurang menyadari apa yang dilakukan oleh orang-orang sekitar saya. Saya sibuk dengan kondisi saya yang sudah tidak tahan lagi dengan rasa sakit dan rasa ingin mengejan.

Pukul 10.00 dokter datang dan bertanya kondisi saya. Obgyn tersebut memeriksa bukaan menyuruh saya terlentang mengambil posisi mengejan.

Saya pun kaget. Tahu-tahu sudah diminta mengejan. Obgyn bilang saya sudah bukaan lengkap. Kok cepet banget. Pantesan sakitnya kaya gitu. Pikir saya.

Dokter dan bidan sudah siaga. Suster sekitar 3 orang (kalau nggak salah) ikut membantu di samping saya. Ada yang mendorong perut dan ada yang memegang pundak dan membantu tangan saya supaya berpegangan ke kaki.

Sayangnya saya lemas dan susah sekali memegang kedua kaki saya.

Dokter mendesak agar saya mengejan dengan benar. Berkali-kali saya mencoba, salah terus. Aduduh... Saya menarik nafas, malah pipi saya kembung kaya mau niup balon. Dokter mulai gemas dan para suster ikut memberikan arahan.

Mereka mendesak saya membayangkan bagaimana mendorong saat pup. Dan anehnya saat itu malah jadi lupa. Sampai saya mau nangis. Pengen debay segera keluar, tapi saya malah kalut. Terlebih di area jalan lahir terasa sangat nyeri bercampur perih. Membuat saya ingin segera mengakhiri proses itu.

Apalagi dokter dan perawat mulai kaya gemas gitu. Jujur, mereka semua terasa galak waktu itu. Emang dokternya sampai mendenguskan nafas gitu. Perawat nya juga ikut-ikutan. Dududu.. kenapa kah ini?

Akhirnya, yang Dinantikan Datang Juga
Saya mencoba lagi tanpa menghiraukan situasi sekeliling saya yang nampak tegang. Akhirnya saya bisa mengejan dengan benar. Dan.. setelah tiga kali mengejan, bayi yang saya nantikan keluar lalu menangis. Ia terlahir sempurna dan sehat pada pukul 10.23 WIB.

Saya begitu lega dan tersenyum ke arah suami saya. Bidan dan perawat mengurus bayi saya segera. Mulai dari memotong tali pusat dan mengelap tubuh bayi saya.

Dokter yang tadinya tegang, kini tersenyum dan menyuruh saya mendekapkan tangan kanan di dada untuk bersyukur memuji Tuhan katanya. Oh ya baru ingat beliau seorang katolik. Lalu saya menurut, dan mendekapkan tangan di dada bersyukur seraya berucap "alhamdulillah" dengan lirih penuh syukur dan bahagia.

Dedek bayi pun dilekatkan ke dada saya untuk inisiasi menyusui dini atau IMD. Suami mendekat dan mengadzani bayi kami dengan suara lirih.

persalinan by Pixabay (ilustrasi ya Bun)
Saat IMD ini dokter mengeluarkan ari-ari dan menjahit luka jalan lahir. Katanya lumayan besar robekannya sehingga saya merasakan dua kali suntikan bius di jalan lahir itu. Tapi entah kenapa selama proses itu tidak merasakan sakit. Entah bius yang cukup efektif atau situasi yang membahagiakan dan perhatian saya teralihkan ke bayi di pangkuan saya.

Namun, tak lama salah satu suster mengambil bayi saya untuk dipindah ke ruang bayi.

Proses selesai hingga suster yang paling ramah di situ memasangkan pembalut bersalin. Ia pun mengatakan untuk beristirahat dan mencoba miring kiri kanan nanti ketika tubuh dirasa mulai mampu melakukannya.

Setelah suasana tenang, suami saya baru bilang bahwa tadi saat melahirkan, katanya saya buang air besar. Sampai tercecer ke luar paha kanan saya dan dilapi oleh suster. Aduh jadi malu. Padahal pagi harinya saya sudah buang air besar lho. Mungkin saking sakitnya melahirkan.

Menunggu Pindah Ke Ruang Inap
Suster pun beberapa kali datang mengecek kondisi saya. Pertama mengecek tekanan darah. Selanjutnya memasukkan sebuah pil ke dubur untuk mengatasi ambeien saya katanya. Lalu kunjungan selanjutnya lagi mengecek kondisi pendarahan. Ia mengatakan bahwa saya bisa pindah ke ruang rawat inap setelah mampu mengganti pembalut sendiri di kamar mandi. Terakhir ada suster berbeda datang memberitahukan bahwa ternyata saya baru bisa pindah ke ruang rawat inap dan bertemu bayi setelah saya bisa pipis.

Hingga pukul 14.00 saya masih belum bisa pipis walau sudah bisa ganti pembalut. Tentu dengan bantuan suami dan berjalan sangat pelan dibimbing suami pula. Saat itu, tulang di area selangkangan masing nyeri. Area jahitan pun masih baru dan terasa perih.

Tiga kali ke kamar mandi ingin pipis tapi tidak keluar juga. Saya pun mencoba banyak minum dan berjalan pelan di atas lantai tanpa alas kaki agar segera keluar pipisnya.

Selama proses itu, perempuan di sebelah ruangan saya rupanya belum melahirkan. Ia masih dalam proses kontraksi. Ia menrintih kesakitan. Jadi ingat bagaimana tadi yang saya alami. Saya berdoa semoga dia segera melahirkan dan sehat selamat.

Baru pukul 15.00 WIB dokter datang ke ruangan perempuan itu dan meminta anggota keluarganya pindah ke luar ruangan. Alat-alat sudah siap dan suster-suter serta bidan yang tadi menangani persalinan saya masuk ruangan juga. Terdengar proses yang sama seperti saya mengejan tadi. Tanda bayinya akan lahir juga. Dan.. tangisan bayi pun terdengar. Syukurlah.

Saya yang berusaha untuk bisa pipis dua kali ke kamar mandi lagi hingga pukul 16.00. Dan sekitar pukul 17.00 akhirnya bisa pipis dengan lancar.

Pindah Ke Ruang Rawat Inap dan Pulang Keesokan Harinya
Suami memberitahukan kepada suster bahwa saya sudah pipis. Kami pun pindah ke ruang rawat inap. Saya akhirnya bertemu dengan dedek bayi.

Saya menginap semalam dan keesokan harinya saya bisa pulang. Sore hari suami mengurus administrasi dan langsung menghubungi ibu mertua dan adik ipar untuk menjemput.

Kami pun pulang membawa anggota keluarga baru. Anak Laki-laki yang baru lahir mengendarai grab car lagi. Ah, menyadari ada tambahan anggota keluarga, semoga kami segera diberi rejeki berupa mobil (hehe ini curhat kurang nyambung ya). Ya, supaya pergi-pergi jadi lebih mudah. Doanya ya Bunda semua..

Itu kisah pengalaman melahirkan normal saya di RS. Semoga Bunda-bunda yang sedang hamil juga bisa melahirkan dengan lancar serta sehat selamat ya Bun...

Artikel Terkait

Komentar