Melahirkan Normal Maupun Caesar, Sama-Sama Perjuangan Mulia Seorang Ibu

Umumnya, seorang calon ibu mendambakan melahirkan normal. Biasanya karena melahirkan normal tidak memerlukan pemulihan yang lama seperti melahirkan dengan operasi Sesar. Selain itu, biaya yang dikeluarkan juga relatif lebih hemat. Meskipun proses melahirkan normal umumnya banyak diungkapkan oleh para Bunda sebagai pengalaman “luar biasa” ya. Hanya mereka yang pernah mengalami yang tahu rasanya. Sesuatu banget pokoknya ya Bun....


melahirkan bayi, melahirkan caesar, proses melahirkan caesar, proses melahirkan alami, proses melahirkan normal dengan jahitan, pengalaman melahirkan normal, pengalaman melahirkan caesar, tips melahirkan normal lancar dan cepat, ibu melahirkan normal didampingi suami, cara melahirkan normal cepat dan tidak sakit, cara agar cepat melahirkan bayi dengan normal,sakitnya melahirkan normal, jahitan pasca melahirkan normal, jahitan melahirkan normal, pasca melahirkan normal,
Melahirkan Bayi Sebuah Perjuangan Mulia by Pixabay
Kali ini saya terinspirasi dari kisah melahirkan Youtuber Beauty Alifah Ratu dan juga sikap lingkungan terhadap proses melahirkan normal dan sesar. Saya jadi ingin curhat dan sekaligus mengingatkan diri sendiri bahwa melahirkan normal maupun sesar, ada perjuangan besar di belakangnya. Semoga tulisan ini membuat saya dan kita semua tambah bijak menyikapi kondisi yang dilalui setiap orang.  

Melahirkan Caesar Sering Mendapat Sedikit Asumsi Kurang Positif
Tidak bisa kita pungkiri, bahwa ada sedikit atau banyak asumsi kurang positif (dibilang negatif porsinya tidak sampai segitu) terhadap para Bunda yang melahirkan sesar. Setuju tidak setuju, ini hanya pendapat dan kajian kecil saya terhadap lingkungan sekitar saya aja Bun. Kalau ternyata beda pendapat, gapapa ya Bun. Tiap orang tiap lingkungan tidaklah sama.

Kenapa ada asumsi kurang baik? Pasalnya ada beberapa hal yang menyebabkan itu. Pertama, ada “oknum” bunda manja yang tidak ingin bersakit-sakit melahirkan normal. Jadi, dia itu memutuskan untuk sesar bukan karena masalah kehamilan tapi karena tidak ingin Miss V longgar, tidak ingin bersakit-sakit melahirkan, dan sebagainya. Sikap Bunda yang demikian sedikit banyak memberikan kesan kurang baik bagi Bunda lainnya yang juga menjalani persalinan sesar.

Kedua, Bunda-bunda yang akhirnya harus melahirkan dengan sesar kebanyakan punya masalah kehamilan. Kondisi-kondisi yang tidak memungkinkan Bunda melahirkan normal dianggap sebuah ketidakberuntungan bagi sebagian orang dan menjadikan orang lainnya yang tidak mengalami itu merasa lebih unggul atau beruntung. Kita tahu betul bahwa ada beberapa penyebab seorang Ibu tidak bisa melahirkan normal dan terpaksa harus menjalani sesar, seperti panggul kurang lebar, tensi tinggi, kehamilan melebihi Hari Perkiraan Lahir (HPL), dan lain-lain.


Ketiga, melahirkan dengan jalan sesar seolah-olah disebabkan kurangnya usaha dari Bunda maupun keluarga. Diakui atau tidak, bagi sebagian orang (saya nggak lho ya Bun, hehe) menganggap bahwa mereka yang melahirkan sesar seolah kurang “usaha”. Tidak jarang ada oknum “nyiyir” entah itu orang lain atau bahkan anggota keluarga sendiri berkomentar ini itu. Semisal Bunda yang hamil dinilai kurang benar dalam proses menuju persalinan seperti dianggap makanan kurang bergizi, malas bergerak, tidak menjalani ini atau itu. Bahkan, ada nih saya nemu di channel Youtube seorang netizen mengasumsikan yang lahiran sesar itu kurang doa dan sholawat. Dia sendiri merasa lahiran normal berkat doa dan sholawat yang rajin. Hanya Tuhan yang Maha Tahu sih kalau itu. Cuma, intinya ya, kembali ke Bunda-Bunda.

Baby Feet baru lahir
Hati-Hati dengan Sepercik Kesombongan Bagi Bunda yang Melahirkan Normal
Kesombongan ibarat boomerang. Bagi yang menelaah dan mengambil hikmah pengalaman hidup kita pribadi, setiap terbersit kesombongan, seolah keburukan akan kembali kepada kita. Bahkan seringkali lebih buruk dari apa yang dialami orang yang kita sombongi.

Sebagai manusia biasa, kita pasti pernah bahkan sering memiliki perasaan lebih unggul, lebih beruntung, atau lebih dalam suatu hal dibandingkan seseorang atau orang lain. Entah itu dalam hal penghasilan, jodoh, kesehatan, fisik, kecerdasan dan lain-lain. Termasuk dalam masalah keberuntungan proses melahirkan lancar atau tidak.

Bun, tidak bisa dipungkiri jujur saya mengakui bahwa memang melahirkan lancar dan normal itu seperti sebuah keberuntungan tersendiri. Hanya, yang harus diwaspadai adalah sikap kita. Apakah mau mensyukuri itu sebagai anugerah Allah atau timbul ada “usil” di hati untuk sombong terhadap mereka yang melahirkan sesar maupun proses yang tidak lancar seperti proses mules-mules berhari-hari atau kendala lainnya. Jujur, sebagai manusia biasa (atau hati saya yang kotor, na’udzubillah astaghfirullah), itu ada lho sepercik rasa bangga dan memandang rendah mereka yang tidak lancar atau sesar. 

Buat Bunda-Bunda yang melahirkan sesar, plis jangan doakan saya yang tidak-tidak ya.. hehe Soalnya itu hanya terbersit saja sedikit dan lalu saya istighfar. Setiap kelancaran itu datangnya hanya dari Allah semata dan apalah daya kita sebagai manusia. Saya lancar melahirkan, semua berkat pertolongan-Nya.

Semoga Semua Bunda yang Sedang Mengandung, Melahirkan dengan Lancar Sehat Selamat
perut ibu hamil, foto perut hamil, foto perut wanita hamil, wanita hamil, hamil anak laki-laki
Perut Bumil 
Saya saat menulis tulisan ini, sedang mengandung usia kehamilan 36 minggu dan menghadapi persalinan kedua. Tentunya saya sangat berharap dan berdoa semoga dapat melahirkan normal seperti anak pertama dan lancar bahkan lebih lancar daripada anak pertama saya.

Persalinan pertama dulu yang saya sebut lancar juga sebenarnya sama-sama menyisakan haru bahkan tarauma tersendiri. Saya sebut lancar karena tergolong normal, ngeflek jam 6 pagi, anak lahir jam 7 malam. Meskipun begitu, tetap saja ya Bun, namanya melahirkan ya begitu. Selancar-lancarnya tetap menyisakan traumatis tersendiri. Pokoknya luar biasa sekali.

Mulai dari kontraksi ringan hingga intens dan berat di pembukaan lima ke atas. Lalu bertempur dengan tenaga, rasa sakit, mulas luar biasa, hingga proses jahit luka robekan. Saat itu saya dijahit ketika bius sudah berkurang malah kayaknya mendekati hilang malah. Ya, jerit-jerit deh saat dijahit di area perineum itu. Nah, proses melahirkan yang saya alami itu termasuk memenuhi standar lancar menurut saya. Soalnya saya mendengar pengalaman teman-teman melahirkan yang lebih lama atau kompleks melebihi saya.

Kini, di kehamilan ini saya kembali deg-degan. Hanya Allah yang tahu pengalaman melahirkan kedua ini nanti seperti apa. Saya hanya bisa berdoa dan berusaha semoga lebih lancar, durasi lebih cepat, anak lebih sehat, saya juga lebih sehat dan kuat, tidak ada kendala jahit menjahit bahkan inginnya sih tanpa harus dijahit. Doanya ya Bun….

Selain saya, pasti banyak nih Bunda-Bunda yang sedang mengandung juga. Saya doakan semoga Bunda-bunda yang sedang mengandung, lancar kehamilannya serta lancar persalinannya. Lancar di sini sesuai dengan ekspektasi masing-masing Bunda tentunya. Apakah ingin melahirkan dengan normal, sesar, durasi yang lebih singkat, normal tanpa jahitan, ingin mendapat dukungan suami dan keluarga serta dukungan fasilitas kesehatan yang terbaik, dan sebagainya. Pokoknya sesuai ekspektasi masing-masing Bunda deh….

Pada Akhirnya, Momen Melahirkan Memiliki Kisah Perjuangan Masing-Masing
Tidak bijak rasanya jika perjuangan melahirkan seorang Ibu dilihat dari normal sesar. Pasalnya, kita tidak pernah tahu apa yang sudah mereka lalui.

Ada yang normal lancar, tapi fasilitas kesehatannya minim atau kurang dukungan keluarga. Tidak jarang mereka yang melahirkan lancar selancar idealnya melahirkan normal tapi mengalami jahitan menyakitkan kaya saya (hiks hiks). Atau sekitar ruangannya terlalu ramai oleh keluarga yang over protektif sehingga sangat mengganggu si Ibu yang sedang berjuang dalam kesakitannya. Ada pula yang kisahnya normal dan lancar tapi tidak ditemani keluarga terdekat, atau yang bantu persalinan kurang professional.

Saya melihat salah satu Youtuber laki-laki mengupload proses persalinan istrinya dan terdengar pembatu persalinan di dalam ruangan (entah dokter antah asisten) itu kata-katanya begitu mengganggu psikologis orang yang sedang melahirkan. Nadanya kaya ga sabar dan sewot gitu, bikin tegang. Setelah bayi lahir, si Ibu kelihatan kurang happy gitu dan dia bilang trauma. Ya, entah apa yang ia alami, hanya dia pribadi juga yang merasakan.

Bagitu pula yang sesar. Kebanyakan proses melahirkan ini ditempuh ketika seorang calon ibu tidak menungkinkan untuk melahirkan normal menurut dokter. Kondisi ini bukan keinginan si ibu itu tentunya ya. Bunda-Bunda yang melahirkan sesar boleh dong sharing pengalaman bagaimana dan kenapa melahirkan sesar di kolom komentar.


Mengingat penyebab sesar itu bukan kehendak kita, tentu kita tidak seharusnya menilai negatif. Seorang ibu melahirkan sesar tidak berarti dia kurang usaha untuk melahirkan normal. Apalagi menganggap mereka tidak mau lahiran normal. Terlebih lagi menganggap kurang doa dan sholawat. Waduh…. Hehe

Ada yang terpaksa harus sesar, memang disebabkan kebiasaan selama hamil yang terus menerus duduk dan kurang bergerak. Tapi, saat dikaji lagi, ternyata itu tuntutan keadaan karena dia melayani customer yang mengharuskan ia duduk. Dan itu profesinya. Mau gimana lagi itu kebutuhan primer kan kalau namanya mencari nafkah.

Ada yang sudah usaha dan doa maksimal, beli alat ini itu, makan ini itu, senam hamil dll, anak sudah masuk panggul dan seolah 100% fix lahiran normal, namun ternyata sesar juga. Ini disebabkan posisi kepala bayi ternyata agak miring sehingga bahaya bagi leher bayi jika terus dipaksa normal. Setelah bersakit-sakit kontraksi, diinduksi segala, tetap akhirnya harus via sesar. Perjuanggannya malah lebih luar biasa menurut saya.

Ada juga yang selama hamil mengalami kekerasan rumah tangga sehingga si Ibu tidak sehat secara fisik dan mental. Entah bagaimana sehingga persalinan terbaik mengharuskan sesar. Ia bilang suntik di tulang punggung ia rasakan begitu menyakitkan, lalu kondisi dingin saat prosedur operasi terus ia ingat sampai sekarang, serta pemulihan luka sesar yang lama. Tidak berhenti di situ. Setalah anak lahir, ia mengalami baby blues.

Nah, kalau sudah begini, apakah masih kita anggap beda perjuangan Ibu melahirkan normal atau sesar? Semoga saya dan kita semua dijauhkan dari judgement tanpa alasan ya Bun… dan yang paling utama, kembali lagi semoga Bunda-bunda yang sedang mengandung melahirkan lancar sesuai harapan dan ekspektasi masing-masing. Amiin….

Artikel Terkait

Komentar

  1. Melahirkan normal dan sesar hanyalah proses sementara. Tanggung jawab besar justru setelahnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul juga ya mbak.... setelahnya merupakan perjuangan panjang

      Hapus

Posting Komentar