Banyak Orang yang Julid, Kira-Kira Salah Siapa?

Saking populernya, sejak akhir tahun 2019 kata “julid” dan beberapa kata popular lainnya seperti Pansos, Mager, Maksi, akhirnya masuk Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), lho.

Jadi, apa arti julid dalam KBBI? Julid artinya iri dan dengki dengan keberhasilan orang lain. Perilaku julid biasanya dilakukan mereka dengan menulis komentar, status atau pendapat di media sosial yang menyudutkan orang tertentu.

ibu-ibu julid
Dilansir dari Wolipop.com, ada ciri-ciri orang yang julid. Di antaranya sering mengomentari urusan atau kehidupan orang lain. Tentunya dengan konotasi pembicaraan yang negatif. Mereka yang julid biasanya;

Pertama, senang bergosip dan membicarakan orang lain. Khususnya menggosip orang tertentu dengan motif dan latar belakang iri kepada orang yang bersangkutan.

Kedua, suka ikut campur. Begitu menyita perhatiannya kehidupan orang lain, sehingga ia menjadi orang yang senang ikut campur urusan orang lain. Padahal tidak ada kaitannya dengan dirinya.

Ketiga, tidak suka berkomentar langsung, hanya lewat media sosial. Contoh sederhanyanya kebiasaan warganet yang bermedia sosial untuk berkomentar (negatif) kepada publik figur. Namun itu hanya dilakukan di dunia maya. Jika bertemu langsung, mereka malah minta foto.

Begitu pula julid kepada yang bukan publik figur. Bisa saja orang julid ini gemar membuat postingan, status, komentar di media sosial, atau mungkin menggosip orang yang bersangkutan di belakang. Tapi saat bertemu, mereka bersikap seolah semua baik-baik saja.

Keempat, Maha Benar. Biasanya ini disematkan kepada netizen yang berkomentar dan belakangan dijuluki “maha benar” oleh kelompok yang merasa dirugikan. Hal ini, karena netizen cenderung tidak ingin disalahkan dan merasa pendapat mereka benar dan begitu leluasa berkomentar apapun.

julid di medsos
Banyak Orang Merasa Menjadi Korban Julid?
Pernahkah Bunda punya teman atau keluarga yang merasa dirinya jadi bahan kedengkian orang lain? Sedikit-sedikit ada yang sirik, sedikit-sedikit ada yang julid. Atau justru kondisi itu Bunda alami sendiri?

Nah, kali ini saya ingin membahas tentang para korban julid yang belakangan makin nyaring saja dengungnya.

Biasanya orang atau bahkan para pemateri keagamaan lebih banyak menitikberatkan kepada pelaku julid itu sendiri. Pokoknya pelaku julid yang dibedah tuntas. Bagaimana ciri-ciri orang julid, dampak psikologis julid, hukum julid dalam agama, dan lain-lain.

Di tulisan ini, saya ingin bergeser ke “korban julid”. Orang yang dijulidi oleh orang lain atau banyak orang.

Kita tak perlu membicarakan para publik figur yang sudah tidak asing lagi dengan gonjang-ganjing netizen. Kita bahas orang biasa seperti kita-kita saja.

Sebagaimana kata seorang Ustadz, materi pengajian seharusnya menjadi “cermin” bukan “kaca pembesar”. Artinya, kalau kita pergi ke pengajian ataupun seminar motivasi dan sebagainya, seharusnya materi yang baik adalah yang membuat kita memperbaiki diri. Bukan justru menambah penglihatan kita akan kejelekan dan dosa orang lain.

Fenomena julid pun sama. Jika biasanya fokus kepada keburukan para ahli julid, sekarang kita mulai berputar ke korban julid. Mungkin itu diri kita. Ingat, filosofi ”tangan menunjuk” orang lain. Jari kita hanya satu yang mengarah ke orang lain. Jari telunjuk saja. Sisanya ada tiga jari (jari tengah, manis dan kelingking) malah menunjuk ke diri kita. Sementara jempol mengikat tiga jari ini.

Artinya bahwa saat kita merasa yakin orang lain salah, justru alam mendorong kita untuk introspeksi diri tiga kali lipat sebelum menyalahkan orang lain.

jari menunjuk
Orang Julid Memang Ada dan Mungkin Banyak
Sebenarnya, hemat saya, fenomena ini perlu kita pikirkan lebih jauh. Pasalnya, apa betul orang-orang yang mengenal kita begitu buruk hatinya? Sampai-sampai melihat orang bahagia, mereka iri.

Selama lingkungan sosial kita masih sehat, masih kental dengan pendidikan agama, "sehat" secara mental, rasanya sikap iri dengki bukan hal yang semestinya membuat kita parno. Mengapa?

Sebenarnya, manusiawi sekali jika kita merasa iri dengan kesenangan orang lain. Wajar memang, jika orang beli barang yang belum mampu kita miliki, hati jadi kurang bahagia. Juga lumrah, jika apa yang orang miliki lebih baik, ada rasa kurang senang.

Tidak bergairah lagi melihat rumah kita yang biasa saja setelah melihat rumah mewah teman kita. Rasanya itu manusiawi. Tas ibu-ibu yang lain lebih modis dan mahal, timbul keinginan memiliki atau bahkan ingin punya yang lebih bagus. Anak orang lain lebih pintar, hati kita terganggu karena anak kita biasa saja kecerdasannya.

Hanya, perasaan itu ada batas kewajarannya. Perasaan refleks di hati tidak bisa dihindari. Namun, orang baik akan mengendalikan rasa iri tersebut. Atau bahkan mengubahnya menjadi perasan positif.

Mungkin kelebihan orang kita jadikan motivasi supaya berusaha lebih keras lagi. Apa yang orang miliki justru kemudian membuat kitamemiliki kesempatan untuk berlatih sabar dan bersikap sportif. Kelebihan orang menjadikan kita berlatih lebih rendah hati. Bahwa di atas langit selalu ada langit.

Sebaliknya, bagi orang berpotensi julid, kelebihan orang tidak membuatnya lebih baik. Justru refleks iri di hatinya ia pelihara.

Saat melihat anak orang lain lebih tampan, ia cari-cari kelemahan anak itu. Mungkin ia lihat prestasinya yang kurang baik, keluarganya yang tidak mampu, dan sebagainya. Ia puaskan diri dengan mencari-cari sisi negatif orang lain.

Kondisi kejiwaan itu kemudian muncul dalam sikap dan perkataan. Ia tidak ragu mengucapkan cibiran, mengutarakan kelemahan bukannya pujian, menyakiti hati orang yang ia anggap lebih baik darinya dengan mengangkat sisi negatifnya saja. Itulah salah satu sikap orang yang akhirnya masuk golongan ahli julid.

Namun, pertanyaannya, apakah memang ada orang demikian? Ya, mungkin jawabannya ada. Mungkin juga banyak di sekitar kita.

Kemudian yang menjadi persoalan lagi adalah, apa benar orang-orang yang kita anggap julid ini benar-benar murni disebabkan hati mereka yang buruk?

Berhenti Terlalu Fokus Kepada Orang Julid, Tapi Mulai Fokus Kepada Diri Sendiri
"Kawan-kawan, aku mau beli sesuatu bulan ini,lho… Beuuh, yang julid makin panas kali ya", celoteh seorang wanita di sebuah forum. Rencananya dia mau membeli tas baru bermerek dalam waktu dekat. Hal yang paling mengganggu menurutnya adalah banyak orang julid padanya.

Itu hanya satu contoh orang yang merasa dirinya menjadi sasaran julid orang. Selain dia, masih banyak lagi saya mendengar dan menyaksikan mereka yang tidak lepas dari mata dan mulut julid orang lain.

banyak punya, rentan jadi korban julid
Jika membahas julid-menjulid, sebanarnya ada beberapa poin yang mungkin selama ini kita lewatkan. Pertama, mungkin hanya persepsi kita terhadap orang lain. Teori komunikasi menyebutkan bahwa inti dari komunikasi dalam pergaulan adalah “persepsi”. Persepsi adalah sekumpulan pikiran perasaan hingga prasangka kita terhadap suatu hal.

Orang lain yang mungkin sebenarnya hanya ingin mengungkapkan kekaguman pada barang yang kita punya, kita anggap julid. Mungkin dia hanya salah dengan caranya saja. Banyak tanya, dikira ingin niru dan ingin ikut-ikutan. Bilang “cie, baju baru nih” mungkin hanya ungkapan perhatian biasa saja.

Kedua, mungkin kita terlalu mengekspos segala hal. Banyak di antara kita yang telalu rajin memamerkan apa yang ia kerjakan, ia miliki dan apa yang ia alami. Terlalu sering mengupload barang baru, makan makanan lezat di restoran, mengutarakan kegembiraan mendapat rejeki ini itu, tentu memancing prasangka orang lain bahwa kita berniat pamer. Meskipun niat kita hanya mengekspresikan kebahagiaan saja.

Bukan hanya di media sosial, seringkali kita juga tidak mampu mengontrol pembicaraan saat berkumpul dengan teman-teman. Alih-alih memberikan porsi yang adil untuk berbagi obrolan, kita malah sibuk membicarakan diri sendiri. Tidak jarang, kita temui orang yang begitu senang membicarakan dirinya sendiri, senang jika dipuji, diapresiasi, namun malas membahas lawan bicara.

Alhasil, kumpul bareng malah isinya membicarakan satu orang saja. Orang yang begitu bersemangat membicarakan dirinya sendiri. Wajar, jika lawan bicara tidak nyaman dan tidak senang. Jadi, akhirnya orang lain bukan tidak senang melihat dirinya bahagia, namun tidak senang pada “orangnya” saja. Saat ia punya kelebihan, orang lain dianggap julid, padahal ia sendiri pemicunya.

Ketiga, jangan-jangan kita yang suka julid. Perilaku orang-orang di lingkungan kita ibarat cermin. Kalau kita biasa memakai baju merah hanya ketika sedang bahagia, maka kurang lebih jika melihat orang memakai baju merah kita anggap mereka sedang bahagia juga. Padahal belum tentu.

Begitu pula, saat kita memiliki barang baru, kelebihan dalam suatu hal, langsung menganggap orang akan julid. Belum tentu. Siapa tahu, justru kitalah yang biasa dengki melihat kebahagiaan orang lain. Akhirnya, kita pun menganggap orang akan julid saat kita bahagia.

Keempat, terlalu mendewakan materi. Julid adalah perilaku orang-orang orang yang mendewakan mareri. Kemuliaan orang dinilai dari bagusnya pakaian, banyaknya harta, kepintaran otak, ketenaran, sehingga perbedaan anugerah dalam hal-hal lainnya yang bersifat materi menyebabkan iri dengki.

Hal ini tidak berlaku bagi orang yang memahami bahwa materi hanyalah amanah dari yang Maha Kuasa. Titipan yang sebenarnya bukan milik kita.

Bagi orang yang tidak mendewakan materi, saat diberikan anugerah anak yang tampan, mobil model terbaru, rumah mewah, maka ia akan mengutamakan rasa syukur. Sikapnya pun akan tetap rendah hati, tidak terlalu banyak mengekspos apa yang ia punya, serta tidak akan iri dengki jika orang lain punya hal serupa atau lebih darinya. Semua ia anggap ujian untuk meningatkan kemuliaan atau justru kehinaan di hadapan Tuhan.

Jika sudah demikian, saat memiliki kelebihan, ia tidak akan begitu sibuk dan “baper” dengan respon orang lain.

Kelima, jangan-jangan kita selalu merendahkan orang lain. Ini yang saya kira paling urgen. Selain mendewakan materi, kita perlu mengoreksi diri lagi. Apakah selama ini selalu merendahkan orang lain yang lebih sedikit anugerah materinya daripada kita?

Sikap merendahkan orang lain biasanya tampak dengan mimik muka, bahasa tubuh, ucapan, hingga perilaku. Sikap-sikap ini bisa saja membuat orang sakit hati bahkan mungkin memicu kemarahan dan dendam.

Tidak jarang, orang yang merasa direndahkan, apabila hatinya tidak lapang, muncul keinginan melihat orang yang sombong padanya mendapat pelajaran. Entah dalam bentuk kemalangan, kesusahan, atau sesuatu yang dibanggakannya hilang.

Melihat orang yang merendahkannya mendapat kebahagiaan, ia akan merasa tidak puas. Muncul usaha mencari-cari sisi negatifnya dan akhirnya jadilah ia pelaku “julid”.

Nah, jika berbicara poin-poin ini khususnya nomor lima ini, siapa sebenarnya yang memicu kemunculan orang-orang julid? Justru korban julid sendirilah yang menciptakannya.
sikap arogan memicu konflik termasuk julid
Kita Tidak Bisa Mengubah Orang, Tapi Bisa Mengubah Perilaku Kita Sendiri

Kalaupun toh benar-benar banyak orang julid, kita tidak bisa mengubah mereka, bukan? Ibaratkan saja, orang-orang begitu gila materi, penuh iri dengki dengan kelebihan-kelebihan orang lain tanpa dipicu lima poin tadi, tetap saja bukan kapasitas kita mengubah mereka agar tidak julid.

Hal yang paling mungkin adalah mengubah diri sendiri. Mungkin mulai dengan mengurangi ekpos segala yang kita punya dan alami di media sosial. Mulai lebih banyak mendengarkan orang lain daripada ego membicarakan diri sendiri. Selain itu, sering mendengarkan daripada berbicara juga membuat orang lain lebih nyaman dan merasa dihargai.

Banyak bicara, meskipun apa yang kita sampaikan terasa paling benar, alih-alih membuat orang senang, justru membuat orang merasa didominasi. Terutama apabila perkataan kita tidak diminta. Orang yang terlalu banyak bicara biasanya mencerminkan seseorang yang merasa lebih. Baik ilmu, wawasan, kedudukan, harta, dan sebagainya.

Perilaku lainnya yang bisa kita ubah mungkin pandangan kita mengenai materi. Jika selama ini kita begitu cinta hal-hal bersifat bendawi, mungkin dengan melihat segala hal dari kacamata agama, akan membuat kita lebih tenang dan bijak menyikapi segala bentuk “kepemilikan” dalam hidup.

Senang dengan hal-hal indah memang wajar dan sifat alami perempuan. Namun, jika diiringi dengan pemahaman yang baik mengenai hakikat materi, tentu akan membuat kita lebih tenang. Rasa tenang ini juga yang bisa meredam gangguan fenomena julid-dijulidi.

Jika memang betul orang-orang sekitar kita begitu berwatak julid, sepertinya beberapa hal tersebut dapat meminimalisir gangguan orang-orang julid sejati itu. Namun, jika sebenarnya kita hidup di tengah mayasrakat dan lingkungan sosial yang normal saja, mungkin perlu dilihat dulu. Siapa tahu pembawaan diri kitalah yang memicu hati orang-orang untuk julid.

Artikel Terkait

Komentar