Memilih Menjadi Wanita “Gila Uang” atau Gemar Berhutang?

Selain hobi menulis blog, saya merupakan seorang ibu rumah tangga yang aktif dalam bisnis Multi Level Marketing (MLM). Memang bisnis jenis ini seringkali memiliki imej negatif. Namun, juga tidak bisa dipungkiri ada banyak sisi positifnya.

Sisi negatif bisnis MLM sudah menjadi rahasia umum. Mulai dari simpang siur hukumnya dalam agama, fenomena kebohongan kualitas produk, menyesatkan orang awam, dan lain-lain. Namun, supaya tidak panjang lebar, rasanya tak perlu saya sebutkan di sini satu per satu. Saya ingin lebih mengarah ke “curhat” secara subjektif saja. 



Saya sendiri menjalani bisnis jenis ini karena memang melihat sisi positifnya. Sisi positif bisnis MLM di antaranya, meningkatkan skill marketing, leadership, menambah relasi, tidak semua perusahaan MLM itu buruk (banyak yang sehat), dan tentunya menebalkan rekening pribadi (kalau sukses ya, hehe). Nah, sisi positif yang terakhir itu yang kemudian menjadi dua mata pisau. Jika salah mengaplikasikannya justru menjadi masalah. 

Mendapat Julukan “Gila Uang” dan Kriris Persahabatan 



Sempat saya dikomentari teman saya, "ah, mbak sedikit-sedikit promosi" canda teman saya. Di tengah suasana bercanda, ucapannya itu lumayan menggelitik juga. Pasalnya, imej saya di mata teman-teman seolah mata duitan banget. Dan jika saya introspeksi, ternyata tidak salah juga sih.

Efek menjalani bisnis MLM yang notabene mengharuskan kita mencapai target tertentu, menyebabkan hubungan sosial cukup terkontaminasi. Seringkali teman-teman saya pun masuk dalam daftar prospek. Mereka menjadi target jaringan bisnis saya. Entah teman yang sedang bergaul di saat ini, yang sering bertemu, atau yang di dunia maya maupun teman lama. 



Memang niat saya tidak ingin menjerumuskan mereka. Sebaliknya hanya ingin mengajak mereka siapa tahu ada yang butuh bisnis dan tambahan penghasilan. Niat mulia sebenarnya mengajak orang untuk sama-sukses, di samping juga meningkatkan kesuksesan pribadi. Dua keuntungan. 


persahabatan

Setelah ada beberapa teman yang sukarela ikut bergabung, alhasil mereka pun menjadi mitra bisnis saya. Nah, ternyata di sini kemudian problem lainnya terjadi. Hubungan antara saya dan teman-teman dihiasi dengan bisnis dan target keuangan. Hubungan pertemanan terasa berubah menjadi kabur. Bahkan tidak jarang, konflik bisnis sedikit banyak mengganggu hubungan persahabatan.

Di sisi lain, ingin hidup dengan ketulusan persahabatan. Namun, di lain pihak tuntutan bisnis begitu besar. Saya dan mungkin para mitra bisnis jenis ini menghadapi problem yang sama, yaitu “krisis persahabatan”.

Terlibat Bisnis Abu-Abu, Membuat Ragu dan Sedikit Banyak Merasa Menjerumuskan Teman
serasa jadi teman jahat
Selain persahabatan, tuntutan target bisnis MLM juga mendorong pelakunya melakukan promosi berlebihan yang akhirnya dapat menyesatkan konsumen. Hasil testimoni  (yang sebenarnya dibuat oleh mitra MLM itu sendiri) seringkali berlebihan. Hasilnya tersebar gambar-gambar testimoni yang benar-benar menggiurkan. Padahal, hati kecil saya dan mungkin sesama mitra bisnis mengakui bahwa tidak semua gambar-gambar testimoni produk yang kita pasarkan itu benar.

Target penjualan dan prospek rata-rata adalah orang yang kita kenal, entah teman maupun keluarga. Kalaupun mungkin menarget orang yang baru dikenal, seperti di media sosial atau kenalan baru di dunia nyata, pada akhirnya mereka juga akan menjadi mitra kita juga. 

Kondisi ini juga menjadikan ketidaknyamanan baik untuk menawarkan produk maupun mengajak join. Rasanya seperti setengah hati gitu. Kalau kemudian ada yang terlanjur bergabung, nantinya produk yang tidak sesuai testimoni dapat membuat mitra kesulitan berkembang. Terlebih lagi, jika mitra baru tergolong orang yang masih newbie dalam dunia MLM. Bukan hal yang ringan melihat orang kecewa atau tidak ikut sukses karena ajakan kita. Apalagi jika ajakan itu justru malah merugikan mereka baik dari segi materi maupun tenaga. 

Tapi perlu saya tekankan bahwa tidak berarti semua testimoni produk MLM itu dimanipulasi ya, Bunda. Pada perusahaan tertentu, ada dan mungkin banyak kok, produk MLM yang memang memiliki kualitas yang bagus dengan harga yang layak. Eksklusif pula. Saya hanya menyinggung produk yang sebenarnya tidak begitu bagus dan memiliki fungsi yang sama dengan produk pasaran (harga jauh lebih murah), namun dibuat sedemikian rupa sehingga seolah produk premium. 



Kondisi ini juga yang seringkali membuat bisnis MLM menciptakan iklim bisnis yang kurang sehat, baik untuk relasi bisnis maupun terhadap hubungan pertemanan. Bagaimana tidak, kita mengajak orang banyak untuk mempromosikan produk yang sebenarnya kita tahu tidak sesuai iklannya. Ketika mitra atau teman kita menyadari itu, trust mereka jadi rusak dong pastinya.

Kembali Kepada Prinsip Bahwa Setiap Pilihan Pasti Ada Resikonya
perjuangan ada resikonya
Saya mungkin orang yang mudah goyah dengan idealisme bernuansa “kemanusiaan” dan relasi sosial. Karena hal tersebut pula lah seringkali saya sendiri menyerah dan mencoba berhenti, atau istilahnya “ngambil nafas dulu”.

Itu saya. Namun, saya pun kembali mengamati mereka yang terus konsisten walaupun mereka pun sama saja mengalami problem di atas. Sedikit banyak cukup lama merenung jika menyaksikan mereka yang tetap maju, konsisten promosi, konsiten prospek, dan sebagainya hingga sukses secara finansial dan mendapatkan reward ini itu. Awalnya saya bertanya, “Apakah mereka bebal akan problem sosial, kemurnian bisnis, atau memang memiliki solusi sendiri atas problem-problem tadi?”

Saya yang bertanya, kemudian saya sendiri akhirnya menemukan jawaban sendiri selagi “mengambil nafas” panjang untuk cuti dari bisnis ini. Ya, mungkin mereka yang konsisten dan sukses memegang prinsip-prinsip berikut ini: 

1. Memahami bahwa setiap perjuangan pasti ada yang dikorbankan.
Sama halnya dengan perjuangan lain yang menuntut adanya pengorbanan, bisnis MLM pun mengharuskan pelakuknya mengorbankan banyak hal. Di antaranya mengorbankan kemurnian pertemanan, bermasalah dengan hubungan sosial, mendapatkan kritikan pedas dari konsumen maupun mitra, hingga hal sederhana masakan gosong karena sibuk memantau grup team bisnis.

Prinsip berjuang dan berkorban ini yang membuat orang bertahan dalam bisnis MLM yang saya kira tergolong problematis. Ada imbalan, ada pengorbanan.

2. Mencari produk dan perusahaan yang benar-benar berkualitas.
Jika ada keinginan pasti ada jalan. Orang yang memiliki semangat tidak akan menyerah karena sebuah kendala. Dan kendala besar bisnis MLM biasanya dalam hal produk serta perusahaan yang harus dikaji mendalam sebelum bergabung.

Seringkali bagi mereka yang tidak begitu tinggi semangat bisnisnya, akan segera menyerah ketika mereka join di perusahaan dan produk yang ternyata tidak sesuai iklan. Bahkan, banyak pula yang langsung “pamit” ketika menyadari bahwa tempat ia bergabung merupakan bisnis yang salah.

Padahal, sebenarnya kita memiliki hak penuh untuk melakukan survey, menganalisis, dan memilih bergabung di perusahaan dan produk mana. Memang tidak mudah, tapi jika memang keinginan kita kuat, “salah kamar” dalam bisnis ini bukan alasan untuk menyerah.

3. Sudah Menjadi Skill dan Passion, Maka Resiko Apapun Tidak Lagi Merobohkan Semangat
Seperti halnya skill dalam bidang tertentu seperti melukis, berpolitik, dan sebagainya, menekuni bisnis MLM juga merupakan skill atau passion bagi sebagian orang. Di antaranya para suhu di bisnis ini yang telah mendapatkan berbagai macam reward besar.

Bisnis ini memerlukan keahlian leadership, kecakapan promosi, dan bahkan keahlian merayu. Hal lainnya adalah kebal dan terbiasa mendapatkan penolakan, kebal dengan cibiran, cemooh, hingga mungkin dihianati. Dan Tidak semua orang mampu melalui semua itu.

Pilihan Terakhir, Antara “Mempertahankan Idealisme dan Gengsi Namun Tidak Punya Income”, atau “Tetap Bertahan dengan Segala Resikonya”
Menjalani bisnis ini kebanyakan memang dilatarbelakangi karena seseorang kekurangan secara finansial atau tidak memiliki hobi maupun skill lainnya yang dapat menghasilkan uang. Tentu tidak semuanya begitu (kebanyakan yang saya temui saja). Banyak orang ingin mendapatkan penghasilan besar dalam waktu singkat dan jalan yang paling logis adalah dengan menjalani sistem dalam bisnis penjualan langsung seperti MLM.

Memang, promosi-promosi barang, ajakan bisnis yang disampaikan pebisnis MLM kebanyakan mencerminkan bahwa orang tersebut "kurang duit" banget. Biasanya saya temukan ini di media sosial. Pembicaraan di dalam forum mitra bisnis pun sama. Walau tidak diucapkan secara gamblang, namun jelas sekali bahwa semua berawal dari ketidakberdayaan secara finansial.

Sampai-sampai jika promosi atau jualan di media sosial banyak orang malu melakukannya karena takut dianggap sebagai orang tidak mampu. Meskipun kebanyakan itu benar adanya. Ingat, saya garisbawahi lagi, kebanyakan bukan semuanya. Ada kok, yang ikut bisnis ini hanya untuk belajar bisnis dan untuk kesenangan saja untuk nambah-nambah penghasilan dan sebagainya.

Ibaratkan saja sekarang bisnis yang dijalankan benar-benar sehat. Anggap saja kita sudah memilih bisnis yang benar-benar bagus dan legal halal perusahaan serta produknya oke. Kini persoalan yang dihadapi hanya dua, yaitu soal pertemanan dan gengsi finansial saja.

Jika pilihannya tinggal itu saja, maka kini pertanyaannya, “Mana yang sekiranya membuat hidup kita lebih mulia, dicap “gila uang” atau jadi orang yang dicap “tulus tapi tidak punya uang”.

uang memang penting
Ada saatnya pilihan kita sudah bukan lagi halal haram, tapi hanya persoalan gengsi. Gengsi terlihat "kere" jika jualan di medsos. Gengsi dianggap gak tulus jika memprospek teman sendiri. Galau jika setiap interaksi dianggap hanya untuk tujuan bisnis.

Berat memang, tapi apa jadinya jika kenyataannya kita khususnya perempuan tidak cukup secara finansial? Ingin gaya hidup sekelas sosialita, namun gengsi juga selangit. Tidak jarang seorang istri menghutang kepada perempuan lain hanya demi membeli kosmetik atau keperluan yang bukan golongan kebutuhan primer.

Nah, sekarang jelas sudah curhat saya ini mengarah ke mana ya Bun? Nulis topik ini agak bingung dan mungkin membingungkan pada awalnya. Namun, saya kira Bunda-bunda paham maksud saya.
Mau memilih bekerja keras dengan segala resikonya atau kalah dengan gengsi namun resiko "tangan di bawah". Yups, setiap pilihan ada resikonya masing-masing. Kalau tanpa resiko bukan hidup namanya.

Tapi perlu digarisbawahi lagi. Saya tidak mengatakan bahwa yang meninggalkan bisnis ini bukan pejuang. Hanya saja mari bertanya ke dalam diri masing-masing, apakah pengorbanan yang saya sebutkan di atas sepadan dengan apa yang didapat atau tidak? Kalu sepadan, maka layak diperjuangkan, jika dirasa tidak sepadan dan merugikan, maka hak kita untuk memilih apapun yang terbaik untuk kehidupan kita. Itu saja.

Analogi Untuk Perjuangan Apapun yang Kita Jalani
Tulisan ini memang curhat dan khusus sangat spesifik pengalaman bisnis MLM yang dijalani perempuan menikah. Namun, yang ingin saya sampaikan intinya adalah bahwa setiap perjuangan ada resikonya. Setelah kita menyadari resiko setiap hal, perlu dikaji ulang bobot resiko ini dengan keuntungan yang kita dapatkan.

Bukan hanya dalam keputusan menjalani bisnis, hal ini juga berlaku dalam segala hal. Pilihan apapun yang kita putuskan selalu berpedoman kepada “resiko dan untung”. Jika keduanya sepadan atau malah lebih besar untungnya, maka pilihan itu layak diperjuangkan. Berakit-rakit kehulu, berenang-renag ketepian. Bersakit-sakit babak belur dengan bisnis (selagi halal dan sehat), bersenang-senang kemudian. Sekian. Salam Pejuang.

Artikel Terkait

Komentar