Inilah Beberapa Kondisi Darurat Bagi Istri untuk Tetap Mempertahankan Karirnya

Hai Bunda-bunda pejuang...
Masih membahas dan curhat soal karir bagi perempuan menikah nih. Saya hanya ingin bahas aja sih, siapa tau di antara Bunda-bunda pembaca ada yang merasa terwakili dengan tulisan ini. Maklum, perempuan kan selalu membutuhkan wahana untuk mencurahkan isi hati. Betul ga? Daripada kita bikin status-status unproduktif di Whatsapp atau di medsos, lebih baik membredel sampai puas melalui tulisan panjang dong.


wanita karir, istri karir, wanita bekerja, career woman
wanita bekerja
Tulisan saya biasanya dilatarbelakangi oleh kondisi yang dialami teman-teman sesama ibu-ibu serta dipadukan dengan pengalaman pribadi serta sedikit pengetahuan dari berbagai sumber. Yups, daripada panjang kali lebar di basa basi, yuks mari langsug ke topik pembahasan.

Bicara-bicara soal karir, identik dengan ekonomi keluarga. Nah, dalam teori sosial pada umumnya ekonomi selalu berkaitan dengan kekuasaan. Artinya, siapa yang memegang kendali dalam ekonomi atau harta, pasti dapat menguasai sesama manusia lainnya. Kasus sempitnya terjadi dalam rumah tangga. Siapa yang merupakan tulang punggung keluarga atau pihak yang menghasilkan uang, maka dialah yang berkuasa.

Tidak heran apabila sejak lama dan sudah menjadi rahasia umum “istri selalu di bawah” dalam segi kekuasaan. Itu sebenarnya kasus umum dan lebih banyak terjadi. Suami yang notabene merupakan pihak yang biasanya bekerja menghasilkan income untuk keluarga, seolah menjadi penguasa di rumah. Titel sebagai pencari nafkah seolah menjadi “tiket” untuk mendapatkan pelayanan total dari istri.

Sekali lagi dan untuk kesekian kalinya, saya sampaikan bahwa kondisi di atas tidak saya anggap berlaku dalam semua rumah tangga ya Bun... Meskipun tidak semuanya, tetapi setidaknya kita tidak boleh mengabaikan bahwa kasus seperti itu memang ada. Apalagi jika itu menimpa orang-orang terdekat kita. Tentunya kita perlu menolong, atau setidaknya memiliki empati. Terlebih lagi jika itu menimpa diri sendiri. Siapa lagi yang bisa mengatasi semua itu selain kita sendiri.

Jika kita mengalami sebuah kasus “penyalahgunaan” kekuasaan dalam pernikahan, tentu kita tidak boleh tinggal diam. Salah satunya adalah perlunya memiliki power yang setara dengan kaum laki-laki, yaitu karir dan penghasilan yang layak. Nah, berikut ini beberapa kasus yang saya anggap darurat bagi perempuan menikah untuk memiliki pekerjaan dan income. Jika bagi Bunda yang sudah bekerja, berarti kondisi darurat untuk terus mempertahankan pekerjaan atau karir Bunda. Apa sajakah itu?


Lingkungan yang Tidak Kondusif untuk Mental Istri 
 
mertua, mother in law, mertua galak, mertua yang tidak baik, mertua bawel
Perempuan yang sebelumnya sudah bekerja sejak sebelum menikah, sebaiknya menimbang-nimbang keputusan untuk berhenti bekerja. Dan, untuk mereka yang belum bekerja, mungkin ini juga bisa jadi dorongan untuk mulai memikirkan alternatif pekerjaan maupun memiliki income dari hasil usaha Bunda sendiri deh. Pasalnya, situasi rumah tangga harus kita kenali terlebih dahulu apakah lingkungannya baik atau justru bisa mengancam kesehatan mental Bunda.

Ada perempuan menikah kemudian menjelang hari pernikahan ia memutuskan resign dari kantor. Alasannya karena suami sudah memiliki rumah dan pekerjaan tetap. Ia merasa sangat siap untuk hidup sebagai ibu rumah tangga. Namun, ternyata ia harus tinggal bersama mertua sementara setiap hari suami pergi ke kantor.

Awalnya ketidakcocokan dengan mertua dia anggap sebagai awal yang wajar dalam setiap hubungan. Namun setelah bertahun-tahun ia tidak menemukan kecocokan dengan ibu mertua. Hubungan dengan suami pun terancam retak karena kondisi mental sang istri yang kurang baik. Ya, saya memaklumi sulitnya menjadi orang yang sehat secara mental ketika hidup dalam konflik berkepanjangan.

Kadangkala kita dengan mudah menyimpulkan bahwa “mungkin orangnya memang bermasalah kali.. entah si istri atau mertua”. Apapun itu, saya yakin bahwa solusinya adalah ada pergantian aktivitas dan memiliki lingkungan harian di luar rumah. Adanya lingkungan lain selain rumah, setidaknya dapat mengurangi konflik berkepanjangan. Seringkali kita bisa merasa lebih baik dengan memiliki teman curhat, melihat sesama yang juga punya problem, atau bisa jadi memperoleh solusi dari kenalan kita yang lebih dewasa.


Selain itu, pergantian rutinitas dapat membuat kita tidak hanya fokus di satu persoalan saja. Apalgi jika ditambah dengan memiliki penghasilan pribadi, tentunya Bunda lebih memiliki rasa percaya diri serta waktu untuk memanjakan diri. Selain mengurangi kesuntukan dari problem rumah, siapa tahu lambat laun persoalan Bunda ikut menguap seiring waktu. Saya termasuk orang yang percaya bahwa jika hati bahagia serta memiliki rasa berharga, maka problem sosial dapat teratasi. Bagaimana menurut Bunda?

Tidak Mendapatkan Nafkah yang Layak
Suami dibebani kewajiban mencari nafkah. Namun, apakah semua menjalaninya dengan baik? Saya ataupun bunda pasti sering menyaksikan beberapa istri yang mendapat perlakuan kurang menyenangkan dalam hal nafkah. Ada lho mereka yang tidak diberikan nafkah oleh suami. Bukan karena suami tidak mampu, tetapi karena memang sang suami tidak memiliki kesadaran akan kewajibannya. Istri yang mengabdikan seluruh waktu untuk anak dan suami justru tidak dianggap dan dihargai.

Salah satunya terjadi kepada tetangga saya. Jangankan suami mau memberikan kebutuhan hiburan untuk istrinya, bahkan untuk belanja sehari-hari pun tidak diberi. Sampai-sampai untuk bumbu dapur saja harus meminta kepada ibunya. Padahal bisnis suami termasuk maju dan memiliki penghasilan cukup banyak.

Ada pula suami yang memang memberikan uang nafkah, namun setiap rupiah yang diberikan kepada istri dihitung sebagai nilai yang harus ditebus. Suaminya tidak menyadari pengorbanan waktu dan tenaga yang diberikan istri di rumah sebenarnya sudah lebih dari cukup sebagai alasan untuk mendapatkan bagian dari penghasilan suami. Jadi, setiap kali memberikan nafkah, sang suami langsung minta diganti dengan sebuah jasa. Semisal setelah memberikan uang, langsung minta dipijit, tiba-tiba menyuruh melakukan ini itu semaunya. Kurang lebih setiap memberikan nafkah, suami memperlakukan istri seperti pelayan.

Mungkin Bunda yang tidak pernah mengalami dan menyaksikan hal seperti ini mengernyitkan dahi ya.. "Ah, masa sih ada suami seperti itu?" Jawabannya ada Bun... Kita tidak pernah tahu kondisi di bawah atap rumah orang sampai mendengar langsung dari mereka yang mengalami itu.

Itu dua contoh di mana istri tidak mendapatkan hak yang layak dari segi nafkahnya. Jika kemudian istri mengalami hal seperti ini, atau kurang lebih mirip, sebagai manusia biasa tidak akan betah dan bahagia. Kalau sudah begini, maka tidak salah jika istri sebaiknya mempertimbangkan untuk memiliki penghasilan sendiri.

Ingat bahwa manusia itu setara, dan tidak bisa dibedakan derajatnya hanya karena salah satu pihak memiliki kendali dan kekuasaan ekonomi dalam keluarga. Budaya dan agama pun tidak membenarkan kondisi semacam itu, kan Bun. 



Kekerasan Fisik Maupun Psikis
kekerasan dalam rumah tangga, perempuan menangis, perempuan sedih, istri yang mendapatkan kekerasan
domestic violence
Nah, ini malah lebih urgen Bun... Banyak lho kasus kekerasan dalam rumah tangga yang dialami kaum perempuan. Baik itu berupa fisik maupun psikis.

Memang dalam setiap hubungan pasti ada saja konflik. Namun apabila laki-laki saat marah mudah melayangkan tangan kepada istri, melakukan kekerasan fisik, sudah selayaknya istri memiliki dunia lain di luar
rumah. Setidaknya dia tidak terkurung dalam lingkungan yang memberikan luka, tetapi juga ada tempat untuk mengalihkan perhatian dan pikiran. Selain itu, kondisinya akan lebih terbuka ke dunia luar yang secara langsung bisa memperoleh perlindungan dari lingkungan sosial.

Bukan hanya fisik, kekerasan psikis pun kerap dialami oleh perempuan. Alasan terbesarnya karena kurangnya pemahaman suami tentang hak perempuan dalam rumah tangga, memiliki ego yang tinggi, hingga kurangnya pemahaman agama, dan lain-lain.

Tanpa bekal agama yang baik, orang dapat membeli segala hal termasuk kemerdekaan dan harga diri orang lain. Begitu pula suami yang merasa berkuasa karena ia yang mencari nafkah dapat memperlakukan istri dengan sekehendak hati. Suami menyuruh-nyuruh istri melakukan ini itu sekehendak hati tanpa melihat kondisi istri. Tidak jarang pula suami yang merasa tidak puas dengan pelayanan istri, dengan mudahnya ia merasa berhak mencari kebahagiaan dari perempuan lain. Alamak kaya sinetron saja...

Mungkin Bunda yang kehidupan rumah tangganya baik-baik saja dan bahagia, merasa itu berlebihan. Namun, dengan memaklumi bahwa kasus itu ada, setidaknya kita bisa menghargai setiap keputusan yang diambil oleh orang lain.

Dalam kasus kekerasan psikis inilah maka perempuan berhak memiliki harga dirinya. Jika dengan memiliki pekerjaan dan penghasilan sendiri dapat membuatnya merasa lebih berharga, maka tidak salah jika ia memilih terus berkarir. Mungkin pekerjaan rumah perlu menyewa asisten rumah tangga. Pengasuhan anak diakali dengan menyewa orang lain yang sudah ahli atau meminta tolong keluarga menjaga anak selama jam kerja.

Keputusan yang diambil mungkin tidak mudah. Itu juga butuh pengorbanan yang tidak kalah besar. Ibu mana yang mau jauh dari anak ya Bun... Tidak mudah menitipkan buah hati kepada orang lain. Namun, semisal dengan tidak bekerja justru kondisi mental Bunda rusak dan malah membuat terpuruk, emosional saat mengasuh anak, mengurus rumah secara berat hati, tidak ikhlas melayani suami, maka kehadiran dunia kerja setidaknya dapat mengalihkan perhatian dan membangun rasa percaya diri. Dengan begitu, bisa menolong Bunda dari tekanan berat yang bisa saja beresiko lebih fatal.

Penghasilan Suami Tidak Mencukupi Kebutuhan Keluarga
Alasan yang satu ini sudah tidak asing lagi. Mungkin alasan ini tidak sedrama alasan-alasan yang saya sebutkan sebelumnya. Namun, tetap perlu kita curhatkan kali ya...

Jika tenaga dan kreativitas suami sudah dicurahkan namun ternyata masih tidak memenuhi kebutuhan hidup keluarga, biasanya istri ikut membantu dengan bekerja. Pekerjaan tersebut apakah dengan ngantor atau memang mencoba membuka usaha. Pekerjaan tidak terbatas sifat dan jenisnya ya Bun...

Jika kondisi ekonomi keluarga tidak memenuhi ekspektasi Bunda, hal terbaik memang terus mempertahankan pekerjaan. Selain dapat memenuhi kebutuhan Bunda pribadi, juga bisa membantu suami. Daripada kita mengeluh kekurangan ekonomi, lebih baik ikut serta mencurahkan tenaga. Selain menambah income, Bunda juga bisa lebih berkembang secara pribadi dong...

Perempuan yang Tidak Bisa Bahagia Jika Tidak Bekerja

guru, bu guru, guru perempuan, guru SD, guru sekolah alam
teacher
Apakah Bunda termasuk yang ini? Kalau ya, berarti memang harus mempertahankan pekerjaan yang Bunda miliki. Tentunya dengan catatan hal ini dapat berdamai dengan pasangan dan keluarga.

Menyatukan keinginan dengan pasangan memang tidak mudah. Terutama jika berhadapan dengan suami yang inginnya istri di rumah. Namun, istri berhak untuk menyampaikan harapannya dan didukung oleh pasangan. Saat ini, tidak ada alasan lagi untuk mengatakan bahwa jika istri bekerja maka pengasuhan anak jadi terganggu atau rumah tangga jadi berantakan. Jika memang ada keinginan pasti ada solusinya.

Saya punya dosen perempuan yang memang secara pribadi sangat mencintai profesinya. Ia senang dengan ilmu pengetahuan dan pokoknya mencintai bidang pekerjaannya. Ada kisah menarik yang pernah ia ceritakan. Suatu hari, ia mendapatkan kesempatan langka melakukan riset di Australia selama 2 bulan. Tetapi saat itu, ia memiliki bayi masih berumur 2 bulan pula. Ia pun seperti biasa menaruh surat tawaran riset tersebut di meja suaminya. Niatnya hanya memberitahukan saja, tanpa berharap suaminya memberikan izin. Meskipun demikian, jiwanya yang menyukai profesi itu, dalam hati kecil tetap terselip harapan. Ternyata tanpa ia duga, suami mengizinkan.

Mungkin kita , terutama saya yang merupakan IRT biasa m
enganggap, kok bisa diizinkan? Hal ini karena suami yang sama-sama berpendidikan tinggi baik dalam agama maupun mapan dalam ilmu persoalan isu gender, memahami betul bahwa kewajiban menjaga anak-anak dan rumah tangga bukanlah kewajiban istri semata. Ada gilirannya di mana semua harus diemban oleh suami.

Sang suami mengatakan alasan mengizinkan karena kesempatan riset itu sangat jarang dan ini rejeki langka untuk istrinya. Akan sangat dzolim jika ia menghalangi istri dari hal yang disukainya. Wah so sweet deh...

Bagaimana dengan baby nya? Mungkin itu yang paling dipikirkan oleh ibu-ibu pada umumnya. Suami Bu dosen ini sudah biasa merawat anak-anak nya membantu sang istri sejak anak-anak mereka bayi. Jadi, tidak masalah harus menjaga bayi dua bulan di rumah. Sekaligus ada pengasuh yang ikut membantunya. Pokoknya suami meyakinkan semua beres deh. Yang akhirnya membuat si Bu dosen tenang dan sepenuh hati pergi ke Australia.

Dari Bu Dosen dan suaminya ini saya menyadari bahwa  setiap orang punya solusi untuk pola rumah tangga seperti apapun. Selama kedua belah pihak saling mengerti dan memahami, pasti bisa diatasi. Biasanya, jika tidak ada keinginan untuk mendukung istri, suami cenderung membebani istri dengan mengancam hal buruk jika terus bekerja. Sebaliknya, jika kedua belah pihak suami istri saling mendukung, pasti ada jalan keluar untuk kebaikan bersama. Tidak ada pihak mana yang berkuasa mana yang lemah kekuasaannya.

Itulah beberapa kondisi di mana perempuan yang sudah menikah layak mempertahankan pekerjaannya, atau untuk yang tidak bekerja berhak memperjuangkan keinginan untuk bekerja. Mungkin ada kondisi lain di luar yang saya sebutkan tadi, yang sifatnya sangat urgen sehingga perempuan harus tetap memegang pekerjaannya. Bagaimana menurut Bunda?

Artikel Terkait

Komentar