Mengurus Rumah Tangga, Kodrat Perempuan?

Pagi ini, tanpa sengaja saya menemukan video di YouTube yang menampilkan kegiatan bersih-bersih rumah. Channel seorang ibu rumah tangga ini memposting kegiatan harian dirinya dari subuh hingga duhur. Mulai dari menanak nasi, memasak air, menyeduh teh, dan membuat sarapan untuk suami dan anak-anaknya. 

ilustrasi : Ibu Rumah Tangga

Setelah suami dan anak-anak beraktivitas, suami ke kantor dan anak ke sekolah, si ibu kembali melanjutkan pekerjaannya. Ia mulai dengan membersihkan kamar anak pertama dan kedua, kamar dirinya bersama suami, meja kerja, hingga ruang tamu. Ia pun lanjutkan dengan menyapu dan mengepel rumah. Setelah semua bersih, ia kembali ke dapur dan memasak menu makan siang. Tidak hanya itu, ia pun melanjutkan kegiatannya, yaitu membersihkan gelas piring bekas sarapan pagi serta bekas masak. Nah, setelah selesai, ia pun menutup video dengan menyampaikan bahwa sarapan siang sudah siap dan rumah sudah rapi bersih. Ia juga menambahkan bahwa setelah duhur, masih ada kegiatan lagi. Mengangkat jemuran baju dan jika tidak ada kegiatan lain, maka ia akan menyetrika baju, paparnya di akhir video.

Menyaksikan video tersebut, saya merasa campur aduk. Antara ikut termotivasi membersihkan rumah dan juga berat hati karena sebenarnya pekerjaan yang si ibu itu lakukan bukan hanya saat itu tetapi setiap hari. Belum lagi, ia menyampaikan bahwa habis duhur masih ada pekerjaan lain menanti.

Saya sebagai ibu rumah tangga, sebenarnya ikut merasakan bahwa pekerjaan seorang ibu rumah tangga itu tidak ada habisnya. Setelah semua bersih dan rapi pun, sore dan malamnya akan kotor kembali. Ada baju kotor yang baru, gelas piring kotor baru, dan seterusnya.

Itu hanya kegiatan bersih-bersih ya Bun... Bagaimana dengan pekerjaan lainnya? Mengurus anak, melayani suami, serta kadang kita perlu mendampingi anak kita sampai malam hari. Khusunya bunda-bunda yang anaknya masih kecil. Mulai dari mengerjakan PR, mendengarkan cerita anak hari saat di sekolah, hingga hal-hal lain yang kadang tidak terduga.

Buat bunda-bunda yang sudah pengalaman, pasti paham betul bagaimana rasanya ya. Kalau saya rasakan, nano - nano banget. Hehe... Senangnya ada, stres nya ada. Pokoknya banyak deh. Intinya jika sudah bergumul dengan pekerjaan rumah, sudah, tidak ada berhentinya.

Pertanyaannya, apakah semua pekerjaan itu adalah kodrat Wanita?

Mengapa saya mempertanyakan ini Bun? Karena bukan hanya saya, masih banyak ibu-ibu khususnya ibu-ibu muda yang masih belajar dalam rumah tangganya, mendapatkan masalah karena kekeliruan dalam meyakini kodratnya. Jika tidak melakukan tugas rumah tangga, seolah-olah dia bukan ibu atau istri yang baik.

Bukan hanya keyakinan dalam diri kita sendiri, tetapi lingkungan pun masih meyakini hal itu. Terutama suami. Tidak jarang, karena istri tidak membersihkan rumah, atau tidak masak, dan lain-lain, menjadi bahan pertengkaran. Bahkan lebih jauhnya terjadi kekerasan dalam rumah tangga, baik fisik maupun psikis. Apalagi jika keyakinan ini dipertemukan dengan zaman saat ini. Pasti menjadi problem tersendiri.

Kekerasan fisik misalnya terjadi saat suami dalam kondisi capek bekerja, lalu melihat rumah berantakan atau tidak tersedia masakan di rumah, maka emosi sang suami pun terpancing. Istri yang sebenarnya juga dalam kondisi lelah karena mungkin istri juga sama-sama bekerja atau mengasuh anak yang masih kecil, tidak sempat mengerjakan semua itu. Pasangan yang masih muda yang belum memahami satu sama lain, cenderung menyikapi kondisi ini dengan emosi dan pertengkaran hingga berujung memicu kekerasan.

Apakah ini terjadi pada pasangan muda saja? Belum tentu ya Bun... Bersyukur sekali jika kebetulan Bunda memiliki lingkungan yang penuh toleransi dan memahami kodrat perempuan sebagaimana mestinya. Masih banyak di lingkungan saya khususnya dan mungkin masih banyak di masyarakat kita masih keliru memahami tugas dalam rumah tangga. Hal ini karena paham dan pendidikan rumah tangga turun temurun atau pengaruh pemahaman yang keliru terkait tugas dalam rumah tangga.

Jadi, Apa sih kodrat perempuan itu?
 
Kodrat perempuan yang sebenarnya menurut agama saya (Islam), hanyalah mencakup hal-hal bersifat alami, yaitu haid, hamil, melahirkan dan menyusui. Itu saja. Selebihnya, melakukan pekerjaan rumah seperti memasak, bersih-bersih dan lain-lain, itu bukanlah kodrat perempuan. Bunda-bunda yang belajar agama secara mendalam, memiliki banyak pengalaman, atau mengenyam pendidikan tinggi tentu lebih paham soal itu ya Bun. 

Jika kita dalami lagi, sebenarnya Konsep "ibu memasak ayah ke kantor" hanya dibentuk oleh budaya. Tapi, apabila kebetulan Bunda seorang ibu rumah tangga tulen, bukan berarti itu keliru ya Bun... Tentu semua itu sudah menjadi pembagian tugas terbaik yang sudah disepakati bersama oleh Bunda dan suami. Kebanyakan kondisi rumah tangga di masyarakat kita memang mau tidak mau mengarahkan demikian. Suami yang bekerja, maka kita sebagai istri mengerjakan tugas rumah tangga. Bahkan tidak jarang, Bunda yang tadinya bekerja memutuskan untuk berhenti dengan keinginan mengurus anak-anak lebih maksimal.

Jika semua itu dilakukan dengan sukarela, maka itu tidak menjadi masalah. Yang jadi soal adalah, jika ada keterpaksaan. Apalagi jika kita sebagai perempuan memutuskan untuk total menjadi ibu rumah tangga dikarenakan pemahaman yang salah tentang kodrat kita. Hasilnya, kita pun tidak bahagia menjalani tugas kita. Pasti ada ketidakpuasan dalam diri kita.

Pemahaman yang keliru itu jika kita merasa bahwa menjadi ibu rumah tangga karena sudah menjadi kewajiban kita. Menjadi ibu rumah tangga karena tidak ingin suami marah. Menjadi ibu rumah tangga karena tidak tahan dengan penilaian orang tua atau mertua. Menjadi ibu rumah tangga karena tidak ingin ribut dengan suami dan mertua soal pekerjaan rumah. Alasan-alasan tersebut tentu bukanlah dorongan yang baik untuk diri kita dan keluarga.

Menanamkan Keyakinan Tentang Kondrat Perempuan Akhirnya Menjadi Sangat Penting, Mulai dari Diri Sendiri, Lalu Yakinkan Orang Sekitar Kita

Saya termasuk perempuan yang tumbuh di tengah keluarga desa yang masih bias gender. Saya kemudian sekolah di kota dan berumah tangga dengan suami saya yang juga sama-sama dari desa. Tidak heran jika di awal-awal berumah tangga lalu punya anak kecil, kami mengalami bentrokan-bentrokan seputar tugas rumah tangga. Namun, semua perlahan bisa diatasi seiring waktu.

Pemahaman yang bias gender, biasanya meyakini bahwa pekerjaan rumah dan anak seutuhnya adalah kewajiban istri. Sementara suami bekerja saja. Kondisi ini akan sangat memicu masalah terutama dibenturkan dengan perubahan zaman seperti sekarang ini. Saat ini, kebanyakan perempuan memiliki keinginan untuk mengaktualisasikan dirinya dalam karir.

Jangan salah lho Bun... banyak perempuan mengenyam pendidikan hingga sarjana itu dengan susah payah. Apalagi jika sekolah ini ditempuh dengan tujuan bahwa “nanti saat lulus bisa meniti karir di bidang tertentu”. Bayangkan betapa berat dan problematiknya jika sekolah yang ditempuh dengan keringat dan kerja keras orang tua serta menggantungkan cita-cita tertentu, tapi setelah menikah lingkungan memaksa seorang istri untuk melakukan semua pekerjaan rumah. 

Mungkin Bunda berpikir, ya gampang tinggal sewa pembantu. Bagi orang yang menganggap bahwa kodrat perempuan adalah melakukan semua pekerjaan rumah, bisa saja saat semua pekerjaan rumah dilakukan pembantu, ia tidak jarang masih mengalami ketidaknyamanan. Mungkin bukan hanya dirinya yang tidak nyaman. lingkungan pun turut merongrong dirinya.

Saya tidak jarang mendengar teman yang bekerja mengeluhkan sindiran mertuanya, "ga ngurus anak, wong kerja sih" dengan nada kurang mengenakkan. Atau saat sama-sama pulang kerja (suami dan istri), suami tidak mau membantu mengasuh anak, atau sering menyalahkan istri jika ada masalah dengan kondisi anak maupun rumah. Hasilnya, istri memiliki beban pikiran dan fisik berlipat ganda. Tidak heran, jika akhirnya istri mengalah dan memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya. Tentu keputusan ini bukanlah keputusan yang baik ya Bun... Apalagi indikasinya "mengalah" atau "berkorban". Itu tanpa disadari merupakan bentuk kekerasan psikis bagi perempuan.

Dalam hal ini, kekerasan psikis lebih banyak terjadi ketimbang kekerasan fisik. Saat ini, jika suami memukul istri, pasti akan berurusan dengan pihak berwajib ya. Namun, kekerasan psikis adalah hal yang jarang sekali terlihat. Bahkan tidak disadari. Baik oleh masyarakat, lingkungan sekitar kita, termasuk perempuan itu sendiri. 

wanita dengan Passion Travelling
Istri mengorbankan passion, cita-cita, tidak punya waktu untuk mengasah keterampilan, tidak punya kesempatan untuk "me time" adalah sebagian contoh kekerasan psikis. Rasa sedihnya bisa dirasakan, namun sulit diungkapkan. Akhirnya, yang terjadi adalah ketidaknyamanan dalam pernikahan.

Lebih sulit lagi apabila ketidakpahaman mengenai kodrat perempuan ini melekat dalam diri kita sendiri, ditambah oleh pemahaman suami, keluarga besar, hingga tetangga dan lingkungan sosial yang lebih luas. Jika sudah demikian, bukan hanya orang lain yang menekan kita untuk berperan sebagaimana yang mereka yakini benar, bahkan kita sendiri secara pribadi tidak dapat membela diri. Kita sendiri menganggap mereka benar, dan akhirnya “terpaksa” mengalah demi kenyamanan bersama. Padahal, kita mengalah untuk sesuatu yang sebenarnya adalah hak kita sebagai perempuan.

Nah, sekian dulu curhat dan coret-coretnya ya Bun. Bagaimana dengan Bunda? Apakah Bunda termasuk orang yang merasa bahwa tugas rumah tangga adalah kodrat Bunda atau sebaliknya? Lalu, apakah lingkungan Bunda termasuk memiliki toleransi terhadap “passion” bunda? Atau sebaliknya mengekang? Silahkan share di komentar ya Bun....

Artikel Terkait

Komentar