Karir Bagi Perempuan Menikah, Bukan Hanya Sekedar Menambah Penghasilan Suami

Banyak orang menganggap bahwa perempuan bekerja untuk urusan finansial. Padahal, bekerja atau berkarir tidak terbatas pada hal itu saja. Bahkan saya pribadi menganggap urusan finansial terlalu sempit untuk dijadikan alasan para istri bekerja.  


wanita karir, perempuan bekerja, istri bekerja, bekerja menambah penghasilan keluarga, membantu ekonomi keluarga
wanita karir

Jika berbicara finansial, banyak istri yang suaminya termasuk mapan. Istri tidak bekerja pun sudah sangat mencukupi dan mensejahterakan keluarga. Tapi, sang istri tetap saja menekuni karirnya. Mengapa demikian?

Anda yang tetap berkarir setelah menikah tahu betul bahwa pekerjaan bukan sekedar mencari uang. Ya, dengan bekerja, orang pasti punya gaji. Tanpa gaji, atau bahkan tanpa gaji yang sesuai ekspektasi, bekerja jadi kurang betah. Namun, jika berbicara tentang karir, ternyata nilainya lebih dari persoalan gaji dan finansial rumah tangga. Karir seperti bagian dari diri kita. Karir berkaitan dengan motivasi hidup, gairah hidup, rasa percaya diri, dan perasaan berharga sebagai manusia. Manusia di sini berarti tidak mengenal jenis kelamin. Semua orang baik laki-laki maupun perempuan akan merasa lebih berharga dengan pekerjaan yang ia miliki.

Itu pendapat dan pandangan saya tentang karir. Saya yakin memang tidak semua wanita khususnya istri berpandangan demikian. Namun, saya perlu mengungkapkan pandangan tersebut mengingat masih banyak orang salah paham jika ada istri yang tetap mempertahankan pekerjaannya pasca menikah. Jadi, jika ada istri yang tetap mempertahankan karirnya setelah berkeluarga, ataupun menjajal suatu profesi setelah menikah, tidak dihakimi begitu saja.

Ada Statemen Bahwa “Rejeki Sudah Ada yang Ngatur”

dompet, uang, rejeki, gambar dompet, gambar dompet banyak uang
Nah, kadang statemen ini yang semakin memojokkan seorang istri. Ada beberapa orang yang tidak memahami motivasi istri yang bekerja. Belum apa-apa sudah memberi nasihat, "kerja tidak kerja, rejeki lewat suami mu sudah diatur". Artinya, baik istri bekerja maupun tidak, penghasilan suami bisa mencukupi kebutuhan keluarga.

Misalnya penghasilan istri 4 juta suami 7 juta, maka total 11 juta. Jika istri berhenti bekerja dan fokus mengurus rumah tangga, bisa saja penghasilan suami bertambah atau tetap namun lebih berkah. Arti pandangan tersebut intinya bahwa rejeki lewat suami sudah cukup, tanpa perlu tambahan penghasilan dari istri. Ujung-ujungnya menyatakan bahwa istri tidak perlu bekerja.

Padahal, tidak semua wanita bekerja untuk tujuan finansial semata. Bisa jadi istri berkarir berpengaruh besar bagi kebahagiaan, kesehatan fisik dan mental, gairah hidup, hubungan sosial yang sehat, atau bahkan hubungan suami istri itu sendiri lebih berkualitas. Lho kok bisa? Ya, dengan kebahagiaan hati, kualitas bisa dicapai tentunya ya Bun..

Jadi, sebenarnya jika dijabarkan lebih detail, peran karir bagi wanita itu ada banyak, bukan hanya masalah keuangan. Apa sajakah itu?

Aktualisasi Diri
Setiap orang baik laki-laki maupun perempuan pasti memiliki passion maupun hobi. Misalnya menulis, public speaking, fotografi, bisnis, senang mengajar anak-anak, menyukai dunia akademik, dan sebagainya.

fotografer, fotografi, kamera, wartawan, foto memegang kamera

Mungkin ada yang menyanggah, "ah, sesudah menikah pun bisa kok menekuni passion. Malah dengan berhenti bekerja bisa menjalani hobi di rumah sekalian sambil mengurus rumah tangga". Itu memang tidak salah, dan banyak para istri menyukai kondisi semacam itu. Ia memilih fokus mengurus keluarga tapi juga bisa menjalani hobi nya di rumah. Ibu rumah tangga tapi juga menjalani bisnis, menjadi penulis, dan lain-lain. It's oke. Jika Bunda termasuk orang yang sudah punya kemantapan hati dan pilihan Bunda bukan dari paksaan dari pihak manapun, berarti tidak ada soal lagi.

Bagaimana kondisi nya jika rumah tangga justru merenggut aktualisasi seorang istri? Tadinya resign dari kantor ingin mengurus rumah sekaligus menekuni hobi di rumah, malah tidak bisa. Nah, di sini permasalahannya. Tidak jarang kesibukan rumah tangga membuat merana beberapa istri. Niat hati ingin menjalani hobi, malah bentrok terus dengan kebutuhan keluarga. Jadinya tidak ada waktu sama sekali untuk hobi. Jika tadinya fokus di rumah misalnya ingin berbisnis, apa daya waktu tidak ada. Anak masih kecil, ditambah bayi baru, suami tidak menyetujui menyewa asisten rumah tangga, akhirnya kembali ke tradisi deh... Kalaupun sesekali ada waktu, passion yang sebenarnya bisa sukses misalnya dalam satu dua tahun, harus memerlukan waktu hingga bertahun-tahun lamanya untuk tercapai.

Pertimbangan dari kondisi semacam itulah yang juga menjadi alasan mempertahankan passion melalu jam kerja. Tidak apa-apa harus berangkat pagi pulang sore asal passion masih bisa dipertahankan. Hal ini karena aktualisasi diri seringkali memerlukan aturan waktu dan manajemen waktu. Jam kantor dalam hal ini cukup menolong kaum perempuan supaya tetap berada pada ranah aktualisasi dirinya. Jam kantor ini seolah seperti rambu-rambu yang memagari seseorang supaya tetap berproses dalam karirnya.

Memiliki Lingkungan Sosial yang Luas

teamwork, kerja, teman kerja, kantor, teman kantor, kerja tim, kompak
 
Selain masalah hobi, kita juga memerlukan lingkungan sosial yang lebih luas agar tetap “waras”. Nah lho... Alih-alih bisa produktif, beberapa kondisi rumah tangga malah membuat seseorang kehilangan gairahnya. Waktu sih banyak, sisa waktu untuk menjalani passion sih ada, tapi karena mood off, malah waktu luang inginnya diisi dengan shopping, arisan dengan ibu-ibu lain, atau nonton sinetron dengan alasan membunuh kebosanan.

Mimin ngarang kali nih? Eh, pengalaman sendiri Bun.. hehe. Waktu yang sebenarnya ada dan bisa digunakan untuk melakukan hobi, malah sudah tidak bergairah lagi. Saya membandingkan kondisi semangat saya setelah bertemu banyak orang dengan banyak di rumah. Di rumah terus bukannya rumah makin bersih, atau makin banyak yang dikerjakan, justru kalau saya malah sama aja. Malah lebih banyak tidak produktif nya. Jenuh.

"Lingkungan sosial kan bisa gaul dengan siapa saja." Ya, itu juga betul. Namun, tidak semua orang merasa puas dan pas berkumpul dengan sesama ibu-ibu rumah tangga lainnya. Kadang justru malah bertemu orang yang tidak produktif, sukanya gosip, terjebak bisnis tidak sehat, atau bertemu orang-orang yang sangat jauh mindset nya sehingga tidak bisa nyambung sama sekali. Beda halnya dengan lingkungan kerja yang notabene memiliki pendidikan hampir setara, serta kegiatan yang sama. Selain nyambung, bisa memiliki teman seperjuangan. Jadi, tidak hanya bertemu keluarga saja setiap harinya, tetapi juga memiliki lingkungan lain, yaitu lingkungan kerja. Bahkan, jika karir tersebut termasuk jenis pekerjaan yang bertemu orang banyak, bisa memperluas wawasan dan pergaulan.

Itu pendapat saya ya Bun... Kalau pengalaman Bunda yang berkarir beda, boleh share di komentar donk pengalamannya.

Mandiri Secara Finansial

rich woman, wanita mandiri, istri mandiri, istri kaya, istri bekerja
ilustrasi istri mandiri secara finansial

Tadi saya bilang finansial bukan tujuan satu-satunya seorang istri bekerja. Nah, di poin ini lebih menitikberatkan pada kemandirian. Ini juga sangat berkaitan dengan kebahagiaan hati dan rasa percaya diri. Sangat berbeda rasanya jika memiliki uang sendiri di dompet dengan tidak punya dan pasrah dengan uang belanja yang diberikan suami. Begitu kira-kira.

Tidak bisa disangkal bahwa kebutuhan istri secara pribadi juga banyak. Sulit rasanya jika setiap keperluan harus selalu meminta suami. Selain ingin punya peran dalam membantu ekonomi keluarga, istri juga pasti memiliki keinginan terkait finansial nya sendiri. Tidak jarang perempuan memiliki keinginan membantu orang tuanya yang mungkin tidak mampu secara ekonomi, membantu sekolah adik-adiknya, ingin bersedekah dengan uang sendiri, ingin membeli pakaian tanpa harus menunggu pemberian suami, ingin merawat diri, dan sebagainya.

Jika istri tidak memiliki penghasilan sendiri, seringkali banyak keinginan yang harus dipendam atau diurungkan. Bukan karena suami pelit, namun karena tidak enak hati atau malu harus meminta terus. Dan yang pasti, jika kita berpendapat bahwa semua bisa diselesaikan dengan “komunikasi”, itu tidak selalu benar-benar mudah kan?

It’s okay jika suami sudah memahami betul apa saja kebutuhan dan keinginan istrinya. Juga tidak lagi menjadi soal apabila istri sudah puas dengan pemberian suaminya. Namun, tidak semua istri bahkan kebanyakan terbebani dengan keinginan pribadinya dalam soal pengeluaran seperti yang saya sebutkan tadi. Nah, ketidaknyamanan ini juga yang seringkali memicu istri untuk tetap bekerja sekalipun penghasilan suami tergolong mapan.

Merasa Berharga
perempuan bahagia, wanita bahagia, istri bahagia,
happiness

Memiliki karir tidak sekedar soal income dan gaji. Lebih dari itu, ada perasaan berharga jika perempuan berkarir di suatu bidang atau ahli dalam suatu bidang. Pasti ada kepuasan tersendiri jika status bunda seorang bidan misalnya jika dibandingkan dengan tidak memiliki profesi apapun. Atau bunda dikenal sebagai penulis novel, fotografer, pengusaha, penyiar radio, reporter, host, atlet, dan lain-lain.

Bukan berarti ibu rumah tangga tulen tidak memiliki harga ya Bun.. Ini perasaan subjektif masing-masing perempuan. Tentu saja menjadi ibu rumah tangga itu sangat mulia. Bahkan nilainya mungkin jauh lebih tinggi di mata Tuhan jika Bunda Ikhlas menjalaninya.

Namun, jika kemuliaan itu bertabrakan dengan keikhlasan dan naluri alami untuk merasa berharga, mau bagaimana lagi. Bisa jadi, perasaan berharga ini (pendapat saya) justru yang menanamkan rasa senang saat mengasuh anak-anak walau waktunya tidak sebanyak yang dimiliki ibu rumah tangga tulen. Bisa jadi, perasaan berharga dan bahagia dengan berkarir, justru yang membuat pertemuan dengan pasangan lebih berkualitas, memasak di pagi hari lebih semangat, dan sebagainya. Tidak lama namun berkualitas, sedikit namun ikhlas, sepertinya sangat cocok bagi para istri yang bahagia dengan karirnya.

Nah, itulah beberapa poin mengenai istri yang memilih berkarir. Bukan semata tentang penghasilan, namun lebih luas dari itu. Bagaimana menurut Bunda? Apakah bunda sependapat atau ada yang tidak sesuai dengan pengalaman Bunda? Boleh share di komentar ya Bun...
Trimakasih.

Artikel Terkait

Komentar

  1. Sepakat banget mbak, berkarir bukan semata-mata masalah uang tapi lebih dari itu. Saya wanita karir dan setuju banget dengan tulisannya. Apapun alasan kita, semangat....

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul mba.. saya ingin sekali mengungkapkan pikiran dari sisi wanita karir sehingga lingkungan bisa mengerti hal itu.

      Hapus

Posting Komentar