Setiap Hari Adalah Proses Memantaskan Diri


Banyak sekali kisah hidup orang-orang disekitar kita. Beragam perjalanan hidup yang dapat menjadi pelajaran dan cermin diri. Kehidupan setiap orang memang tidak sama. Namun, ada beberapa kisah nyata yang saya kira tergolong miracle. Ajaib tidak harus selalu di luar nalar, tetapi di sana ada pelajaran berharga sehingga membuat kita semakin bijak menjalani hidup.


Saya tergugah dengan sebuah kutipan dari seminar parenting yang saya ikuti pagi tadi,
 “Ada yang rendah prestasinya meskipun kecerdasan intelektualnya sangat tinggi, fasilitaspun berlebih. Sebaliknya, ada yang prestasinya bagus, meskipun dengan fasilitas kurang memadai.” Materi seminar tersebut disampaikan oleh Ibu Dyah Astorini Wulandari, S.Psi, M.Si.

Pernyataan itu bukanlah isapan jempol semata. Sudah banyak kisah sukses yang berasal dari keluarga tidak mampu, bahkan dengan modal nekat pun banyak. Namun, ada satu hal yang menjadi kuncinya. Meskipun ibarat kata orang yang awalnya tidak memiliki apa-apa menjadi orang terkaya di dunia, menjadi artis papan atas, atau menjadi tokoh perubahan besar yang dikenang jasanya, semua tidak pernah lepas dari “kepantasan”. Saya percaya itu.

Dua Jalan Memantaskan Diri, Jalan Bumi dan Jalan Langit
Dua jalan ini sebanarnya bukanlah pilihan, namun saling melengkapi satu sama lain. Bisa saja sukses dengan jalan salah satunya, namun kebanyakan orang sukses karena memiliki keduanya.

Ada salah satu cerita nyata, seorang mahasiswa berasal dari keluarga kurang mampu yang sukses menjadi seorang dosen PNS (pegawai negeri sipil) di salah satu perguruan tinggi di Jawa tengah. Sebut saja namanya Bejo. Ya, kita tahu betul menjadi tenaga pengajar sekaligus PNS adalah dambaan siapapun yang ingin mengabdikan diri namun dengan gaji yang layak. Apalagi mengingat Bejo adalah anak dari keluarga tidak mampu dan fasilitas terbatas, tentu merupakan sebuah pencapaian yang gemilang.

Keberhasilnnya itu memancing orang-orang di sekitarnya termasuk saya untuk mencari tahu, apa sih rahasia suksesnya? Padahal dia orang biasa, dulunya bukan aktivis keren yang selalu tampil di atas podium dan menjadi idola mahasiswa lain. Padahal, mahasiswa-mahasiwi lainnya yang dulu nampak potensial itu kini termasuk biasa saja pencapaiannya. Khususnya jika dibandingkan dengan Bejo.
Setelah saya telusuri, rupanya ada perjalanan panjang yang dia lalui, sehingga memang pantas dia mencapai semua itu.

Pulang pergi ke kampus, Bejo selalu mengendarai sepeda tua. Saat itu, jika jarak tempat tinggal mahasiswa ke kampus cukup jauh, kalau tidak memakai sepeda motor ya naik kendaraan umum. Tapi, lain halnya dengan Bejo. Ia memilih mengendarai sepeda tua yang ada di rumah selama 30 menit untuk sampai di kampus.

Menggunakan sepeda ke kampus artinya ia berani tampil apa adanya di depan teman-temannya. Tidak ada gengsi ataupun menyembunyikan kondisi dirinya khususnya kondisi ekonomi keluarnganya. Sikap apa adanya biasanya muncul dari orang yang sudah menerima dengan ikhlas kondisi hidupnya. Bersepeda pada saat itu bukan hanya bertaruh dengan gengsi, tetapi juga Bejo menghemat biaya untuk membayar kendaraan umum. Itu cukup untuk meringankan beban orang tua. Ia juga tidak lupa menyiapkan pakaian ganti untuk belajar di kelas, supaya tidak basah kuyup karena keringat saat belajar.

Meskipun kondisi ekonomi kurang mendukung, Bejo tetap menjalani kuliah dan belajar dengan sungguh-sungguh sehingga lulus dengan predikat cummlaude. Nilai tertinggi di kampus.
Setelah lulus kuliah, dia bekerja sebagai karyawan dengan gaji tidak begitu besar. Ini bisa saya maklumi, karena memang Bejo kuliah di kampus yang sederhana dari segi kualitas. Bukan seperti kampus favorite yang belakngan ini dikabarkan bahwa lulusannya tidak merasa layak digaji di bawah 10 juta. Gajinya Bejo mungkin hanya cukup untuk kehidupan sehari-hari. Hanya layak untuk berhenti bergantung kepada orang tua saja.

Gaji yang tidak begitu banyak itu ia gunakan untuk biaya kuliah S2 selama dua tahun. Tentu bukan hal yang mudah, menempuh sekolah pascasarjana sambil bekerja. Tanpa terasa waktu dua tahun berlalu dan dia lulus mendapatkan gelar magister. Setelah lulus, ia mengikuti tes CPNS dosen dan... lulus.

Kalau kita bergumam lagi, “ah, kisah begitu biasa. Banyak kok, orang sekolah S1 lalu S2 terus jadi dosen PNS”. Atau mungkin kita berseloroh, “itu emang dasar dianya aja pas lagi hoki, wong namanya aja Bejo”.

Saya percaya tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Termasuk segala hal yang kita sering bilang hoki. Memang suatu perjalanan yang sangat alamiah, jika orang menempuh S1 dan S2 lalu menjadi seorang dosen PNS. Tapi jangan salah, banyak juga orang yang sudah kuliah di kampus favorit, fasilitas memadai, bukan dengan fasilitas minim seperti Bejo. Tetapi, setelah lulus susah mendapatkan pekerjaan. Bahkan meskipun sudah menempuh perguruan tinggi dengan biaya besar, saat lulus menganggur atau terjebak dalam pekerjaan yang sulit, tidak disukai, bahkan gaji yang tidak layak.

Keberuntungan pasti ada pancingan dan umpannya. Jika proses kuliah sungguh-sungguh dan menempuh perjalanan kuliah hingga S2 merupakan jalan Bumi, maka saya termasuk orang yang percaya bahwa keberuntungan seringkali didapat dari jalan langit.

Rupanya, menurut orang-orang yang mengenal Bejo, ada jalan-jalan langit yang ia tekuni dan sudah seperti mendarah daging dalam dirinya. Jalan langit ini mengiringi proses yang ia lakoni selama ini. Bejo dikenal sebagai orang yang rajin berpuasa senin dan kamis, rajin sholat malam, dan dalam pergaulannya tidak neko-neko atau merugikan dan meresahkan teman-temannya. Bejo tidak pernah terlibat kenakalan remaja ataupun perilaku melanggar norma sosial dan agama. Hidup lurus. Itu sepertinya yang melekat pada dirinya. 

Itulah kisah perjalanan sukses Bejo. Bisa dikatakan itu pencapaian yang miracle, karena melihat latar belakang keluarga dan kesederhanaan hidupnya. Apalagi jika dibandingkan dengan pencapaian lulusan dengan almamater yang sama, kesuksesan Bejo tergolong tinggi mengingat kampus tempat kuliah Bejo tergolong kampus yang masih berkembang.

Apa sih jalan langit itu?


Saya memahami jalan langit dari berbagai sumber, baik dari wejangan dosen semasa dulu kuliah, buku-buku motivasi, hingga materi pengajian Ustadz atau kyai. Saya tidak mengutip pendapat siapapun di sini, namun hanya merangkumnya menjadi pemahaman saya pribadi.

Jalan langit pada intinya adalah campur tangan Tuhan dan malaikat-Nya dalam menentukan takdir hidup kita. Apakah jalan bumi tidak ada campur tangan Tuhan? Tentu bukan itu maksud saya. Jalan bumi lebih memberatkan pada usaha manusiawi kita, sedangkan hasilnya sudah digariskan sesuai kepantasan setiap usaha kita.

Jika rajin belajar, maka menjadi pintar. Jika rajin bekerja, maka menjadi kaya. Jika kita membaca setiap hari, pasti ilmu kita bertambah. Itu sebagian hukum alam yang masuk kategori jalan-jalan bumi.

Tapi, kuliah sampai sarjana tidak menjamin akan menjadi PNS. Membuka bisnis pun tidak menjamin orang jadi kaya. Ujian PNS tidak semuanya bisa lulus. Seringkali bisa lulus dalam sebuah tes, bisa jadi karena orang yang bersangkutang rajin berdoa di sepertiga malam. Seorang pengusaha menjadi kaya karena rajin sedekah kepada anak-anak yatim dan kaum du’afa.

Belajar dari Perjalanan Seorang Pengusaha
Seorang pengusaha muda pernah bercerita kepada saya bagaimana pengaruh jalan langit ini begitu besar perannya dalam kesuksesan usahanya. Katanya, bayangkan setiap hari dia mempromosikan produk dan usahanya melalui media sosial. Apakah promosi saya dilihat orang, apakah akan disukai orang, apakah akan mendatangkan banyak pelanggan. Semua itu adalah kondisi yang tidak pasti. Setiap hari adalah ketidakpastian bagi seorang pengusaha.



Tidak heran jika dalam dunia bisnis, seorang pengusaha bisa sangat merasakan mana keajaiban dan mana yang berjalan alami. Kalau pelanggan dilayani dengan jutek, suatu hal yang pasti kalau pelanggan itu tidak mau lagi membeli produk kita. Itu adalah sebab akibat yang sangat alami.
Namun, datangnya pelanggan baru, bertahannya pelanggan lama yang tiba-tiba menambah jumlah pesanan, keuntungan sekian dan sekian, munculnya ide kreatif dalam bisnis, tidak lepas dari jalan-jalan langit itu. Salah satu jalan yang ia tempuh adalah sedekah.

Saat usahanya sulit, modal minim, dia mencoba memaksakan diri membagi keuntungannya dengan rutin bersedekah ke salah satu yayasan Panti Asuhan. Ajaibnya, bukan harta yang berkurang, namun justru usaha semakin berkembang, katanya. Dia pun menambah nominal sedekahnya dan menambah objek sedekahnya. Bukan malah mengurangi penghasilannya, justru datang pemasukan-pemasukan lain yang tidak terduga dari mana arahnya.

Ada pelanggan-pelanggan baru yang katanya tahu dari media sosial, dari teman, atau tiba-tiba muncul ide produk baru dan kreativitas baru, atau ada orang yang ingin menjadi karyawan sehingga menambah tenaga dan menambah jumlah produk. Apa saja. Hal-hal seperti itu bagi seorang pengusaha merupakan keajaiban-keajaiban setiap harinya.

Jika kita kembali bergumam, “kan namanya juga pengusaha, ya rata-rata kaya”. Kan rata-rata. Tidak sedikit pula orang membuka usaha lalu sebulan kemudian gulung tikar dengan berbagai sebab. Bisa karena menyerah, capek promosi namun tidak kunjung ramai pembeli. Bisa juga modal keburu habis untuk produksi sementara penjualan selalu rugi. Bisa juga tiba-tiba hilang minat usaha. Banyak kemungkinan lainnya, dan itu tidak sedikit kasusnya.

Memantaskan Diri untuk Sukses dan Memantaskan Diri Untuk Beruntung
Sebenarnya seminar tadi ingin menekankan pentingnya peran orang tua dalam mencetak kesuksesan  anak-anaknya. Jadi, kutipan tadi sesungguhnya menyampaikan bahwa kecerdasan dan fasilitas akan kalah pengaruhnya jika dibandingkan dengan pola asuh orang tua. Pengaruh orang tua di rumah pengaruhnya mencapai 70% bagi prestasi dan kesuksesan anak-anaknya.

Jika dilihat dari segi ini pun sama saja. Ada kesuksesan, ada kepantasan untuk mendapatkannya. Jika kita kembali kepada kisah Bejo di atas, maka sudah pasti kita bisa membayangkan bagaimana pola asuh orang tuanya bukan? Rasa-rasaya mustahil jika bejo adalah korban kekerasan orang tua, atau hasil didikan orang tua yang buruk.


Selama seminar tadi pun saya bertanya dalam hati, bagaimana kasusnya jika kita terlanjur dewasa dan dulunya dididik oleh orang tua yang pola asuhnya keliru? Nah, di sinilah titik temunya. Bahwa setiap hari adalah proses memantaskan diri. Jika, kita hidup dari keluarga yang buruk pengaruhnya, maka sekarang saatnya kita berubah.

Maafkan pola asuh orang tua kita, dan terapkan yang baik kepada anak-anak kita. Tentu tidak ada kata terlambat jika berhubungan dengan perjalanan hidup. Jika Tuhan saja Maha Pengampun terhadap dosa sebanyak apapun yang dilakukan hamba-Nya, kenapa kita tidak mudah untuk memaafkan segala hal yang telah berlalu dalam kehidupan kita? Tidak sulit bukan, memaafkan pola asuh kedua orang tua kita? Apalagi jika kita tahu betul bahwa orang tua kita adalah orang-orang yang tidak pernah mengenal ilmu psikologi. Terlebih lagi jika kedua orang tua kita hanyalah petani desa yang hanya lulusan SD. Bukankah mereka menyekolahkan kita sampai sarjana karena mereka ingin kita lebih baik dari mereka?

Belajar tidak pernah ada akhirnya. Seumur hidup, sesungguhnya merupakan proses belajar dan proses memantaskan diri. Seorang preman yang selalu meresahkan jalanan hingga dewasa, dapat berubah dan masih pantas untuk sukses jika dia mencoba memulai sebuah bisnis halal. Orang tua yang selama ini selalu memukul dan menghardik anak-anaknya, bisa berubah kapan saja. Jika tadinya dia dibenci anak-anaknya, bisa berubah menjadi orang yang paling disayangi. Seorang suami atau istri yang selalu menyakiti pasangannya, bisa berubah dan layak menjadi orang yang paling diandalkan setiap harinya.

Setiap orang, setiap waktu memiliki kesempatan untuk memantaskan dirinya menjadi orang yang layak disayangi, dirindukan, diidolakan, dikagumi oleh orang lain. Setiap hari pula, setiap orang memiliki kesempatan untuk mengubah hidupnya menjadi bahagia, merasa berarti dan berharga.
Jangan iri dengan pencapaian orang lain, karena setiap pencapaian ada “kepantasannya” sendiri. Kapan pun kita memperbaiki diri, di situlah kita mulai menempuh jalur kepantasan itu.  

Artikel Terkait

Komentar