Banyak Ambisi, Mengikuti Nasib Tragis Jang Ok Jung


Siapa itu Jang Ok Jung? Bagi penyuka drakor atau Drama Korea, pasti tidak asing dengan sosok yang satu ini. Jang Ok Jung adalah tokoh sejarah kerajaan Jo Seon yang diangkat kisahhnya dalam serial televisi. Ada banyak serial TV yang menceritakannya, dari berbagai versi. Namun, kisah yang terkenal adalah pembunuhan dan kejahatan yang dilakukannya.


Serakah, ambisius, penuh dengki adalah sifat Jang Ok Jung. Sifat itu mengantarkannya kepada kehinaan dan kesengsaraan. Meski ia rakyat jelata yang akhirnya mendapat status kedudukan sebagai selir raja, bahkan sampai kepada posisi ratu, tetap saja hatinya sakit dan sengsara. Kesengsaraan hidupnya bertambah sejak raja mencintai selir lain. Sejak itu, kejahatannya semakin menjadi. Tangannya semakin kotor dengan membunuh dan melakukan perbuatan-perbuatan tercela. Ia pun mati dengan hukuman minum racun atas keputusan raja. Jika diamati, yang lebih tragis dalam hidupnya adalah ia dikenang sebagai seorang penjahat dan sosok perempuan penuh tragedi. 

Kisah hidup Jang Ok Jung memberikan pelajaran berharga bagi kita, bahwa ambisi berlebihan membuat  kita tidak bisa menikmati kehidupan ini dan melakukan hal terbaik dalam hidup. Ambisi mengantarkan kepada keserakahan dan menghalalkan segala cara demi mencapai setiap apa yang kita inginkan.

Tidak perlu jauh-jauh meniru ambisi ingin menjadi ratu seperti Jang Ok Jung, atau menjadi kesayangan raja satu-satunya. Dalam kehidupan sehari-hari, kita banyak menjumpai kondisi di saat kita melihat pencapaian-pencapaian orang lain. Ada teman kita yang mungkin sudah memiliki rumah mewah dan mobil mewah. Ada yang sukses dalam sebuah bidang profesi. Bahkan dalam hal lain yang tidak kita bayangkan, misalnya teman kita menyekolahkan anaknya di pesantran sejak usia SMP, sedangkan kita terlanjur menyekolahkannya hingga kuliah tanpa pernah mengenyam dunia pesantren, atau sebaliknya. Anak teman kita tampak soleh sedangkan anak kita biasa saja. Itu pun suatu pencapaian yang bisa menimbulkan kekalutan dan keserakahan jika kita tidak bisa mengendalikannya.

Ingat, Bahwa Setiap Kejadian Tidak Lepas Dari Sebab Akibat


Bunga mekar tidak selalu bersamaan. Begitu pula kesuksesan dan pencapaian setiap orang tidaklah sama. Apabila kita hanya berhasil menjadi guru honorer di sebuah sekolah dasar, sedangkan orang lain berhasil menjadi dosen PNS, maka menyesali nasib dan menyamakan diri dengan teman kita yang dosen itu merupakan langkah kecil menuju keserakahan.

Menginginkan sebuah pencapaian yang didapat orang lain tanpa melihat sebab akibat hanya akan membuat kita tidak bersyukur dan kalut. Kita perlu menyadari bahwa seseorang memiliki anak yang baik dan berbakti pasti ada proses panjang di belakangnya. Begitu pula hal biasa seperti profesi yang dimiliki masing-masing orang.

Kita perlu mengkaji dulu, kenapa kita hanya bisa menjadi guru honorer, misalnya. Tidak heran, karena sebelumnya kita kuliah di kampus yang kurang menjamin terhadap pekerjaan atau kampus yang kurang bonafit, misal begitu. Kita kuliah di situ karena tidak lulus di kampus lain yang lebih baik. Lalu penyebabnya kita telusuri lagi, bahwa penyebab tidak lulus adalah karena tidak pernah ikut les untuk ujian nasional dan ujian masuk perguruan tinggi. Hal ini karena orang tua tidak punya biaya untuk les dan semacamnya. Orang tua tidak punya uang karena keluarga kita keluarga tidak mampu. Dan seterusnya dan seterusnya. 

Sedangkan teman kita yang menjadi dosen PNS itu, ia sebelumnya kuliah di kampus yang lebih bagus. Sebelumnya ia mengikuti banyak les, dan meskipun nilainya biasa saja, tapi orang tuanya mampu membayar mahal biaya kuliah sehingga lebih mudah masuk kampus tersebut. Atau bisa saja dia mendapat keberuntungan itu karena ada faktor keberuntungan seperti disebabkan rajin sholat malam, rajin menolong orang lain, berbakti kepada orang tuanya, siapa yang tau kan? dan seterusnya... 

Kalau sudah begini, apa yang yang harus dilakukan? Apakah sehat jika menyalahkan nasib atau meratapi keadaan? Tentu saja bukan itu. Taruhlah keadaan kita saat ini menjadi seorang guru honorer dengan gaji kecil, rumah masih mengontrak, belum bisa berbakti kepada kedua orang tua sebagaimana keinginan kita.

Kondisi ini mengarahkan kita kepada dua sikap. Pertama, terus membanding-bandingkan dengan pencapaian teman kita yang sudah dosen PNS. Kedua, menerima keadaan dengan ikhlas. Sikap yang paling bijak dan logis tentu sikap kedua.

Namun, bukan berarti harus berhenti di situ. Kita sadari dengan ikhlas apa yang telah kita capai,  menerima sebab akibat dan perjalanan panjang yang sudah kita lalui. Setelah itu, melakukan rencana terbaik dan usaha maksimal saat ini.

Kita tidak bisa mengubah apa yang sudah terjadi, tetapi bisa memperbaiki nasib esok hari dengan melakukan hal terbaik hari ini.

Bagi orang yang beragama, khususnya agama Islam, pasti memahami betul bahwa setiap orang adalah sama kedudukannya di hadapan Tuhan. Yang membedakannya hanyalah ketakwannya saja. Seorang petani, pemulung, sekalipun tetap mulia dan bahagia jika dia adalah orang yang beriman, bertakwa, dan ikhlas atas kehidupannya.

Bagi orang yang beriman, segala hal akan menjadi baik dalam hidupnya, karena ia bersyukur atas segala nikmat dan bersabar atas setiap musibah dan hal-hal tidak menyenangkan dalam hidup ini. Hidup orang beriman akan selalu bahagia dengan apapun yang ia capai di dunia ini. Bahkan termasuk dalam urusan akhirat sekalipun.

Tidak perlu meratapi nasib karena orang lain mampu menghafal alquran, pandai dalam ilmu ibadah, karena pada kenyataannya anugerah dan kasih sayang Tuhan tidak ditentukan oleh hal-hal bersifat formalitas. Lakukan kebaikan apapun, syukuri setiap anugerah yang ada, maka pasti berkah hidup semakin ditambah oleh-Nya. Tidak berkah pula jika seseorang pandai beribadah, paham ilmunya dengan luas dan dalam, hafal alquran, tetapi selalu mengumpat dan mencela. Sebaliknya, sekalipun ilmu yang kita miliki hanyalah persoalan sedekah, tapi selalu mengamalkannya dan bersyukur dalam hidup ini, maka pasti lebih bahagia dan berkah hidup bertambah.

Fenomena sederhananya, banyak kita jumpai seperti ada tukang becak tapi bisa naik haji. Pedagang es keliling tapi anaknya bisa sekolah hingga menjadi seorang insiyur yang baik. Melihat apa yang dicapai tukang becak dan pedagang es ini, sudah sangat pasti tidak mungkin mereka orang yang suka mengeluh atau hidup tidak bersyukur.

Seperti dalam reality show, ada kakek-kakek penjual mainan namun tetap jujur dan masih mau memberi orang susah. Bahkan ia sempatkan waktunya mengajar ngaji anak-anak terlantar secara gratis. Itu adalah contoh orang yang menjalani hidup penuh syukur dan keikhlasan. Ia tidak membenci keadaan yang ia alami, tetapi justru melakukan hal terbaik dalam hidupnya.
Tidak heran, jika meskipun dia miskin dan punya tujuh anak misalnya, semuanya jadi orang sukses. Setelah tua renta, semua anaknya berbakti dan dengan suka hati melayani kebutuhannya. Ada sebab ada akibat. Itulah hidup.


Jang Ok Jung Terlalu Berlebihan Menginginkan Hasil, Bukan Proses. Terlalu Fokus kepada Akibat, bukan kepada Sebab.

Sifat Jang Ok Jung yang ambisius dan jahat diakibatkan karena terlalu berlebihan melihat hasil, bukan proses. Dia terlalu keras menginginkan menjadi sesuatu sehingga tidak dapat berpikir jernih melihat yang lain. Melihat kepantasan, moral, dan hal-hal yg lebih mulia untuk dilakukan.

Jang Ok Jung adalah contoh tokoh sejarah Kerajaan Korea yang hidup dengan memandang pencapaian. Yang ia inginkan adalah memperoleh kedudukan tertinggi di kerajaan, takut pencapaian nya diambil orang lain, ingin memiliki segalanya. Termasuk cinta sang raja. Dia tidak melihat sebab dan hanya fokus kepada akibat. Fokus kepada keinginan dicintai oleh raja selama-lamanya dan satu-satunya, namun mengabaikan kebaikan dan kemuliaan dirinya. Ketika raja mencintai perempuan lain, yang dilakukannya hanyalah kalut, benci, marah, dan melakukan banyak perbuatan kotor demi mengembalikan perhatian raja. Yang terjadi bukan mendapatkan kembali cinta sang raja, malah ia dihukum mati dengan racun oleh raja secara terpaksa karena banyak kejahatan fatal telah dilakukannya. 

Kebiasaan berlebihan dalam mengagumi dan menginginkan sebuah pencapaian hanya menciptakan rasa takut, kita jadi belingsatan, kalut, hingga menghalalkan segala cara. Akhirnya melupakan hal-hal penting dalam hidup setiap saatnya. Kita jadi lupa memupuk kebiasaan memberi, memupuk sikap perhatian kepada keluarga, memperhatikan pendidikan anak sehari-hari, hingga berproses setiap detiknya dalam skill alami yg kita punya. 

Banyak Keinginan, Tidak Bersyukur, Tuhan pun Enggan Memberikan Anugerah-Nya
Lihatlah orang-orang yang tidak bersyukur dalam hidup ini. Melihat orang menjadi pebisnis sukses menjadi iri, melihat teman mebeli rumah mewah ia dengki, hidupnya pun menjadi penuh amarah. Kepada yang lebih rendah kedudukannya ia mencela, kepada yang lebih tinggi ia iri. Jika sudah begitu, kita menjadi orang yang mengeluh, tidak menerima keadaan dengan sukacita, dan akhirnya menjalani hidup tanpa keberuntungan.

Menjadi tukang becak tanpa kesadaran dan rasa syukur, hanya akan membuat tukang becak yang kehilangan kreativitas. Banyak keberuntungan hilang begitu saja. Sebaliknya malah musibah yang bisa saja ia alami. Contoh sederhana, tengah hari saat panas, jika tukang becaknya adalah orang yang tidak bersyukur, bisa saja dia memarahi penumpangnya hingga keluar kata-kata kasar atau terlibat penganiayaan. Padahal sebenarnya penumpang itu adalah pejabat tinggi di kota itu. Ia pun bermasalah dan berurusan dengan pejabat itu hingga tidak bisa bekerja ber hari-hari karena berurusan dengan prosedur hukum yang rumit. Lebih parah lagi, tidak ada orang yang mau menolongnya karena memang si tukang becak yang terbukti bersalah misalnya.

Orang bisa hina karena isi hatinya penuh dengan kehinaan. Itu teraplikasikan dalam gestur tubuh, mimik wajah, dan perbuatan. Tuhan sudah menciptakan kehidupan ini dengan sistem yang teratur. Ada sebab ada akibat. Ada anugerah dan karunia, ada kepantasan yang harus dipenuhi untuk memperolehnya. Orang baik pantas mendapatkan keberuntungan. Orang yang kotor dan buruk, sekalipun itu tersembunyi jauh di dalam hatinya, wajar jika terhalang dari keberuntungan dan anugerah-Nya.

Tidak heran jika kita saksikan, orang miskin makin susah hidupnya karena suka mengeluh dan buruk hatinya. Orang kaya banyak masalah karena buruk kelakuannya. Pejabat tinggi banyak musibah karena sering terlibat proyek-proyek kotor.

Setiap apa yang kita peroleh, selalu ada sebabnya. Setiap yang kita capai, ada proses panjang yang telah kita lakukan. Bukan kapasitas kita menyamakan pencapaian dengan orang lain. Tugas kita hanya introspeksi diri, memperbaiki apa yang keliru, dan memantaskan diri untuk mendapatkan keberuntungan-keberuntungan hidup hari ini dan waktu-waktu mendatang. Hanya memantaskan diri. Itulah yang bisa kita lakukan.

Komentar