Inilah Pahit Manisnya Menjadi Ibu Rumah Tangga Tulen, Mana yg Lebih Dominan Bunda Alami?


Istilah Ibu Rumah Tangga Tulen saya guanakan secara sepontan saja untuk para Bunda yang full- time mengurus rumah tanpa bekerja, alias bukan wanita karir. Tulisan ini tidak bermaksud mengklaim kepada seluruh Ibu Rumah Tangga (IRT), tetapi hanya berkaca kepada pengalaman pribadi dan orang-orang sekitar saya.

Menjadi Ibu Rumah Tangga atau IRT adalah pekerjaan mulia. Bagaimana tidak, Bunda mengandung, melahirkan, hingga pengasuhan dan pendidikan anak lebih banyak dibebankan kepada Bunda. Bahkan, pekerjaannya terbilang nonstop 24 jam tanpa henti. Mulai dari mengurus rumah, melayani suami dan anak, alhasil membuat cerita para Bunda makin nano nano. Berwarna nan beraneka rasa. Malah kadang menjadi drama. Drama yang asli di panggung kehidupan nyata. 

Sebenarnya, apa saja sih pahit manisnya menjadi Ibu Rumah Tangga Tulen?

Kita mulai dari yang pahit aja yuk, siapa tahu endingnya membuat kita bahagia. Bicara yang pahit-pahit dulu, biar yang manis yang terakhir diingat. Begitu kura-kura, eh kira-kira.

Pertama, Menjadi IRT Sering Dianggap Tidak Punya Keahlian dan Ilmu

Maksudanya bagaimanakah? Jika seorang wanita hanya menjadi IRT setelah menikah, jangan heran jika ada orang yang tidak begitu mengenal Bunda secara intens, bersikap menggurui, mungkin bahkan ada yang meremehkan.

Misalnya saja, latar belakang bunda adalah seorang sarjana ekonomi makro. Eh, ada teman yang belum begitu kenal bunda secara mendalam terlibat obrolan mengenai kebijakan ekonomi pemerintah. Orang itu tidak memiliki latar belakang keilmuan seperti Bunda dan tidak setuju dengan pendapat Bunda. Bahkan hanya mengetahui kebijakan pemerintah dari Media Sosial saja. Saat Bunda berkomentar bahwa kebijakan pemerintah itu bagus dengan  mengemukakan berbagai alasan, bisa jadi orang tersebut tetap tidak setuju dan malah menggurui Bunda.

Beda ceritanya jika Bunda menjadi seorang guru Ekonomi misalnya atau bekerja di kementerian bidang Ekonomi, tentu orang lain akan lebih menghormati dan memiliki trust jika Bunda memberikan argumen tentang masalah Ekonomi. Entah orang lain paham atau tidak, tapi setidaknya percaya dengan ucapan Bunda.

Kedua, Kurang Mendapat Pengakuan dari Lingkungan Sosial

Hampir mirip dengan poin pertama, namun pengakuan di sini lebih ke persoalan status dan gengsi. Menjadi Ibu Rumah Tangga seringkali kurang memiliki gengsi, ya Bun. Oke deh, tidak semua orang mencari status sosial, tapi terkadang menjadi hal yang pahit juga ketika kita sebagai anggota masyarakat kurang mendapat pengakuan. Contoh kecil, misalnya saat ada pengisian formulir yang harus bunda isi di mana mengharuskan bunda menyebutkan bagian status pekerjaan. Tentu berbeda ya, jika bunda tuliskan pekerjaan Bunda adalah “Dosen” dibandingkan dengan “Ibu Rumah Tangga”. Rasanya agak gimana gitu.... 

Selain itu, saat kita dikenal sebagai pengurus rumah tangga saja, tidak ada yang spesial di mata sosial kepada kita. Orang tidak tahu jika sebenarnya mungkin Bunda ini ahli di bidang broadcasting, desain interior, tari daerah, dan sebagainya. Mungkin bukan karena Bunda tidak bisa menunjukkannya, tetapi karena kesibukan mengurus rumah tangga itulah yang membuat Bunda terpaksa menyembunyikannya. Lumayan bikin sakit, untuk para wanita yang menganggap aktualisasi diri itu penting.

Ketiga, Psst... Dianggap Numpang Suami

Sebagian uang suami adalah uang istri. Adalah merupakan hak istri untuk dipenuhi segala kebutuhannya. Itu betul. Namun, kenyataanya apakah semudah itu? Kebanyakan Ibu Rumah Tangga sering drama soal ini. Hiks hiks... Bahkan meskipun seorang wanita memiliki suami tajir melintir dan baik hati tingkat dewa, tetap saja kesannya dia “dikasih” oleh sang suami.

Di samping anggapan di atas, jika segala kebutuhan kita minta kepada suami karena kita tidak punya income sendiri, seringkali menimbulkan rasa tidak nyaman kepada keluarga besar suami. Keluarga besar suami tahu Bunda tidak bekerja, tapi beli tas bermerek. Jelas sekali akan jadi sorotan. Tentu saja membikin serba salah yes. Alamak...  Kalau bundanya termasuk tipe baperan, jelas bikin sakit yaa... Setahu saya, para Bunda itu rata-rata baperan. Hihi...

Padahal sebenarnya kan belanja itu sudah jatah Bunda, tapi belum tentu pihak keluarga suami memahami itu. Beda hal nya jika kita punya penghasilan sendiri, membeli barang baru kesukaan kita akan lebih tenang karena semua orang tahu itu pake uang sendiri.

Keempat, Cenderung Konflik untuk Hal Sepele

Konflik yang wajar itu adalah konflik yang memenuhi standar. Apa ada konflik tidak standar ya? Galau karena diusir mertua, eh. Contoh aja, itu masuk standar wajar. Tapi... galau karena mertua tidak nawarin makan, itu baru tidak memenuhi standar.

Maksudnya, kita jadi baper gara-gara hal sepele. Biasanya baper hanya karena suami sedikit kasar, mertua cuek, dan sebagainya sering terjadi karena kegiatan dan isi pikiran kita tidak produktif. Atau bisa juga terlalu lelah dengan beban sebagai Ibu Rumah Tangga.

Biasanya ini terjadi kepada Bunda yang punya bayi, anak yang masih kecil-kecil, atau IRT yang pekerjaannya terlalu banyak di rumah dan itu-itu saja setiap harinya. Dan ini tidak bisa dihindari oleh seorang IRT. Kondisi Bunda menjadi tertekan, jenuh, sehingga akhirnya timbul konflik dengan orang-orang terdekat. Suami salah bicara sedikit, menjadi masalah. Mertua kurang menyapa, menjadi sedih dan langsung menganggap mertua membenci Bunda. Tetangga banyak tanya, dikira cari-cari bahan gosip. Ah kalau lagi stress, semua rentan konflik. Hasilnya, Bunda jadi terlihat tidak keren. Presiden stres karena didemo masalah pembangunan infrastruktur jalan, Bunda stres karena gak disapa mertua. Aduh.

silet banget nih gambarnya... hiks hiks

Walaupun sepele, pekerjaan seorang Ibu Rumah Tangga itu berat. Justru karena pekerjaannya yang sepele dan begitu banyak, IRT berhak mendapat piala kesabaran. Kaya artis yang dapat penghargaan “Kehidupan Tersilet” Hayhayhay

Oke lah, apakah benar kehidupan IRT sesilet dan sesulit itu? Yuk mari berputar ke area manisnya. Apa saja sih manisnya menjadi IRT Tulen?

Pertama, Punya Banyak Waktu Luang

Meskipun ada kalanya aktivitas Bunda padat merayap, khususnya mereka yang sedang punya bayi kecil, tapi ada masanya waktu bunda luang seleluasa air sungai mengalir. Sejuknya. Hal ini biasanya terjadi kepada Bunda yang anaknya sudah di atas lima tahun. Selain itu, di rumah sudah memiliki asisten rumah tangga yang menghendel pekerjaan rumah tangga.

Bunda yang dalam kondisi ini, akan leluasa bergaul dengan siapa saja. Berkumpul dengan Bunda-bunda lainnya, belanja bersama, makan bersama hingga mengasuh anak bersama-sama. Bahkan sangat sempat untuk merawat diri sendiri. Aduh indahnya. Kalau kebetulan usia Bunda 30 tahunan, serasa sama aja dengan usia bidadari versi dunia. Lebaynya saya...

Hot Mama yang rajin perawatan dan shopping, ahay

Kedua, Bisa Mengekspresikan Skill dan Hobi

Jaman now, jaman industri kreatif. Bunda yang membuat usaha kreatif sesuai hobi dan skillnya, sudah sangat diapresiasi oleh lingkungan sosial. Jadi, tidak ada istilah daripada nganggur atau stigma yang kurang mengenakkan lainnya. Bunda yang bisa aerobic, bisa membuka sanggar senam di rumah. Bunda yang pintar membuat kerajinan, bisa membuatnya di rumah dan mengembangkannya menjadi usaha yang berkembang.

Menyalurkan hobi di rumah

Tidak hanya itu, jika kebetulan bunda hanya ingin menikmati hobi saja, memiliki waktu yang luas untuk menjalaninya tanpa harus dihalangi kesibukan lain sebagaimana dialami wanita yang ngantor. Hobi travelling, jika anak sudah bisa ditinggal, bisa pergi ke tempat yang diinginkan. Hobi shopping, apalagi. Tidak heran, hari senin pas jam-jam kerja, tidak sulit bagi seorang IRT untuk bisa berada di mall. Asik banget sih hidup kamu, Bun.

Ketiga, Punya Banyak Waktu untuk Mengurus Anak, Suami, dan Rumah

Ini adalah kelebihan yang seringkali sangat disyukuri para Bunda, dibandingkan hal lain. Anak adalah aset terbesar buat keluarga, sehingga mengasuh, mendidik, dan mendampingi perkembangannya secara optimal adalah hal yang sangat mulia sekaligus membahagiakan bagi para Bunda.

Selain itu, dengan menjadi Ibu yang total di rumah, suami yang mungkin lelah bekerja, akan lebih banyak mendapatkan perhatian dari Bunda. Hubungan akan lebih erat dan romantis ya Bun. (pssttt... kita ambil idealnya saja yaa... hehe)


romantis dan hangatnya Ayah Bunda

Rumah yang merupakan tempat istirahat dan berkumpul keluarga juga mendapat perawatan yang lebih baik dibandingkan jika Bunda bekerja di luar. Meskipun tidak semua begitu, namun umumnya, jika Bunda total di rumah, maka otomatis rumah lebih tertata rapi dan nyaman untuk keluarga.

Nah, itu dia beberapa coretan kisah Pahit Manis Ibu Rumah Tangga Tulen. Tidak ada kehidupan yang seluruhnya membahagiakan dan tidak ada pilihan hidup yang seluruhnya diselimuti kesusahan. Bagaimana menurut Bunda?                                                                                                                

Komentar

  1. Saya setuju banget menjadi seorang ibu rumah tangga merupakan hal yang sangat mulia

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul ka... banyak yg dikorbankan. hehe

      Hapus
  2. Kayak yg aku alami dlu. Sekarang mau punya bayi pula. Hehe. Jadi deg2 ser nih bakal off dari hobi untuk sementara

    BalasHapus
    Balasan
    1. sama, mba.... saya juga nih harus Extra siaga, meski off dari hobi, tetap bisa bahagia.

      Hapus

Posting Komentar