Antara “Sekedar Kuliah” dan “Ikhlas Menuntut Ilmu”, Antara Mental “Penumpang” dan Mental “Pengemudi”

gambar dari Kiat Menjadi Mahasiswa Sukses

“Niat kuliah harus ikhlas, murni menuntut ilmu”, ujar salah satu teman saya dalam sebuah grup whatsapp alumni. Dia telah sukses di usia muda menjadi polisi sejak usia sekitar 25 tahun serta mampu memberangkatkan ibunya berhaji ke tanah suci tidak lama setelah berprofesi polisi. Memang komentar teman saya itu terdengar klise dan naif, terutama jika didengar anak muda jaman modern dan urban saat ini. Setidaknya itu juga jawaban yang saya lontarkan padanya. “Itu kan tak perlu dibahas lagi, sudah ada dalam hati masing-masing, kuliah ya buat nyari gelar dan karir.” Jawabku tak ingin mengalah.

Kala itu, saya sedang mempromosikan sekolah Pascasarjana di kampus saya. Saya menyampaikan berbagai potensi karir yang bisa diperoleh jika kuliah S2 di kampus tersebut. Bukannya mendapat respon positif, justru mendapat komentar demikian. Namun, di balik sikap saya yang menyangkal, dalam hati kecil saya mengakui, bahwa perkataannya benar. Bukan semata karena perkataannya, namun perkataan tersebut terlontar dari siapa. Jelas petuah agama lebih kita dengarkan kalau dari ustadznya kan? Kalau sekedar dari teman yang ibadahnya saja bolong-bolong pasti tidak kita hiraukan. Ilmu kesehatan akan lebih kita terima kalau disampaikan oleh dokter, bukan orang awam.

Begitu juga dengan teman saya itu. Kalau orang lain dalam anggota grup, mungkin saya tidak akan memikirkan ucapan itu. Karena dia yang bilang, saya jadi mengingat bagaimana dia sekolah dulu. Saya mengenal pribadi teman saya itu sebagai orang yang gigih, giat dalam berproses, menerima pendidikan dari para guru dan gemblengan sekolah secara sepenuh hati. Mendapat amanat sebagai ketua Pramuka, dia lakukan dengan penuh tanggungjawab walaupun mendapat cibiran dan bantahan dari sesama maupun adik kelas. Dia tetap maju walau dihukum di hadapan semua orang. Saya lihat itu selama tiga tahun bahwa dirinya adalah orang yang benar-benar tulus dan berproses sepenuh hati tanpa pamrih pujian atau penghargaan. Semua kegiatannya bukan sekedar “mencari nilai”, ataupun mengejar prestasi dan pamor. Meskipun pada akhirnya dia selalu dituakan dan dipuji para guru (endingnya selalu begitu kan kalau orang berjasa? Hehe) Hasilnya? Di antara kami, para alumni, dia yang paling cepat mencapai karir tetap. Setidaknya, itu ukuran kesuksesan yang dapat dinilai dalam proses pendidikan dan karir.

Meskipun itu cerita mengenai salah satu teman di bangku sekolah menengah, namun masih banyak mungkin di antara kita yang menyaksikan sahabat atau teman yang “benar-benar belajar” di bangku kuliahnya. Mereka yang tidak mencari nilai Indeks Prestasi alias IP, ataupun IPK. Mereka yang benar-benar memiliki inisiatif dan bebas memilih apa yang mereka butuhkan untuk perkembangan diri mereka, dan bukan gila-gilaan mencari embel-embel sebagai pejabat kampus, ingin terkenal. Ah, pokoknya kita bisa menilai dan mengukur sendiri mana sikap dan perilaku “iklas” dalam belajar dan mana yang bukan. Pada akhirnya, banyak kita lihat mantan mahasiswa yang dulunya terkenal dan hebat sebagai apa, setelah lulus malah susah karirnya. Kalau dia laki-laki, mungkin setelah lulus ngajak susah anak orang (xixixi.. maap jangan tersinggung).

Intinya, apa nih?
Ya intinya ini bukan blog ghibah  ya... haha karena diri sendiri juga merasa tersungging atau tersinggung. 

Saya mencoba mencari hikmah (cie...) supaya buat yang baca, khususnya anak muda dan terkhusus yang masih kuliah, bisa memilih mana perilaku yang “sekedar kuliah” atau “menuntut ilmu”. Supaya apa? (kaya guru ya.. wkwk) Supaya tidak menjadi mahasiswa bermental gerobak (pinjam bahasa guru SMA saya) yang bisa maju hanya kalau ditarik atau didorong saja. Itupun majunya pelan. Dan juga tidak menjadi lulusan bermental kerupuk (masih meminjam bahasa guru SMA saya, hee) yang tersiram air sedikit sudah melempem dan tak bisa digunakan. Istilah itu jangan dibayangkan berlarut-larut, karena bagaimanapun itu hanya perumpamaan.

Mental seperti apa yang dimaksud perumpamaan di atas? Kalau kita bergeser ke referensi yang lebih up to date, mental yang cocok adalah mental passengers atau penumpang seperti dibahas dalam bukunya Rhenald Kasali berjudul “Self Driving”. Mental seperti ini tidak memiliki keberanian dan inisiatif untuk menemukan jalan sendiri. Ya, gimana lah penumpang yang biasanya asal sampe tujuan, di jalan bisa tidur, tanpa tahu arah jalan pun tidak apa-apa. Nah, bayangkan kalau orang seperti ini dilepas ke jalanan, apa yang akan terjadi? Mungkin mereka akan kebingungan mau jalan ke mana. Seperti itulah kira-kira.

Misal saja nih, mental passenger ini selama kuliah emang tergolong cerdas dan menguasai ilmu di bangku kuliah. Dia sudah siap dengan gelar dan ilmunya untuk masuh dunia kerja. Taruhlan dia seorang lulusan farmasi. Ternyata ketika dia lulus, langsung deh dia diterima kerja di sebuah perusahaan. (ceritanya jangan susah cari kerja, terlalu mainstream, haha) Misalkan, dulu dia memilih jurusan itu karena saat dulu, profesi di bidang farmasi ini gajinya besar (misalkaaan). Tapi sayang seribu sayang, saat dia lulus, sudah ada teknologi yang dapat meracik obat dan gimana ceritanya pokoknya kini gaji di profesi bidang farmasi ini jadi murah alias rendah. Mental penumpang yang tidak pernah mampu beradaptasi dengan perubahan hanya akan mengeluh, kalaupun dia tergolong orang sabar, mungkin dia akan sebatas pasrah dengan keadaan dan sulit untuk menemukan alternatif lain.

(Maaf kalau perumpamaannya kurang tuntas, karena saya masih proses membaca buku itu Ges... insyaallah di tulisan blog selanjutnya yes)

Iklas Belajar Menuju Mental Driver?
Lanjut... kembali ke laptop! Jadi, apa ini kaitannya dengan Keikhlasan menuntut ilmu?
Saya sebenarnya ingin mensingkronkan antara pelajar atau mahasiswa yang benar-benar iklas mencari ilmu dengan mental driver (lawan dari mental passenger). Kamu tau kan Gaes, bagaimana ikhlas itu? Iklas itu benar-benar melakukan sesuatu dari kemurnian hati. Kamu bisa bayangkan bagaimana orang yang kuliahnya ikhlas. Kira-kira kamu punya nggak, teman yang bisa jadi figur driver ini? bayangan orang mungkin yang kamu kenal. Temukan deh satu orang saja dalam memori kamu. Boleh orang di masa lalu, ataupun yang saat ini masih bareng dan sering ketemu. Nemu? 

Lanjut...

Orang tersebut kalau melakukan sesuatu, biasanya tau dengan jelas tujuan tindakannya itu. Dia ikut kegiatan pecinta alam misalnya, dia tau betul tujuannya untuk dirinya maupun manfaatnya untuk diri dan lingkungannya. Bukan sekedar gaya-gayaan maupun ikut-ikutan.

Ada satu contoh nyata nih, salah satu teman kuliah saya cowok. Sebut saja namanya Budi. Si Budi ini, saat semester lima, membuat sebuah kelompok diskusi keilmuan yang anggotanya diambil dari peserta OSPEK. Peserta itu diambil dari mahasiswa yang dia dampingi selama OSPEK. Jadi, sudah akrab dan kaya kakak buat mereka gitu lah. Saya yang saat itu memiliki pemikiran mayoritas mahasiswa, melihat perilaku si Budi ini tidak ada faedahnya. Kenapa? Ya kenapa lagi. Ini semester lima Bro... pikir saya waktu itu. Secara, musim peralihan jabatan. Ada banyak kursi BEM akan terbuka dan menjadi peluang ketenaran kita di kampus. Keren kan kalau jadi pengurus BEM, bukannya repot ngurus anak-anak yang belum tahu apa-apa. Selain itu, ada banyak alasan lain yang menurut saya itu tidak bermanfaat. “Dia ngapain repot mengurusi adek kelas begitu, yang tidak punya sumbangsih buat dia sama sekali?”, pikir saya. Secara logika, dia kan sudah punya partai yang di dalamnya sudah ada banyak sekali personel orang-orang berpemikiran kritis dan sudah banyak baca buku. Ibarat orang sudah punya tanah bertumbuh banyak tanaman berbuah, malah menggarap tanah baru yang masih hutan belantara.

Akhirnya saya coba tanya ke dia. “Apa sih faedahnya bikin diskusi kecil kaya gitu? Toh kalau emang mau nambah ilmu, sudah, diskusi nya sama senior kamu aja jelas-jelas nambah pinter”. Dan... jawabnnya membuat saya diam seribu bahasa. “Saya kan sudah biasa diskusi ilmiah dengan senior, dengan dosenpun biasa. Sekarang saya ingin melatih diri saya menjadi pelopor bagi mahasiswa junior dalam meningkatkan ide kritis dengan wadah yang membuat mereka nyaman. Saya sudah akrab dengan mereka di saat OSPEK, dan saya senior bagi mahasiswa-mahasiswa baru itu yang nyaman mereka jadikan tempat diskusi. Saya pun bisa mencari ilmu lagi kalau apa yang mereka bahas tidak saya kuasai. Saya juga belajar bertanggungjawab terhadap orang banyak dan memberikan manfaat buat mereka”.

OMG... untuk ukuran semester lima, alias umur 20 tahunan, bukankah itu inisiatif yang tidak biasa? Saya pikir itu termasuk perilaku orang bermental driver yes... Bukan hanya itu sih, dia memang banyak melakukan perbuatan-perbuatan yangtidak biasa yang kalau dintanya, pasti jawabannya menbuat saya diam lagi dan lagi. Dan terbukti, kini setelah lulus, dia dengan ide-ide barunya terbilang lebih sukses dari teman-teman seangkatannya. Oke lah sukses itu relatif, namun, kondisi dia tidak bisa diabaikan sebagai kategori sukses. Dia lulus langsung membuat usaha, dan dalam waktu 4 tahunan, penghasilannya berkali-kali lipat gaji temannya yang kerja di instansi. Dia sering terlihat pergi ke mana saja, di waktu yang dia inginkan saat teman-temannya yang kerja kantoran masih berkutat di meja kerja. Hebat kan, efek mental driver ini, Gaes??

Nah, saya kira, meskipun saya tidak menjelaskan iklas maupun mental “driver” dalam bentuk definisi yang memenuhi standar kebahasaan, tapi saya yakin deh teman-teman paham secara tersirat di pikiran teman-teman. Kalau belum, itu juga gunanya saya menulis... yaitu supaya masih ada keberlanjutan. Setidaknya, menjadi pancingan untuk kita semua supaya memiliki mental yang tepat dalam menjalani kehidupan ini. Tahu tujuan, tahu potensi diri, dan tahu serta mampu mencapai kesuksesan.

Rasanya cukup panjang dan asik nulis kali ini. Semoga bermanfaat buat kita semua.

Komentar