Simulakra dan Hiperrealitas dalam Iklan Mizone

Simulakra dan Hiperrealitas dalam Iklan Mizone
Oleh: Iim Rohimah

Iklan Mizone
Mizone dalam ikaln digambarkan sebagai minuman elektrolit pembangkit energi dan bukan air mineral biasa. Minuman ini memiliki rasa dengan ekstrak buah-buahan seperti leci, lemon, dan kweni, juga Mizone Frsh’in yang merupakan produk baru. Iklan ini dibintangi oleh sejumlah kaum muda yang beradegan sedang melakukan berbagai aktivitas sebagaimana kaum muda. Ada yang bermain skyboard, menari, berdiskusi di kelas, dan menyanyi di atas panggung.


Narasi dalam iklan ini bertutur, “Mizone, mengandung vitamin dan elektrolit, bantu badan, pikiran, dan semangat oke lagi! Ini waktunya Mizone! Bantu Semangat Oke Lagi!”. Narasi tersebut terdengar diucapkan oleh anak muda laki-laki penuh semangat dengan tekanan-tekanan kata yang meyakinkan. Ditambah pula dengan iringan musik dan lagu yang enerjik menjadi pendukung pesan iklan.

Analisis Makna dalam Iklan
 Minuman Elektrolit Mizone
 (Gb. Minuman Mizone)
 (Gb. Sejumlah Anak Muda Laki-Laki dan Perempuan Meminum Mizone)
 Diminum oleh muda mudi yang melakukan aktivitas energik, yaitu skyboard, menari, diskusi, dan menyanyi di atas panggung
Proses signifikansi
 level 1
Tahap 1 : /mizone/ ----minuman elektrolit dan vitamin “mizone”----- minuman elektrolit untuk dikonsumsi sebagai pembangkit semangat (bukan minuman air mineral biasa)
 Level 2
 /minuman elektrolit dan vitamin /-----”minuman anak muda yang energik”-----”minuman pembangkit semangat karena diminum anak muda yang energik”
 Level 3
 /minuman istimewa/----sejumlah anak muda meminum mizone----”anak muda yang energik selalu minum mizone”
 Level 4
 /anak muda yang energik minum mizone/---- anak muda yang energik minum mizone ----”jika saya minum mizone, saya akan energik seperti anak muda dalam iklan”
 Ikalan tersebut tdk hanya mengatakan “Belilah!” tetapi “jadilah seperti anak muda yang energik” atau lebih jauh lagi “Jadilah orang yang enegik dengan minum mizone”.

Simulakra dan Hiperrealitas dalam Iklan Mizone
Iklan ini menggambarkan bahwa semua orang yang meminum Mizone akan enerjik sebagaimana sejumlah anak muda yang menjadi bintang iklan. Padahal kaum muda tersebut tentu tidak mewakili keadaan semua pemirsa (konsumen), karena setiap orang memiliki aktivitas yang berbeda, bukan hanya olahraga dan aktivitas yang penuh dengan gerakan. Gerakan enerjik dalam iklan memang merupakan ilustrasi dari rasa dan jiwa yang semangat, namun aktivitas lainnya juga memerlukan energi dan semangat. Akan tetapi, tidak berarti produk Mizone ini dapat menjadi solusi dalam menumbuhkan semangat dan energi sebagaimana dalam iklan. Dalam hal ini, saat mencoba produk Mizone, sesungguhnya minuman itu tidak serta merta membuat seseorang semangat dan energik tepat setelah meminumnya sebagaimana dalam iklan.

Kondisi semacam ini merupakan rekaan media yang di luar realita. Rekaan tersebut merupakan upaya kapitalisme dalam menarik minat masyarakat untuk membeli produk. Kaum kapitalis membuat gambaran berlebihan mengenai suatu produk yang disebut Jean Baudrillard sebagai simulacrum atau simulakra . Simulacra merupakan istilah yang dicetuskan Baudrillard guna menunjuk “pencitraan” atau sesuatu yang tidak tampak sebagaimana adanya. Dalam bahasa fenomenologi eksistensial diungkapkan sebagai it is what it is not. Di sisi lain, simulakra dapat pula dijelaskan sebagai ruang konversi prihal konkret ke abstrak, dan demikian pula sebaliknya; abstrak ke konkret. Semisal konkret ke abstrak adalah sinetron. Seyogyanya manusia yang bersifat konkret memiliki massa dan menempati ruang dapat termampatkan sedemikian rupa dalam layar kaca (menjadi abstrak). Sedang contoh konversi perihal abstrak ke konkret dapat kita temui dalam film kartun kegemaran anak-anak. Misalnya Spongebob. Dalam kehidupan sehari-hari, kita sulit menemukan spon yang bisa bicara, kepiting yang bisa berbisnis hamburger, plankton yang bisa menciptakan teknologi, atau gurita yang berpikir rasional. Namun, dalam layar kaca hal itu menjadi mungkin (konkret).

Pada gilirannya, simulakra ini yang kemudian memiliki andil dalam melahirkan perihal yang diistilahkan Baudrillard sebagai hiperreality atau hiperealitas, yakni segala sesuatu yang dinilai “melampaui kenyataan” atau irrasional, di luar akal sehat.

Contoh hiperrealitas inilah yang banyak ditemui dalam beragam iklan baik dalam media cetak maupun elektronik. Salah satunya iklan Mizone di atas. Iklan ini mungkin memang tidak se-irrasional iklan parfum yang bila dipakai dapat membuat seluruh wanita di kota mengikuti seorang pria, atau bidadari terjatuh dari langit sesaat setelah seorang pria memakai parfum. Aka tetapi, iklan Mizone ini juga memiliki unsur simulakra dan hiperrealitas yang tentunya keluar dari apa yang ada di kehidupan nyata. Bagaimana tidak, setelah orang meminum Mizone, ia langsung semangat dan begitu enerjik. Padahal, bila dicoba di kehidupan nyata, minuman ini tidak memiliki pengaruh begitu efektif bagi semangat seseorang. Banyak orang meminum produk ini hanya sebagai minuman “yang memiliki rasa” saja, karena pada kenyataannya minuman ini tidak memiliki dampak sebagaimana diilustrasikan dalam iklan.

Sesungguhnya memang tidak semua masyarakat percaya dengan iklan. Banyak artikel atau informasi dari buku, media massa, cetak, elektronik, maupun internet, menyebutkan bahwa ada bahaya yang mengancam kesehatan bila meminum minuman semacam itu bila dikonsumsi berlebihan atau terus menerus. Inilah yang menumbuhkan kesadaran di tengah masyarakat mengenai perbedaan simulasi iklan dengan kehidupan nyata dalam produk.

Namun demikian, pasti ada pula masyarakat yang benar-benar terpengaruh oleh iklan. Misalnya masyarakat yang kurang berpendidikan atau tidak membaca artikel terkait bahaya nyata dalam produk (yang dalam iklan nampak luar biasa), mungkin akan tetap terpengaruh oleh iklan. Bahkan orang berpendidikan juga bisa terpengaruh iklan, yang akhirnya ia percaya bahwa itu adalah produk terbaik untuk dikonsumsi atau dipakai, sehingga menolak produk lain yang sejenis. Misalnya ia hanya akan memakai sabun bermerek X untuk mandi karena sudah percaya dari iklannya bahwa sabun itu yang terbaik, dan tidak akan mau memakai sabun lain. Maka dalam hal ini iklan berhasil merebut hati dan kepercayaan pemirsanya.

Contoh pengaruh iklan ini disebutkan Ziauddin Sardar terjadi dalam produk minuman Sunny Delight di Inggris. Minuman ini menjadi minuman paling laris ketiga di Inggris dalam waktu yang singkat karena memakai iklan di media. Minuman ini juga menjadi sponsor dalam Asosiasi Basket Inggris dan menyerang sekolah-sekolah dengan olahraga bola yang memakai logo minuman itu. Dalam iklannya, minuman ini diilustrasikan sebagai minuman mengandung vitamin A, B (1 dan 6), dan C. Akhirnya para orangtua berpikir bahwa minuman ini lebih sehat daripada minuman merek konvensional Coke dan Pepsi. Anak-anak pun merengek bila ke supermarket dengan mata berbinar menginginkan Sunny Delight. Ibu-ibupun mematuhi mereka dan membekalinya minuman itu dalam kotak makan siang anak-anaknya. Tetapi, Badan Pengawas Makanan, pengawas independen, setelah lama menyatakan bahwa Sunny Delight tidak lebih baik daripada minuman berkarbonasi konvensional yang lain. Sama-sama dibuat dari sulingan gula putih. Itulah kehebatan iklan dalam mempengaruhi minat beli konsumen. Iklan Mizone pun bisa jadi memiliki efek yang sama bagi masyarakat.

Kesimpulan
Iklan Mizone ini mengandung unsur simulacra dan hiperrealitas yang keluar dari apa yang ada di kehidupan nyata. Dalam iklan, orang langsung semangat dan enerjik setelah meminum Mizone, namun kenyataannya, di kehidupan nyata, orang tidak serta merta semangat dan enerjik setelah meminumnya, bahkan mungkin tidak memiliki pengaruh apapun. Jadi, simulasi iklan ini semata untuk menjaring minat penonton untuk meminum Mizone, dengan imajinasi yang dibuat dalam iklan.

Referensi
1. “Iklan Mizone terbaru Bantu Semangat Oke lagi #IniwaktunyaMizone”, https://www.youtube.com/watch?v=SfvKH-NITy8, diakses pada tanggal 5 Oktober 2015 pukul 20.15 WIB.
2. Jean Baudrillard, Galaksi Simulacra, Cet. 1, (Yogyakarta: LkiS, 2001).
3. Ziauddin Sardar dan Borin Van Loon, Membongkar Kuasa Media, Terj. Dina Septi Utami, (Yogyakarta: Resist Book, 2008), hlm. 14-15.

Artikel Terkait

Komentar