Beberapa Prinsip Dasar Epistemologi Islam


A. Pendahuluan

Kemajuan budaya suatu bangsa dipengaruhi oleh budaya keilmuannya, yang dalam istilah filsafat disebut epistemologi. Barat yang selalu dijadikan kiblat kemajuan dalam banyak aspek, konon dipengaruhi oleh epistemologinya. Epistemologi ini melahirkan kemajuan dalam berbagai aspek dari budaya hingga teknologi yang pada akhirnya satu bangsa dapat menguasai atau sebaliknya tunduk pada bangsa lainnya. Kekuasaan dan ketundukan tersebut bisa nampak atau tidak tampak.

Berkaitan dengan hal tersebut, posisi Islam saat ini berada dalam posisi yang tidak dominan di kancah persaingan kekuasaan dunia. Konon pula hal itu disebabkan kurangnya pemahaman umat Islam terhadap epistemologi Islam yang sesungguhnya memelukan pendalaman. Penting kiranya kita memahami terlebih dahulu hal mendasar mengenai epistemologi Islam. Dalam makalah ini penulis
mencoba memaparkan beberapa prinsip dasar epistemologi Islam untuk mengenalkan kita pada Islam yang sejati.

B. Pembahasan

1. Pengertian Epistemologi dan Islam

a. Pengertian Epistemologi

Epistemologi dapat dilihat dari dua jenis pengertian, pertama secara etimologi. Epistemologi berasal dari bahasa Yunani yaitu "episteme" yang berarti ilmu dan "logos" yang berarti ilmu sistematika atau teori, uraian dan alasan. Jadi, epistemologi adalah teori tentang ilmu yang membahas ilmu dan bagaimana memperolehnya, kemudian membahasnya secara mendalam (subtantif).[1]

1


Kedua, secara terminologi, pengertian epistemologi disampaikan oleh para ahli. Menurut Harun Nasution, pengertian epistemologi; episteme berarti pengetahuan dan epistemologi adalah ilmu yang membahas tentang; apa pengetahuan,dan bagaimana memperoleh pengetahuan.[2]

Selanjutnya, Drs. R.B.S. Furdyartanto memberikan pengertian epistemologi sebagai berikut; Epistemologi berarti: ilmu filsafat tentang pengetahuan atau dengan pendek kata, filsafat pengetahuan.[3]

Azyumardi Azra menyatakan, epistemologi sebagai ilmu yang membahas tentang tentang keaslian, pengertian, struktur, metode, dan validitas ilmu pengetahuan.[4]

Sedangkan Adnin Armas menyatakan, epistemologi sebagai cabang filsafat yang membahas proses atau cara mendapat ilmu, sumber-sumber ilmu dan klasifikasi ilmu, teori tentang kebenaran, dan hal-hal yang terkait dengan filsafat ilmu.[5] Dari pengertian-pengertian di atas nampak bahwa epistemologi bersangkutan dengan masalah-masalah yang meliputi :

a) Filsafat, yaitu sebagai ilmu berusaha mencari hakekat dan kebenaran pengetahuan.

b) Metode, yaitu sebagai metode bertujuan mengantarkan manusia untuk memperoleh pengetahuan.

c) Sistem, yaitu sebagai suatu sistem bertujuan memperoleh realitas kebenaran pengetahuan.

Lebih sederhana lagi, epistemologi dapat dikatakan sebagai upaya, cara, atau langkah-langkah untuk mendapatkan pengetahuan. Selain kesimpulan tersebut, pengertian etimologi di atas memberikan rumusan yang sederhana dari setiap pendapat yang berbeda mengenai definisi epistemologi yang dikemukakan para ahli, yaitu secara sederhana bahwa epistemologi merupakan teori tentang ilmu yang membahas ilmu dan bagaimana memperolehnya, kemudian membahasnya secara mendalam.

b. Pengertian Islam

Dari segi bahasa, Islam berasal dari bahasa Arab yaitu dari kata "salima" yang mengandung arti selamat, sentosa dan damai. Dari kata salima selanjutnya diubah menjadi bentuk "aslama" yang berarti berserah diri masuk dalam kedamaian.[6]

Adapun pengertian Islam dari segi istilah kita bisa mendapatkan rumusan yang berbeda-deda. Harun Nasution misalnya mengatakan bahwa Islam menurut istilah (Islam sebagai agama), adalah agama yang ajaran-ajarannya diwahyukan Tuhan kepada masyarakat melalui Nabi Muhammad Saw. sebagai Rasul. Dan Islam pada hakekatnya membawa ajaran-ajaran yang bukan mengenal satu segi, tetapi mengenai berbagai segi dari kehidupan manusia.[7]

Syikh Mahmud Syaltut mengatakan, Islam itu adalah agama Allah yang diperintahkannya untuk mengajarkan tentang pokok-pokok serta peraturan-peraturannya kepada Nabi Muhammad Saw. dan menugaskannya untuk menyampaikan agama tersebut kepada seluruh manusia dan mengajak mereka untuk memeluknya.[8]

Islam bukanlah agama baru yang dibawa oleh Nabi Muhammad. Nabi Muhammad tidak pernah mengatakan bahwa ia membawa agama baru, akan tetapi ia melanjutkan, mengoreksi dan menyempurnakan serta memimpin manusia dengan petunjuk wahyu Allah, untuk kembali kepada iman yang asli yakni imannya Nabi Ibrahim. Dari pengertian di atas, penulis dapat menyimpulkan bahwa Islam tidak terlepas dari :

a) Islam adalah agama yang bersumber dari wahyu Allah kepada nabi Muhammad SAW.

b) Islam adalah aqidah, amal saleh, dan tunduk kepada Allah.

c) Islam adalah sistem kehidupan yang lengkap dan menyeluruh.

d) Islam adalah kedamaian, keselamatan, dan kesejahteraan.

2. Sumber Pengetahuan (Wahyu, Akal, dan Rasa)

Sumber pengetahuan dalam Islam mencakup wahyu, akal dan rasa.

a) Wahyu

1) Al Quran

Al Quran adalah kitab Allah yang terakhir, sumber asasi islam yang pertama dan utama, kitab kodifikasi firman Allah SWT kepada manusia, diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW. Berisi petunjuk ilahi yang abadi untuk manusia, untuk kebahagiaan mereka didunia dan akhirat. Sebagai sumber ajaran utama islam, Al Quran diyakini berasal dari Allah SWT dan mutlak benar yang keberadaannya sangat dibutuhkan manusia.[9]

¼çm¯RÎ)ur ã@ƒÍ”\tGs9 Éb>u‘ tûüÏHs>»yèø9$# ÇÊÒËÈ tAt“tR ÏmÎ/ ßyr”9$# ßûüÏBF{$# ÇÊÒÌÈ 4’n?tã y7Î7ù=s% tbqä3tGÏ9 z`ÏB tûïÍ‘É‹ZßJø9$# ÇÊÒÍÈ Ab$|¡Î=Î/ <c’Î1ttã &ûüÎ7•B ÇÊÒÎÈ

“Dan saesungguhnya Al Quran ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam, dia dibawa turun oleh Ar-ruh al amin (Jibril) ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang diantara orang-orang yang memberi peringatan dengan bahasa Arab yang jelas. (Q.S. As-syu’ara: 192-195)

Sebagai sumber utama pengetahuan, Al Quran adalah mutiara pengetahuan yang tidak terhingga jumlahnya yang pada garis besarnya Al Quran mengandung beberapa pokok-pokok pikiran, yaitu aqidah, syariah (di dalamnya termasuk ibadah, dan mu’amalah), akhlak, kisah-kisah lampau, berita-berita yang akan datang , dan pengetahuan mengenai alam semesta.[10]

2) As sunnah

Kedudukan As sunnah sebagai sumber ajaran islam selain ayat-ayat Al Quran. Sebagai sumber ajaran agama islam kedua setelah Al Quran, As sunnah memiliki fungsi yang pada intinya sejalan dengan AlQuran. Keberadaan As sunnah tidak dapat dilepaskan dari adanya ayat Al Quran. Fungsi sunnah nabi terhadap al-qur’an di antaranya:

a) Ayat yang bersifat global (garis besar) yang memerlukan perincian.

b) yang bersifat umum (menyeluruh) yang menghendaki pengecualian.

c) yang bersifat mutlak (tanpa batas) yang menghendaki pembatasan.

d) Isyarat Al Quran yang mengandung makna lebih dari satu (musytarak)yang menghendaki penetapan makna yang dipakai;

Bahkan terdapat sesuatu yang secara khusus tidak dijumpai keterangannya didalam Al Quran yang selanjutnya diserahkan kepada hadis nabi. Selain itu adapula yang menjelaskan Al Quran tetapi hadis datang untuk memberikan keterangan sehingga masalah tersebut menjadi kuat.

Dalam kaitan ini, maka hadis berfungsi memerinci petunjuk dan isyarat al Quran yang bersifat global sebagai pengecualian teradap isyarat Al Quran yang bersifat umum, sebagai pembatas terhadap ayat Al Quran yang bersifat mutlak, dan sebagai pemberi informasi terhadap sesuatu yang tidak dapat dijumpai dalam Al Quran. Dengan posisinya yang demikian itu maka pemahaman Al Quran dan juga pemahaman ajaran islam yang seutuhnya tidak dapat dilakukan tanpa pengikutsertaan Nabi Muhammad SAW.

b) Pengetahuan Melalui Akal

Dalam pandangan islam, akal manusia mendapat kedudukan yang lebih tinggi. Hal ini dapat dilihat dari beberapa ayat Al Quran. Pengetauan lewat akal disebut pengetahuan “aqli”. Akal dengan indra dalam kaitan dengan pengetahuan satu dengan yang lain tidak dapat dipisahkan dengan tajam, bahkan sering berhubungan. Dalam pandangan islam, akal mempunyai pengertian tersendiri dan berbeda dengan pandangan secara umum. Dalam pandangan islam, akal berbeda dengan otak, akal dalam pandangan islam bukan otak, melainkan daya berpikir yang terdapat dalam jiwa manusia.[11]

Akal dalam islam merupakan tiga unsur, yakni; pikiran, perasaan dan kemauan. Dalam pengertian biasa pikiran terdapat pada otak, sedangkan perasaan pada indra dan kemauan terdapat pada jiwa.

Ketiga unsur tersebut satu dengan yang lainnya tidak dapat dipisahkan. Filosof islam membagi akal menjadi dua jenis, yaitu:

1) Akal praktis, yang menerima arti-arti yang berasal dari materi melalui indra pengingat,

2) Akal teori, yang menangkap arti-arti murni yaitu arti-arti yang tidak penah ada dalam materi Tuhan, Roh dan malaikat.

c) Pengertian lewat indra (rasa)

Pengertian lewat indra adalah segala pengertian yang dapat diperoleh manusia lewat indranya alam panca indra, dan biasa disebut pengetahuan empiris.

Pengetahuan indra terwujud sentuhan indrawi manusia dengan dunia luar (alam) dari sentuhan itu manusia memperoleh pengetahuan. Proses-proses aktifitas pengindraan tersebut (indra dalam dan indra luar) mulai dari menerima (input), kemudian proses dan dikeluarkan (output) maka jadilah pengetahuan pengindraan manusia.

3. Kriteria Kebenaran dalam Epistemologi Islam

Pandangan islam akan ukuran kebenaran merujuk kepada landasan keindahan dan keyakinan terhadap keadilan yang bersumber kepada Al Quran. Sebagaimana yang diutarakan oleh Fazrur Rahman bahwa semangat besar dari Al Quran adalah semangat moral ide-ide keadilan sosial dan ekonomi. Hukum moral adalah abadi, ia adalah “perinta Allah”. Manusia tidak dapat membuat atau memusnahkan hukum moral: ia harus menyerahkan diri kepadanya. Penyerahan ini dinamakan islam dan implementasinya dalam kehidupan disebut ibadah atau pengabdian kepada Allah.[12]

Dalam kajian epistemologi islam dijumpai beberapa teori tentang kebenaran:

a. Teori korespondensi

Menurut teori ini suatu posisi akan pengertian itu benar adalah apabla terdapat suatu fakta bersesuaian, yang beralasan dengan realitas, yang serasi dengan situasi akal maka kebenaran adalah sesuai dengan fakta dan sesuatu yang selaras dengan situasi akal yang diberi interpretasi.

b. Teori Konsistensi

Menurut teori ini kebenaran tidak dibentuk atas hubungan antara putusan (judgement) dengan sesuatu yang lain fakta atau realitas, tetapi atas suatu hubungan antara putusan-putusan itu sendiri. Dengan kata lain kebenaran itu ditegakkan atas hubungan antara putusan-putusan yang baik dengan putusan lainnya yang telah kita ketahui dan diakui benar terlebih dahulu, jadi suatu itu benar, hubungan itu saling berhubungan dengan kebenaran sebelumnya.

c. Teori Pragmatis

Teori ini mengemukakan benar tidaknya suatu ucapan, dalil atau semata-mata tergantung kepada berfaedah tidaknya ucapan, dalil atau teori tersebut bagi manusia untuk berfaedah dalam kehidupannya.

4. Peranan dan Fungsi Pengetahuan Islam

Pengetahuan berasal dari bahasa Arab 'ilm yang merupakan lawan kata dari jahl yang berarti ketidaktahuan atau kebodohan. Pengetahuan itu sendiri terdiri dari dua jenis; yaitu pengetahuan biasa dan pengetahuan ilmiah. Pengetahuan biasa diperolah dari keseluruhan bentuk upaya kemanusiaan seperti perasaan, pikiran, pancaindera, pengalaman, dan intuisi untuk mengetahui sesuatu tanpa memperhatikan objek, cara dan kegunaanya. Dalam bahasa Inggris, pengetahuan jenis ini disebut knowladge. Pengetahuan ilmiah juga merupakan keseluruhan bentuk upaya kemanusiaan untuk mengetahui sesuatu, tetapi dengan memperhatikan objek yang ditelaah, cara yang digunakan, dan kegunaan pengetahuan tersebut. Dengan kata lain pengetahuan ilmiah memperhatikan objek ontologis, landasan epistemologis, dan landasan aksiologis dari pengetahuan itu sendiri. Jenis pengetahuan ini dalam bahasa Inggris disebut science, dan ilmu yang dimaksud di sini adalah pengetahuan yang kedua.[13]

Menurut Nur Cholis Majid, ilmu adalah hasil pelaksanaan perintah Tuhan untuk memperhatikan dan memahami alam raya ciptaan-Nya sebagai manifestasi atau penyingkapan tabir akan rahasia-Nya. Ibnu Rusyd mengatakan bahwa antara ilmu dan iman tidak dapat dipisahkan karena iman tidak saja mendorong tetapi menghasilkan ilmu, tetapi membimbing ilmu dalam bentuk pertimbangan moral dan etis dalam penggunaannya.[14]

Peran dan fungsi pengetahuan dalam islam ini dapat dilihat dari surat Al-Alaq ayat 1 sampai 5. Pada ayat tersebut terdapat kata iqra' yang diulang dua kali. Kata tersebut menurut A. Baiquni selain membaca dalam artian biasa, juga berarti menelaah, mengobservasi, membandingkan, mengukur, mendeskripsikan, menganalisa dan menyimpulkan secara induktif.[15]

Secara rinci, fungsi ilmu pengetahuan di antaranya:

a. Fungsi Deskriptif yaitu menggambarkan, melukiskan dan memaparkan atau masalah sehingga mudah dipelajari.

b. Fungsi pengembangan, yaitu melanjutkan hasil penemuan yang lalu dan menemukan hasil penemuan yang baru.

c. Fungsi fredeksi yaitu meramalkan kejadian-kejadian yang besar kemungkinan terjadi sehingga manusia dapat mengambil tindakan-tindakan yang perlu usaha menghadapinya.

d. Fungsi kontrol yaitu berusaha mengendalikan peristiwa-peristiwa yang tidak dikehendaki.

Demikian pentingnya ilmu ini hingga Islam memandang bahwa orang menuntut ilmu sama nilainya dengan berjuang di jalan Allah. Islam menempuh cara demikian, karena dengan ilmu pengetahuan seseorang dapat meningkatkan kualitas dirinya, ibadahnya dan kualitas imannya.

C. Penutup

Islam menempatkan ilmu sebagai aspek yang sangat penting. Islam menuntun umatnya untuk menggunakan akal dan rasa untuk memeperolah ilmu pengetahuan. Akal dan rasa juga untuk memahami ayat-ayat Tuhan baik dalam firman-Nya maupun di alam semesta. Namun, kebenaran ilmu dalam Islam disandarkan pada wahyu yang memiliki kebenaran hakiki. Inilah yang membedakan epistemologi Islam dengan epistemologi selain Islam.

[1] Harun Nasution, Filsafat Agama, (Jakarta: Bulan Bintang, 1973), hlm.10.

[2] Harun Nasution, Filsafat Islam, (Jakarta: t.p., 1978), hlm.10.

[3] Dr. R.B.S. Furdyartanto, Epistemologi, Yogyakarta, 1978) hlm. 8.

[4] Azyumardi Azra, Pendidikan Islam Tradisi dan Modernisasi Menuju Milenium Baru, Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1999), hlm. 114.

[5] Adnin Armas, Islamisasi Ilmu Konsep dan Epistemologi, (Malang: Islamic Thought and Civilization (ICON) forum, 2008), hlm. 9.

[6] Abuddin Nata, Metodologi Studi Islam, (Jakarta: t.p., 2000), hlm. 62-63.

[7] Harun Nasution, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya, Jld I, (Jakarta: UI Press, 1978), hlm. 24.

[8] Syaikh Mahmud Syaltut, Islam Sebagai Aqidah dan Syari’ah, terjemahan H. Bustami A.Gani dan B.Hamdany Ali, Jakarta, 1967,h.15

[9] Abuddin Nata, Metodologi Studi Islam, (Jakarta: t.p., 2000), hlm. 71.

[10] H. Endang Saifuddin An Shari, A, Wawasan Islam Pokok-Pokok Pikiran Tentang Islam dan Umatnya, (Jakarta: t.p., 1993), hlm. 33.

[11] Harun Nasution, Islam Ditinjau...., hlm. 9.

[12]Fazlur Rahman, Islam, (Bandung: Pustaka, 1984), hlm.35.

[13]Ensiklopedi Islam, Jilid 2, (Jakarta: PT. Ichtiar Baru Van Hoeve, 1999), hlm. 201.

[14]Drs. Atang Abdul Hakim, M.A., dan Dr. Jaih Mubarak, Metodologi Studi Islam, (Bandung: Rosdakarya, 2000), hlm. 18.

[15]Abuddin Nata, Metodologi Studi Islam,..., hlm. 87.

Artikel Terkait

Komentar