Teknik Penulisan Pidato dan Ceramah



PENDAHULUAN
Mempersiapkan naskah adalah salah satu aspek penting yang dilakukan sebelum berpidato. Diantara fungsi tersebut ialah agar pidato lebih  sistematis, teratur, dan efektif. Begitu pentingnya pembuatan naskah, sehingga pembicara ulung seperti Sir Winston Churcill selalu menyiapkan naskah sebelum pidatonya. James Hume dalam bukunya Standing Ovation memberikan catatan tentang bagaimana Churcill, Perdana Mentri Inggris semasa Perang Dunia II menyusun dan menata pidatonya.[1] Apalagi bagi seorang pemula yang masih belum banyak pengalaman berbicara di hadapan publik, tentu menyiapkan naskah sangat penting untuk dilakukan.  

Sebenarnya pidato tidak selalu harus menggunakan naskah lengkap, bahkan ada pidato yang sama sekali tidak menggunakan naskah. Pidato dilakukan dengan empat cara, yaitu membaca naskah (manuskrip), menghapal (memoriter), spontanitas (impromptu), dan menguraikan kerangka (ekstemporer).[2]  Bila berpidato dengan menggunakan naskah, maka harus disiapkan naskah tersebut terlebih dahulu. Dengan demikian, keterampilan menulis naskah pidato diperlukan.
PEMBAHASAN
A.     Pengertian
1.      Naskah
Kata 'naskah' diambil dari bahasa Arab nuskhatun yang berarti sebuah potongan kertas. Sedangkan dalam Kamus Bahasa Melayu Nusantara, 2003, naskah diartikan sebagai;
a.       Karangan yang ditulis tangan atau ditaip (diketik); manuskrip.
b.      Karya asli seorang penulis yang belum dicetak atau diterbitkan; teks asal.
c.       Rang (undang-undang, perlembagaan, dsb.); rancangan.
d.      Bilangan (kata penggolong) untuk buku, surat kabar, majalah, dan sebagainya; buah; eksemplar.[3]
2.      Dakwah
Secara etimologi, dakwah berasal dari kata da’a, yad’u, da’watan yang berarti mengajak, menyeru, memanggil, dan mengundang. Dalam al-qur’an, kata dakwah bisa berarti luas yaitu menyeru kepada kebaikan maupun keburukan.[4]
Menurut terminologi, dakwah adalah mendorong manusia agar berbuat kebaikan dan mengikuti petunjuk, menyeru mereka untuk berbuat kebajikan dan melarang mereka dari perbuatan munkar agar mereka mendapat kebahagiaan di dunia dan akhirat. Sedangkan bila dimaknai secara kontekstual, dakwah pada hakikatnya tidak hanya menyeru atau mengajak manusia, tetapi lebih dari itu adalah mengubah manusia, baik sebagai individu maupun kelompok, menuju ajaran dan nilai-nilai Islam. Dalam hal ini dakwah berarti perubahan sosial dan pengembangan mayarakat.[5]
3.      Pidato
Pidato adalah sebuah kegiatan berbicara di depan umum atau berorasi untuk menyatakan pendapatnya, atau memberikan gambaran tentang suatu hal. Pidato biasanya dibawakan oleh seorang yang memberikan orasi-orasi, dan pernyataan tentang suatu hal atau peristiwa yang penting dan patut diperbincangkan.[6]
4.      Ceramah
Ceramah adalah penyampaian pesan yang bertujuan memberikan nasehat dan petunjuk-petunjuk sementara ada audiens yang bertindak sebagai pendengar. Ceramah merupakan bagian dari jenis-jenis pidato. Ceramah dibedakan menjadi 2, yaitu :
a.       Ceramah Umum
            Ceramah umum adalah pidato yang bertujuan untuk memberikan nasehat kepada khalayak umum atau maysrakat luas. Umum yang dimaksud disini ialah objek dan materinya. Audiensnya adalah masyarakat luas tanpa ada batasan baik tua muapun muda, pejabat ataupun rakyat biasa. Materinya juga tidak ditentukan, dan tidak terikat oleh jenis acara.
b.      Ceramah Khusus
            Maksud khusus di sini adalah tersendiri, istimewa, dan tidak ada yang lain. Jadi ceramah khusus berarti ceramah yang bertujuan untuk memberikan nasehat-nasehat kepada mad’u atau khalayak tertentu dan juga abersifat khusus baik itu materi maupun yang lainnya. Sedangkan dalam ceramah khusus banyak batasan-batasan yang dibuat mulai dari audiens yang sesuai dengan yang diinginkan dan materi juga yang menyesuaikan dengan keadaan. Contoh: Peringatan hari besar islam (PHBI) seperti Isra’miraj, maulid Nabi Muhammad SAW, bulan puasa dan lain-lain.[7]
            Dari pengertian-pengertian diatas, naskah dakwah berarti karangan berbentuk tulisan yang ditulis tangan maupun diketik berisi pesan-pesan dakwah. Dalam hal ini ialah dakwah Islam. Penulisan naskah dakwah untuk pidato dan ceramah berarti penulisan atau penyusunan naskah untuk format pidato dan ceramah berisi pesan-pesan dakwah Islam.
B.     Jenis-Jenis Pidato
Jenis pidato ditentukan oleh beberapa faktor seperti situasi, tempat, tujuan dan isi pembicaraan. Faktor-faktor yang menjadi patokan untuk menentukan jenis pidato adalah:
1.      Bidang Politik
Dunia politik seringkali menuntut adanya pidato yang bersifat politis. Pendengar pidato politis pada umumnya adalah massa rakyat. Tujuan pidato ini bukan mengajar, tetapi mempengaruhi, bukan meyakinkan tetapi membakar semangat. Jenis pidato politis yang lazimnya dibawakan adalah pidato kenegaraan, pidato parlemen, pidato pada perayaan nasional, pidato pada kesempatan demonstrasi, dan pidato kampanye. Pidato-pidato politis umumnya panjang dan dapat dibawakan langsung di hadapan massa atau dapat juga melaui media komunikasi seperti radio dan televisi.
2.      Kesempatan Khusus
Ada banyak kesempatan atau pertemuan tidak resmi, di mana orang harus membawakan pidato. Suasana pertemuan semacam ini umumnya akrab, sebab para peserta sudah saling mengenal, misalnya pertemuan keluarga, sidang organisasi dan sidang antara para anggota dan pimpinan perusahaan. Bentuk pidato yang dibawakan biasanya disebut Kata Sambutan. Lamanya antara 3 sampai 5 menit. Pidato atau sambutan ini lenih diarahkan untuk menggerakkan hati dan bukan pikiran pendengar. Sasaran utamanya adalah perasaan bukan pengertian.
Jenis-jenis pidato yang dibawakan pada kesempatan ini adalah pidato ucapan selamat datang, pidato untuk memberi motivasi, pidato ucapan syukur, pidato pembukaan, dan pidato penutup.
3.      Kesempatan Resmi
Dalam kehidupan bermasyarakat sering diselenggarakan berbagai pertemuan karena alasan-alasan resmi. Para peserta yang hadir adalah para pejabat, para pembesar, atau orang-orang terkemuka yang datang dalam suasana formal. Bentuk pidato pada kesempatan ini juga disebut Kata Sambutan. Dalam kesempatan resmi, pidato atau sambutan yang dibawakan seharusnya singkat, meskipun disampaikan secara bebas. Sasarannya lebih untuk menggerakkan perasaan dan bukan untuk menanamkan pengertian rasional.
Jenis-jenis pidato yang diucapkan pada kesempatan ini adalah pidato Hari Ulang Tahun (HUT), pidato pernikahan, pidato perpisahan, dan pidato pelantikan.
4.      Pertemuan Informatif
Dalam hubungannya dengan pembinaan, sering diselenggarakan pertemuan-pertemuan informatif. Maksudnya adalah pertemuan dalam kelompok-kelompok kecil atau besar, baik dalam dunia pendidikan, maupun dalam bidang kehidupan lain. Pidato ini memiliki maksud untuk memberi dan membagi informasi atau untuk membahas suatu masalah secara ilmiah.
Pidato yang dibawakan pada kesempatan ini bersifat sungguh-sungguh, ilmiah, objektif, dan rasional. Konsentrasi pembeberannya lebih pada penalaran rasional. Jenis-jenis pidato informatif ialah kuliah, ceramah, presentasi makalahm pengajaran, dan wejangan informatif. Wejangan informatif  ialah ceramah yang santai di depan sekelompok pendengar dalam jumlah kecil. Bentuk ini sering dipakai apabila menunjukkan slides atau film. Gambar atau film menjadi pokok pembicaraan, sehingga tidak menuntut suatau persiapan yang teliti.[8]
C.     Perbedaan Pidato dan Ceramah
Pengertian pidato dan ceramah pada dasarnya sama yaitu mengungkapkan pikiran di hadapan orang banyak. Ceramah merupakan salah satu jenis pidato yang  polanya berbeda dengan pengertian umum pidato yang dikenal masyarakat pada umumnya. Faktor-faktor yang membedakannya terletak pada batasan materi, bahasa yang digunakan, tujuan, dan jenis acara yang diselenggarakan seperti yang telah dipaparkan sebelumnya.
Untuk lebih detailnya, dijelaskan sebagai berikut:
No
Pidato
Ceramah
1.

Membaca naskah maupun tanpa naskah.
Tanpa membaca naskah.
2.
Disampaikan pada situasi resmi.
Disampaikan pada situasi resmi dan santai.
3.
Tidak ada dialog atau tanya jawab.
Ada  tanya jawab (meskipun bukan keharusan).
4.
Bersifat instruktif, informatif, dan deskriktif.
Bersifat informatif, edukatif, dan persuasif.
5.
Pembawa pidato tidak diwajibkan mengarahkan audiens untuk memahami sungguh-sungguh masalah yang disampaikan.
Pembawa ceramah berkewajiban mengarahkan audiens untuk memahami sungguh-sungguh masalah yang disampaikan.[9]
            Adapun bila dikaitkan dengan dakwah Islam, maka pidato dan ceramah akan memiliki struktur atau kerangka yang sama. Hal ini karena bila dilihat dari jenis pidato di atas dakwah islam termasuk pidato informatif yang edukatif dan bertujuan memberikan pemahaman terhadap audiens tentang ajaran Islam. Oleh karena itu penulis hanya membahas penulisan naskah pidato karena susunannya sama, tinggal menyesuaikan bahasa yang cocok untuk pidato dan bagaimana bahasa yang cocok untuk naskah ceramah.
D.    Menulis Naskah Pidato
1.      Persiapan Sebelum Menulis Naskah Pidato
Sebelum menyusun naskah, yang harus diperhatikan ialah bahan pidato yang akan dibahas. Memilih bahan yang tepat dimaksudkan untuk menyesuaikan materi dengan situasi dan kondisi saat pidato berlangsung. Hal ini berhubungan dengan; Pertama, memahami bentuk acara yang sudah disediakan. Penceramah baiknya mengetahui bentuk acara yang sudah disediakan agar materi sesuai dengan apa yang diharapkan mad’u. Misalnya acara pernikahan, maulid nabi, aqiqah, dan sebaginya. Akan terasa janggal bila materi pembahasan tidak ada kaitannya dengan acara yang sudah disediakan.[10]
            Kedua, memahami latar belakang jamaah. Hal tersebut berguna untuk menentukan tema yang akan dibahas serta persoalan yang bisa disinggung saat ceramah berlangsung. Memahami latar belakang jamaah bisa dilakukan dengan bertanya kepada panitia acara tempat sang da’i akan berceramah.
            Ketiga, menentukan masalah. Ceramah yang baik ialah ceramah dengan permasalahan atau pembahasan yang jelas sehingga tidak simpang siur. Kalau masalah yang hendak dibahas terlalu luas, penceramah bisa memberikan batasan permasalahan.
Keempat, mengumpulkan bahan. Setelah tema ditentukan, langkah berikutnya adalah mengumpulkan bahan agar materi ceramah disampaikan dengan wawasan yang luas dan ilustrasi yang tepat. Bahan-bahan bisa diperoleh dari Al-Qur’an, hadits, buku-buku, artikel koran, berita di televisi ataupun rujukan lainnya.[11]

2.      Tahapan Menyusun Naskah Pidato

Ada beberapa tahap yang harus dilakukan dalam penyusunan dan penulisan naskah pidato yaitu:
a)      Membatasi materi untuk mencocokkan waktu yang tersedia.
b)      Menyusun ide pokok menurut tahap-tahap urutan alur dasar pidato atau menurut salah satu pola organisasi (akan dibahas pada sub bab berikutnya).
c)      Memasukkan dan menyusun submateri yang berhubungan di setiap pokok.
d)      Mengisi materi pendukung yang memperkuat atau membuktikan ide.
e)      Memeriksa draft kasar, untuk meyakinkan bahwa subjek telah cukup terekam dan mencerminkan tujuan khusus pidato.
3.      Menyunting Naskah Pidato
Seperti halnya naskah makalah atau artikel, naskah pidato pun perlu disunting. Baik isi, bahasa, maupun penalarannya. Isi naskah perlu dicermati kembali naskah itu telah sesuai tidaknya dengan tujuan pidato, calon pendengar, dan kegiatan yang digelar. Selain itu isinya juga harus dipastikan apakah benar, representatif, dan mengandung informasi yang relevan dengan konteks pidato.
Sementara itu penyuntingan teradap bahasa diarahkan pada pilihan kosa kata, kalimat, dan satuan-satuan gagasan dalam paragraf menjadi perhatian utama dalam kegiatan penyuntingan ini. Penalaran dalam naskah pidato juga perlu disunting untuk memastikan apakah isi dalam naskah pidato telah dikembangkan dengan menggunakan penalaran yang tepat, misalnya dengan pola induktif, deduktif, dan campuran.
4.      Menyempurnakan Naskah Pidato
Setelah disunting, baik oleh penulis sendiri maupun orang lain, perlu dilakukan tindak lanjut berupa penyempurnaan naskah. Penyempurnaan itu diarahkan pada aspek isi, bahasa, dan penalarannya sebagaimana yang telah disunting di atas. Penyempurnaan aspek bahasa dilakukan dengan mengganti kosakata yang lebih tepat dan menyempurnakan kalimat dengan memperbaiki struktur dan gagasannya. Sementara itu, penyempurnaan paragraf dilakukan dengan memperbaiki koherensi dan kohesi paragraf. Untuk itu penambahan kalimat, penyempurnaan kalimat, dan penghilangan kalimat perlu dilakukan.[12]
E.     Susunan Pidato
            Susunan ceramah terdiri tujuh poin, yaitu judul, muqodimah, pendahuluan, isi, kesimpulan, saran-saran, dan penutup.
1.      Judul
Judul ini sifatnya betul-betul ada hubungannya dengan bentuk acara, dan bisa diselesaikan pembahasannya dalam jangka waktu yang telah ditentukan. Selain itu judul hendaklah aktual (yang sedang hangat diperincangkan) serta ringkas sehingga mudah dimengerti oleh pendengar.[13]
2.      Muqodimah
Muqodimah ialah kalimat-kalimat yang biasanya berbahasa Arab. Ini merupakan tradisi yang merupakan simbol ceramah berisi dakwah islam. Biasanya isinya terdiri dari hamdalah, shalawat, dan ayat al-qur’an atau hadits yang berkaitan dengan pembahasan ceramah.[14]
3.      Pendahuluan
Kata-kata dalam pendahuluan sifatnya menarik perhatian pendengar agar fokus pada da’i dan tertarik pada ceramah yang akan disampaikan. Selain itu, mengarahkan pembicaraan pada pokok permasalahan yang akan dibahas. Misalnya dengan menyebutkan tujuan dan maksud yang ingin dicapai dalam pembahasan yang akan dipaparkan.
4.      Isi
Isi pidato merupakan pokok penting dalam penulisan naskah dakwah. Hendaknya diperhatikan tentang struktur isi pidato. Struktur isi pidato adalah rangkaian isi pidato dari awal hingga akhir. Rangkaian ini disusun agar pidato berlangsung menarik dan tujuan pidato tercapai dengan baik. Ada beberapa cara merangkai isi pidato, antara lain:
a.       Mengikuti Alur Dasar Pidato.
Alur dasar pidato, yaitu rangkaian isi pidato yang mengikuti alur dasar pidato yang bergerak melalui tiga tahap. Pertama, tahap perhatian, yaitu tahap pertama yang dilakukan pembicara dengan baik; Kedua, tahap kebutuhan, yaitu tahap yang dilakukan pembicara dalam menjelaskan pentingnya masalah yang akan dibicarakan sehingga pendengar akan berusaha memahami masalah atau hal-hal penting yang disampaikan pembicara. Ketiga, tahap penyajian, yaitu merupakan tahap pemaparan materi pidato yang telah dipersiapkan.
Itulah tahap-tahap yang dilalui seorang pembicara dalam menyelesaikan pidatonya, tetapi penjelasan tahap-tahap di atas adalah tahap yang dilalui pada jenis pidato informasi.
b. Pola Organisasi Pidato
Pola organisasi pidato dapat digolongkan ke dalam tiga tipe besar. Pertama, pola uraian. Yaitu urutan kronologis dan urutan ruang. Urutan kronologis, adalah susunan isi yang dimulai dari periode atau data tertentu, bergerak maju atau mundur secara sistematis. Sementara itu, urutan ruang adalah susunan isi yang berurutan berdasarkan kedekatan fisik satu dengan yang lainnya. Umpamanya, membicarakan mulai dari SD A kemudian menunjuk ke SD B yang letaknya paling dekat dengan SD A tadi, dan seterusnya.
Kedua, pola sebab; sebagaimana terlihat dari namanya, organisasi pidato yang menggunakan pola sebab yang bergerak dari satu analisis sebab di saat ini bergerak ke arah analisis akibat di masa yang akan datang, atau dari deskripsi kondisi di saat ini bergerak ke arah analisis sebab-sebab yang memunculkannya.
Ketiga, pola   urutan;   ada   dua   macam   urutan   yang   digunakan   untuk menulis isi pidato, yaitu: urutan kronologis dan urutan ruang.  pola topik; pola organisasi pidato yang menggunakan pola topik dilakukan apabila materi yang dibicarakan lebih dari satu periode atau kelompok. Oleh karena itu, di dalam isi pidato akan terdapat beberapa subtopik.[15]
5.      Kesimpulan
Kesimpulan memiliki fungsi untuk memusatkan perhatian pendengar kepada seluruh isi ceramah. Maksudnya dengan mengulas kembali isi ceramah secara ringkas. Ceramah yang panjang kadang membuat penyimaknya sulit atau lupa menangkap intisari dari ceramah yang telah disampaikan. Selain itu pada tahap kesimpulan penceramah bisa menegaskan kembali poin apa yang benar-benar harus diingat oleh pendengar. Karena dalam ceramah mungkin ada satu perrmasalahan yang sifatnya urgen untuk diingat dan dipahami oleh jamaah.
6.      Saran
Saran berisi harapan penceramah terhadap efektivitas isi ceramahnya atau berharap terhadap kondisi yang lebih baik dalam kehidupan jamaah. Bisa juga berupa keinginan untuk bersilaturahmi kembali dengan jamaah.[16]
7.      Penutup
Dalam ceramah islami, biasanya penutup adalah rangkaian kalimat tradisional religius dengan bahasa Arab yang terdiri dari do’a dan salam. Biasanya setelah ceramah berakhir, ditambahi kalimat atau kata-kata yang mengesankan seperti pantun, pepatah, atau kutipan yang memiliki makna yang dalam.[17]
PENUTUP
Naskah dakwah Islam dalam bentuk pidato dan ceramah memiliki struktur yang sama. Hanya saja terdapat beberapa perbedaan dalam bahasa yang digunakan. Pidato lebih terkesan kaku dan retoris sedangkan ceramah menggunakan bahasa yang lebih santai.
Menulis naskah pidato bukan pekerjaan yang bisa dilakukan asal jadi, namun perlu adanya persiapan, teknik menulis yang baik, penyuntingan, dan penyempurnaan naskah. Bila penulisan dan penyusunan naskah pidato baik, maka akan lebih mendukung kesuksesan seorang da’i dalam pidatonya.













DAFTAR PUSTAKA
Charles Bonar Sirait, The Power of Public Speaking, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta: 2007
Ferdianti, Dinna, Cendekia Berbahasa, Grafindo Media Pratama, Jakarta: 2005
Hasanuddin, A.H, Rhetorika Dakwah Publisistik dalam Kepemimpinan, Usaha Nasional, Surabaya: 1982
Hendrikus, Dori Wuwur, Retorika, Terampil Berpidato, Berdiskusi, Berargumentasi, Bernegosiasi, Kanisius, Yogyakarta: 1991
Hielmy, Irfan, Dakwah Bil-Hikmah, Mitra Pustaka, Yogyakarta: 2002
Muflih, Mohamad, Menjadi Orator Ulung, Grafindo, Jakarta: 2004
Rakhmat, Jalaluddin, Retorika Modern Pendekatan Praktis, PT Remaja Rosdakarya, Bandung: 2004
Yani, Ahmad, Bekal Menjadi Khotib dan Mubaligh, Al Qalam, Jakarta: 2005
Zaidallah, Alwisral Imam, Strategi Dakwah; Dalam Membentuk Da’i dan Khotib Profesional, Kalam Mulia, Jakarta: 2002



[1] Charles Bonar Sirait, The Power of Public Speaking, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2007), hlm. 126-127.
[2] Jalaluddin Rakhmat, Retorika Modern Pendekatan Praktis, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2004), hlm. 205.
[3] http://id.wikipedia.org/wiki/Naskah, diakses pada tanggal 18 Maret 2013, jam 17:00.
[4] Irfan Hielmi, Dakwah Bil-Hikmah, (Yogyakarta: Mitra Pustaka, 2002), hlm. 9.
[5]Ibid, hlm. 11.
[6] http://id.wikipedia.org/wiki/Pidato, diakses pada tanggal 18 Maret 2013, jam 17:00.
[7] http://www.sriyuni.com/2012/08/perbedaan-diantara-pidato-ceramah.html, diakses pada tanggal 17 Maret 2013, jam 21:31.
[8] Dori Wuwur Hendrikus, Retorika, Terampil Berpidato, Berdiskusi, Berargumentasi, Bernegosiasi, (Yogyakarta: Kanisius, 1991), hlm. 48-50.
[9] Mohamad Muflih, Menjadi Orator Ulung, (Jakarta: Grafindo, 2004), hlm. 40.
[10]Alwisral Imam Zaidallah, Strategi Dakwah; Dalam Membentuk Da’i dan Khotib Profesional, (Jakarta: Kalam Mulia, 2002), hlm. 83.              
[11] Ahmad Yani, Bekal Menjadi Khotib dan Mubaligh, (Jakarta: Al Qalam, 2005), hlm. 17-18.
[12] Dinna Ferdianti, Cendekia Berbahasa, (Jakarta:Grafindo Media Pratama, 2005), hlm. 144-145
[13] Alwisral Imam Zaidallah, Ibid. hlm. 60.
[14] A. H., Hasanuddin, Rhetorika Dakwah Publisistik dalam Kepemimpinan, (Surabaya: Usaha Nasional, 1982), hlm. 60.
[15] Ahmad  Yani, Ibid. Hal. 44-49
[16] Ibid. Hal. 61.
[17] Alwisral Imam Zaidallah, Ibid. Hal. 86-87.

Komentar