<script async src="//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js"></script> <!-- iimrohimah --> <ins class="adsbygoogle" style="display:inline-block;width:468px;height:60px" data-ad-client="ca-pub-4533907847127524" data-ad-slot="6841261291"></ins> <script> (adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({}); </script>

Senin, 16 Februari 2015

SENI DALAM PERSPEKTIF ISLAM DAN DAKWAH

SENI DALAM PERSPEKTIF ISLAM DAN DAKWAH




Disusun dan Diajukan Guna Memenuhi Tugas Terstruktur
Mata Kuliah : Kapita Selekta Dakwah
Dosen Pengampu : Muridan, M.A.


        Disusun Oleh :

Iim Rohimah              102312012
Nur Wulan Syam siani  102312016



PROGRAM STUDI KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM
JURUSAN DAKWAH
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)
PURWOKERTO
2012


KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah yang memberikan nikmat iman dan islam serta nikmat kesempatan sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini. Berikut ini, penulis persembahkan sebuah makalah yang berjudul, “Seni dalam Perspektif Islam dan Dakwah”.
            Selama ini istilah seni selalu dianggap sebagai sebagai pelahir kemaksiatan. Seni menjadi fenmena yang bertolak belakang dengan ajaran Islam, karena bersifat melenakan manusia pada kenikmatan dunia. Namun, dalam makalah ini seni dijelaskan secara komperehensif sehingga pada hakikatnya Islam sendiri mengapresiasi seni. Begitu pula dengan dakwah yang tak berarti harus melulu dijalankan dengan  kaku tanpa kreatifitas. Sebaliknya keduanya lahir bersama keindahan, dan dieksplorasi dengan membutuhkan keindahan.
 Penulis mengharapkan makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca, terutama bagi penulis sendiri. Makalah ini masih jauh dari semprna dan terdapat banyak kesalahan di sana sini. Oleh karena itu, penulis mohon kritik dan sarannya  untuk menjadi pembelajaran bagi penyusunan makalah selanjutnya. Semoga segala apa yang kita kerjakan memiliki nilai di hadapan Allah SWT dan manfaat bagi diri dan orang lain.

Penulis
 



 
 Sekilas Sejarah Seni
            Dalam sejarah perkembangan kesenian sejak zaman pra-sejarah, agama merupakan sumber inspirasi yang amat besar bagi para seniman. Agama merupakan pembangkit daya cipta yang luar biasa untuk mewujudkan segala sesuatu yang bernilai seni. Kesenian manusia primitif, seperti tari, seni suara, dan seni rupa, tidak terlepas dari unsur-unsur kepercayaan mereka. Demikian pula halnya dengan agama-agama besar di dunia, seperti Islam, Kristen, Yahudi, Hindu, dan Budha telah membentuk pertumbuhan dan perkembangan kesenian dalam corak yang khas dan menakjubkan. Semua dibentuk oleh tenaga yang bernafaskan keagamaan. [1]
            Seni tersebut diwujudkan atas ungkapan rasa dan budi daya manusia dalam mengungkapkan keagamaannya. Selain itu, agama sendiri terlahir bersama keindahan di dalamnya. Seperti agama kita, Islam yang mana bersumber pada wahyu. Allah menyertakan keindahan di dalam wahyunya.
Islam dan Seni
Secara teoritis Islam memang tidak mengajarkan seni dan estetika (keindahan), namun tidaklah berarti Islam anti seni. Ungkapan bahwa Allah adalah jamil (indah) dan mencintai jamal (keindahan) serta penyebutan Allah pada diriNya sebagai badi'us samawat wal ardl, merupakan penegasan bahwa Islam pun menghendaki kehidupan ini indah dan tidak lepas dari seni. Arti badi' adalah pencipta pertama dan berkonotasi indah. Berarti, Allah mencipta langit dan bumi dengan keindahan. [2] dalam hal ini ada beberapa poin untuk mendukung adanya pernyataan bahwa Islam adalah agama yang mengapresiasi keindahan:
a.       Al-Qur’an Mengungatkan Adanya Dua Unsur di Alam: Manfaat dan Keindahan[3]
Allah SWT. berfirman: “Perhatikanlah buahya di waktu pohonya berbuah dan (perhatikanlah pula) kematangannya. Sesungguhnya pada yang demikian itu ada tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang orang yang beriman”. (Al-An’am: 90)
b.      Allah Itu Indah, Mencintai Keindahan
Ibnu Mas’ud meriwayatkan bahwa Rosulullah SAW bersabda: “Tidak masuk surga rang yang di dalam hatinya terbetik sifat sombong seberat atom. Ada seorang berkata, “Sesungguhnya seseorang senang berpakaian bagus dan bersandal bagus”, Nabi bersabda, “Sesungguhnya Allah Maha Indah, Menyukai keindahan. Sedangkan sombong ialah sikap menolak kebenaran dan meremehkan orang lain”. (HR. Muslim)
c.       Al-Qur’an Adalah Mukjizat Keindahan
      Al-Qur’an berisi ayat-ayat yang menjadi representasi ajaran Islam yang agung. Ia adalah mukji zat Rosulullah yang terbesar-sebagai mukjizat keindahan disamping mukjizat pemikiran- yang bahasa Arabpun merasa kalah berhadapan dengan keindahan sastranya, keunggulan pola redaksinya, spesifikasi irama, serta alur bahasanya, hingga sebagian mereka menyebutnya sebagai sihir. [4]
            Ketika membaca Al-Qur’an, kita dituntut untuk menggabungkan keindahan suaradan akurasi bacaaannya dengan irama tilawahnya sekaligus. Rasulullah SAW bersabda: “Hiasilah Al-Qur’an dengan suaramu”.
Seni Dan Dakwah    
            Berbicara tentang dakwah, tak diragukan lagi bahwa penyampaian pesan Islam kepada umat manusia herus melalui cara yang estetis, sehingga pesan dakwah dapat diterima dengan efektif. Misalnya dakwah yang diakukan oleh wali songo melalui wayang kulit. Ini adalah pemanfaatan selera dan budaya estetis masyarakat dalam penyampaian Islam kepada mereka. Untuk menarik simpati orang lain, kita harus menyentuh perasaannya agar ia menerima apa yang kita sampaikan. Begitu pula dalam penyampaian pesan dakwah.
            Akal manusia bukanlah satu-satunya potensi absolut yang mampu memecahkan segala persoalan hidupnya. Manusia di samping dibekali pikir, juga diberi "rasa" dan "nafsu". Kemampuan pikir akan berkurang atau bisa hilang, apabila rasa dan nafsu tidak sejalan dengan pikir. Ketidakserasian antara fungsi-fungsi kejiwaan (pikir, rasa, nafsu), dapat mengguncang kehidupan. Di sini unsur seni sangat mempengaruhi keserasian fungsi kejiwaan, karena seni rnerupakan manifestasi dari budaya (pikiran, perasaan, kemauan dan karsa) manusia yang memenuhi syarat-syarat estetik.
            Dalam kedudukan mulia itu, manusia diberi status khusus sebagai khalifatullah dalam kehidupan di muka bumi ini. Bekal yang diberikan kepadanya adalah kekuatan fisik (quwwatun ‘amaliyah) dan kekuatan berpikir (quwwatun nadhariyah) yang dilengkapi dengan rasa dan nafsu.      Nafsu manusia tidak selamanya mendorong ke arah yang positif. Bahkan kecenderungan ke arah negatif pada umumnya lebih kuat, terutama bila pikir dar rasa manusia tidak mampu mengendalikan. Di sinilah, manusia dalam kehidupan sosial sebagai khalifah Allah dituntut dan punya tanggung jawab untuk ber-amar ma’ruf dan ber-nahi munkar yang dengan kata lain dapat disebut dakwah. Nilai lebih dakwah melalui kegiatan seni adalah, cara ini mampu menyentuh dimensi rasa dan kesadaran lebih dalam.
            Seni hadrah yang merupakan sunnah Rasul yang dianjurkan pada saat menyambut datangnya kegembiraan seperti walimah pengantin, juga merupakan petunjuk bahwa Islam mengenal seni dan budaya, bahkan berperadaban tinggi. Banyak kalimat-kalimat seperti: zinah (hiasan) di dalam Al-Qur'an yang secara implisit mengandung unsur seni dan keindahan. Zinah yang berarti hiasan, tentu saja mengandung nilai seni.
            Seni dengar alat bahasa atau seni sastra yang dikandung Al-Qur’an kiranya cukup jelas dapat dipelajari dari ilmu badi’/balaghah dan ilmu ‘arudl. Bahasa A1-Qur'an di samping bahasa analitik juga utamanya sebagai bahasa estetik. Pengaruh sastra Islam ini meluas pada bahasa-bahasa lain yang dipakai umat Islam.
            Memang seni tidak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia. Kesenian seperti di atas, yang merupakan rnanifestasi dari pikir, rasa, karsa dan karya yang bersifat estetik. merupakan bagian dari kehidupan manusia, atau fitrah manusia. Ia hidup dan berkembang. Islam pada dasarnya membenarkan adanya seni dengan berbagai cabangnya, sepanjang tidak melalaikan Allah dan tidak menimbulkan kemungkaran.
            Pengakuan seni oleh Islam tidak lepas dari fitrah manusia yang menuntut keserasian dan keseimbangan antara unsur-unsur pikir, rasa, karsa dan karya. Dari sisi fungsinya, seni dapat menjadi media mensyukuri nikmat Allah, di mana Allah telah menganugerahi manusia berbagai potensi, baik potensi rohani, mau pun potensi inderawi (mata, telinga, dan lain-lain). Fungsi seni di sini ialah menghayati sunnah Allah, baik pada alam, mau pun yang terdapat pada kreasi manusia.
            DAKWAH hakikatnya merupakan risalah bagi setiap mukmin, seperti ditegaskan dalam surat Al-Taubah ayat 71. Perintah Rasulullah yang masih terus berlaku itu menuntut tanggung jawab pelaksanaannya sepanjang masa, tidak hanya di dalam waktu tertentu dan situasi tertentu. Pada tingkat realisasi, dakwah Islamiyah tetap erat kaitannya dengan lima unsur, yakni juru dakwah (da'i), sasaran (masyarakat), materi, metode dan media dakwah. Dalam hal ini, seni rnerupakan media dakwah yang efektif menyentuh kesadaran bagi sasaran dakwah.
            Kenyataan kondisi sasaran dakwah yang sering kita lihat, menuntut juru dakwah memberikan alternatif materi yang menyentuh kebutuhan mereka. Ini artinya, metoda dan media dakwah juga diharapkan sesuai dengan situasi tersebut. Juru dakwah harus menguasai substansi dakwah, di samping menguasai metoda dan media dakwah, melalui lisan/suara (bi al-lisan), dengan jari tangan (bi al-banan) seperti tulisan, lukisan, gambar dan alat visual lainnya, ataukah dengan organ tubuh yang lain (bi al-arkan) seperti sikap, perilaku dan perbuatan nyata (da’wah bil hal).
            Dalam surat Ali Imran ayat 110 Allah menegaskan predikat manusia sebagai "khaira ummatin" (umat terbaik), dengan ketentuan mampu tampil di tengah-tengah masyarakat, beramar ma'ruf nahi munkar, serta beriman kepada Allah. Kegiatan ini menuntut keterampilan dan penampilan sesuai dengan pluralitas masyarakat. Pilihan metoda hikmah, mau'idhah hasanah atau mujadalah bil ahsan menjadi penting, melalui media-media yang mudah dijangkau untuk mendukung strategi dakwah.
            Dalam  pengertian yang luas, dakwah Islamiyah punya kaitan simbiosis dengan seni budaya, di mana makna dan nilai-nilai Islam dapat dipadukan. Namun dalam hal ini perlu adanya konsep dakwah yang strategis dan lumintu, dengan pengelolaan secara profesional yang mampu mengakomodasi segala permasalahan sosial. Di sini, seni dan budaya dapat menjadi metoda atau media dakwah, namun juga menjadi sasaran antara bagi dakwah Islamiyah itu sendiri.
            Sebagai  media atau metoda, seni budaya mempunyai proyeksi yang mengarah pada pencapaian kesadaran kualitas keberagamaan Islam yang pada gilirannya mampu mernbentuk sikap dan perilaku Islami yang tidak menimbulkan gejolak sosial, tetapi justru makin memantapkan perkembangan sosial. Sedangkan sebagai sasaran antara, dakwah Islamiyah diarahkan pada pengisian makna dan nilai-nilai Islarni yang integratif ke dalam segala jenis seni dan budaya yang akan dikembangkan.
            Realitas menunjukkan secara menyolok, bahwa secara kuantitatif, Islam di Indonesia makin mendapatkan tempat yang luas di kalangan masyarakat, baik dari kelompok remaja mau pun tua. Ini tidak berarti ada pengembangan Islam. berkembangnya jumlah pemeluk agama menunjukkan perkembangan kepedulian masyarakat terhadap agama itu, namun tidak berarti bahwa ajaran agama secara substansial juga berkembang.
            Sebuah hipotesis rnenunjukkan, bahwa kualitas keberagamaan Islam di kalangan masyarakat cenderung melemah, akibat perubahan-perubahan yang terjadi pada sistem dan orientasi nilai.
            Di sinilah pentingnya reformulasi konsep dakwah Islamiyah yang utuh dan strategis, dalam rangka meningkatkan kualitas keberagamaan Islam, sekaligus kualitas hidup, sehingga pada gilirannya dapat dicapai cita-cita yang serba maslahah dan sa'adah, sa'adatud darain.
 
 
DAFTAR PUSTAKA

Israr,C.1955.Sejarah Kesenian Islam.Bulan Bintang:Jakarta
Qardhawi, Yusuf.2002.Islam Bicara Seni.Intermedia:Solo
www.kmnu.org


[1] Israr, C., Sejarah Kesenian Islam 2, (Jakarta: Bulan Bintang, 1955)
[2] www.kmnu.org
[3] Qardhawi Yusuf, Islam Bicara Seni, (Solo: INTERMEDIA, 2002), hm. 36
[4] Ibid, hlm. 40

0 komentar:

Posting Komentar

luvne.com ayeey.com cicicookies.com mbepp.com kumpulanrumusnya.comnya.com tipscantiknya.com