<script async src="//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js"></script> <!-- iimrohimah --> <ins class="adsbygoogle" style="display:inline-block;width:468px;height:60px" data-ad-client="ca-pub-4533907847127524" data-ad-slot="6841261291"></ins> <script> (adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({}); </script>

Senin, 16 Februari 2015

Menyoal Mahasiswa Tidak ‘Siap Pakai’



Menyoal Mahasiswa Tidak ‘Siap Pakai’
Oleh: Iim Rohimah
Mahasiswa merupakan sosok pemuda berpendidikan yang ‘siap pakai’. Artinya siap menghadapi dunia luar kampsus berupa pengabdian kepada masayarakat dan memiliki kualitas yang memenuhi syarat-syarat dalam dunia karir. Mahasiswa berarti orang terpelajar yang telah sampai pada proses pendidikan tertinggi, sehingga menjadi perlambang kematangan seorang pelajar yang telah digembleng dalam ranah pendidikan.

Oleh sebab itu, idealnya ketika mahasiswa lulus kuliah, ia siap berkarir dan dapat mengabdi kepada masyarakat. Tidak hanya asal bekerja, tapi benar benar menguasai apa yang dipelajari serta memiliki skill yang bernilai ‘daya jual’. Tidak hanya mengabdi, tapi benar-benar memberikan perubahan sosial ditengah masyarakat. Entah itu menciptakan lapangan kerja, membuat kegiatan pemberdayaan masyarakat, atau yang kegiatan produktif lainnya.
Tidak Berproses
Akan tetapi terjadi setelah lulus kuliah, justru banyak mahasiswa yang menganggur dengan alasan persaingan kerja yang ketat. Padahal, idealnya seorang mahasiswa tidak ada celah bagi kata ‘nganggur’ setelah lulus kuliah. Kualifikasi dunia kerja hanya satu dari sekian banyak jalan untuk berkarir. Ketika tidak dapat lolos dalam pintu penerimaan kerja, seharusya mampu menapaki jalan lain. Entah itu wirausaha, mengolah skill menjadi lahan profesi, atau mengembangkan usaha orang tua.
Sayangnya itu sebatas konsep bagi kebanyakan lulusan kampus. Wirausaha tidak berani karena mental tidak terlatih, mengolah skill pun mendekati mustahil karena ia tidak memiliki skill yang jelas, merekonstuksi usaha orang tua juga tidak bisa karena jauh dari minat terhadap bidang usaha orang tua. Misalnya karena pekerjaan orang tua adalah petani, pandai besi, atau segala jenis pekerjaan konvensional yang berat.
Semua itu bisa terjadi pada mereka yang tidak berproses secara sungguh-sungguh di masa kuliah. Menghabiskan waktu untuk berfoya-foya dengan tongkrongan tanpa manfaat yang jelas, begadang tanpa tujuan produktif, senang belanja berlebihan, lebih memperhatikan fashion ketimbang kuliah, dan anti terhadap kegiatan kampus. Bukan hanya itu, banyak sekali dijumpai di kelas saat belajar, beberapa mahasiswa sibuk dengan handphone ketika dosen memberikan kuliah, lalai dengan tugas, sering absen, tidak tahu prosedur akademik, dan segala bentuk ketidak seriusan dalam belajar. Pada akhirnya seringkali ada komentar terhadap mahasiswa semacam itu, “niat kuliah ngga sih?”. Pernyataan itu memang sangat tepat, bagaimana tidak, lihat saja misalnya masih banyak kebiasaan tidak mengerjakan tugas dengan alasan tidak tahu, dan tidak ikut UAS dengan alasan tidak tahu jadwal. Bisa dikatakan mereka benar-benar tidak ada niat untuk belajar, karena tidak ada usaha mencari tahu, padahal itu mudah dilakukan.
Sebenarnya mereka bukan tidak mau memiliki karir yang sukses di kemudian hari. Namun, mengapa proses kuliahnya seperti itu? Bagaimana bisa punya kualitas jika tidak ada proses, dan bagaimana bisa menjadi pelopor dalam masyarakat bila masa kuliah dihabiskan untuk foya-foya.
Semua ini dikarenakan pikiran fragmatis yang memandang segala aktivitas harus menghasilkan manfaat kongkrit pada saat itu. Berorganisasi tidak melihat manfaatnya secara langsung, dan kuliah yang mereka pikir tidak memberikan keahlian yang kongkrit pada saat itu, diperkuat dengan rasa malas untuk melakukan kegiatan yang memperkaya keahlian. Akibatnya lebih memilih kegiatan yang menyenangkan dan bisa memuaskan pada saat itu, tanpa pemikiran panjang. Akhirnya malas terbebani oleh tanggungjawab dalam kegiatan-kegiatan kampus, dan enggan repot-repot memikirkan anggaran dana untuk sebuah acara BEM, misalnya.
Makna Proses bagi Mahasiswa
Seharusnya semangat berproses itu sama seperti minat mereka teradap kesuksesan. Sukses itu, siapa yang tidak ingin. Akan tetapi menempuh jalan menuju kesuksesan itu jarang yang bersedia dan konsisten dalam menjalaninya. Mahasiswa yang tidak berproses di jalan menuju kesuksesan, tidak memahami arti sebuah proses.
Padahal dengan berproses, akan membuat mahasiswa memiliki kualitas sesuai jurusan karena sungguh-sungguh saat belajar di kelas. Mahasiswa akan memiliki skill yang jelas dan mantap karena rajin menekuni sebuah bidang yang disukai tanpa menyia-nyiakan waktu luang di luar kampus. Ia juga memahami dan memiliki banyak jalan alternatif karena luasnya pergaulan, dan banyak kemampuan di berbagai bidang. Memiliki kreativitas yang membuat banyak jalan terbuka, jika seandainya akan berhadapan dengan kemungkinan terburuk, karena ia terbiasa dihadapkan dengan segala ketidakpastian saat berjuang di kampus. Entah itu dalam organisasi atau perjuangan untuk meraih prestasi.
            Jika para mahasiswa memahami arti berproses di dunia kampus, maka tidak mungkin ia menjadi sarjana yang ‘tidak siap pakai’. Dipastikan mereka akan memiliki jalan dan kreativitas untuk menghadapi dunia luar nantinya.

0 komentar:

Posting Komentar

luvne.com ayeey.com cicicookies.com mbepp.com kumpulanrumusnya.comnya.com tipscantiknya.com