Makalah Filsafat Dakwah



BAB I PENDAHULUAN
Manusia sifatnya tidak tunggal namun sebaliknya bersifat plural dalam segala aspek. Untuk megajak mereka ke jalan Tuhan butuh banyak cara pula disesuailkan dengan sasarannya. Disini di tampilkan ruh dakwah yang telah tersirat dalam al-qur’an.  Sifat ruh tersebut fleksibel likulli zaman wal makan.

BAB II PEMBAHASAN
A.     Kedudukan Al-Qur’an dan Hadits dalam Dakwah
            Al-Qur’an mendefinisikan dakwah sebagai upaya menyeru umat manusia menuju jalan Tuhan dengan cara bijak, tutur kata yang tepat, atau dengan mujadalah (dialog yang sehat). [1] Hal ini disebutkan dalam Al-Qur’an surat An-Nahl ayat 125: “Serulah manusia ke jalan Tuhanmu, dengan cara hikmah, pelajaran yang baik dan berdiskusilah dengan mereka dengan cara yang baik pula”.  Jalan Tuhan disini ialah undang-undang dan nilai-nilai Islam yang tersurat dan tersirat dalam firman-Nya dan sunnah Rosulullah SAW. Apa yang di dakwahkan oleh seorang da’i berarti isinya adalah nilai-nilai islam.
            Kemudian dalam Al-Qur’an dan hadits di dalamnya terdapat pedoman yang berisi metode berdakwah. Misalnya ayat tentang bagainmana menghijrahkan seseorang atau sekelompok orang dari jalan yang sesat menuju jalan yang diridhai Allah, seperti dalam definisi dakwah di atas. Itu merupakan metode yang telah diajarkan Al-Qur’an untuk menjadi pegangan untuk berdakwah.
            Hikmah dalam kegiatan dakwah, menurut A. Mukhti Ali: “Adapun dakwah dan tabligh dengan cara “hikmah kebijaksanaan” ialah kesanggupan da’i atau muballigh untuk menyiarkan ajaran Islam dengan mengingat waktu dan tempat dan masyarakat yang di hadapi”. Muhammad Nasir memberikan pemahaman tentang hikmah dalam arti yang lebih kongkrit, yakni meliputi beberapa aspek yang terkait dalam kegiatan dakwah antara lain.
1.      Hikmah dalam arti mengenal golongan
2.      Hikmah dalam arti memilih saat
3.      Hikmah dalam arti mengadakan kontrak pemikiran dan mencari titik pertemuan sebagai tempat bertolak
4.      Hikmah ttidak melepaskan shibghah [2]
5.      Hikmah dalam memilih kata yang tepat
6.      Hikmah dalam perpisahan
7.      Hikmah dalam arti uswah hasanah (M. Nasir, Fiqhu ad-sakwah). [3]
            Dari dua pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa hikmah dalam dakwah tidak hanya sekedar metode atau cara dalam berdakwah, tetapi merupakan prinsip dasar bagi kegiatan dakwah, artinya semua unsur yang terkait dalam proses kegiatan dakwah hendaknya dijiwai dengan prinsip hikmah, sejak dari pengenaan objek, metode, memilih waktu, sarana, media, dan lain-lain.
            Selanjutnya megenai kedudukan hadits dalam dakwah, hadits adalah pengejawantahan nilai-nilai al-qur’an. Sebagaiman kata Aisyah ra. bahwa Rosulullah memiliki akhlak Al-Qur’an. Apa yang disampaikan kepada mad’u berisi contoh bagaimana priaku ideal dalam kehidupan sehari- hari melalui sunnah Rasulullah SAW, tentunya menyesuaikan dengan budaya mad’u.
Adapun hahits sebagai sumber metode dakwah, berisi aspek bagaiman langkah Rosulullah dalam menyebarka ajaran Islam kepada umat, dan apa petuah beliau yang berkaitan dengan penyampaian ajaran Islam.
            Keberhasilan dakwah Rosulullah tidak datang dengan mudah, namun ditempuh dengan menghadapi seribu satu macam ancaman, hambatan dan siksaan lahir dan bathin. Untuk menghadapi itu semua ditopang dengan kekutan dan sifat bathin yang kuat yakni iman yang terpancar dari dalam jiwanya yang melahirkan sifat prilaku dan tutur kat ayang penuh hikmah yang telah melekat pada dirinya. Sehingga dalam menghadapi berbagai berbagai macam tantangan, cobaan dan siksaan, selalu tabah sabar dan optimisme. [4]
            Salah satu wujud keteladanan jiwa da’i dalam diri Rasulullah ialah ketika beliau menyampaikan islam ke Thaif. Namun sambutan penduduk Thaif jauh dari kehangatan, malah sebaliknya beliau dan rombongan dilempari batu, sehingga beliau terluka. Rasulullah tidak kemudian putus asa apalagi menyimpan dendam, sebaliknya beliau berkata dengan tenang  bahwa mereka belum mengetahui. Ruh ini lah yang harus ditanamkan terlebih dahulu dalam diri sorang da’i.
B.     Wacana Al-Qur’an dan Hadits Tentang Filsafat
            Kata filsafat, berasal dari bahasa Arab, yaitu falsafah. Kata falsafah ini diserap dari bahasa Yunani phylo yang cerarti cinta atau suka dan shopia yang berarti hikmat atau kebijaksanaan.[5] Berarti filsafat diartikan sebagai proses mencari kebijaksanaan cara pandang dan prilaku.
            Dalam al-Qur’an disebutkan tentang hikmah atau kebijaksanaan. Seperti firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 269: “Siapa diberi hikmah, ia telah diberi kebaikann yang banyak”. Dari pengertian itu, filsafat bukan kebijaksanaan itu sendiri melainkan cinta dan upaya untuk terus menerus menari kebijaksanaan atau hikmah. Hikmah disebutkan sebagai objek sebuah pencarian para filsuf, hikmah dapat penulis artikan sebagai hakikat segala sesuatu atau kebenaran. Ayat al-Qur’an ini senada dengan definisi filsafat secara istilah yang dikemukakan para ahli filsafat yang mempunya pendapat dan pandangan yang berbeda-beda, walaupun isi persoalannya sama, yaitu “Ilmu pengetahuan yang yang bertujuan mencari kebenaran yang sedalam-dalamnya sesuai kemampuan akal budi manusia”.
            Adapun wacana hadits tentang filsafat, penulis belum menemukan secara gamblang. Namun cukup kiranya hadits Rasulullah tentang wajibnya menuntut ilmu bagi kaum muslimin dan muslimat, “Menuntut ilmu wajib hukumnya bagi muslimin dan muslimat". Bahkan beliau menyeru untuk menuntut ilmu walaupun sampai ke negeri Cina. Kemudian segala pola pikir, dan ketepatan Rasulullah dalam bersikap merupakan tauladan yang berisi kebijaksanaan.
C.     Epistemologi Dakwah dalam Perspektif Al-Qur’an dan Hadits
            Membicarakan filsafat memiliki cakupan luas, akan tetapi setidaknya terdapat tiga hal mendasar yang dianggap penting, yaitu ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Ontologi terkait dengan pertanyaan what is (apakah hakikat sesuatu), epistemologi terkait dengan pertanyaan how to (bagaimanakah sesuatu terjadi), dan aksiologi terkait dengan what for (apakah kegunaan sesuatu). Menurut Kattsoff,[6] bahwa Ontologi dan Epistemologu merupakan hakikat kefilsafatan yang terdalam dan bagaimana mencari makna dan kebenaran. Sedangkan aksiologi berbicara mengenai masalah nilai dan atau etika dalam kaitannya dengan mencari kebahagiaan dan kedamaian bagi umat manusia.
            Epistemologi dakwah dapat dirumuskan sebagai: usaha seseorang untuk menelaah masalah-masalah objektivitas, metodologi, sumber, serta validitas pengetahuan secara mendalam dengan menggunakan dakwah sebagai subjek bahasan (titik tolak berpikir).
            Secara umum, epistemologi adalah cabang filsafat yang membicarakan mengenai hakikat ilmu. Ilmu sebagai proses adalah usaha pemikiran yang sistematik dan metodik untuk menemukan prinsip kebenaran yang terdapat pada suatu objek kajian ilmu. Pertanyaan mengenai apakah objek kajian ilmu itu, dan seberapa jauh tingkat kebenaran yang bisa dicapainya dan kebenaran yang bagaimana pula yang bisa dicapai dalam kajian ilmu, kebenaran objektif, subjektif, absolut, dan relatif merupakan lingkup kajian epistemologi in general.
            Istilah epistemologi berasal dari bahasa Yunani, yakni episteme dan logos. Episteme biasa diartikan sebagai pengetahuan atau kebenaran, sedangkan logos itu sebagai pikiran; kata atau teori. Dengan demikian secara etimologis, epistemologi dapat diartikan pula sebagai teori pengetahuan.[7]
            Oleh karena itu, penulis memahami bahwa tak ada perbedaan bila menyebut Epistemologi dakwah dengan epistemologi ilmu dakwah. Dari segi historis maupun definisi. Kalu dipahami sekilas, dakwah memang sudah dijalankan sejak masa para nabi dan rosul, sedangkan ilmu dakwah baru diakui pada abad ke-20. Namun, ilmu dakwah pun lahir karena memang berasal dari gerakan dakwah, yang hakikatnya telah diiringi ilmu dalam peroses dakwah tersbut.
Sejarah Pertumbuhan Ilmu Dakwah (Epistemologi Dakwah)
            Pada awal pertubmuhannya, dakwah dipahami sebagai suatu kewajiban, di mana rosulullah tampil sebagai da’i pertama setelah menerima wahyu. Walaupun demikian, sebenarnya Rosulullah telah memberikan contoh dengan menyodorkan sentuhan-sentuhan teoritis yang bisa dinamakan dengan dakwah siriyah, dakwah secara halus dan sangat implisit. Sentuhan teoritis yang dilontarkan Rosul belum mengerakkan para pemikir-pemiir muslim untuk mengembagkan ilmu dakwah, tidak seperti ilmu kalam, ilmu fikih, ilmu tafsir, dll yang sudah mulai dilkembangkan pada awal perkembangan Islam.
            Ilmu dakwah mulai disebut dan dikembangkan sebagai ilmu sejak Syaikh Ali Mahfudz (1880-1942) yang melihat banyaknya roblem dakwah yang terjadi di Mesir, yang selanjutnya berwujud pada terbentuknya Fakultas Dakwah di Universitas Al-Azhar Kairo.
            Dilihat dari epistemologis, apa yang dilakukan Syaikh Ali Mahfudz membangun ilmu dakwah berangkat dari pengalaman lapangan (empirisme) yang kemudian disusun teori dakwah (ideal). Dapat dilihat pada tulisan-tulisan tentang dakwah, epistemologi dakwah lebih bercorah idealisme dibandingkan empirisme, karena lebih melihat pada sumber-sumber normatif semata (Al-Qur’an dan Hadits), dan sirah dakwah Nabi Muhammad SAW.
Sumber Pengetahuan Dakwah
            Sumber pengetahuan Islam secara umum dapat dirumuskan bahwa sumber pengetahuan adalah Allah, (A. Qadir 1991: 5-6). Hal ini secara jelas dinyatakan dalam al-Qur’an surat al-kahfi ayat 109: “Katakanlah sekiranya lautan menjadi tinta untuk menulis kalimat-kalimt Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis kalimat Tuhanku, meski kami tambahkan sebanyak itu pula”.
            Kemudian al-Qur’an mengungkapkan dalam bentuk cerita, pada awal penciptaan manisia, Allah mengajarkan kepada Adam nama benda-benda. Adam merupakan simbol manusia yang mencari pengetahuan dan nama benda-benda merupakan unsur-unsur pengetahuan baik yang diwahykan maupun yang tidak.
            Hubungannya dengan sumber ilmu dakwah, Allah juga merupakan sumber nya yang disampaikan melalui wahyu (al-Qur’an dan hadits) yang di dalamnya ada pokok-pokok ajaran yang secara umum maupun secara khusus membicarakan tentang dakwah, sumber ini kemudian disebut sumber normatif.
            Di samping sumber normatif, ada sumber empiris, yaitu pengetahuan dakwah yang yang digali dari keyataan lapangan dalam masyarakat (fenomena dakwah). Kajian-kajian ini masih amat langka, biasanya mayoritas ditemukan dalam skripsi yang dilakukan para mahasiswa.kajiannya berupa pemahaman dari al-Qur’an dan hadits atau sebuah teori baru yang dicoba untuk dieksperimenkan di dalam keyataan (empiris).
            Sumber lain yang patut dipertimbangkan adalah sumber teoritis, yaitu hasil  karya para penulis yang secara khusus mengkaji dakwah. Para pengkaji dakwah ini biasanya mayoritas mendasarkan kajiannya dari sumber normatif atau sumber-sumbersejarah perjalanan dakwah di masa lampau.
Metode Pendekatan Terhadap Sumber Pengetahuan
            Metode pendekatan dalam ilmu dakwah ada tiga, yakni:
1.      Pendekatan Mormatif
            Pendekatan normatif intinya berusaha menemukan prinsip dakwah dari sumber normatif (Al-Qur’an, Hadits, maupun sejarah Rosulullah). Pendekatan normatif ni dapat dilakukan dengan menggunakan cara berpikir deduktif yang melahirkan metode penelitian .
2.      Pendekatan Empiris
            Pendekatan empiris berusaha mengkaji kasus-kasus yang terjadi di masyarakat. Pada kenyataannya, pendekatan ini adalah untuk menemukan teori baru atau mengembangkan teori yang sudah ada.
3.      Pendekatan Filosofis
            Pendekatan ini berusaha mengkaji hasil pemikiran para ulama atau para pakar dakwah melalui nuah karyanya. Pendekatan ini dilakukan dengan berpikir sintesis, yaitu menelaah pemikiran-pemikiran yang ada, kemudian dirumuskan teori teori pemikiran yang baru. Atau, dengan model berpikir analogis, yaitu menganalogkan pemikiran satu dengan yang lain untuk dikembangkan di masa kini dan mendatang.[8] 
BAB III KESIMPULAN
            Sebagai sumber inspirasi filsafat dakwah, al-Qur’an dan hadits mengandung hakikat kebijaksanaan-kebijaksanaan hidup yang penulis sebut sebagai Jalan Tuhan atau nilai-nilai Islam. Inilah yang menjadi materi dakwah, untuk disampaikan kepada umat manusia dengan metode yang telah tersurat dan tersirat dalam al-Qur’an dan Hadits. Oleh sebab itu, dua pedoman umat islam ini penulis garis bawahi ada dua pokok bahasan kaitannya dengan dakwah. Pertama berisi materi dakwah, dan kedua berupa cara-cara berdakwah itu sendiri.
 

Daftar Pustaka
Drs. Susianto, Pengantar Filsafat Dakwah, Yogyakarta: Teras, 2006.
Dermawan Andy, Metodologi Ilmu Dakwah, Yogyakarta : LESFI, 2002.
Louis O Kattsoff, Pengantar Filsafat, Jogjakarta: Tiara Wacana, 1992.
Yuyun S. Suriasumarti, Ilmu dalam Perspektif., Jakarta: Yayasan Obor Indonesia dan Leknas LIPI, 1982.
Hefni Harjani, dkk., Metode Dakwah, Jakarta: Rahmat Semesta, 2003.



[1] Drs. Susianto, Pengantar Filsafat Dakwah, (Yogyakarta, Teras, 2006) hlm. ix
[2] Shibghah berarti warna celupan dan agama. Celupan agama Islam dalam jiwa seseorang yang memancar dalam prilaku kesehariannya.
[3] Ibid. Hal. 142-143
[4] Ibid. Hal. 135
[5] Yuyun S. Suriasumarti, Ilmu dalam Perspektif.,(Jakarta: Yayasan Obor Indonesia dan Leknas LIPI, 1982), hlm. 5
[6] Louis O Kattsoff, Pengantar Filsafat, (Jogjakarta: Tiara Wacana, 1992), hlm 163-231
[7] Andi Dermawan dkk, Metodologi Ilmu Dakwah, (Yogyakarta: LESFI, 2002)hal. 60
[8] Drs. Susianto, Pengantar Filsafat Dakwah, (Yogyakarta, Teras, 2006) hlm. 77

Artikel Terkait

Komentar