Keberagamaan Anak Kost, Miniatur Keberagamaan Masyarakat Modern



Keberagamaan Anak Kost,
Miniatur Keberagamaan Masyarakat Modern
Oleh: Iim Rohimah
Hampir semua masyarakat manusia mempunyai agama. Malinowski menyatakan, “Tidak ada bangsa, bagaimanapun primitifnya, yang tidak memiliki agama dan magi”.[1] Agama memberi makna bagi kehidupan individu dan kelompok, juga memberi harapan tentang kelanggengan hidup sesudah mati. Agama dapat menjadi sarana manusia untuk mengangkat diri dari kehidupan duniawi yang penuh penderitaan, mencapai kemandirian spiritual. Agama memperkuat norma-norma kelompok, sanksi moral untuk perbuatan perorangan, dan menjadi dasar persamaan tujuan serta nilai-nilai yag menjadi landasan keseimbangan masyarakat.

Agama di Ranah Kost
Agama berlaku di setiap lapisan masyarakat, hingga bagian terkecil dalam ‘habitat’ kaum muda yaitu dunia kost. Bila kita berbicara tentang kehidupan kost, berati erat kaitannya dengan budaya kebebasan. Bebas dalam arti leluasa mengerjakan apapun selama tidak bertentangan dengan kepentingan orang lain. Hal tersebut dikarenakan mereka telah lepas dari pengawasan orang tua. Meskipun berasal dari keluarga yang memiliki releigiusitas yang kental, namun budaya kost yang bebas bisa saja mewarnai prilaku seseorang.
Misalnya saja dalam hal berpacaran, tidak ada aturan baku mengenai dengan siapa mereka berpacaran, pergi dengan siapa, dating ke mana, asalkan sekitar pukul sembilan malam sudah ada di kamar.  Itupun tidak lain untuk menjaga  keamanan rumah kost, supaya tidak kemalingan gara-gara pintu tidak dikunci, atau  si anak yang keluar dipastikan dalam keadaan selamat secara lahir. Tidak ada kaitannya dengan masalah norma agama. Agama seolah menjadi urusan masing-masing yang jika dibicarakan justru akan menjadi tabu.
Dalam etika pergaulan sehari-hari, yang menjadi tolak ukur pergaulan adalah berdasarkan etis atau tidaknya sikap mereka, bukan berdasarkan sudut pandang ajaran agama. Tatkala seseorang segan untuk memakai barang milik teman sekamar tanpa izin atau dalam Islam disebut ghasab, bukan karena takut akan hukum Islam yang mengatakan bahwa ghasab itu dosa besar. Melainkan takut dibenci atau menurut nuraninya ghasab itu tidak etis dilakukan.
Kost Miniatur Masyarakat Modern
            Istilah kost ada bersamaan dengan tuntutan zaman yang menginjak era modern. Dimana penghuninya sudah pasti merupakan miniatur masyarakat modern dan kehidupan religiusitas mereka dapat menjadi sampel religiusitas masyarakat modern. Dalam kehidupan modern ini, lahir manusia beragama yang berpikiran sekuler memisahkan agama dalam kehidupan dunia. Cara hidup, bekerja, dan berpikir terlepas dari sentuhan agama dan moral.
Roderic C Meredith menyatakan kondisi masyarakat modern itu lebih mendewakan gaya hidup serbaboleh (permissive society).[2] Ini berlaku dalam kehidupan kost. Seolah manusia mampu menafsirkan dan menciptakan segala bentuk kebaikan dan kebenaran. Setiap orang bebas melakukan apa saja sesuka hatinya. Padahal kebebasan akan selalu berhadapan dengan kepentingan orang lain, karena pada umumnya manusia tidak menginginkan adanya konflik serta selalu ingin ada dalam perdamaian. Entah mengapa sikap kurang apresiatif terhadap nilai agama begitu membudaya. Padahal agama berfungsi sebagai filter dalam kehidupan manusia. Agama juga berperan sebagai 'kompas’ bagi setiap aktivitas sehari-hari. Sistem keyakinan dan aktivitas agama merupakan sistem sosial dan simbolis moral.
Para antropolog memandang bahwa agama memainkan peran penting dalam masyarakat karena sistem moral dan ketaatan menjadi prasyarat menciptakan masyarakat yang teratur (social order) sehingga tercipta keharmonisan. Namun kenyataannya, agama nampak menjadi sesuatu yang tidak perlu bagi keseharian mayorotas masyarakat saat ini.



[1] Mariasusai Dhavamony, Fenomena Agama, Penerbit Kanisius, Yogyakarta, 1995. Hal. 50.

Artikel Terkait

Komentar