HUKUM BUNGA DALAM ISLAM

HUKUM BUNGA DALAM ISLAM
(Menyoal Fatwa Ulama Tentang Penyamaan Bunga dengan Riba’)
Oleh : Iim Rohimah

Abstrak: Fatwa haram terhadap bunga bank telah menjadi permasalahan cukup krusial di tengah masyarakat, karena tidak sedikit masyarakat yang tidak lepas dari pembungaan. Sedangkan ulama telah menyepakati bahwa bunga hukumnya haram, karena sama halnya dengan riba’. Di samping yang menfharamkan, ada pula ulama yang berpendapat bahwa bunga hukumnya halal dan mubah. Masyarakat dihadapkan dengan pilihan untuk berpegang pada hokum yang haram, atau pada pendapat lainnya.


Kata Kunci: hukum bunga dalam Islam, fatwa ulama tentang bunga, hukum riba dalam Islam.

A.    PENDAHULUAN
Fatwa ‘ulama mengenai pengaharaman bunga bank telah menjadi polemik di kalangan masyarakat. Dasar dari haramnya bunga tersebut karena bentuk bunga yang merupakan ‘nilai tambah’ dari tabungan atau pinjaman di bank. Sifat bunga ini diidentikan dengan riba’ yang hukumnya sudah jelas haramdalam Islam.
Fatwa mengenai haramnya riba’ tidak mudah diterima oleh masyarakat. Hal tersebut dikarenakan bunga telah menjadi salah satu instrument keungan modern yang telah menyentuh sebagaian besar transaksi keungan, mulai dari asuransi, perbankan, pembelian kredit, dan lain-lain. Padahal tidak sedikit masyarakat yang merupakan nasabah bank konvensional (bukan bank syariah). Pengharaman bunga berarti merupakankeharaman terhadap rezeki mereka.Oleh sebab itu, mengingat permasalahan di atas, apakah bunga hukumnya tetap haram?Lalu, benarkan bunga sama dengan riba’?
B.     PEMBAHASAN
Untuk menjawab permasalahan hukum bunga bank perlu diketahui terlebih dahulu mengenai konsep riba’ dalam Islam, konsep pembungaan di bank-bank konvensional, hukum riba dalam al-qur’an dan hadits, serta identifikasi riba dengan bunga. Jika pada akhirnya ditemukan kesamaan, bagaimanapun bunga hukumnya tetap haram.
1.      Pengertian Riba’
Riba, secara etimologi merupakan bahasa Arab yang memiliki sinonim dengan kata ziyadah yang artinya tambahan, dan kata nama artinya tumbuh.[1]Berarti secara etimologi riba’ memiliki arti ‘bertambah baik dari sisi kuantitas maupun kualitasnya.
Sedangkan riba’ secara terminologi disamakan dengan ribaJahiliyah atau budaya riba’ orang Arab sebelum datang Islam[2]. Riba Jahiliyah adalah meminjamkan sejumlah barang  maupunuang baik dirham atau dinar kepada peminjam, lalu bila peminjam tidak mampu melunasi saat jatuh tempo, maka utangnya akan ditambahi bunga. Bunga inilah yang kemudian dinamakan riba jahiliyah. Basarnya riba tersebut bisa sampai dua kali lipat.
Ulama madzhab Syafi’i membaginya menjadi tiga, yaitu riba’ fadl, nasiah, dan yad (benda yang diakadkan belum ada ketika transaksi).[3] Sedangkan pendapat yang populer, riba mengikuti pembagian yang dua macam, mengacu pada pendapat Sayyid Sabiq dalam Kitab Fiqih Sunnah seperti diutarakan Muh. Ghofur W. dalam buku Memahami Bunga dan Riba Ala Muslim Indonesia[4], sebagai berikut:
a.       Riba’ Fadl
Riba’ fadl adalah kelebihan jumlah pada salah satu pihak dalam jual beli (tukar menukar) barang tertentu. Dasarnya sebegaimana sabda Rosulullah mengenai riba yang diriwayatkan An-Nasa’i berikut ini:
“Emas dengan emas, biji dan zatnya harus sebanding timbangannya. Perak dengan perak, biji dan zatnya harus sebanding timbangannya, garam dengan garam, kurma dengan kurma, bur dengan bur, syair dengan syair, sama dan sepadan. Maka siapa saja yang menambah atau meminta tambahan, maka dia telah melakukan riba’.” (HR. Nasa’i)
b.      Riba’ Nasiah
Menurut madzhab Syafi’i, riba nasiah berarti perjanjian utang untuk jangka waktu tertentu dengan tambahan pada saat pelunasan utang tanpa ada imbalan.Menurut Wahbah Al-Zuhaili, riba nasiah adalah mengakhirkan tambahan utang dengan tambahan dari jumlah utang pokok (disebut juga riba Jahiliyah).
2.      Hukum Riba dalam Al-Qur’an dan Hadits
Pedoman umat Islam tiada lain adalah dua hal yaitu al-qur’an dan sunnah Nabi Muhammad SAW. Segala yang ada di dalam al-qur’an dan sunnah merupakan petunjuk kehidupan. Oleh sebab itu, apa yang ada di dalamnya tentu harus ditaati tanpa ada keraguan lagi.
a.       Ayat Al-Qur’an tentang Riba’
Dalam al-qur’an, larangan riba’ bertahap mulai dari larangan yang samar hingga larangan yang tegas. Tahap pertama, yang membicarakan riba’ adalah surat Ar-Rum ayat 39:
Dan suatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar ia bertambah pada harta manusia, maka harta itu tidak menambah pada sisi Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridlaan Allah, maka yang berbuat demikian itulah orang-orang yang melipatgandakan pahalanya.”
Ayat tersebut menjelaskan bahwa riba’ yang di mata manusia dapat menguntungkan, justru di hadapan Allah tidak demikian. Justru mengikhlaskan dan mengeluarkan zakat itu lebih baik karena akan mendapat pahala yang berlipat ganda. Dalam hal ini belum ada larangan yang tegas terhadap praktek riba’.[5]
            Tahap kedua, dari status penetapan hukum riba’adalah dengan turunnya ayat 160-161 surat An-Nisa’:
            Maka disebabkan kezaliman orang-orang Yahudi, Kami haramkan atas mereka memakan makanan yang baik-baik (yang dahulunya) dihalalkan bagi mereka, dan kerana mereka banyak menghalangi manusia dari jalan Allah, dan disebabkan mereka memakan riba’, padahal sesungguhnya mereka telah dilarang daripadanya, dan karena memakan harta orang dengan jalan yang bathil. Kami telah mnyediakan untuk orang-orang yang kafir di antara mereka itu siksa yang pedih.
Ayat ini menegaskan bahwa riba’ sudah ada sejak zaman yahudi, padahal Allah sudah melarangnya.
            Tahap ketiga, adalah pelarangan memungut riba’ yang berlipat ganda sebagaimana dalam surat Ali-Imran ayat 130:
            Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba’ dengan berlipat ganda dan bertawakallah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan. Dan peliharalah dirimu dari api neraka yang disediakan untuk orang-orang yang kafir. Dan taatilah Allah dan Rasul, supaya kamu diberi rahmat.”
Kata berlipat ganda dalam ayat inilah yang menyebabkan pertanyaan krusial hingga saat ini. Apakah tambahan dari pinjaman pokok selalu berlipat ganda? Dan bila tidak berlipat ganda, apakah masih disebut riba’?
            Tahap keempat, merupakan tahap terakhir yaitu surat Al-Baqarah, ayat 275-276 sebagai berikut:
            “Orang-orang yang makan (mengambil) riba’ tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila.Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba’.Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba’.Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum dating larangan), dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang mengulangi (mengambil riba’) maka orang itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.Allah memusnahkan riba’ dan menyuburkan sedekah.Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa.”
Ayat di atas merupakan ketentuan hukum riba’ secara tegas, bahwa riba itu haram. Namun kemudian pada akhir ayat 280 terdapat dua pertanyaan penting, yaitu (1) maka bagimu pokok hartamu, (2) kamu tidak menhaniaya dan tidak pula dianiaya. Pernyataan pertama menegaskan bahwa orang yang meminjamkan uang kepada orang lain (saat itu) dianjurkan hanya meminta kembali pokok pinjaman yang diberikannya, tanpa meminta tambahan apapun. pernyataan ini yang kemudia menjadi acuan para ‘ulama yang menyatakan bahwa setiap tambahan atas pinjaman pokok dinamakan riba’. Adapun pernyataan kedua, menegaskan pesan mendalam bahwa dalam setiap transaksi tidak boleh ada yang menganiaya maupun teraniaya. Pada prakteknya, konsep ‘teraniaya’ atau ‘dirugikan’ ini bias terjadi pada kedua belah pihak baik peminjam maupun yang meminjam.
b.      Hadis Tentang Riba’
Banyak hadis yang menjelaskan riba’, dan menurut para ahli hadits tentang riba tersebut dikelompokan dalam 4 kategori:
1)      Hadits-hadits yang mengharamkan riba’ secara umum dan menyatakannya sebagai dosa besar, misalnya hadits berikut ini: Dari Abdullah r.a ia berkata:
 “Rasulullah SAW. Melaknat orang yang memakan (mengambil) riba’. Rawi berkata, saya bertanya: ‘apakah Rasulullah juga melaknat orang yang orang yang menuliskan dan dua orang yang menjadi saksinya?’, Ia (Abdullah) menjawab: ‘kami hanya menceritakan apa yang kami dengar”.
2)      Hadits-hadits yang memaknai riba’ secara kiasan sebagai perbuatan buruk dan keji yang diharamkan, misalnya hadits berikut ini:
Dari Abu Hurairah r.a ia berkata: Rasulullah SAW. Bersabda: Riba adalah tujuh puluh dosa. Dosanya yang paling ringan adalah (sama dengan) dosa orang yang berzina dengan ibunya.”
3)      Hadits-hadits yang melarang riba’ Jahiliyah atau riba’ hutang piutang atau biasa disebut riba jail (jelas). Misalnya hadits berikut ini:
“Dari Sulaiman Ibn Amr, dari ayahnya (dilaporkan) bahwa ia berkata: Saya mendengar Rasulullah SAW. Bersabda pada haji wada’: ‘Ketahuliah bahwa setiap bentuk riba’ Jahiliyah telah dihapus; bagimu pokok hartamu, kamu tidak menzalimi tidak pula dizalimi.’
4)      Hadits-hadits yang melarang riba’jual beli yang disebut juga riba’ samar-samar (khafi). Misalnya hadits berikut ini:
“Dari Ubada bin Sami ra. Rasulullah saw. Bersabda, Emas untuk emas, perak untuk perak, gandum untuk gandum.Barangsiapa membayar lebih atau menerima lebih, dia telah berbuat riba’, pemberi dan penerima sama saja (dalam dosa).”

3.      Menyoal Bunga Bank
Persoalan pengharaman bunga terletak pada penyamaan bunga dengan riba’ oleh kalangan ‘ulama. Untuk mengetahui persamaan ataupun perbedaannya antara bunga denga riba’ sebaiknya perlu dibahas mengenai konsep bunga dan pembahasan secara khusus mengenai apa itu nilai uang nominal dan riil.
a.       Konsep Bunga
Bunga dalam lembaga keuangan seperti bank adalah hal yang tidak bisa ditinggalkan begitu saja. Sistem pembungaan sudah menjadi bagian tak terpisahkan dalam bank konvensional. Lembaga keuangan itu sendiri adalah lembaga yang kegiatan utamanya mengumpulkan dan menyalurkan dana dari pihak yang memiliki kelebihan dana (surplus) kepada pihak yang membutuhkan dana (defisit). Definisi lain juga menyebutkan bahwa lembaga keungan adalah semua badan yang melalui kegiatan-kegiatannya di bidang keuangan, menarik uang dari yang menyalurkannya kepada masyarakat[6]. Kegiatan lembaga keungan ini tidak bisa lepas dari penarikan atas jasa penyimpanan dan pengelolaan yang biasanya berbentuk bunga.
            Menurut ekonom konvensional, bunga adalah biaya atas pinjaman uang[7]. Pandangan lain menyebutkan bahwa bunga adalah harga dari penggunaan uang atau bisa juga disebut sewa atas penggunaan uang untuk jangka waktu tertentu. Bunga biasa dinyatakan dalam bentuk persen (%) per-satuan waktu yang disepakati (hari, bulan, tahun, dsb)[8]. Misalnya seseorang meminjam uang senilai Rp. 10.000.000,-, untuk jangka waktu satu tahun dengan bunga 12% per tahun. Maka pada saat jatuh tempo (misalnya satu tahun), ia harus membayarkan sejumlah Rp. 10.000.000,- (1+12%), yaitu Rp. 11.200.000,-. Dalam kasus tersebut maka bunga sebesar 12% per tahun senilai Rp. 1.200.000,-.
            Adapun sistem pembungaan di bank konvensional yaitu bank mengenakan bunga kepada peminjam uang misalnya 12%, lalu memberikan tambahan berupa bunga kepada penyimpan uang di bank lebih kecil dari bunga yang dikenakan kepada peminjam uang, misalnya 4%. Kemudian bank pun mengambil keuntungan dengan jumlah spread, yaitu selisih antara bunga pinjaman dan bunga simpanan. Jika dalam contoh ini berarti bank mengambil keuntungan 12% dikurangi 4% sama dengan 8%.
            Besarnya bunga biasanya dipengaruhi oleh tingkat inflasi yang diperkirakan terjadi , biaya operasional bank, dan target keuntungan yang ingin dicapai. Meskipun mengejar target keuntungan, bank tentunya tidak bisa memasang bunga semaunya, karena akibatnya nasabah bisa beralih ke bank lain. Biasanya faktor inflasi merupakan penentu bunga, tujuannya supaya nilai riil uang bank tidak menurun. Apa itu nilai riil?
b.      Nilai Uang Nominal dan Riil
Jika sebuah bank menawarkan bunga sebesar 10% per tahun, dari simpanan sebesar Rp. 10.000.000,-, maka dalam setahun uang simpanan menjadi Rp. 11.000.000,-. Penambahan uang tersebut akan sangat menyenagkan. Nilai Rp.11.000.000,- ini merupakan nilai uang nominal.
Secara nominal uang tersebut bertambah besar, namun dalam jangka satu tahun bisanya terjadi kenaikan harga pada barang-barang hingga inflasi mencapai 17.1% misalnya. Dengan inflasi tersebut, maka peningkatan uang simpanan adalah 10% - 17,1% (bunga-inflasi)= 7,1%. Nilai riil uang saat ini adalah Rp. 10.000.000,- x (100%-7,1%) = Rp. 9.290.000,-. Artinya secara riil uang simpanan telah berkurang sebesar Rp. 710.000,-. Jadi uang riil adalah nilai jual/tukar sesungguhnya dari uang tersebut.
Perhitungan inilah yang menjadi salah satu alasan para pendukung konsep bunga, yaitu nilai riil uang saat ini biasanya lebih rendah daripada uang masa lalu. Indonesia merupakan negara yang selalu mengalami inflasi setiap tahunnya. Maka dari itu pembungaan sangat berarti dalam mempertahankan nilai riil uang yang disimpan di bank. Dalam kasus inflasi ini, jika A meminjamkan uang ke B dan mengalami pengurangan nilai riil seperti contoh di atas, maka A menjadi pihak yang dirugikan. Peminjam bukan lagi merupakan pihak yang mendzolimi sebagaimana sistem rentenir yang ilegal di masyarakat. Namun, jika A (peminjam) telah memahami tentang nilai nominal dan riil kemudian mengikhlaskan untuk menolong sesama, maka semuanya tidak menjadi masalah[9].
4.      Berbagai Pandangan Ulama dan Ormas Islam tentang Bunga dan Riba
Persoalan bunga memang cukup krusial, karena identik dengan praktek riba’ yang sangat jelas haramnya dalam pedoman umat Islam.Namun juga terdapat sisi berbeda menurut sebagian ‘ulama. Beberapa perbedaan pendapat para ‘ulama adalah sebagai berikut:
a.       Bunga dalam Pandangan Muhammadiyah
Pendapat Muhammadiyah yang diputuskan pada muktamar di Sidoarjo tahun 1968, yaitu ketika belum banyak berdiri bank Syari’ah di dunia, bahkan belum ada di Indonesia[10]. Keputusan yang diambil oleh Muhammadiyah di tahun 1968 adalah sebagai berikut[11]:
1)      Riba’ hukumnya haram dengan nash sharih dalam al-qur’an dan as-sunnah;
2)      Bank denga system riba’ hukumnya haram dan bank tanpa riba’ hukumnya halal;
3)      Bunga yang diberikan oleh bank-bank milik Negara kepada nasabahnya atau sebaliknya yang selama ini berlaku termasuk perkara mutasayabihat;
4)      Menyarankan kepada PP Muhammadiyah untuk mengusahakan terwujudnya konsepsi system perekonomian, khususnya perbankan yang sesuai dengan kaidah Islam;
Beberapa tahun kemudian, majlis Tajrih dan Tajdid PP Muhammadiyah mengeluarkan fatwa nomor 6 tahun 2006 karena berbagai pertimbangan. Fatwa tersebut menyatakan bahwa bunga sama dengan riba, yang berarti bunga hukumnya jelas haram, karena memiliki kritaria: (1) merupakan tambahan atas pokok modal yang dipinjamkan, (2) tambahan itu bersifat mengikat dan diperjanjikan, sedangkan yang tidak diperjanjikan atau sukarela itu bukan termasuk riba’[12].
b.      Bunga dalam Pandangan Nahdlatul ‘Ulama (NU)
Pembahasan hukum-hukum interaksi muslim dengan bunga bank sudah dilakukan NU sejak lama, bahkan sebelum masa kemerdekaan Indonesia. Namun, sejak dulu tidak ada perubahan atau revisi yang berarti dalam fatwa ‘ulama NU, misalnya pada Muktamar ke-25 pada tahun 1971 memutuskan bahwa hokum bunga ada 3, yaitu:
1)      Haram, yaitu pendapat yang mempersamakan bunga dengan riba’secara mutlak.
2)      Pendapat yang tidak mempersamakan bunga dengan riba’, sehingga bunga hukumnya boleh (halal). Namun pendapat ini memiliki beberapa variasi pandangan:
a)      Bunga konsumtif sama dengan riba dan hukumnya haram, sedangkan bunga produktif tidak sama dengan riba maka hukumnya halal.
b)      Bunga yang diperoleh dari bank tabungan giro tidak sama dengan riba, hukumnya halal.
c)      Bunga yang diterima dari deposito yang dipertaruhkan ke bank hukumnya boleh.
d)     Bunga bank tidak haram bila bank itu menetapkan tarif bunganya terlebih dahulu secara umum.
3)      Ada yang mengatakan hukumnya syubhat(tidak identik dengan haram). Konsekuensinya diharuskan sekuat tenaga meninggalkan bunga, namun jika kondisi tidak memungkinkan atau sulit dihindari maka tidak mengapa bertransaksi dengan bunga.
Keputusan ini tidak ada perubahan yang berarti hingga Munas Alim Ulama Nahdlatul Ulama di Lampung tahun 1992 di Lampung.Namun setelah muktamar ini ulama menrekomendasikan perlunya jalan keluar berupa sistem perbankan tanpa bunga.Rekomendasi tersebut meruapakan rancangan atau konsep yang saat ini ada dalam sistem perbankan syariah.[13]Apalagi saat ini sudah cukup banyak berdiri lembaga keuangan syariah khususnya bank syariah.Dengan demikian perbedaan umat Islam masa kini dan masa lalu khususnya terkait dengan hadirnya bank syariah, maka menjadi perlu bagi para ulama di NU untuk memberikan respon sebaik-baiknya.
c.       Bunga dalam Pandangan Majelis Ulama Indonesia (MUI)
Di dalam Tempo Interaktif, 9 November 2003 yang dikutip dari buku Memahami Bunga dan Riba Ala Muslim Indosesia[14], fatwa MUI tentang bunga tertulis dalam Keputusan Fatwa Majelis Ulama Indonesia No. 1 tahun 2004, menyatakan bahwa hukum bunga adalah tambahan yang dikenakan dalam transaksi pinjaman uang berupa persentase, dan riba identik dengan riba nasiah yaitu tambahan tanpa imbalan yang terjadi kerana penagguhan dalam pembayaran yang diperjanjikan sebelumnya. Oleh sebab itu hokum bunga haram, dengan ketentuan bila sudah ada lembaga, kantor dan jaringan keuangan syariah. Sedangkan bila belum atau tidak ada, maka diperbolehkan bertransaksi berdasarkan prinsip dharurat/hajat.
d.      Bunga dalam Pandangan Muhammad Abduh (‘Ulama Mesir)
‘Ulama Mesir, Muhammad Abduh berpendapat bahwa riba’ yang diharamkan adalah bentuk riba’ yang diprekatekkan pada zaman pra-Islam, atau disebut riba’ Jahiliyah. Riba’ ini terjadi ketika peminjam tidak dapat melunasi utangnya pada jatuh tempo, maka kemudian pemberi pinjaman memberikan tambahan beban atas keterlambatan pelunasan tersebut. Secara lebih ringkas, Abduh berpendapat bahwa bunga yang ditetapkan sejak awal hukumnya halal. Tetapi jika ditetapkan pada saat jatuh tempo ada penambahan beban lagi, maka yang kedua ini haram. Abduh membolehkan orang menyimpan uang di bank dan mengambil bunganya. Pendapatnya didasarkan pada maslahah mursalah (kebaikan/kesejahteraan bersama)[15].
e.       Bunga dalam Pandangan Quraish Shihab
Menurut Quraish Shihab, terdapat tiga kata kunci dalam memahami riba’, yaitu:
1)      Adh’aafan mudho’afah(berlipat ganda), yaitu bentuk riba’ yang dipraktekan pada masa Jahiliyah dan telah dilarang oleh Islam.
2)      Wa dzaruu maa baqiya minar- ribaa’ (dan tinggalkanlah sisa-sisa dari riba’)Dalam hal ini sisa-sisa riba’ yang dimaksud adalah riba’ Jahiliyah yang telah lalu.
3)      Walakum ruusu amwaalikum, laa tadzlimuu walaa tudzlamuun (maka bagimu pokok hartamu (modalmu), kamu tidak menganiaya dan tidak pula daniaya.
Quraish Shihab berpendapat bahwa riba’ yang dilarang ialah yang mengandung unsur penganiayaan (merugikan) dan penindasan, dan bunga bukanlah sesuatu yang haram mengingat saat ini bunga tidak memiliki unsur penganiayaan dan penindasan antar manusia.





C.     PENUTUP
Sistem bunga hingga saat ini masih diyakini kemanfaatannya oleh berbagai kalangan, termasuk umat Islam. Terlepas dari berbagai potensi dampak buruk yang dapat ditmbulkannya, bunga hingga saat ini masih menjadi instrumen keuangan dunia. Sebagian umat Islam ada yang tidak menyamakan bunga dengan riba’ sehingga bunga hukumnya halal. Ada pula yang menyamakannya dengan riba sehingga hukumnya mutlak haram.
Oleh sebab itu, diperlukan adanya toleransi dalam perbedaan pandangan di antara umat Islam sendiri. Bagi yang mendukung bunga, sebaiknya juga mempelajari sistem keuangan tanpa bunga yang dilakuakan bank syariah dengan penuh kejernihan hati. Sebaliknya bagi yang menolak adanya bunga, tidak serta merta menyatakan bahwa yang menggunakan bunga akan dilaknat oleh Allah. Hendaknya memahami bahwa perbedaan pendapat sesama muslim adalah hal yang biasa terjadi, apalagi permasalahan bunga merupakan persoalan fiqih yang selalu berbeda pendapat, dan hal tersebut dapat ditolelir.















DAFTAR PUSTAKA
Boedione, Ekonomi Moneter, Ed. 3, BPFE, Jogjakarta: 1998
Ghofur W., Muhammad, Memahami Bunga dan Riba Ala Muslim Indonesia, Biruni Press, Sleman: 2008
Iswardono, Uang dan Bank, BPFE UGM, Jogjakarta: 1999
Nasution, Khoiruddin, Riba & Poligami, Sebuah Studi atas Pemikiran Muhammad Abduh, Pustaka Pelajar, Yogyakarta: 1996
Pass, Christoper & Lowes, Bryan, Kamus Lengkap Ekonomi, Ed. Kedua, Erlangga, Jakarta: 1994
Syamsul Anwar, Bunga dan Riba dalam Perspektif Hukum Islam, Jurnal Tarjih dan Tajdid “TARJIH”, edisi ke-9 Dzulhijah 1427 hijriyah/ januari 2007
Zuhri,Muh.,Riba dalam Al-Qur’an dan Masalah Perbankan (Sebuah Tilikan Antisipatif), PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta: 1997






[1]Muh. Zuhri, Riba dalam Al-Qur’an dan Masalah Perbankan (Sebuah Tilikan Antisipatif), PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta: 1997, hal. 37
[2]Muhammad Ghofur W., Memahami Bunga dan Riba Ala Muslim Indonesia, Biruni Press, Sleman: 2008, hal. 31-32
[3]Muh. Zuhri, Ibid, hal. 105
[4]Muhammad Ghofur W., Ibid, hal. 33
[5]Muh. Zuhri, Ibid, hal. 60
[6]Iswardono, Uang dan Bank, BPFE UGM, Jogjakarta: 1999, hal. 49
[7]Christoper Pass & Bryan Lowes, Kamus Lengkap Ekonomi, Ed. Kedua, Erlangga, Jakarta: 1994, hal. 313-214
[8]Boedione, Ekonomi Moneter, Ed. 3, BPFE, Jogjakarta: 1998, hal. 2
[9]Muhammad Ghofur W., Ibid, hal. 125-126
[10]PP Muhammadiyah, Himpunan Putusan Tarjih, Yogyakarta: 1969, hal. 304-305
[11]Syamsul Anwar, Bunga dan Riba dalam Perspektif Hukum Islam, Jurnal Tarjih dan Tajdid “TARJIH”, edisi ke-9 Dzulhijah 1427 hijriyah/ januari 2007, PP Muhamadiyah, Yogyakarta, hal. 30
[12]Syamsul Anwar, Ibid, hal. 33
[13]Diunduh dari www.nu.or.id/page.php?lang=id&menu=news_view&news_id=8199
[14]Muhammad Ghofur W., Ibid, hal. 92-101
[15]Khoiruddin Nasution, Riba & Poligami, Sebuah Studi atas Pemikiran Muhammad Abduh, Pustaka Pelajar, Yogyakarta: 1996, hal. 59

Artikel Terkait

Komentar