Emansipasi Wanita Era Globalisasi



Merangkul Publik dan Domestik,
Emansipasi Wanita Era Globalisasi
Oleh: Iim Rohimah
            Emansipasi wanita merupakan sebuah pemberontakan secara santun dan elegan yang diperjuangkan oleh R.A. Kartini. Beliau berjuang membebaskan kaumnya dari penindasan sosial yang menjadikan perempuan semakin terbelakang dengan cara kebersahajaan dan kesederhanaan. Itulah sebabnya asa mengenai emansipasi wanita menuai banyak sipati dari berbagi pihak dan akhirnya berhasil. Ibu Kartini telah sukses mendialogkan harapan emansipasi wanita yang ditemuinya di tanah Eropa dengan kondisi masyarakat di daerahnya. Kini perjuangannya benar-benar memberikan anugerah yang sangat indah bagi kemajuan kaum wanita.

            Adanya emansipasi tersebut secara tegas menghapus pandangan kolot mengenai peran perempuan. Dahulu, khususnya masyarakat jawa menganggap perempuan hanya sebagai pendamping hidup kaum adam. Tidak boleh belajar baca tulis apalagi memegang peran di masyarakat. Intinya mereka hanya mengurus suami, anak, dan rumah. Walau begitu mereka semua menerima saja, tidak berpikir jika hal itu dibiarkan nantinya akan menjadi kebodohan bagi diri mereka sendiri dan pada akhirnya menjadi kebodohan bagi bangsa ini, karena wanita adalah tiang negara. Jika cerdas wanita maka cerdas pula negara, tetapi jika bodoh wanita maka bodoh pula negaranya. Bukankah wanitalah yang melahirkan dan mendidik generasi penerus bangsa? Itulah sebabnya emansipasi wanita membuka jalan kesetaraan pendidikan, untuk berperan dalam kodratnya dengan kulaitas yang terdidik.
            Persamaan tersebut ternyata tidak hanya berdampak pada peningkatan kualitas pendidikan, tetapi juga memiliki imbas terhadap peradaban wanita di era globalisasi saat ini. Tatkala kualitas pendidikan dan kemampuan perempuan disetarakan, pada akhirnya perempuan pun merambah ke ranah yang dulunya hanya ditempati kaum laki-laki. Kini wanita pun berkarir, menduduki berbagai profesi, hingga pemerintahan, sembari memegang tanggungjawabnya sebagai ibu rumah tangga. Meskipun faktanya hanya sebagian saja wanita yang berhasil merangkul keduanya. Akan tetapi saat ini justru berkiprah di luar rumah telah menjadi tuntutan tersendiri.
Bekerja, bagi wanita merupakan kesempatan untuk mengaktualisasikan diri. Bekerja memungkinkan seorang wanita mengekspresikan dirinya sendiri dengan cara yang kreatif dan produktif untuk menghasilkan sesuatu yang mendatangkan kebanggaan terhadap diri sendiri, terutama jika prestasinya tersebut mendapatkan penghargaan dan umpan balik yang positif. Melalui bekerja, wanita berusaha menemukan arti dan identitas dirinya, pencapaian tersebut mendatangkan rasa percaya diri dan kebahagiaan.[1]
Meskipun demikian, tidak dipungkiri tetap ada sisi negatif dan positifnya bila wanita memiliki peran ganda. Dari sisi negatifnya, resiko yang akan dihadapi wanita menikah yang ingin meniti pengembangan karirnya adalah, terabaikannya keluarga, terkurasnya tenaga dan pikiran, sulitnya menghadapi konflik peran antara kedudukan sebagai ibu rumah tangga. Sedangkan sisi positifnya wanita dengan peran ganda dapat memiliki keuntungan dapat berkontribusi pada hubungan yang lebih setara antara suami dan istri, mengatasi segala ketidakpastian finansial maupun kondisi mental, dan meningkatkan rasa harga diri bagi wanita. Bila dapat merangkul keduanya, wanita dapat memiliki jiwa yang tangguh dan gairah hidup yang lebih besar ketimbang berperan di ranah domestik saja.


[1] Mangkuprawira, Manajemen SDM Strategik, Ghalia Indonesia, Jakarta: 2004. Hal. 135

Komentar