Dermawannya Para Koruptor



Dermawannya Para Koruptor; Khilaf atau Penyakit
Oleh: Iim Rohimah
            Korupsi seolah telah menjadi ‘sunah alam’ dalam kehidupan bangsa kita, yang seakan-akan selalu harus ada. Ada moral kejujuran, maka ada krisis korup mengiringinya. Memang, baik dan buruk selalu beriringan, namun jika tidak ada pemberantasan yang efektif, bisa saja budaya korupsi mendarah daging hingga tak ada lagi rasa bersalah bagi pelakunya. Korupsi bukan saja masalah moral yang membuat risih, namun ada hal lain yang paling penting; yakni kenyataan bahwa korupsi merugikan banyak orang dan juga bangsa.
            Menyimak selogan sebuah partai di televisi, korupsi membuat rakyat tidak berdaya. Itu sungguh benar adanya. Uang yang seharusnya digunakan untuk pendidikan, dana yang seharusnya dimanfaatkan untuk membangun kota, dan yang seharusnya menciptakan kesejahteraan bagi masyarakat justru dinikmati oleh satu atau sekelompok orang. Penikmatnya para koruptor yang sejatinya tidak akan pernah merasa cukup dengan harta sebesar apapun jumlahnya. Bayangkan saja, kasus Bank Century saja menilap uang hingga 938 Milyar, serta deretan kasus korupsi lainnya yang memakan hingga trilyunan rupiah. Saya setuju dengan komentar rekan blogger di forum sebuah situs besar Indonesia, “sesungguhnya jumlah uang yang dikorupsi sudah bisa menaikkan status negara, dari negara berkembang menjadi negara maju”, saking besar jumlahnya. 
Ada apa dengan para koruptor itu? Khilafkah atau memang sudah mengakar menjadi kepribadian yang hampir mustahil untuk disembuhkan. Mungkin masih bisa disebut khilaf ketika hanya terjerat sebuah pelanggaran moral, misalnya hanya terlibat masalah korupsi saja, kemudian menyesal dan memperbaiki diri. Kini justru terkuak beberapa kruptor yang mengucurkan dana kepada para artis cantik. Contoh saja kasus pencucian uang Tubagus Chaeri Wardana atau Wawan yang akhirnya terbukti mengalirkan dana hasil korupsinya kepada Model cantik Caterine Wilson dan Jenifer Dunn. Ada pula Ahmad Fathanah yang terlibat kasus impor daging sapi, yang mendapat sorotan karena memberikan aliran dana kepada 20 perempuan, selain itu juga melibatkan persetubuhan berbayar dengan mahasiswi, serta pemberian hadiah mobil, perhiasan, dan uang kepada selebritas. 
Apakah jika pengejawantahan hawa nafsu diumbar dalam banyak segi, masih tergolong khilaf? Keserakahan terhadap harta, kemudian serakah dalam masalah wanita. Kasus tersebut memperlihatkan bukan hanya disebabkan khilaf, namun memang sudah menjadi penyakit ‘kejiwaan’. Penyakit mengumbar hawa nafsu demi memenuhi kesenangan sesaat dalam indahnya ajakan harta dan godaan pesona wanita. Betapa rakusnya, ketika mereka tidak merasa cukup dengan penghasilan yang sudah ada, dan lebih memilih melayani godaan ketimbang menata keluarga yang harmonis. Padahal ia merupakan imam yang bertanggungjawab membangun peradaban terkecil yang disebut keluarga.
Seharusnya mencetak tunas bangsa yang akan membangun negara, malah merusak kondisi rumah tangga. Akibatnya mengacaukan proses pertumbuhan calon generasi bangsa. Bukankah generasi yang berkualitas dan memiliki moral yang baik berasal dari keluarga yang harmonis? Lalu bagaimana jadinya masa depan bangsa jika imam keluarga memiliki moral semacam itu?

Artikel Terkait

Komentar