<script async src="//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js"></script> <!-- iimrohimah --> <ins class="adsbygoogle" style="display:inline-block;width:468px;height:60px" data-ad-client="ca-pub-4533907847127524" data-ad-slot="6841261291"></ins> <script> (adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({}); </script>

Selasa, 08 Oktober 2013

Kuliah 2 Bahasa da Budaya Jawa

SEJARAH BAHASA JAWA
Kuliah 2 bahasa dan Budaya Jawa, bahasa jawa, budaya jawa, sejarah bahasa jawa, kebudayaan jawa
ASAL USUL DIALEK BANDHEKAN
Kata Bandhek berasal dari kata gandhek yang mingset, berubah sedikit bunyinya. Contoh: kalih ewuan jadi kalih ewon. Gandhek adalah nama pangkat bentara (pendamping raja). Bentara selalu berada di samping raja agar selalu siap melayani, menerima atau menyampaikan perintah khusus dari raja pada pejabat kraton lainnya. Abdi dalem gandhek biasanya sepasang disebut sakembaran. 

Istilah basa nggandhek adalah bahasanya para abdi bentara dari kraton pajang. Para gandhek dalam gaya pengucapan bunyi/intonasi hampir-hampir bibirnya tidak terbuka karena harus selalu berbicara
dengan suara perlahan baik dengan raja maupun sesama gandhek. Jika mereka mengingatkan raja tentang sesuatu, mereka harus menahan diri dengan berbicara pelan-pelan, nada rendah atau berbisik. Karena terbiasa dengan cara pengucapan semacam itu, secara tidak langsung tercipta dialek basa gandhekan.

Rupanya penggunaan bahasa jawa dialek gandhek menarik minat Sultan Hadiwijaya, masa mudanya bernama Jaka Tingkir. Sultan Hadiwijaya menilai bahasa para gandhek dirasa lebih halus, lebih sopan, dan dapat menahan diri walau dalam kondisi emosional. Penilaian itu berdasarkan pengamatannya terhadap keadaan sehari-hari yang dialami oleh para gandhek. Oleh karena itu, raja memutuskan semua punggawa kerajaan Pajang dan seluruh rakyat Pajang harus belajar dan menggunakan bahasa gandhek sebagai bahasa resmi kerajaan Pajang.

ASAL USUL BAHASA KAWI
Bahasa jawa kuna yang di sana sini sudah bercampur dengan bahasa sansekerta dalam ilmu pengetahuan sering disebut bahasa Kawi. Nama kawi meliputi apa saja yg bisa dianggap sebagai tulisan jawa kuna. Bausastra Jawa karya Prawiroatmojo mengartikan Kawi sebagai kata-kata bahasa jawa kuna yang berarti pujangga/pengarang. Kata kawi bentukan dari kata kawindra = kawi +indra (ratu/raja) berarti pujangga yg terkemuka, kawiwara =pujangga termasyhur, kawitana= pujangga termayhur, kawitan dalam bahasa jawa kuna berarti nenek moyang, permulaan, mula-mula. Jadi kata kawi bisa diartikan karya yang mula-mula ditulis nenek moyang/pujangga termasyhur. 

Dalam pementasan wayang purwa hindu seluruh suluk sejak dulu seluruhnya menggunakan bahasa jawa kawi. Bahasa jawa yang kawi sekarang dikenal dalam bahasa jawa baku disebut bahasa krama lugu/ kramantara/krama antara, yaitu antara ngoko dan krama inggil. Dari zaman kebudayaan Hindu ke zaman Jawa baru (pra Islam) diganti dengan menggunakan suluk berbahasa ngoko dialek bandhekan. 

Guna menindaklanjuti dan mengukuhkan upaya walisanga dan keputusan raja Pajang, para dalang ditugasi oleh sultan hadiwijaya untuk menyebarkan reformasi bahasa ini baik untuk suluk maupun pembicaraan para tokoh wayangnya harus menggunakan bhs ngoko dialek Bandekan pada masyarakat. Hal ini tersirat pada kata dhalang, secara etimologis asal usulnya dari kata udhal+an= juru cerita. Udhalan mingsed menjadi ndalang= menceritakan. Kemudian menjadi tembung aran/kt benda jadi dhalang. Fungsi dhalang sebagai guru bagi masyarakat, ngudal piwulang, yakni memperkenalkan bahasa jawa dialek gandhekan. 

Sejarah Perkembangan bahasa jawa bahasa jawa dimulai dari tahap bahasa lisan jawa asli (jawadwipa/ngoko lugu), bahasa Kawi (kramantara-krama lugu), kramantara dialek gandhekan dan lahirlah bahasa jawa krama inggil. 

Asal usul bhs Jawa Krama Inggil
Bhs Jawa krama inggil mulai digunakan pada zaman kerajaan Surakarta/mataram Islam, pada masa Pakubuwana IX dengan dibentuknya Dewan Ahli Sastra Jawa. Penyusunan kata-kata krama inggil telah dirintis sejak zaman Demak dan ditindak lanjuti secara intensif pada zaman kerajaan mataram Surakarta. Meskipun demikian, banyak mengalami kesulitan dalam upaya penyusunannya dan banyak mengalami kekeliruan dan dalam pemilihan kata-kata krama inggil bisa dikatakan asal jadi terlebih dahulu.

Misalnya untuk krama inggilnya kuda adalah jaran, karena pada saat itu petugas penyusun mendengar permintaan sinuwun kuda ajaran/ kuda yang terlatih. Kapal adalah kendaraan, begitu juga jaran/kuda. Saat itu kompeni datang menggunakan kapal. Karena sama-sama tunggangan, kata jaran yang tadinya sudah dijadikan krama kemudian diganti dengan kata kapal, kemudian kata jaran diturunkan menjadi kramantara dan kuda menjadi ngokonya. Kata sawer menjadi kata krama ula, diilhami dari adanya seorang perempuan yang telinganya dipasang uwer(janur), tiba-tiba uwer tsb lepas kumlawer. Karena kebiasaan ular ngluwer/melingkar seperti uwer, kemudian krama dari ula dinamakan sawer. 

Ancer-ancer dalam kawruh paramasastra untuk membentuk kata-kata karma
Vokal ‘a’ pd akhir wanda/suku kata ada yg menjadi i, misal : menawa= menawi, rada= radi, negara=negari, umpama=umpami. Yang bersuku kata akhir ‘ra’ atau ‘na’ menjadi ten, misal : pira=pinten, kira=kinten, dina=dinten, ana=wonten. Yang menuimpang misalnya, lara=sakit, kena=kenging. Yang bersuku kata akhir ‘ra’ atau ‘rang’ menjadi wis, misalnya: perkara=perkawis, watara= watawis, katara=katawis, larang=awis.

Yang bersuku kata akhir ri atau rim menjadi ‘tun’, misalnya: lemari=lemantun, pari=pantun kari=kantun, kirim=kintun. Ada yang beda misalnya buri=wingking. Yang bersuku kata akhir ‘ti’ menjadi ‘tos’, misalnya: ganti=gantos, ora pati=boten patos, jati=jatos, piranti=pirantos, ngati-ati=ngatos atos. Yang beda, mati=pejah, ati=manah. Yang bersuku kata akhir yu ada yang menjadi ‘jeng, misal : guyu=gujeng, payu=pajeng, kayu=kajeng, mlayu=mlajeng, rahayu=rahajeng. 

Yang bersuku kata akhir li ada yang menjadi ‘sul’, misalnya: tali=tangsul, bali=wangsul, kendhali=kendhangsul, kuwali=kuwangsul. Yang bersuku kata akhir lang ada yang menjadi cal, misalnya: ilang=ical, milang=mical, welulang=wewucal. Yang bersuku kata akhir ya ada yang menjadi dos, misalnya: supaya=supados, pitaya= pitados, kaya=kados, Yang bersuku kata akhir la atau lah menjadi won, misalnya: ala=awon, kalah=kawon, srigala=segawon. Dan masih banyak lagi yang lainnya. 

Baca Pula 












0 komentar:

Posting Komentar

luvne.com ayeey.com cicicookies.com mbepp.com kumpulanrumusnya.comnya.com tipscantiknya.com