Kuliah 1 Mata Kuliah Bahasa dan Budaya Jawa

Unggah-Ungguh dan Rasa Jawa

budaya jawa, bahasa jawa, mata kuliah bahasa dan budaya jawa, tatakrama orang jawa, unggah ungguh orang jawa, tradisi orang jawa
Kuliah 1 Mata Kuliah Bahasa dan Budaya Jawa: Unggah-ungguh/tatakarama adalah hal yang sarat dengan budi pekerti. Dalam budaya jawa hal tsb berhubungan dengan tindak tutur dan tindak budaya seseorang. Orang jawa dikatakan berbudi pekerti luhur bila mampu menerapkan tata krama dan unggah ungguh secara baik dan benar. Bila penerapan tata krama dan unggah-ungguh kurang tepat dikatakan ‘wong jawa wis ora njawani’

Dalam kehidupan masyarakat jawa unggah-ungguh merupakan sentral budi pekerti. Unggah-ungguh akan selalu berhubungan dengan rasa jawa. Ada ungkapan ‘wong jawa papaning rasa’. Rasa inilah yg membentuk keagungan budi pekerti, budi pekerti jawa menjadi tampak halus, penuh pesona dan anggun.

Atas dasar rasa jawa tsb, secara filosofi orang jawa memegang prinsip hidup madya dalam sikap dan tingkah laku. Masudnya orang tsb tidak ngaya (bertindak tanpa perhitungan) dan juga tidak ngangsa
(berlebihan). Oleh karena itu, orang jawa hendaknya berwatak dan bertingkah ‘Enam Sa’ saja, yaitu: sabutuhe, saperlune, sacukupe, sakepenake, samestine lan sabenere. Dengan cara ini orang Jawa akan merasa sumeleh.

Di samping rasa hidup madya, dalam unggah-ungguh, orang jawa juga selalu memper- timbangkan konsep kasar lan alus. Orang yang berbudi pekerti luhur akan mampu menerapkan kedua konsep ini dalam ragam bahasa jawa ngoko dan krama. Untuk menerapkan ngoko-krama biasanya mempertimbangkan komunikatif tidaknya sebuah pergaulan. Pemakaian ragam inilah yg sering dijadikan kunci unggah-ungguh bahasa jawa. 

Dalam penerapan unggah-unngguh akan bercampur dengan etika jawa yg meliputi muna-muni/tutur kata, solah bawa/sikap, suba sita/watak perbuatan, dan pemakaian bahasa yg tepat. Pemakaian bahasa yg tepat mencerminkan kepribadian Jawa. Raut muka menentukan sopan tidaknya seseorang dalam unggah-ungguh. Seseorang yg benar-benar njawani akan selalu memperhatikan empan papan, kala mangsa, deduga lan prayoga lan eguh tangguh dalam unggah ungguh. Atas dasar hal tsb dalam kehidupan sehari-hari orang jawa selalu menjunjung tinggi pergaulan luhur. Aja nganti kaya ungkapan: samangsaning pasamuan ganyak –ganyuk nglingsemake. 

Di anggap tidak sopan bagi orang : lewat di depan orang tua tanpa permisi, berbicara sambil ngayer di depan orang tua yg duduk, duduk jegang, makan dengan kecap dll. Digambarkan dalam salah satu tembang jawa: 

dedalane guna lawan sakti
kudu andhap ashor
wani ngalah luhur wekasane
tumungkula yen dipun dukani
bapang den simpangi ana catur mungkur 

Dengan cara seperti itu manusia jawa akan lebih terhormat dan selamat hidupnya, lebih dihargai orang lain karena mampu menundukan dirinya sendiri. Sikap hormat-menghormati antar orang diatur melalui unggah-ungguh/undha usuk bahasa yg diikuti oleh watak dan sopan santun. Dalam budaya jawa dalam menyambut tamu ada istilah gupuh, lungguh lan suguh. Bagi yg bertamu dalam tradisi jawa biasanya belum mau duduk/minum/makan sebelum dipersilakan oleh tuan rumah. Kalau sudah duduk, duduknya pun harus rapi, tak boleh kaki tumpang apalagi jegang.

Kalau makan tidak boleh mengambil makanan yg jauh dari dirinya, ketika mengunyah diharapkan tidak bersuara (kecap), bila makan pakai sendok tidak boleh pathing kluthik. Bila tamu berpamitan harus bersalaman erat. Caranya ada yg kedua tangannya berjabatan, ada juga yg hanya tangan kanannya saja, tangan kiri diposisikan di atas perut, maksudnya untuk melindungi hati/rasa bagi orang jawa.

Tangan kanan yg bersalaman tadi setelah salaman di tempelkan ke dada, maksudnya agar benar-benar masuk ke dalam sanubari. Bila tamu menggunakan kendaraan tuan rumah harus mengantar sampai kendaraan, ketika pergi tuan rumah mengangkat kedua tangan dalam posisi sembah, bukan dada/melambaikan tangan.

Sopan santun akan merujuk empan papan, sehingga tindak berbahasa juga memegang teguh prinsip keselarasan. Orang yg memahami sopan santun dalam sikap dan perilakunya selalu diwarnai oleh moralitas jawa. Bahasa dan tutur katanya halus, enak didengar dan tidak membuat orang marah atau sakit hati. Bebek adus kali nosori sabun wangi, bapak mundhut roti adhik diparingi. Adhik ndherek ibu tindak menyang pasar Montor mabur diane mati, bapak kondur jajane roti.

Penggunaan unggah-ungguh hanya dapat di lakukan melalui praktik berbahasa sehari-hari. Tanpa kebiasaan yg terlatih maka akan sulit menerapkannya, mungkin akan bisa terbalik-balik dalam penerapannya. Aku lagi wae kondur saka sekolah, saiki aku lagi dahar. Aku dewekan nangumah, bapak lan ibu lagi menyang umahe mbah, wangsul jam 2, adhik dipundhutake jajan salak.








Artikel Terkait

Komentar