PERAN PENDIDIKAN TERHADAP POLA KEBERAGAMAAN ANAK

A. PENDAHULUAN

Manusia secara naluri dilahirkan dalam keadaan fitrah. Namun dalam perkembangannya, karakter manusia cenderung ditentukan oleh lingkungannya. Baik atau buruk suatu lingkungan akan menjadi barometer terhadap perilaku seseorang. Bahkan lingkungan menjadi suatu referensi utama bagi perilaku seseorang. W. H Charlek mengemukakan bahwa seorang bayi yang baru lahir merupakan makhluk yang tidak berdaya, namun ia dibekali oleh berbagai kemampuan yang bersifat bawaan. 

Dari uraian tersebut mengandung pengertian bahwa sifat bawaan seseorang tersebut memerlukan sarana untuk mengembangkannya. Salah satunya pendidikan baik formal maupun non-formal, dari keluarga sampai lingkungan sekitarnya. Agar diharapkan pendidikan mampu menjadikan seseorang
menjadi insan kamil.

Ali Ashraf mengatakan bahwa pendidikan agama Islam seharusnya bertujuan menimbulkan pertumbuhan yang seimbang dari kepribadian total manusia melalui latihan spiritual, intelektualm rasional diri, perasaan, kepekaan tubuh manusia. Karenanya pendidikan seharusya membukakan jalan bagi manusia dalam mengembangkan semua aspek yang ada pada diri manusia atau dengan kata lain semua potensi positif manusia dapat dibangkitkan dengan cermat. Sehingga tujuan akhir daripada pendidikan Islam mengarahkan manusia untuk bertakwa terhadap Tuhan sehingga manusia sanggup menyerahkan dirinya dengan sepenuh jiwa terhadap kuasa Allah, pada tingkat individual, masyarakat, dankemanusiaan pada umumnya.

Salah satu dari ilmu tersebut adalah psikologi agama. Dengan ilmu tersebut diharapkan manusia tahu tentang fenomena pengalaman rasa agama, bagaimana rasa agama, perkembangan keagamaan serta bentuk akhir keagamaannya. Khusus dalam makalah ini akan dijelaskan mengenai pola keagamaan anak yang dikonstruk melalui pendidikan. Makalah ini tidak membahas sifat keagamaan anak seperti imitatif dan sebagainya karena pembahasan tersebut seringkali diutarakan dalam perkuliahan. Maka dari itu penulis mencoba mencari sisi lain daripada sikap keberagamaan anak terutama pengaruh pendidikan terhadap sikap tersebut. Dengan pengandaian makalah ini benar-benar menjadi kajian otentik perihal sikap keberagamaan anak. Masalah yang dikemukakan adalah bagaimana pendidikan mengarahkan manusia-khusus dalam makalah ini mengenai anak-menjadi manusia yang tahu tentang agama dan menjadi anak kamil. Sehingga anak dalam perkembangannya tidak terpengaruh hal negatif.

B. PEMBAHASAN

1. Pola Pembinaan Keagamaan Anak

a. Arti Pembinaan

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, bahwa pembinaan berarti usaha, tindakan, dan kegiatan yang diadakan secara berdaya guna dan berhasil guna memperoleh hasil yang lebih baik.

Pembinaan juga dapat diartikan dengan suatu kegiatan yang memepertahankan dan menyempurnakan sesuatu yang telah ada sesuai dengan yang diharapkan. Maka dari kedua pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa pembinaan adalah suatu usaha atau kegiatan yang dilakukan untuk meningkatkan apa yang sudah ada kepada yang lebih baik (sempurna) baik melalui pemeliharaan pembinaan dan bimbingan terhadap apa yang sudah ada tersebut. Serta juga dengan mendapatkan hal yang belum dimilikinya yaitu pengetahuan dan kecakapan yang baru.

Dalam konteks pembinaan anak, maka anak diarahkan menjadi anak yang berpotensial tinggi. Sumber daya yang sudah dimiliki anak terus digodok dengan pendidikan melalui bimbingan dan latihan-latihan. Semakin banyak latihan akan semakin bagus terhadap perkembangan seorang anak. Misal, seorang anak usia dini selalu dibimbing masalah keagamaan. Anak disuruh mengaji di pesantren dan mengakaji berbagai hal masalah keagamaan niscaya seorang anak akan banyak mengetahui masalah keagamaan. Setelah anak mengetahui banyak hal keagamaan sebgai dasarnya, maka dalam praktek keagaamannya selalu dimonitoring oleh keluarganya agar tidak meninggalkan apa yang sudah diajarkan oleh gurunya. Bahkan anak selalu didukung manakala anak ingin belajar lebih jauh masalah agama.

Selanjutnya, pembangunan di bidang keagamaan diarahkan agar seorang anak semakin tertata kehidupan beragamanya sehingga terjadi kehidupan yang harmonis, semarak dan mendalam serta ditujukan pada peningkatan kualitas keimanan dan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Sehingga nantinya akan terpelihara kehidupan umat beragama dan bermasyarakat yang berkualitas yang selalu mengedepankan moral dan etika serta bersama-sama memperkokoh kesadaran spiritual, moral, etika dalam mewujudkan Negara dan bangsa yang sesuai dengan rancangan pembangunan nasional, peningkatan, pelayanan, sarana dan prasarana kehidupan beragama. Bagaimana bangsa ini menjadi bangsa yang maju manakala kebrobokan moral masih merajalela. Inilah yang mendasari bangsa Indonesia masih ramai dengan korupsi, kejahatan dan sebagainya.

Anak adalah aset bangsa yang tidak bisa dikesampingkan pelayanan pendidikannya terutama pendidikan moral. Jangan sampai anak tidak mengenyam pendidikan dan menjadikan mereka brutal. Anak harus selalu dibina dalam pengembangan kepribadian keagamaannya yang nantinya bisa diharapkan kemajuan bangsa melalui ulah tangan moral mereka. Akhirnya peningkatan kualitas keimanan dan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa diarahkan melalui pemahaman dan pengamalan nilai-nilai spiritual, moral dan etika agama sehingga terbentuk sikap batin dan lahir yang setia.

b. Pengertian Keagamaan

Agama berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti tidak kacau, diambil dari dua suku kata “a” berarti tidak dan “agama” berarti kacau. Secara lengkapnya agama adalah peraturan yang yang mengatur manusia tidak kacau. Artinya, peraturan yang ada pada agama adalah sebuah regulasi yang mengatur manusia agar menjadi lebih baik. Agama diturunkan bukan mengikat kebebasab manusia tetapi agama sebagai jalan menuju kehidupan yang lebih terang. Dengan agama kehidupan manusia akan menjadi baik mulai dari dunia sampai pada kehidupan yang abadi.

Agama sebagai refleksi atas cara beragama tidak hanya erujud kepercayaan saja namum harus diimplementasikan dalam wujud yang nyata. Agama harus mampu bersinggungan dengan kehidupan manusia secara utuh. Sehingga agama tidak hanya dimaknai ibadah ritual semata tetapi lebih mengarah kepada substansi ritual tersebut. Perwujudan tersebut keluar sebagai bentuk dari pengungkapan cara-cara beragama sehingga agama dan arti umum dapat diuraikan menjadi beberapa unsure atau dimensi religiusitas.

Agama diangga sebagai aturan hidup manusia (way of life) menuntun manusia agar hidupnya tidak sesat. Secara social agama berfungsi menjaga integritas manusia dalam hubungannnya sesama manusia dan alam semesta selain hubungan dengan Sang Khalik. Maka dari itu inti dari agama adalah mengatur kehidupan manusia agar integritas kehidupan terjaga melalui segala firman-Nya dan utusan-utusanNya.

Dalam konteks makalah ini, agama diajarkan kepada anak-anak agar kelak menjadi manusia yang bertanggung jawab atas amanah Tuhan. Keberagamaan anak tidak serta merta kacau tetapi terarah. Karena sifat keberagamaan seorang anak tidak akan lepas dari budaya yang ada. Dalam wilayah yang seperti ini, seoerang anak harus beradaptasi dengan lingkungannya. Sesuatu yang dipandang negatif harus segera ditinggalkan sesuai ajaran agama yang ada.

2. Dasar dan Tujuan Pembinaan Keagamaan

Dasar dan tujuan dari pembinaan keagamaan seperti yang sudah termaktub dalam al-Quran dan al-Hadits. Tidak dapat disangkal keduanya merupakan sumber yang absolut tinggal bagaimana seseorang menafsirkannya. Karena kadangkala perbedaan interpretasi mengakibatkan juga terhadap perilaku keagamaan seseorang.

Dasar dari pembinaan keagamaan seperti yang termaktub dalam al-Quran antara lain terdapat dalam surat Ali Imran ayat 104 yang artinya berbunyi:
“Dan hendaklah diantara kamu segolongna umat yang menyeru kepada kebajikan dan menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, merekalah orang-orang yang beruntung”.

Dari pengertian tersebut dapat diambil pelajaran bahwa seorang manusia haruslah belajar. Dengan belajar ilmu yang didapat akan menyelamatkan dirinya dan orang lain dari kerusakan budi pekerti serta untuk mencapai kehidupan yang berimbang antara dunia dan akhiratnya.

Adapun tujuan dari pembinaan seperti yang termaktub dalam al-Quran surat al-Qashas ayat 77 yang mengandung pengertian bahwa tujuan dari pembinaan agar tercapainya kesempurnaan, artinya untuk mengadakan peningkatan dari sebelumnya. Peningkatan kebodohan menjadi pintar, peningkatan keterbelakangan menjadi maju, peningkatan kemiskinan menjadi kaya dan sebagainya yang pada intinya adalah peningkatan ke arah yang lebih baik lagi.

Status ini mengimplikasikan bahwa manusia secara potensial memiliki sejumlah kemampuan yang diperlukan untuk bertindak sesuai dengan ketentuan Tuhan. Sebagai khalifah juga mengemban tugas Rububiyah Tuhan terhadap alam semesta termasuk diri sendiri. Sesuai dengan ajaran agama maka pendidikan Islam bukan saja mengajarkan ilmu-ilmu sebagai materi atau ketrampilan sebagai kegiatan jasmani semata, melainkan menaikkan semuanya dalam kerangka praktek ilmiah yang alamiah dengan muatan moral dan nilai.

Gambaran di atas menunjukan bahwa tujuan pendidikan Islam tidak terbats pada pencapaian materiil untuk kepentingan dirinya melainkan meniscayakan keterpaduan antara aspek jasmani dan rohani antara kehidupan dunia dan akhirat serta antara kepentingan individu dan kolektif yang pada akhirnya medikotomi posisi manusia sebagai khalifah dan ‘abid.

Dalam membina anak maka yang diperlukan adalah bagaimana mencetak anak dapat berkiprah dalam lingkungan sosialnya dengan segala potensi yang ada yang nantinya dapat berperan dalam menegakkan sendi-sendi generasi muda pada umumnya dan kehidupan moral agama pada khususnya. Pelajaran ini banyak diambil dari pengalaman kehidupan seseorang anak. Semakin banyak pengalamannya maka akan berbanding lurus dengan pengamalannya. Alasan yang mendasar adalah nilai-nilai moral akan terus dipraktekan sehingga penekanan terhadap fungsi agama lebih digunakan. Semakin cepat nilai-nilai itu masuk dalam pribadi seorang anak maka semakin kuat tertanam dan semakin besar pengaruhnya dalam pengendalian tingkah laku dan pembentukan sikap pada khususnya.

3. Pengaruh Pendidikan Terhadap Keagamaan Anak

Menurut Quraish Shihab, pendidikan al-Quran (Islam) bertujuan membina manusia secara pribadi dan kelompok sehingga mampu menjalankan fungsinya sebagai hamba dan khalifah-Nya guna membangun dunia sesuai konsep yang ditentukan Allah SWT. Dengan kata yang lebih sederhana pendidikan Islam diorientasikan menuju manusia yang bertakwa. Pendidikan dapat diraih seorang anak mulai dari kandungan sampai kematian. Artinya dalam lingkup terkecil keluarga dituntut menjadi sumber pengetahuan seorang anak. Kemudian ketika orang tua sudah tidak sanggup mendidik anaknya dengan berbagai ilmu, berulah anak dititipkan ke pesantren maupun sekolah umum guna mendapat pengetahuan yang lebih luas.

Di sini akan dibagi tiga macam lingkup pendidikan yang dapat diraih oleh seorang anak, yakni:
1. Pendidikan Keluarga

Gilbert Highest mengemukakan bahwa kebiasaan yang dimiliki anak sebagian besar terbentuk oleh keluarga. Sejak bangun tidur hingga tidur lagi semuanya didapatkan dari kelaurga. Artinya sebelum seorang anak mengenyam pendidikan formal keluargalah yang menentukan prestasi atau kepribadian seorang anak. Hal ini sejalan dengan sabda Nabi yang kurang lebih mengandung pengertian bahwa seorang anak dilahirkan dalam keadaan fitroh, orang tuanyalah yang menjadikan mereka Islam, Yahudi atau Majusi.

Keluarga adalah skala prioritas karakter soerang anak. Dari pendidikan yang diberikab keluarga sangatlah menentukan anak bisa cerdas atau tidak, baik atau benar, shalih atau durhaka dan sebagainya. Begitu juga sikap keberagamaan anak pada usia sebelum sekolah sangat ditentukan keluarga. Potensi religiusitas seorang anak berkembang baik sejalan dengan bagaimana orang tua mendidik anaknya dengan berbagai pengetahuan agama. Semakin sedikit ilmu agama yang tersalurkan kepada anak maka sedikit pengetahuan agama anak tersebut. Lantas siapakah yang berhak disalahkan ketika dari kecil anak tidak banyak tahu tentang agama?.
Keluarga sebagai tempat pendidikan primer dalam proses perkembangan rasa agama setiap individu. Kedekatan orang tua dengan anaknya menjadikan orang tua satu-satunya a significant person bagi anaknya. Semua perilaku keagamaan orang tua akan terserap kemudian masuk ke memory anak serta akan diidentifikasi oleh anak tersebut. Maka terjadi imitasi perilaku, karena sekedar peniruan saja atau diiringi oleh keinginan untuk menjadi seperti orang tuanya. Karena proses imitasi yang terus berlangsung maka perilaku keagamaan orang tua terinternalisasi dalam diri anak dan mengkristal menjadi kata hati.

2. Pendidikan Kelembagaan

Dalam masyarakat primitif, lembaga pendidikan dinilai tidak terlalu penting. Argumen yang muncul adalah pendidikan tidak bisa mengarahkan mereka kepada pekerjaan. Selain itu juga variasi profesi kaum tersebut belum banyak. Mereka yang orang tuanya bekerja sebagai petani cenderung anaknya mengikuti jejak orang tuanya sehingga nilai dari pendidikan formal dirasa kurang keberadaannya.

Namun di zaman yang penuh dengan ilmu seperti sekarang paradigm tersebut dapat dipatahkan. Bahkan dengan derasnya arus globalisasi manusia dituntut untuk selalu belajar. Tetapi karena pendidikan tinggi hanya bisa diraih dilembaga formal, maka manusia pun dituntut untuk belajar di pendidikan formal.

Sebagai kelembagaan agama, maka pendidikan Islam sedapat mungkin untuk membina anak didiknya agar tidak terjerumus dalam arus globalisasi yang negatif. Pihak yang terkait dengan hal pendidikan agama seperti guru dan kepala sekolah harus bekerja ekstra. Mereka harus merumuskan kurikulum yang dapat diterima oleh anak didik. Selain kurikulum, system pengajaran, metode, pendekatan, dan sebagainya harus diatur sedemikian rupa sehingga memudahkan dalam rangka penanamaan rasa keagamaan. Rasa keagamaan yang dikembangkan dalam sebuah pendidikan agama akan berujung pada perubahan sikap menerima nilai-nilai agama.

Menurut Mc Guire, proses sikap seorang anak dari tidak menerima ke proses menerima melalui tiga tahap. Pertama adanya perhatian, kedua adanya pemahaman, dan ketiga adanya penerimaan. Maka seyogyanya lembaga pendidikan mampu menerapkan hal tersebut dalam proses pembentukan jiwa keagamaan anak. Pertama,pendidikan harus mampu menarik perhatian anak sehingga anak senang dalam belajar. Untuk menopang pencapaian itu, maka seorang guru mampu merancang metode, materi, serta sarana dan prasarana yang memungkinkan menarik perhatian anak. Kedua, guru harus bisa memberikan pemahaman kepada anak terkait materi yang disampaikan.

Bagaimana kemudian seorang anak paham mengenai materi tatkala seorang guru tidak bisa mentransformasikan ilmu yang dia punya. Sedapat mungkin menggunakan bahasa-bahasa yang mudah dimengerti serta tidak terbatas pada hal yang bersifat ingatan. Ketiga, penerimaan siswa dapat baik jika guru memiliki komptensi unggul. Guru sebagai suri tauladan harus bisa memberikan contoh terhadap anak didiknya sehingga anak menerima ajaran sepenuh hati.

3. Pendidikan Masyarakat

Selain kedua lingkungan di atas, lingkungan masyarakat ternyata juga mempegaruhi keagamaan seorang anak. Masyarakat bisa mejadi wahana pembelajaran sekaligus wahana kehancuran bagi mental keagamaan seorang anak. Anak bisa belajar banyak mengenai kehidupan dan menyerap semua perihal mengenai masyarakat. Menjadi sebuah negatif apabila seorang anak belajar kejelekan dari masyarakat maka keagamaan seorang anak dipastikan akan hancur.

C. KESIMPULAN

Bahwa sesungguhnya manusia-tidak lepas anak kecil-memiliki sebuah kebebasan. Kebebasan ini ingin selalu diluapkan dalam bentuk tindakan. Seorang anak yang bebas melakukan sesuatu bila tidak dikendalikan nantinya dapat berbuat semaunya sendiri. Di sinilah pentingnya sebuah pembinaan. Diharapkan pembinaan menemukan titik terang agar seorang anak terkontrol dari kelakuan negatif.

Pembinaan ini dilakukan dengan memberikan pemahaman agama yang konsisten. Sehingga anak dapat membenahi melalui pembenahan sikap moral dan religius. Untuk mencapai pembinaan tersebut, keluarga merupakan lingkungan pertama dalam pendidikan anak. Selanjutnya anak dididik dalam lingkungan formal dan masyarakat. Semua itu bertujuan membentuk anak menjadi anak yang sholih yang bisa diambil manfaatya bagi kehidupan dirinya sendiri dan orang lain.

Komentar