STRATEGI DAKWAH MASYARAKAT MARGINAL

Studi Kasus Anak Jalanan Di Purwokerto
Oleh: Ahmad Nurkholis (Mahasiswa BKI, Dakwah, IAIN Purwokerto)
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Dakwah artinya menyeru, mengajak, atau mendorong. Secara etimologi perkataan dakwah berasal dari bahasa Arab yaitu dari kata da’a, yad’u, da’watan yang berarti, seruan-ajakan-panggilan. Menurut istilah dakwah adalah suatu proses upaya mengubah sesuatu situasi kepada situasi yang lain yang lebih baik sesuai ajaran Islam, atau proses mengajak manusia ke jalan Allah yaitu Al-Islam. Menurut Hasjmy, dakwah adalah mengajak orang lain untuk meyakini dan mengamalkan aqidah dan syari’ah Islam yang terlebih dahulu telah diyakini dan diamalakan oleh pendakwah sendiri. Tujannya adalah untuk membentangkan jalan Allah di atas muka bumi agar dilalui umat manusia. Sedang menurut H. Endang S. dakwah adalah penjabaran, penterjemahan dan pelaksanaan Islam dalam perikehidupan dan penghidupan manusia (termasuk di dalamnya politik, ekonomi, sosial budaya, pendidikan, ilmu pengetahuan kesenian dan sebagainya. 

Dakwah harus bisa diarahkan menjadi sebuah proses rekayasa sosial. Bahkan di zaman sekarang
yang penuh dengan ilmu dan teknologi, dakwah harus mampu menunjukan eksistensinya. Tentunya metode yang diterapkan sesuai dengan tuntutan zaman. Artinya dakwah bersifat fleksibel sehingga dakwah mampu diterima dipelbagai golongan. Dakwah harus mampu menjembatani berbagai kepentingan hidup dan kehidupan. Dakwah harus mampu menawarkan suatu model ideal dari kehidupan yang dicita-citakan, tetapi dakwah juga harus mampu tetap menunjukan responsibilitasnya terhadap perubahan kehidupan yang terjadi akibat interaksi antara kehidupan umat manusia dan tuntutan ilmu pengetahuan dan teknologi. Selama ini dakwah yang dijalankan oleh para da'i kebanyakan berfokus pada daerah yang linier dengan proses dakwah. Artinya dakwah yang dilakukan hanya sekitar ibu-ibu pengajian, bapak-bapak, namun melupakan bahwa anak jalanan adalah salah satu mad'u yang penting. Hal ini menegaskan bahwa anak jalanan sebagai kaum dari manusia terlupakan identitasnya. 

Sebagai salah satu mad'u yang penting, anak jalanan harus diberikan materi dakwah seperti halnya mad'u yang lain. Jangan sampai lemahnya pendidikan agama menjadikan mereka berakibat tindakan amoral. Tentunya konsep yang ditawarkan kepada mereka tidak sama dengan konsep dakwah pada umumnya. Hal ini mengingat budaya anak jalanan tidak sama dengan orang pada umumnya. Pendekatan yang dilakukan harus seimbang dengan perilaku anak jalanan sehingga dalam dinamika dakwah mencapai kesuksesan. Langkah yang harus ditempuh dalam berdakwah terhadap anak jalanan adalah mengenal mereka dengan baik. Sejalan dengan hikmah dakwah ialah menempatkan manusia sesuai dengan kadar yang telah ditetapkan Allah. Di saat terjun dalam sebuah komunitas, atau melakukan kontak dakwah dengan anak jalanan, da'i yang baik harus mempelajari dahulu tentang data kenyataan tentang komunitas anak jalanan sebagai objek dakwah. 

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah penulis paparkan maka rumusan masalahnya adalah Bagaimanakah strategi dakwah yang tepat bagi anak jalanan?

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Teoritis
a. Sebagai pengembangan keilmuan khususnya bidang dakwah bagi mahasiswa maupun aktivis dakwah.
b. Mengetahui bagaimana formulasi dakwah bagi anak jalanan.

2. Tujuan Praktis
a. Menjadi sebuah referensi bagi pengembangan ilmu dakwah.
b. Untuk memperoleh pengalaman dan pengetahuan secara langsung tentang situasi dan kondisi yang nanti akan menjadi bidang garapannya.
c. Bagi masyarakat agar menghargai keberadaan dari anak jalanan sehingga mereka menyadari betapa pentingnya mereka dan betapa mutlaknya mereka harus diperhatikan.
d. Bagi STAIN Purwokerto, khususnya Jurusan Dakwah agar melakukan tindakan nyata sebagai manifestasi program dakwah yang di kurikulumkan serta merancang strategi dakwah yang tepat bagi anak jalanan sehinga mereka terlepas dari kehidupan yang menyedihkan.
e. Untuk pemerintah agar dapat melakukan pengembangan sumber daya anak jalanan secara potensial dan maksimal. Nantinya, anak jalanan tidak hanya diidentifikasi sebagai sampah masyrakat namun dapat mempunyai nilai lebih.

D. Penegasan Istilah
Untuk menghindari kesalahpahaman dalam penafsiran arti, maka perlu sekali adanya penegasan istilah :

1. Strategi
Kata strategi berasal dari bahasa Yunani "strategia" yang diartikan sebagai "the art of the general" atau seni seorang panglima yang biasanya digunakan dalam peperangan. Dalam pengertian umum, strategi adalah cara untuk mendapatkan kemenangan atau mecapai tujuan. Strategi pada dasarnya merupakan seni dan ilmu menggunakan dan mengembangkan kekuatan (ideologi, politik, ekonomi,sosial-budaya dan hankam) untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. Menurut Onong Uchjana Effendi, bahwa strategi adalah perencanaan dan manajemen untuk mencapai tujuan. Untuk mencapai tujuan tersebut, strategi tidak berfungsi sebagai peta jalan yang hanya menunjukan arah saja, melainkan harus menunjukan taktik operasionalnya. 

2. Marginal
Marginal dalam penelitian ini adalah masyarakat yang terpinggirkan dari kehidupan perkotaan maupun pedesaan. Mereka terpinggirkan bukan secara geografis namun disebabkan kurangnya peran mereka terhadap upaya pembangunan manusia seutuhnya. 

E. Kerangka Teori
Penelitian ini bersinggungan langsung dengan disiplin dakwah. Manusia sebagai makhluk beragama, memiliki kewajiban untuk berdakwah kepada sesamanya. Dilihat dari segi sifatnya, dakwah dibedakan menjadi dakwah bil lisan, dakwah bil khal dan dakwah bil mal.

Selanjutnya, manusia cenderung berdakwah dengan menggunakan metode lisan atau dakwah melalui ceramah-ceramah, pidato dan penyamapian materi melalui lisan. Namun di sisi lain ada juga yang berdakwah dengan menggunakan tingkah laku dan menggunakan harta. Hal ini membuat penelitian yang kami lakukan memilih diantara salah satunya yakni kami lebih menekankan pada aspek bagaimana mengefektifkan dakwah bil mal terhadap anak jalanan dengan cara pemberian jalan keluar kepada mereka sehingga mereka dapat memperoleh penghidupan yang sedikit lebih baik, namun, bukan berarti kami memberi mereka uang ataupun yang lain namun kami akan berusaha mencarikan solusi untuk dapat membantu mereka mengoptimalkan kemampuan dan keahlian yang mereka miliki.

BAB II
METODE PENELITIAN
A. Jenis dan Pendekatan Penelitian
1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian dalam penelitian kali ini adalah penelitian kasus, yaitu penelitian yang dilakukan secara intensif, terperinci dan mendalam terhadap anak jalanan. 

2. Pendekatan Penelitian
Pendekatan yang dilakukan adalah kualitatif, yang diarahkan kepada anak jalanan secara holistik. Dengan begitu hasil yang diperoleh data berupa ugkapan-ungkapan atau catatan mengenai anak jalanan yang terobservasi.

B. Objek dan Subjek Penelitian

1. Objek Penelitian
Objek penelitian ini adalah anak jalanan yang berada di sekitar Purwokerto tepatnya mereka yang menjadi pengamen di sepanjang jalan.

2. Subjek Penelitian
Subjek penelitian berupa benda, hal atau anak jalanan, tempat data untuk variabel penelitian yang melekat dan yang dipermasalahkan. Teknik yang digunakan melalui teknik purposive, yakni pemilihan subjek berdasarkan pertimbangan tertentu yang diambil berdasarkan tujuan dari penelitian.

C. Teknik Pengumpulan data dan Instrumen
Adapun metode yang digunakan dalam pengumpulan data sebagai berikut:

1. Metode Interview
Metode interview digunakan dengan wawancara terhadap anak jalanan. Metode digunakan untuk memperoleh data yang sistematis dan berlandaskan pada tujuan penelitian. Harapannya data ini menjadi valid dan dapat dipertanggung jawabkan.

2. Metode Observasi
Metode ini digunakan sebagai pengumpulan data yang sistematis melalui pengamatan dan pencatatan yang intensif terkait dengan hal-hal yang dibutuhkan dengan penelitian. Tujuan obsevasi adalah melengkapi data yang diperoleh melalui interview.

D. Teknik Analisis Data

Analisis data digunakan untuk memberikan interpretasi terhadap data yang masuk. Interpretasi data dilakukan dengan menggabungkan data, baik data yang diperoleh dengan interview, observasi maupun dokumentasi. Data yang masuk digabung menjadi satu dan dicari kesamaan serta mengaitkan data yang satu dengan yang lainnya.

Teknik analisisnya menggunakan teknik deskriptif kualitatif. Artinya data diolah dengan melaporkan apa yang telah diperoleh selama penelitian dengan cermat serta memberikan interpretasi terhadap data itu ke dalam suatu kebulatan yang utuh dengan menggunakan kata-kata, sehingga hasilnya dapat menggambarkan objek penelitian yang dilaksanakan, dengan tujuan untuk membandingkan data yang bersifat teoritis dan praksis. 

Adapun penarikan kesimpulan menggunakan metode deduktif dan induktif. Metode deduktif digunanakan untuk menarik kesimpulan yang bersifat umum sehingga mendapatkan data yang bersifat khusus. Sebaliknya, metode induktif digunakan untuk menarik kesimpulan data yang masih bersifat khusus sehingga ditemukan data yang bersifat umum. Kedua metode ini digunakan demi tercapainya analisis data yang akurat dan sesuai dengan tujuan penelitian.

BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Konsep Anak Jalanan
Dalam kehidupan sehari-hari kita tidak lepas dari pengaruh orang lain. Dimana pun kita berada kita harus tunduk pada aturan atau kebiasaan yang wajar dalam masyarakat. Itu sebabnya manusia disebut makhluk sosial. Dalam konteks sosial yang disebut masyarakat, setiap orang akan mengenal satu sama lain. Oleh karena itu perilaku manusia selalu terkait dengan orang lain. Ia melakukan sesuatu dipengaruhi faktor yang dari luar dirinya, seperti tunduk pada aturan, tunduk pada norma masyarakat, dan keinginan mendapat respons positif dari orang lain. 

Dari bentuk jenisnya, konteks sosial tadi dibagi menjadi dua, yakni masyarakat desa dan kota. Secara singkat masyarakat desa dapat ditandai dengan kehidupan yang tenang, jauh dari hiruk pikuk keramaian, penduduk saling mengenal satu sama lain, dan sebagian besar bekerja sebagai petani atau nelayan. Sedangkan kota ditandai dengan kehidupan yang ramai, penduduk yang padat, memiliki wilayah yang luas, hubungan yang tidak erat satu sama lain, dan mata pencaharian pendudukanya bermacam-macam. Di sini penulis hanya membahas masyarakat kota sebagai salah satu faktor penyebab munculnya anak jalanan. 

Perkembangan kota sering tidak dibarengi dengan pertumbuhan kesempatan pekerjaan yang memadai sehingga menimbulkan permasalahan bagi sebagian penduduknya dalam memenuhi kebutuhan ekonomi, seperti adanya anak jalanan, pedagang kaki lima, pengangguran, pencurian, dan lain sebagainya. Fenomena anak jalanan paling memberi perhatian karena pelakunya kebanyakan adalah anak-anak dibawah umur bekerja untuk sekedar membantu bahkan menanggung beban keluarga. Selain dari kurang adanya keterampilan dan sulitnya lapangan pekerjaan, masalah anak jalanan juga dipengaruh oleh derasnya arus globalisasi . 

Globalisasi ini ditandai oleh kemajuan dan kecanggihan ilmu pengetahuan yang berwujud teknologi dan informasi. Sehingga perusahaan-perusahaan yang awalnya memakai tenaga manusia, saat ini telah banyak digantikan oleh teknologi tersebut. Melihat realitas ini, anak jalanan merespon dengan motif ekonomi. Motif ini merupakan dorongan yang sudah terikat pada suatu tujuan. Motif ini menunjukan hubungan sistematik antara suatu respon dengan keadaan dorongan tertentu. Motif timbul karena adanya kebutuhan; yang dipandang akibat kurang adanya sesuatu dan menuntut sebuah pemenuhan untuk mendapatkan keseimbangan. Situasi kekurangan ini berfungsi sebagai dorongan alasan sehingga menyebabkan orang bertindak untuk memenuhi kebutuhan. Hal ini dapat dipahami pada gambar berikut:

Jadi, motif memiliki hubungan kausal. sesuai dengan jenis kebutuhannya, motif dibagi menjadi dua:

a. Motif biogenetis
Motif ini berasal dari kebutuhan biologis sebagai makhluk yang hidup. Hal ini terdapat di dalam lingkungan internal, dan berkembang dengan sendirinya di dalam diri individu. Konstruk motif ini berdasar kepada keyakinan diri. Mereka merasa bahwa dengan apapun mereka harus survive di tengah ketatnya persaingan hidup. Apapun akan dilakukan termasuk harus menjadi anak jalanan.

b. Motif sosiogenetis
Motif ini timbul berawal dari hubungannya dengan lingkungan sosial karena adanya interaksi dengan orang lain. Motif ini merupakan perpaduan antara individu dengan lingkungan. Lingkungan mempengaruhi individu, tetapi individu tidak begitu saja menerima rangsangan lingkungan, melainkan di dalam dirinya ada bermacam-macam kemampuan-kemampuan, seperti: daya seleksi mengolah, memperhitungkan, memutuskan, dan sebagainya. 

Dari penjelasan di atas maka anak jalanan dapat diartikan seseorang yang belum dewasa (secara fisik dan psikis) yang menghabiskan sebagian besar waktunya di jalanan dengan melakukan kegiatan-kegiatan untuk mendapatkan uang guna mempertahankan hidupnya dan tidak jarang mendapat tekanan fisik atau mental dari lingkunganya. Umumnya mereka berasal dari keluarga yang ekonominya lemah. Anak jalanan tumbuh dan berkembang dengan latar kehidupan jalanan dan akrab dengan kemiskinan, penganiayaan, dan hilangnya kasih sayang, sehingga memberatkan jiwa dan membuatnya berperilaku negatif. mereka jalanan hanyalah korban dari konflik keluarga, komunitas jalanan, dan korban kebijakan ekonomi pemerintah yang tidak becus mengurus rakyat. 

Menurut Tata sudrajat untuk mengakomodasikan variasi anak jalanan, pada umumnya, anak jalanan terbagi dua yaitu:

1. Children of the street (anak-anak yang tumbuh di jalanan)
Anak-anak yang seluuh waktunya dihabiskan di jalanan. Adapun ciri-ciri dari anak ini biasanya tingal dan bekerja dijalanan, tidak mempunai rumah, dan bahkan tidak pernah berhubungan dengan keluarga. Mereka biasanya bersal dari keluarga yang berkonflik. Hidup mereka berpindah-pindah dari tempat yang satu ke tempat yang lain. Karena mereka tidak mempunyai tempat tinggal yang tetap. Masalah yang sering mereka hadapi adalah mereka tinggal di jalanan tanpa ada yang mendampinginya. Jumlah mereka lebih sedikit apabila dibandingkan dengan kelompok anak jalanan lainnya, diperkirakan 10-15 % dari seluruh populasi anak jalanan.

2. Children on the street (anak-anak yang ada di jalanan)
Yakni anak-anak yang hanya sesaat di jalanan. Dalam kelompok ini sendiri terdapat dua kelompok lagi anak jalanan, yakni anak dari luar kota dan anak yang tinggal bersama orang tuanya. pada anak- anak dari luar kota, mereka biasanya mengontrak rumah secara bersama-sama di satu lingkungan tertentu dan penghuninya adalah teman satu daerah sendiri. mereka biasanya sudah tidak sekolah lagi dan ikut ke kota karena ajakan teman atau orang yang lebih dewasa. Kontak dengan keluarga lebih sering dilakukan oleh kelompok children on the street, bahkan lebih teratur, misalnya sebulan sekali atau dua bulan sekali untuk menyerahkan penghasilan mereka kepada orang tuanya. Motivasi mereka adalah ekonomi, jarang yang sifatnya konflik.

Kelompok kedua adalah anak yang sesat di jalan, yaitu anak-anak dari dalam kota sendiri dan masih tinggal bersama orang tuanya. sebagian dari mereka masih bersekolah, namun di luar waktu sekolah mereka berada di jalanan dan umumnya berjualan koran. Dibandingkan dengan kelompok pertama. Kelompok terkahir ini lebih sedikit mempunyai masalah. Kelompok ini mencapai 40% - 45 % dari seluruh anak jalanan.

Ada tiga tingkat yang menyebabkan munculnya anak jalanan:
1. Tingkat makro (immediate causes), yakni faktor-faktor yang berhubungan dengan situasi anak dan keluarganya.
2. Tingkat meso (underlying causes), yakni faktor-faktor yang ada di masyarakat tempat anak dan keluarga berada.
3. Faktor makro (basic causes), yakni faktor-faktor yang berhubungan dengan struktutr makro dari masyarkat, seperti ekonomi, politik, dan kebudayaan.
selanjutnya..... buka di sini

Artikel Terkait