STRATEGI DAKWAH MASYARAKAT MARGINAL II

STRATEGI DAKWAH MASYARAKAT MARGINAL: sebelumya... di sini
B. Gambaran Anak Jalanan Di Purwokerto

Sebagai salah satu kota yang berada di Kabupaten Banyumas, Purwokerto tentunya menjadi salah satu kota pusat keramaian. Karena Purwokerto merupakan jantung mobolisasi masyarakat Banyumas. Hal ini dapat ditandai dengan adanya pusat perbelanjaan yang besar seperti Rita Pasar Raya, Moro, Matahari, Tamara Plaza (Sri Ratu), alun-alun, taman-taman, dan hiburan lainnya. Masuknya globalisasi nyatanya memberi pengaruh besar terhadap perkembangan dan kemajuan kota purwokerto. Kemajuan itu paling kentara pada aspek ilmu pengetahuan dan teknologi. Banyak kalangan yang telah menikmati kemajuan tersebut di kota Purwokerto.

Namun di sisi lain, permasalahan kota tetap muncul bahkan sering satu jenis permasalahan. misalnya anak jalanan, penataan kota dan pedagang kaki lima, dan lain sebagainya. Sudah menjadi hukum alam bahwa setiap sesuatu pasti memiliki sisi posistif dan negatif. Munculnya anak jalanan di perkotaan diakibatkan adanya kekurangan dalam pemenuhan hak-hak seseorang sebagai anggota
keluarga, warga masyarakat, dan hak sebagai manusia.

Di wilayah purwokerto sendiri anak jalanan memiliki karakteristik yang komplek dan ini hampir sama dengan yang ada di kota besar lainnya. Namun tidak menutup kemungkinan terdapat kekhasan tersendiri. Dari hasil wawancara peneliti terhadap anak jalanan menunjukkan bahwa anak jalanan di Purwokerto kebanyakan anak usia sekolah dan lanjut usia, kecuali yang memiliki kekurangan tubuh (fisik). Aktifitas mereka ialah menjadi pengamen, peminta-minta di perempatan lampu lalu lintas, pemulung, sampai penjual koran. Di lihat dari tempat tinggalnya, mereka banyak bermalam-terutama- di kolong jembatan, yakni jembatan sungai banjaran (sebelah barat kantor cabang BRI Purwokerto), bila sudah tidak ada tempat baru tidur di teras pertokoan sepanjang jalan Jendral Soedirman sampai daerah pasar Wage. Ini bagi anak jalanan yang idak mempunyai keluarga.

Perlu diketahui pula bahwa anak jalanan yang ada di kota Purwokerto banyak yang bukan asli warga purwokerto, namun berasal dari luar kota dan mereka juga berpindah kota. Itu artinya anak jalanan tersebut akan berpindah sesuai kebutuhan dan keramaian kota, bukan hanya di Purwokerto saja, mereka berpindah menuju kota Bandung, Semarang, Jakarta, dan Surabaya melalui jasa angkutan kereta api. Data dari Dinas Sosial menunjukan bahwa anak jalanan di Purwokerto masih sulit dilacak, mungkin karena berpindah-pindahnya anak jalanan tersebut. Data yang terdapat pada Dinas Sosial mengenai anak jalanan yang sudah berada di rumah singgah yang bertempat dikomplek terminal lama Purwokerto.

Penelitian pada lima nara sumber, masing masing adalah:

a. Yanto; dia berasal dari Sukabumi, sekarang berumur kurang lebih 20. Datang ke Purwokerto pada tahun 2004, pendidikannya hanya SD dan pesantren sampai tingkat ‘aliyah, selain KTP hilang, untuk mendapatkan pekerjaan pun sulit karena rendahnya keterampilan dan relasi yang dimilikinya. Akhirnya demi kebutuhan sehari-harinya, dia memutuskan mangkal di pertigaan sawangan sambil mencari barang bekas (rongsok). Setiap harinya dia bertempat tinggal di bawah jembatan kali Banjaran yang berada di sebelah barat Bank BRI. Dia juga menceritakan betapa tidak nyamannya tempat tersebut untuk dihuni, sebenarnya dia lebih suka tidur di depan pertokoan, namun hal terkendala oleh persaingan dengan sesama teman jalanan, apalagi ketika air kali meluap, kumpulan barang-barang bekas pun terhanyut sehingga menambah kesulitan.

b. Sunani; berasal dari Malang, datang ke Purwokerto tidak jauh dengan Yanto, tahun 2004. Pekerjaan yang dilakukan bersama Yanto khusus sebagai pengemis, biasa mangkal di pertigaan sawangan, tempat tinggalnya juga di bawah jembatan kali banjaran. Kadang ia juga pergi ke luar kota untuk pekerjaan yang sama; beberapa kota yang pernah di singgahinya antara lain: semarang, jakarta, surabaya, dan bandung. karena adanya rangsangan kebutuhan ekonomi, pekerjaan itu menjadi satu-satunya keterampilan yang dimilikinya karena kendala dalam berbicara (sulit melafadkan kata-kata)

c. Yunis, berasal Lampung, awalnya datang ke Cilacap lalu pindah ke Purwokerto yang dianggap kotanya lebih ramai. Awalnya mencari pekerjaan, walau serabutan, namun untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, kadang ia tidak punya pekerjaan hingga mengantarkannya untuk menjadi tukang rongsok. Dia biasanya tidur di depan pertokoan Rita belakang Masjid Agung Purwokerto. Tempat yang biasa di jadikan objek adalah radius antara jalan Wiryaatmaja (jln. Bank), jalan Masjid, jln. Jend. Soed. dan jln. Gatot Subroto.

d. Andre dan Pandawa; keduanya adalah kakak beradik, masing-masing umurnya adalah tiga dan sembilan tahun, dia asli Purwokerto, tepatnya daerah Rejasari. Tempat beroperasinya adalah perempatan jl. Gatot Subroto (menuju alun-alun). Andre sekolah di SD kelas tiga, sedangkan pandawa belum masuk sekolah, sebenarnya dia masih mempunyai orang tua lengkap. Hal ini terjadi hanya karena ayahnya berhenti bekerja di stasiun sebagai cleaning service yang sampai sekarang tidak bekerja lagi, kebetulan penulis tidak menanyakan saudaranya ada berapa, karena terbatasnya waktu, yakni saat sebelum maghrib.mereka bekerja sebagai pengemis, yang merupakan suruhan orang tuanya untuk membantu memenuhi kebutuhan sehari-harinya.

Gambaran di atas adalah gambaran sesuai dengan karakteristik fisiknya. Adapun gambaran anak jalanan secara psikologis sangat berbeda dengan anak pada umumnya. Anak jalanan cenderung agreseif, mudah curiga, mudah emosi dan sedikit tertutup. Setidaknya hal tersebut terlihat ketika penulis meng-interview mereka. Pertama mereka melihat kami, ekspresi muka yang muncul pertama kali terlihat seperti orang ketakuta. Kemudian kami coba ajak bicara dan lama-kelamaan mereka mudah untuk berkomunikasi. Bagi penulis, wajar bila mereka berlaku demikian. Setidaknya ada beberapa hal yang mengkonstruk jiwa mereka, pertama, kebiasaan hidup dijalanan dengan iklim yang berbeda, kedua, jiwa mereka masih belum stabil dikarenakan antara keinginan dengan kenyataan selalu berbenturan, ketiga, jarang bergaul dengan orang secara terbuka dan hanya bergaul sesama anak jalanan saja.

C. Strategi Dakwah Masyarakat Marginal

1. Strategi Dakwah dari Segi Materi

Materi dalam konteks dakwah adalah sesuatu hal yang disampaikan kepada mad’u dengan tujuan menjalankan syariat agama. Umumnya materi dakwah erat kaitannya dengan ajaran-ajaran yang disyariatkan oleh agama Islam. Muaranya adalah bagaimana materi disampaikan kemudian orang yang menerimanya mempunyai akhlak yang mulia.

Pada tataran inilah materi harus disesuaikan dengan kondisi mad’unya. Tidak mungkin antara satu mad’u dengan mad’u yang lain sama dalam pengertian cara berpikir. Apabila setiap orang mempunyai cara berpikir yang tidak sama maka bagaimana mungkin materi disamakan dalam penyampaiannya. Alhasil setiap orang akan menerima materi dengan mudah kemudian dengan pengetahuan yang didapatkan menjalankan apa yang menjadi kewajibannya. Maka klasifikasi materi dengan memandang mad’u menjadi sebuah kewajiban.

Memang secara umum materi dakwah adalah materi yang memuat aspek duniawi dan ukhrawi. Namun karena mad’u nya adalah anak jalanan maka konsep yang ditawarkan sebagai berikut:

a. Materi motivasi diri

Materi pertama yang wajib disampaikan adalah motivasi diri. Latar belakangnya adalah bahwa motivasi menjadi anak jalanan dikarenakan kemiskinan. Artinya anak jalanan harus diberi bekal bahwa menjadi anak jalanan dalam pandangan sosial tidak layak. Mereka harus bangkit dari prasangka bahwa hidup dalam kemiskinan tidak harus menjadi anak jalanan. Mereka masih bisa berkarya meski dalam keterpurukan.

Para anak jalanan belum sadar dan belum paham betul mengenai praktik agama. Terlihat dari penampilan yang semrawut, pakaian selalu kotor, dan tubuh yang penuh dekil. Berarti dalam satu kesimpulan anak jalanan tidak terlalu memikirkan kehidupan akhirat. Fokus pikiran mereka terorientasi pada bagaimana dapat hidup layak bagai orang kaya. Sedikit sekali dari mereka yang mempunyai motivasi untuk bangkit dari anak jalanan.

Praktik pemberian motivasi ini dapat diberikan disetiap kesempatan. Hal ini digunakan dalam rangka membangun emosional antara anak jalanan dengan Da’i. Dengan hubungan emosional tersebut diharapkan dapat menjadi sebuah kelekatan. Akhirnya tidak ada kecurigaan yang mendasar bagi anak jalanan terhadap Da’i. Bahkan jika memungkinkan selalu mendampingi mereka dikala letih dari aktivitasnya. Justru mereka sangat senang jika ada seseorang yang mendampingi mereka belajar mengenai kehidupan baik dari sisi agama maupun berkarya dalam hidup. Setidaknya pernyataan Yanto dapat menjadi bukti bahwa mereka sangat membutuhkan teman dalam hidup.

“Sebenarnya kita ingin sekali ada orang yang menemani kita di sini….ya..hanya sekedar ngobrol…gendu-gendu rasa gitu….”

Kemudian tidak hanya Yanto yang menginginkan seperti itu, bahkan dari semua anak yang di-interview mengaku bahwa mereka ingin mendapat perhatian dari masyarakat. Maka wajib bagi seorang da’i dalam menyampaikan isi materi dakwah adalah yang berkaitan dengan motivasi hidup. Apabila materi yang disampaikan berisi kehidupan akhirat justru mereka tidak mempercayainya.

Motivasi yang disampaikan berupa:

1) Motivasi bahwa hidup adalah perjuangan

2) Setiap orang berhak dan bisa hidup layak sesuai dengan apa yang dilakukannya

3) Manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna

4) Manusia hidup di dunia tidak selamanya

Penekanan dalam materi motivasi ini adalah kebangkitan diri menuju pribadi yang mandiri. Kebangkitan ini didapat dari semangat hidup yang progesif. Memang secara teknis membutuhkan waktu yang lama sampai mereka sadar dan tidak menjadi anak jalanan kembali. Namun demi tugas yang mulia dan kepedulian sesama, waktu bukan menjadi halangan.

Tahapan yang ditempuh untuk selalu memberi motivasi adalah:

1) Mengetahui nama dan tempat tinggal

2) Mengetahui latar belakang baik sosial, pendidikan, ekonomi dan sebagainya.

3) Mengetahui karakteristik/kepribadian yang dimiliki

4) Mengetahui kebutuhan apa yang diinginkan

Keempat tahapan tersebut masih bisa ditambah dengan yang lain sesuai dengan kebutuhan yang ada. Namun setidaknya keempat tahapan tersebut dapat menjadi acuan bagi seorang Da’i untuk dapat menyampaikan materi kepada anak jalanan.

b. Materi mengenai Pemberdayaan Hidup (segi ekonomi)

Materi yang selanjutnya disampaikan adalah materi yang berkenaan dengan praktik mencari penghasilan. Penyampaian materi ini diarahkan agar anak jalanan mampu mencari uang selain menjadi anak jalanan. Materi ini bisa bekenaan dengan kewirausahaan di bidang ketrampilan, peternakan, perikanan, bisnis dan sebagainya. Penyampaian materi ini harus sesuai dengan potensi yang dimiliki setiap anak agar nantinya dapat diterima dan dapat dilaksanakan sesuai dengan kesanggupan masing-masing.

Penyampaian materi ini tidak terbatas kepada teoritiknya saja tetapi sekaligus praktiknya. Mereka pertama dibekali dengan teori-teori yang dibutuhkan kemudian dilanjutkan dengan praktiknya. Prinsip yang digunakan adalah advokasi yang intensif. Mereka selalu dikawal bahkan kemudian perlu mereka dibantu dari segi produktivitasnya dan distribusinya. Jangan sampai materi yang sudah dicerna dan dipraktekan mengalami kejumudan dan kebuntuan. Semakin sering mereka didampingi dan diperhatikan maka semakin besar angka keberhasilan penyampaian materi mengenai pemberdayaan hidup.

Penulis menyempitkan pada pemberdayaan hidup dari segi ekonomi dikarenakan memang inilah yang menjadi dasar bagi berkembangnya anak jalanan. Materi ini sangat tepat bila dikaitkan dengan alasan anak-anak hidup di jalanan. Bila materi semacam ini tidak disampaikan, maka pengetahuan mereka mengenai mencari nafkah hanya terbatas menjadi pengamen, peminta, bahkan pencopet dan sebagainya. Tentunya ketika menyampaikan materi ini harus dilakukan oleh orang-orang yang benar-benar ahli pada bidangnya. Sebagai contoh, ketika memberikan materi mengenai perikanan, maka yang wajib mengisi adalah orang yang berkecimpung di dunia perikanan. Jika harus melalui lembaga pemerintah maka tepat jika mengundang pembicara dari Dinas Perikana dan Peternakan. Sehingga materi tersampaikan dengan jelas dan mampu diserap oleh para mad’unya.

c. Materi mengenai Agama

Materi agama adalah materi yang paling puncak dalam berdakwah. Materi agama adalah tujuan utama dalam berdakwah. Maka setelah anak jalanan sadar akan hidup dan mempunyai harta yang dirasa cukup sebagai bekal hidup, barulah materi agama disampaikan. Diharapkan materi agama mampu dicerna dengan sempurna dan dapat dipraktekan dengan sempurna pula.

Adapun materi agama yang perlu disampaikan antara lain:

1) Materi yang berhubungan dengan akidah

Akidah-dalam pandangan agama-adalah fondasi utama dalam beragama. Dengan mengetahui akidah maka seseorang akan mengetahui siapa Tuhannya, malikat, kitab suci, Nabi-nabi dan sebagainya. Penekanan pada akidah akan berimplikasi pada ibadah yang dilakukan karena luasnya pengetahuan tentang akidah sejalan dengan apa yang diamalkannya. Maka materi ini wajib disampaikan kepada anak jalanan.

2) Materi yang berhubungan dengan syari’ah

Ketika akidah sudah tertancap dalam, maka syariah harus diajarkan kemudian. Materi syariah ini akan membantu seseorang dalam menjalankan ibadahnya bahkan mempermudahnya. Sebagai contoh bagaimana anak jalanan akan bisa sholat jika tidak pernah diajarkan mengenai tata cara sholat yang benar. Materi syariah bisa berupa syariah tentang hukum, tata cara ibadah atau bahkan muamalah yang berkaitan dengan bagaimana bergaul dengan sesama manusia.

3) Materi yang berhubungan dengan akhlaq

Sebagai materi yang selanjutnya, materi akhlak menjadi tuntutan dalam penyelenggaraan materi. Karena, seseorang akan dinilai baik manakala akhlaknya baik. Bagaimanapun pintarnya seseorang atau kaya raya tetapi ketika akhlaknya rusak maka tetap dianggap bukan orang baik. Maka penting bagi anak jalan diajrkan mengenai akhlak sehingga mereka akan tahu bagaimana harus hidup dalam masyarakat.

2. Strategi Dakwah dari Segi Metode

Pada dasarnya dakwah merupakan ajarana agama yang ditujukan sebagai rahmat untuk semua, yang membawa nilai-nilai positif, misalnya rasa aman, sejahtera, dan nyaman. Ada dua segi dakwah yang tidak dapat dipisahkan, namun dapat dibedakan, yaitu dua hal yang menyangkut isi dan bentuk, pesan dan cara penyampaian, esensi dan metode. Semuanya harus padu, hanya saja, perlu disadari bahwa isi, substansi, pesan, dan esensi senantiasa mempunyai dimensi universal yang tidak terikat oleh ruang dan waktu. Dalam hal ini substansi dakwah adalah pesan keagamaan itu sendiri. inilah sisi pertama sebagai sisi primer.

Sisi kedua yakni sisi bentuk, cara penyampaian, dan metode. Semuanya dapat berbeda-beda menyesuaikan tuntutan ruang dan waktu. Dalam hal ini al-Qur’an mengatur dan menjelaskan segala sesuatu yang berkenaan dengan dakwah, baik dari segi substansi maupun metodologi. Secara singkat dakwah dapat dirumuskan sebagai berikut :

1. Apa, adalah ajaran islam dengan berbagai dimensi dan substansinya. Ia dapat dikutip dan ditafsirkan dari sumbernya, yaitu al-Qura’an dan hadits. Lebih populernya, apa ini dikenal sebagai materi atau pesan dakwah.

2. Siapa pertama, ialah yang menyeru atau menyampaikan dan disebut sebagai da’i. Dalam kehidupan masyarakat Indonesia siapa dikenal dengan mubaligh atau juru dakwah, lebih luasnya sebagai pengelola dakwah.

3. Siapa kedua, adalah sasaran dakwah atau mad’u. Ia adalah peserta dakwah, baik perseorangan maupun kolektif, laki-laki dan perempuan, anak-anak dan dewasa. Siapa ini disebut sebagai obyek atau target dakwah.

4. Cara, menunjukan metode yang digunakan dalam kegiatan dakwah. Ia adalah alat dakwah yang menjadi kelengkapan dari metode.

5. Saluran, merupakan media yang digunakan dalam berdakwah. Ia dapat berupa saluran langsung maupun melalui media untuk dakwah dalam jarak jauh, seperti radio dan televisi.

6. Untuk, menunjukan tujuan dakwah. Ia dapat dirumuskan dalam bentuk tujuan yang spesifik sampai tujuan yang umum.

Dari pemaparan di atas dapat diketahui betapa pentingnya metode sebagai salah satu unsur dalam proses penyampaian dakwah islam. Metode dalam dakwah secara garis besar dibagi menjadi dua, yaitu dakwah bil qaul dan bil af’al. Dari kedua metode tersebut melahirkan empat macam kegiatan dakwah, yakni pertama tabligh dan ta’lim, kedua irsyad, ketiga tathwir, dan keempat tadbir.

Tabligh dan ta’lim dilakukan dalam rangka pencerdasan dan pencerahan masyarakat melalui kegiatan pokok, seperti sosialisasi, internalisasi dan eksternalisasi nilai ajaran islam, dengan menggunakan sarana mimbar dan media massa baik cetak maupun elektronik. Irsyad dilakukan dalam rangka pemecahan masalah psikologis melalui kegiatan, seperti: bimbingan penyuluhan pribadi dan bimibingan penyuluhan keluarga. Tadbir dilakukan dalam rangka perekayasaan sosial dan pemberdayaan masyarakat dalam kehidupan yang lebih baik, peningkatan kualitas sumber daya manusia, dan pranata sosial keagamaan, serta menumbuhkan kembangkan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat, dengan kegiatan pokok misalnya : penyusunan kebijakan, perencanaan program, pembagian tugas dan pengorganisasian, pelaksanaan dan pemonitoran serta evaluasi dalam pembangunan masyarakat dari aspek perekonomian dan kesejahteraannya. Dengan kata lain, tadbir berkaitan dengan dakwah melalui pembangunan.

Tathwir (pengembangan masyarakat) dilakukan dalam rangka peningkatan sosial budaya masyarakat, yang dilakukan dengan kegiatan pokok seperti : pentransformasian dan pelembagaan nilai-nilai ajaran islam dalam realitas kebudayaan, penggalangan ukhuwah islamiyah, dan pemeliharaan lingkungan.

Secara umum, dakwah yang berkembang di masyarakat lebih banyak menggunakan metode bil lisan melalui ceramah baik tabligh, ta’lim, maupun irsyad. Hal itu karena obyek dakwah atau mad’u-nya adalah para bapak-bapak atau ibu-ibu yang sudah mapan terutama dari segi ekonomi, kemudian mereka mengikuti pengajian atau majlis taklim di waktu yang sudah ditentukan mereka sendiri, misalnya ketika waktu senggang dari pekerjaan, ketika ada jadwal pengajian di majlis taklim, dan ketika di moment-moment tertentu. Namun dalam penelitian ini ialah mencari bagaimana metode yang tepat untuk anak jalanan. Para anak jalanan tersebut kebanyakan tidak mempunyai mata pencaharian yang jelas, kehidupannya sangat bergantung pada situasi dan kondisi atau nasib. Selain itu pola kehidupannya lebih emosional, peka, dan sensitif terhadap hal-hal yang berkaitan dengan kebutuhan pokok sehari-hari, dan kadang-kadang mereka tidak mempunyai tempat tinggal yang jelas, sehinga harus berpindah-pindah tempat serta memiliki tingkat pemahaman, sikap, dan persepsi tentang keagamaanya relatif kurang.

Dari rutinitas atas indikator tersebut nampak bahwa para anak jalanan jelas jauh berbeda dengan kondisi peserta pengajian di majlis-majlis taklim. Karena mereka harus memikirkan cara untuk memenuhi kebutuhan utama mereka, yakni makan. Oleh karena itu, metode dakwah melalui ceramah kurang berfungsi bagi anak jalanan. Anak jalanan di sini dapat dikatakan sebagai seorang praktisi (jabarkan arti praktisi), maka dari beberapa pemaparan metode dakwah di atas, metode yang sesuai bagi anak jalanan ialah metode dakwah bil amal (dalam hal ini tadbir dan tathwir), yakni keterlibatan dai dalam pengentasan kemiskinan, pencarian solusi dari persoalan-persoalan yang dihadapinya. Dapat juga dilakukan dengan pemberdayaan fungsi institusi-institusi sosial melalui upaya kondisioning dalam pemahaman, sikap, dan persepsi tentang keberagamaan dan pembangunan manusia seutuhnya. Dengan adanya rumah singgah, panti jompo, panti anak yatim, serta program anak asuh dapat dimanfaatkan untuk upaya kondisioning anak jalanan tersebut dengan mengadakan seminar keterampilan, penyuluhan, dan pelatihan-pelatihan. Tidak berhenti di situ, memberi channel atau relasi juga dibuka agar dapat memasarkan hasil karya anak jalanan atau pun untuk memudahkan mendapatkan pekerjaan yang layak.

Di sini intelektualitas seorang dai harus benar-benar teruji, ia harus bisa menyampaikan materi dakwah sebaik mungkin. Bisa dikatakan dai tersebut dalam dakwahnya harus melalui pendampingan intens. Melihat dari materi dakwahnyanya, maka dai tidak bisa memandang agama hanya berkutat pada pembahasan tentang Tuhan dan kehidupan yang akan datang. Masalah agama merupakan pembebasan manusia dan dunia dari kemiskinan maupun penindasan atas nama agama. Maka sebaiknya agama dipahami sebagai wacana budaya, sehingga ketika tersentuh manusia, wahyu Tuhan akan berubah menjadi masalah kebudayaan. Praktik keagamaan dan dakwah yang berlebihan dalam “mengurus Tuhan” akan membuat agama dan dakwah cenderung tidak manusiawi dan tidak peduli terhadap berbagai persoalan konkret yang dihadapi manusia. Jadi upaya dakwah itu bukan hanya proses mengenalkan manusia kepada Tuhannya, melainkan sebuah proses transformasi sosial.

3. Strategi Dakwah dari Segi Instrumen

Kebanyakan dakwah yang dilakukan oleh para da`i dengan metode ceramah menggunakan microvon atau pengeras suara dan panggung maupun podium, namun pada formulasi dakwah anak jalan dimana metode yang digunakan bukan lagi ceramah maupun pengajian, melainkan berupa penyuluhan maupun pelatihan-pelatihan maka secara otomatis instrumen dakwah yang digunakan pun berubah bukan lagi microvon maupun pengeras suara dan podium melainkan berupa modul, makalah petunjuk praktik dan alat-alat praktik sesuai dengan penyuluhan dan pelatihan yang dilakukan. Misalnya pelatihan yang dilakukan berupa ketrampilan menjahit maka instrumen atau alat yang digunakan berupa mesin jahit, bahan kain, benang, gunting, meteran pengukur baju dan lain sebagainya. Itu jika obyek yang dibidik dari segi ekonomi. Apabila dibidik dari segi keluarga, dimana seorang anak jalanan memiliki masalah dengan kelurga misalnya broken home maka formulasi dakwahnya bukan sekedar ketrampilan fisik seperti menjahit tetapi juga berupa penyuluhan bagaimana seorang anak dapat bermanfaat bagi keluarga seperti memberikan penghasilan. Dimana semua itu kembali kepada faktor ketrampilan juga.

Sebagai suatu formulasi dakwah bagi kaum marginal (anak jalanan) maka tempat tinggal sebagai instrumen terpenting dalam kehidupan mereka yang menunjang terlaksananya kegiatan dakwah dan transformasi ilmu dan ketrampilan bukanlah berupa masjid, mushalla, surau maupun pondok pesatren atau juga madrasah diniyyah melainkan berupa sebuah rumah atau gubuk sebagai tempat berteduh sekaligus tempat berlangsungnya transformasi ilmu dan ketrampilan juga pusat kegiatan dimana bisa dikatakan rumah singgah, dimana rumah tersebut dibangun atau dibiayai dari iuran sedikit hasil kerja atau aktifitas keseharian mereka.

Untuk lebih mudah didalam memahami mengenai instrumen dakwah sebagai wujud formulasi dakwah bagi anak jalanan maka dapat dilakukan klasifikasi sebagai berikut:

1. Instrumen melalui lisan. Instrumen ini bukan sekedar ceramah belaka dalam bentuk dakwah pengajian belaka melainkan berupa penyuluhan dan pelatihan untuk menyampaikan materi dakwah. Materi dakwah yang dimaksud adalah yang sesuai dengan pembahasan materi dakwah di atas.

2. Instrumen dalam bentuk tulisan berupa modul, makalah maupun buku pedoman praktik materi dakwah. Karena modul maupun buku panduan dianggap penting dan obyek yang dituju adalah anak jalanan yang rata-rata tingkat pendidikannya rendah, maka bahasa yang digunakan harus sebisa mungkin mudah untuk dipahami. Maka buku panduan dapat memuat gambar-gambar petunjuk dengan keterangan yang mudah dipahami.

3. Instrumen lain yaitu audio visual yang digunakan pada saat kegiatan pelatihan berlangsung. Hal ini dapat berupa LCD, OHP maupun tampilan slide peraga pelatihan. Hal ini bertujuan agar materi yang disampaikan oleh seorang da`i atau pemateri dapat lebih mudah dipahami oleh mereka.

4. Praktik langsung dengan alat-alat peraga. Dalam hal ini berarti sang mad`u (anak jalanan) berperan langsung dalam kegiatan praktik tersebut, bahkan mereka sendiri yang berperan secara aktif, dimana semua itu bertujuan agar mereka benar-benar memahami dan dapat menerapkan secara langsung tentang materi yang disampaikan sehingga materi tersebut menjadi suatu ketrampilan bagi mereka.

Pada dasarnya, instrumen dakwah secara umum dapat menggunakan berbagai instrumen yang dapat langsung merangsang indra-indra manusia serta dapat menimbulkan perhatian untuk memerima dakwah dan juga dapat benar-benar menguasainya sehingga dapat berguna bagi sang mad`u di dalam kehidupan sehari-harinya, baik yang berhubungan dengan ibadah maupun amaliyah sosial masyarakat.

Setelah melakukan klasifikasi terhadap instrumen dakwah, maka hal selanjutnya yang harus diperhatikan dalam menggunakan instrumen dakwah agar instrumen yang ada dapat digunakan secara efektif dan efisien sesuai dengan kebutuhan dakwah antara lain sebagai berikut :

1. Mempertimbangkan ketiga unsur formulasi dakwah tersebut baik dari segi materi, metode serta instrumen yang digunakan harus sesuai dan saling mendukung antara ketiga unsur tersebut.

2. Mempertimbangkan antara instrumen yang digunakan dengan peserta atau mad`u, dimana pertimbangan terpenting adalah latar belakang anak jalanan tersebut, sehingga dapat lebih mudah di dalam mengajarinya.

3. Mengupayakan tempat berlangsungnya kegiatan senyaman mungkin sehingga dapat menimbulkan suasana yang tentram dan melupakan sedikit beban kehidupan yang selama di luar rumah penuh dengan perjuangan dan tantangan yang keras.

4. Mengajarkan kepada anak-anak sebagai peserta kegiatan untuk memelihara dan merawat instrumen yang telah ada.

5. Upaya pengayaan instrumen yang telah ada dengan berbagai upaya seperti mengajukan bantuan kepada lembaga-lembaga kemasyarakatan yang ada maupun mengoptimalkan fungsi zakat terutama bagi anak yatim, fakir miskin dan anak jalanan yang notabenenya adalah kaum dhuafa.

BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan

Sebagai bagian dari masyarakat yang memiliki hak dan kewajiban yang sama meski secara status sosial di masyarakat tergolong rendah. Anak jalanan tetap harus mendapatkan perhatian dan sentuhan baik dari pemerintah maupun agamawan (umara dan ulama). Hal ini dikarenakan bahwa anak jalanan juga memiliki potensi yang sama dengan anak-anak yang lain baik dari segi fisik maupun mental. Namun kendala secara ekonomi dan kelurga sebagai faktor utama mereka harus terjun ke jalan yang menyebabkan potensi-potensi yang mereka miliki tidak dapat secara maksimal untuk dieksplorasi.

Anak jalanan, yang sehari-harinya hidup dan memperoleh penghidupan di jalanan sudah pasti menghadapi berbagai macam gangguan dan ancaman. Selain itu juga kesempatan untuk dapat tetap menuntut ilmu atau sekadar melaksanakan kewajiban agama sangat sulit, hal itu tidak hanya disebabkan karena ancaman melainkan kesadaran mereka yang rendah terhadap kewajiban-kewajiban agama. Hal itu terjadi karena mereka dituntut untuk mendapatkan sesuap nasi demi kelangsungan hidup mereka yang harus diperoleh dengan penuh susah payah.

Meski demikian, anak jalanan sebenarnya dapat diberdayakan dengan berbagai upaya dan dari berbagai kalangan untuk mengeksplorasi potensi-potensi yang mereka miliki sebagai bekal bagi mereka untuk mendapat kesempatan belajar dan setitik asa meraih masa depan yang lebih baik.

Usaha-usaha yang dilakukan sebagaimana yang kami teliti dan kami laporkan dalam tulisan ini adalah berangkat dari dakwah yang kami formulasikan bagi mereka anak jalanan sebagai bagian dari kaum marjinal. Dakwah yang berupa pemberdayaan potensi-potensi yang ada pada mereka melalui berbagai pelatihan dan penyuluhan akan memberi mereka suatu ketrampilan yang mereka butuhkan.

Pelatihan-pelatihan tersebut berupa penyuluhan, pelatihan ketrampilan dan juga pendampingan. Dimana sisi dakwah yang dibawa adalah materi bagaimana mereka memiliki motivasi untuk hidup dengan lebih layak. Karena apabila materi dakwah yang kami bawa hanya seputar ibadah dan akhirat akan membuat mereka semakin jauh dengan agama dan akhirat dan bahkan tidak akan mempercayainya karena bagi mereka yang penting ialah bagaimana bisa makan dan tetap hidup.

Kesimpulan ini juga merupakan rangkuman jawaban atas pertanyaan yang telah diuraikan pada bab awal yakni bagaimanakah strategi dakwah yang tepat bagi anak jalanan, strategi dakwah yang tepat bagi anak jalanan ialah bagaimana dakwah itu dapat berperan memberikan sentuhan abik dari segi fisik maupun rohani yakni sisi spiritual. Dari segi fisik dakwah diformulasikan dalam bentuk pelatihan-pelatihan dalam bentuk latihan ketrampilan dan penyuluhan dengan materi, metode dan sarana yang juga diformulasikan secara khusus bagi anak jalanan. Dari segi rohani adalah bagaimana memberi mereka motivasi untuk menatap hidup secara optimis dan terpenuhinya kebutuhan secara spiritual. Kebutuhan secara spiritual minimalnya mereka itu sadar tentang kewajiban mereka terhadap perintah agama dan penguasaan mengenai pokok-pokok agama seperti hal-ihwal ibadah sehari-hari.

DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi, Abu.1988, Ilmu Sosial Dasar.Jakarta: Bina Aksara, 1988

Bachtiar, Wardi. 1997. Matodologi Penelitian Ilmu Dakwah. Jakarta: Logos.

Efendi, Onong Uchjana. 1993. Ilmu, Teori dan Filsafat Komunikasi. Bandung : Citra Aditya Bakti.

Harahap, Nasruddin. 1992. Dakwah Pembangunan.Yogyakarta.: DPD Golongan Karya Tingkat 1.

Fatmawati, Farah. 2007, Fenomena Anak Jalanan: Studi tentang Budaya Anak Jalanan ForKoMI Desa Sokaraja Lor Kec. Sokaraja Kab. Banyumas. Purokwerto: STAIN Purwokerto

Hasjmy. 1974. Dustur Dakwah Menurut Al-Qur’an. Jakarta: Bulan Bintang.

Koentjaraningrat. 1990, Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Omar, Toha Yahya. 1971. Ilmu Dakwah. Jakarta: Wijaya.

Suparta, Munzier & Hefni, Harjani, 2003, Metode Dakwah, Jakarta: Prenada Media.

Tasmara, Toto. 1987. Komunikasi Dakwah. Jakarta: Gaya Media Pratama.