<script async src="//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js"></script> <!-- iimrohimah --> <ins class="adsbygoogle" style="display:inline-block;width:468px;height:60px" data-ad-client="ca-pub-4533907847127524" data-ad-slot="6841261291"></ins> <script> (adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({}); </script>

Senin, 03 Juni 2013

Makalah tentang Bayi Tabung

Bayi Tabung

A. PENDAHULUAN
          Salah satu tujuan pernikahan adalah untuk memperoleh anak dan keturunan yang sah dan bersih nasabnya, yang dihasilkan dengan cara yang wajar dari pasangan suami istri. Sebuah rumah tangga akan terasa gersang dan kurang sempurna tanpa ada anak-anak, sekalipun rumah tersebut berlimpah ruah dengan harta benda dan kekayaan. Dari anak diharapkan keberadaannya tidak saja karena ia diharapkan dapat memberikan kepuasan batin ataupun juga dapat menunjang kepentingan-kepentingan duniawi, tetapi lebih dari itu anak dapat memberikan kemanfaatan bagi orang tuanya kelak jika sudah meninggal.
         Namun tidak semua pasangan suami istri dapat mempunyai keturunan sebagaimana yang diharapkan karena ada beberapa faktor yang menyebabkan tidak dapat seorang istri mengandung, baik dari pihak suami maupun istri itu sendiri.

            Bayi tabung (insemnia buatan) merupakan salah satu alternatif yang dapat ditempuh oleh suami istri yang mandul. Dengan hasil sperma sendiri, insemnia buatan itu tidaklah ada masalah, tetapi ketika sperma tersebut bukan berasal dari suami yang sah, hal ini menimbulkan masalah yang sangat kompleks karena harus dilihat dari semua sisi.

B. PEMBAHASAN
1. Pengertian Bayi Tabung
        Bayi tabung (tets tube baby) yang kita kenal adalah bayi yang didapatkan melalui proses pembuahan yang dlakukan di luar rahim sehingga terjadi embrio tidak secara almiah, melainkan dengan bantuan ilmu kedokteran. Secara sederhana, bayi tabung adalah proses pembuahan sel telur dan sperma di luar tubuh ibu, istilahnya in vitro vertilization (in vitro bahasa latin, artinya “dalam gelas atau tabung,” vertilization artinya pembuahan). Dalam proses bayi tabung, sel telur matang diambil dari indung telur ibu, dibuahi dengan sperma di dalam medium cairan. Setelah berhasil, embrio kecil yang terjadi dimasukkan ke rahim dengan harapan berkembang menjadi bayi.
         Dalam kehidupan modern dewasa ini ada kemungkinan seorang istri menghamilkan suatu benih laki-laki bukan melalui jalur biasa yaitu melalui hubungan kelamin. Tetapi melalui cara suntikan atau operasi, sehingga benih laki-laki itu ditempatkan ke dalam rahim istri (wanita) itu sampai dia mengandung. Karena benih laki-laki itu disimpan lebig dulu dalam suatu lubang, maka kehamilan seprti itulah yang disebut kehamilan bayi tabung.
           Kedua sel kelamin (sel telur dan sperma) dibiarkan bercampur (zygota) dalam tabung sehingga terjadilah fertilasi Zygota yang digasilkan berkembang dalam tabung reaksi, sehingga menjadi morulla. Morulla yang terbentuk melalui teknik embrio tranfer dinidasikan ke rahim seorang ibu yang telah disiapkan. Akhirnya ibu akan hamil.
      Sejarah singkatnya bayi tabung mulai paa tahun 1780, Sapalanzi seorang pendeta Katolik berkebangsaan Itali berhasil memnuahi seokor anjing betina dengan jalan memasukkan mani jantan ke dalam rahim anjing betina tanpa disetubuhi oleh si jantan. Sepuluh tahun setelah percobaan Sapalanzi ini, dilakukan pula bayi tabung terhadap manusia untuk pertama kalinya.
        Ada beberapa teknik bayi tabung yang telah dikembangkan dalam dunia kedokteran, antara lain:
a. Fertilazation in Vitro (FIV) dengan cara mengambil sperma suami dan ovum istri kemudian diproses di vitro (tabung), dan setelah terjadi pembuahan, lalu ditransfer di rahim istri.
b. Gamet Intra Felopian Tuba (GIFT) dengan cara mengambil sperma suami dan ovum istri, dan setelah dicampur terjadi pembuahan, maka segera ditanam di saluran telur (tuba palupi).
2. Motivasi Dilakukan Bayi Tabung
          Wajar bilamana pasangan suami istri yang mandul berusaha dengan segala daya dan upaya serta kemampuannya yang ada agar dapat memperoleh anak, mengingat begitu penting anak , baik bagi kesenangan duniawi maupun sebagai salah satu simpanan untuk di akhirat nanti.
          Berkat kemajuan teknologi yang canggih, khususnya di bidang kedokteran telah ditemukan cara penghamilan buatan yang disebut inseminasi buatan yang sederhana, ilmiah dan mudah dilaksanakan sebagai salah satu alternatif bagi pasangan yang mandul.
        Namun untuk masa sekarang ini bayi tabung tidak hanya untuk menolong pasangan yang mandul, tapi juga mengandung motivasi lain yaitu:
a. Untuk mengembangkan secara cepat.
b. Untuk menciptakan manusia jenius, ideal sesuai keinginan.
c. Alternatif bagi wanita yang ingin punya anak tetapi tidak mau menikah.
d. Untuk percobaan ilmiah.
3. Hukum Bayi Tabung Pada Manusia
        Masalah Insemnia buatan pada manusia (bayi tabung) menurut pandangan Islam termsuk masalah kontemporer ijtihadiah, karena tidak terdapat hukumnya secara spesifik di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah bahkan dalam kajian fiqh klasik sekalipun. Karena itu, kalau masalah ini hendak dikaji menurut hukum Islam, maka harus dikaji dengan memakai metode ijtihad yang lazimnya dipakai oleh para ahli ijtihad (mujtahidin), agar dapat ditemukan hukumnya yang sesuai dengan prinsip dan jiwa Al-Qur’an dan As-Sunnah yang merupakan sumber pokok hukum Islam. Namun, kajian masalah bayi tabung ini seyogyanya menggunakan pendekatan multidisipliner oleh para ulama dan cendekiawan muslim dari berbagai disiplin ilmu yang relevan, agar dapat diperoleh kesimpulan hukum yang benar-benar proporsional dan mendasar. Misalnya ahli kedokteran, peternakan, biologi, hukum, agama, dan etika.
           Dalam kaidah-kaidah fikih terdapat pilihan hukum, pilihan mana yang iambil mengacu kepada nilai-nilai yang dianut oleh yang bersangkutan tentang keyakinan akan kebenaran, kebaikan, kemaslahatan, dan hati nuraninya, yang tersimpul dalam kearifannya menetukan pilihan. Kesalahan dalam mengambil pilihan mengandung akibat-akibat tertentu yang merugikan bagi kehidupannya. Sebaliknya, ketepatan dalam menentukan pilihan akan membawa kemanfaatan, kalau tidak pada waktu sekarang, manfaatnya akan tiba pada masa yang akan datang.
      Aturan main yang ada dalam fiqh tidak lain adalah untuk menghantarkan manusia pada kemaslahatan yang berintikan kesejahtraan, kemakmuran, kemajuanm keadilan, dan kebahagiaan lahir batin. Untuk mencapai hal ini, maka segala potensi negatif-destruktif, seperti merusak bumi, mencemari, mengeksploitasi, menggunduli, dan sejenisnya harus dihilangkan, paling tidak diminimalisir, dieliminir sedini mungkin dan semaksimal mungkin.
       Inilah yang menjadi grand design Islam dalam pilar utamanya rahmatan lil-alamin (wama arsalnaka illa rahmatan lil-alamin). Dalam ushul fiqh hal ini tercakup dalam istilah al-ahkam kulluha raji atun ila mashalihil ummah, seluruh hukum ditunjukan untuk menggapai kemaslahatan umat dunia-akhirat. Ada lima (5) kemaslahatan pokok, jiwa, agama, akal, keturunan, harta, dan harga diri.
Dengan demikian, mengenai hukum bayi tabung harus diklasifikasikan persoalannya secara jelas. Insemnia buatan pada manusia (bayi tabung) dilihat dari asal sperma yang dipakai dapat dibagi dua yaitu :
a. Insemnia buatan dengan sperma sendiri atau AIH (Artificial Insemination Husband).
b. Inseminasi bauatan dengan bukan sperma suami atau lazim disebut donor, disingkat AID (Artificial Insemination Donor).
        Untuk insemnia buatan pada manusia dengan sperma suami sendiri, baik dengan cara mengambil sperma suami kemudian disuntikan ke dalam vagina atau uterus istri, maupun dengan cara pembuahan dilakukan di luar rahim (bayi tabung), maka hal ini dibolehkan asal keadaan suami dan istri tersebut benar-benar membutuhkan untuk memperoleh keturunan. Hal ini telah disepakati oleh para ulama. Diantaranya, menurut Mahmud Syaltut bahwa bila penghamilan itu menggunakan air mani si suami untuk istrinya maka yang demikian itu masih bisa dibenarkan oleh hukum dn syariat yang diikuti oleh masyrakat yang beradab. Lebih lanjut beliau katakan ....“dan tidak menimbulkan dosa dan noda”.
            Sebaliknya, kalau inseminasi buatan itu dilakukan dengan bantuan donor sperma dan ovum, maka diharamkan dan hukumnya sama dengan zina. Sebagai akibat hukumnya, anak hasil insemnia (bayi tabung) itu tidak sah dan nasabnya hanya berhubungan dengan ibu yang melahirkannya. Berdasarkan hadits Nabi Saw. yang mengatakan, “Tidak halal bagi seorang yang beriman kepada Allah dan hari akhir menyiramkan airnya (sperma) pada tanaman orang lain (istri orang lain).” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, dan dipandang Shahih oleh Ibnu Hibban).
           Lebih tegas lagi dinyatakan oleh Mahmud Syaltut bahwa “....setelah ditinjau dari berbagai segi penghamilan buatan adalah pelanggaran yang tercela dan dsa yang besar. Perbuatan itu setaraf dengan zina, dan akibatnya pun sama pula, yaitu memasukkan mani orang asing ke dalam rahim perempuan yang antara kedua orang tersebut tidak ada hubungan nikah secara syara’, yang dilindungi hukum syara’.”
            Sebagaiman kita ketahuibahwa inseminasi buatan pada manusia dengan donor sperma dan atau ovum lebih banyak mendatangkan mudharat daripada maslahah. Maslahah yang dibawa inseminasi buatan pada manusia ialah membantu suami-istri yang mandul, baik keduanya maupun salah satunya untuk mendapatkan keturunan atau yang mengalami gangguan pembuahan normal.         
               Namun mudharat dan mafsadahnya jauh lebih besar, antara lain sebagai berikut .
a. Pencampuran nasab, padahal Islam sangat menjaga kesucian/kehormatan kelamin dan kemurnian nasab, karena nasab itu ada kaitannya dengan kamahraman dan warisan.
b. Bertentangan dengan sunnatulloh atau hukum alam.
c. Inseminasi pada hakikatnya sama dengan prostitusi, karena terjadi percampuran sperma pria dan ovum wanita tanpa perkawinan yang sah.
d. Kehadiran anak hasil inseminasi bisa menjadi sumber konflik dalam rumah tangga.
e. Anak hasil inseminasi lebih banyak unsur negatifnya daripada anak adopsi.
f. Bayi tabung lahir tanpa melalui proses kasih sayang yang alami, terutama bagi bayi tabung lewat ibu titipan yang mnyerahkan bayinya kepada pasangan suami-istri yang punya benihnya sesuai dengan kontrak, tidak terjalin hubungan keibuan secara alami (Luqman : 14 dan al-Ahqaf : 15).
           Mengenai status anak hasil inseminasi (bayi tabung) dengan donor sperma dan/atau ovum menurut hukum Islam adalah tidak sah dan statusnya sama dengan anak hasil prostitusi atau hubungan perzinaan. Pemerintah hendaknya melarang berdirinya bank sperma dan bank ovum untuk pembuatan bayi tabung, karena selain bertentangan dengan pancasila dan UUD 1945, juga bertentangan dengan norma agama dan moral, serta merendahkan harkat manusia sejajar dengan hewan yang diinseminasi tanpa perlu adanya perkawinan.

C. KESIMPULAN
           Sebagai akibat kemajan ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran dan biologi yang canggih, maka teknologi bayi tabung ini ditangani orang-orang yang kurang beriman dan bertakwa, dikhawatirkan akan disalahgunakan serta dapat merusak peradaban umat manusia, bisa merusak nilai-nilai agama, moral dan budaya bangsa serta akibat-akibat yang tidak terbayangkan saat ini. Sebab apa yang dihasilkan dengan teknologi, belum tentu bisa diterima dengan baik menurut agama, etika dan hukum yang hidup di masyarakat.
         Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa inseminasi buatan (bayi tabung) dengan sperma suami sendiri menurut hukum Islam adalah boleh, sedangkan inseminasi buatan (bayi tabung) dengan sperma donor adalah haram.

DAFTAR PUSTAKA
Aibak, Kutbuddin. Kajian Fiqh Kontemporer. Yogyakarta : Penerbit Teras. 2009.
Ali Hasan, M. Masail Fiqhiyah Al-Haditsah. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada. 2000.
Aqil Siradj, Said. Fiqh Demokratik Kaum Santri. Jakarta : Pustaka Ciganjur. 1999.
Budi Utomo, Setiawan. Fiqh Aktual : Jawaban Tuntas Masalah Kontemporer. Jakarta : Gema Insani Press. 2003.
Djazuli, A. Kaidah-Kaidah Fikih : Kaidah-Kaidah Hukum Islam Dalam Menyelesaikan Masalah-Masalah yang Praktis. Jakarta : Kencana. 2006.
http://www.ayahbunda.co.id/Artikel/Prakonsepsi/Gizi+dan+Kesehatan/10.tahapan.proses.pembuatan.bayi.tabung/001/001/1025/11/1
Ma’mur Asmani, Jamal. Fiqh Sosial Kiai Sahal Mahfudh : Antara Konsep dan Implementasi. Surabaya : Khalista. 2007.


luvne.com ayeey.com cicicookies.com mbepp.com kumpulanrumusnya.comnya.com tipscantiknya.com