<script async src="//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js"></script> <!-- iimrohimah --> <ins class="adsbygoogle" style="display:inline-block;width:468px;height:60px" data-ad-client="ca-pub-4533907847127524" data-ad-slot="6841261291"></ins> <script> (adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({}); </script>

Sabtu, 22 Juni 2013

Makalah Urf

Makalah Tentang Urf
A. PENDAHULUAN
Kebiasaan masyarakat sehari-hari, jika dibenturkan dengan hukum Islam memerlukan penyelarasan sedemikian rupa. Hal tersebut dikarenakan pedoman hidup Umat Islam yaitu Al-Qur’an dan Sunnah Rosulullah SAW. memerlukan penafsiran yang mendalam. Kadang suatu ayat atau hadits diperutukan bagi kondisi khusus pada waktu tertentu pada saat ayat tersebut diturunkan. Kemudian persoalan yang di hadapi umat masa kini sulit menemukan solusi dalam penetapan hukumnya.

Untuk menjawab persoalan masyarakat, ushul fiqh datang sebagai ilmu yang menyatu dengan masyarakat, berbaur dengan segala problematikanya, bahkan menawarkan ribuan, atau mungkin jutaan solusi yang sangat strategis dan relevan. Salah satu pembahasan tentang ushul fiqh adalah urf.
Urf membahas tentang kebiasaan masyarakat yang memiliki nilai yang relevan dengan syari’at Islam.

B. PEMBAHASAN
1. Pengertian
Kata ‘Urf secara etimologi berarti “ Sesuatu yang di pandang baik dan diterima oleh akal sehat.” Sedangkan secara terminology, seperti yang dikemukakan oleh Abdul -karim Zaidah, istilah ‘Urf berarti :

“Sesuastu yang tidak asing lagi bagi suatu masyarakat karena telah menjadi kebiasaan dan menyatu dengan kehidupan mereka baik berupa perbuatan atau perkataan.” 

Oleh sebagian ulama ushul fiqh, 'urf disebut adat (adat kebiasaan). Itu berarti urf adalah sesuatu yang yang telah dikenal oleh masyarakat pada suatu tempat tertentu, dan mereka menjadikannya sebagai tradisi. Misalnya akad jual beli dalam fiqh Islam, akan sah jual beli tersebut bila ada kalimat ijab qobul (serah dan terima). Namun karena menurut kebiasaan, tanpa adanya serah terima penjualan dianggap telah terjadi transaksi, maka jual beli tanpa kalimat ijab kobul jaual beli sudah dianggap sah. 

2. Pembagian Urf
Urf dibagi berdasarkan tiga bagian, yaitu berdasarkan objeknya, pandangan syari’at Islam, dan cakupannya. 

a) Berdasarkan Objeknya
Berdasarkan jenis perbuatannya maka ‘urf terbagi menjadi dua macam, yaitu ‘Urf qauli/ lughawi dan ‘Urf ‘amali/ fi’li. 

1) ‘Urf qawli/ lughawi
Urf qauly adalah kebiasaan yang berlaku dalam penggunaan kata-kata atau ucapan bukan pengertiannya secara kebahasaan. Seperti penggunaan kata aulad dalam Al-Qur’an :
يُوصِيكُمُ ٱللَّهُ فِىٓ أَوْلَٰدِكُمْ
“Allah mensyariatkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu.” (QS. An-Nisaa : 11)
Pengertian kata aulad dalam ayat ini mengacu pada anak laki-laki dan perempuan. Sedangkan dalam kebiasaan bangsa Arab menggunakannya khusus untuk anak laki-laki saja. 

2) Urf ‘amali/ fi’li
Urf Amaly yaitu kebiasaan yang berlaku dalam perbuatan. Misalnya ukuran atau kriteria ‘adalah (keadilan) untuk diterimanya kesaksian seseorang. ‘Adalah diartikan sifat yang melekat pada diri seseorang sehingga ia senantiasa bertaqwa pada Allah dan menjaga muru’ahnya. Tentang menjaga muru’ah ini, di daerah Timur orang yang tidak menutup kepalanya dianggap tidak menjaga muru’ah. Namun persepsinya berbeda dengan orang di Barat. ‘Urf mempengaruhi pertimbangan dalam penetapan hukum.

Pengaruh itu terutama berkenaan dengan substansi yang harus diberikan pada ungkapan yang digunakan dalam hukum. Suatu ungkapan yang pada tempat dan waktu tertentu dipandang jelas (sharih) mungkin saja mengalami perubahan makna pada waktu atau tempat yang lain. Tradisi dan kebiasaan tersebut bisa mengubah ketentuan hukum Islam.

b) Berdasarkan Pandangan Hukum Syara’
Urf dilihat dari segi ukuran Islam, ia terbagi menjadi dua yaitu: ‘urf shahih dan ‘urf fasid. Ppembagian ini sebenarnya merujuk kepada pengertian bahwa urf dan adat adalah sinonim. Dari segi ini ‘urf terbagi menjadi dua: 

1) ‘Urf shahih
Urf Shohih (adat kebiasaan yang benar) adalah suatu hal yang baik yang menjadi kebiasaan suatu masyarakat, tidak bertentangan dengan ajaran agama, sopan santun, dan budaya yang luhur. Misalnya pemberian pihak laki-laki kepada calon istrinya dalam pelaksanaan pinangan dianggap hadiah bukanlah mahar. Kebiasaan penduduk Baghdad dulunya untuk menyiapkan makan siang bagi tukang yang bekerja dalam pembangunan rumah. 

2) ‘Urf fasid
‘Urf fasid (adat kebiasaan yang tidak benar), yaitu suatu yang menjadi kebiasaan yang sampai pada penghalalan sesuatu yang diharamkan Allah (bertentangan dengan ajaran agama), undang-undang negara, dan sopan santun. Misalnya menyediakan hiburan perempuan yang tidak memelihara aurat dan kehormatannya dalam perayaan suatu perhelatan, dan akad perniagaan yang mengandung riba.
Selama kebiasaan dalam kehidupan masyarakat itu tidak bertentangan dengan nilai yang terkandung dalam hukum-hukum Islam, maka bisa diterima dalam hukum Islam. Karena mempertimabangkan perbedaan tradisi setiap masyarakat, semua urf atau tradisi dari setiap masyarakat (tidak hanya urf dari masyarakat Arab saja), dapat menjadi sumber hukum. Islam datang tidak untuk menghapus kebudayaan yang telah ada.

c) Berdasarkan Cakupannya
Dari segi cakupan nya ‘urf di bagi menjadi dua yaitu :

1) ‘Urf Al-‘am ( kebiasaan yang bersifat umum )
‘Urf Al-‘am adalah kebiasaan tertentu yang berlaku secara luas di seluruh masyarakat dan di seluruh daerah. Contohnya setiap penjualan ikan yang masih di kolam belum bisa ditentukan jumalah ikannya.

2) ‘Urf Al-khas ( kebiasaan yang bersifat khusus )
‘Urf Al-khas adalah kebiasaan yang berlaku didaerah dan masyarakat tertentu. Contohnya dikalangan para pedagang, apabila terdapat cacat tertentu pada barang yang dibeli dapat dikembalikan dan untuk cacat yang lainnya dalam barang itu, konsumen tidak dapat mengembalikan barang tersebut. Atau juga kebiasaan mengenai penentuan masa garansi terhadap barang tertentu. 

3. Kehujjahan Urf
Terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama ushul fiqh tentang kehujahan atau keabsahan 'urf untuk dijadikan hukum Islam yang sah, diantaranya: 

a) Golongan Hanafiyah dan Malikiyah berpendapat bahwa 'urf adalah hujah untuk menetapkan hukum. Mereka bersandar pada firman Allah dalam QS. Al-A’raf ayat 199 berikut:
خُذِ ٱلْعَفْوَ وَأْمُرْ بِٱلْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ ٱلْجَٰهِلِينَ .
“Jadilah engkau pemaaa dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta berpalinglah daripada orang-orang yang bodoh.” (QS. Al-A’raf: 199)
Kemudian dari hadits yang diriwayatkan Ahmad bin Hambal berikut ini:
قال النبي : ما راه المسلمون حسنا فهو عند الله حسن (رواه احمد بن حنبل)
“Apa yang di pandang orang-orang muslim baik, maka disisi Allah pun baik”

b) Golongan Syafi’iyyah dan Hanbaliyah, keduanya tidak menganggap urf sebagai hujah atau dalil hukum syar’i. Mereka beralasan, ketika ayat-ayat Alqur’an turun, banyak sekali ayat yang mengukuhkan kebiasaan yang terdapat di tengah-tengah masyarakat. 

Apabila kita perhatikan penggunaan 'Urf ini, bukanlah dalil yang berdiri sendiri, tetapi erat kaitannya dengan al-mashlahah al-mursalah, bedanya kemaslahatan dalam urf ini telah berlaku sejak lama sampai sekarang, sedangkan dalam al-mashlahah al-mursalah kemashlahatan itu bisa terjadi pada hal-hal yang sudah biasa berlaku dan mungkin pula pada hal-hal yang belum biasa berlaku, bahkan pada hal-hal yang akan diberlakukan.

Dalam buku Ilmu Ushul Fiqih yang di tulis oleh Prof. Dr. Rahmat Syafi’I MA, disana tertulis bahwa:
’Urf menurut penyelidikan bukan merupakan dalil syara tersendiri. Pada umumnya ‘urf ditujukan untuk memelihara kemaslahatan umat serta menunjang pembentukan hukum dan penafsiran beberapa nash.“ 

4. Syarat-Syarat ‘Urf
Sebagian besar ulama yang menggunakan Urf sebagai hujjah, memberikan syarat-syarat tertentu dalam menggunakan al-Urf sebagai sumber hokum, diantaranya adalah sebagai berikut:

a) Tidak bertentangan dengan al-Quran atau As-SUnnah. jika bertentangan, seperti kebiasaan orang minum khamer, riba,berjudi, dan jual beli gharar (ada penipuan) dan yang lainnya maka tidak boleh diterapkan.

b) Adat kebiasaan tersebut sudah menjadi tradisi dalam muamalat mereka, atau pada sebagian besarnya. jika hanya dilakukan dalam tempo tertentu atau hanya beberapa individu maka hal itu tidak dapat dijadikan sumber hokum

c) Tidak ada kesepakatan sebelumnya tentang penentangan terhadap adat tersebut. jika adat suatu negri mendahulukan sebagai mahar dan menunda sebagainya, namun kedua calon suami istri sepakat untuk membayarnya secara tunai lalu keduanya berselisih pendapat, maka yang menjadi patokan adalah apa yang sudah disepakati oleh kedua belah pihak, karena tidak ada arti bagi sebuah adat kebiasaan yang sudah didahului oleh sebuah kesepakatan untuk menentangnya.

d) Adat istiadat tersebut masih dilakukan oleh orang ketika kejadian itu berlangsung. adat lama yang sudah ditinggalkan orang sebelum permasalahan muncul tidak dapat digunakan, sama seperti adat yang baru lahir setelah permasalahannya muncul.

Abdul-Karim Zaidan Menyebutkan beberapa persyaratan bagi Urf yang bisa dijadikan landasan hokum yaitu:

a) Urf itu harus termasuk ‘urf yang shahih dalam arti tidak bertentangan dengan ajaran Al-Quran dan As-Sunnah.
b) Urf itu harus bersifat umum, dalam arti minimal telah menjadi kebiasaan mayoritas penduduk negri itu.
c) Urf itu harus sudah ada ketika terjadinya suatu peristiwa yang akan dilandaskan kepada urf itu.
d) Tidak ada ketegasan dari pihak-pihak terkait yang berlainan dengan kehendak ‘Urf tersebut, sebab jika kedua belah pihak yang berakad telah sepakat untuk tidak terikat dengan kebiasaan yang berlaku umum, maka yang dipegang adalah ketegasan itu, bukan’Urf.

C. KESIMPULAN
Karakteristik hukum Islam bersifat universal dan mengikuti perkembangan zaman dalam penetapannya. Artinya sangat memperhatikan tradisi, kondisi (sosiokultural), dan tempat masyarakat sebagai objek, dan sekaligus pelaku atau pelaksana hukum. Selanjutnya, para Imam Mujtahid dalam menetapkan suatu ketentuan hukum (fiqh) juga tidak mengesampingkan perhatiannya terhadap tradisi, kondisi, dan kultural setempat.

Tradisi, kondisi sosial, dan tempat merupakan faktor-faktor yang tidak dapat dipisahkan dari manusia (masyarakat). Oleh karenanya, perhatian dan respon terhadap tiga unsur tersebut merupakan keniscayaan. Pada gilirannya syari’at (hukum) Islam dapat akrab, membumi, dan diterima di tengah-tengah kehidupan masyarakat yang plural, tanpa harus meninggalkan prinsip-prinsip dasarnya.

Sehingga dengan metode al-’urf ini, sangat diharapkan berbagai macam problematika kehidupan dapat dipecahkan dengan metode ushl fiqh salah satunya al-’urf, yang mana ’urf dapat memberikan penjelasan lebih rinci tanpa melanggar al-Quran dan as-Sunnah.

DAFTAR PUSTAKA
Barriy, Al-Zakariya, Mashadir al-Ahkam al-Islamiyah, Kairo: Dar al-Ittihad al-Arabiy: 1975.
Fuad, Mahsun, Hukum Islam Indonesia: Dari Nalar Partisipatoris Hingga Emansipatoris, Yogyakarta : LKiS, 2005.
Satria Effendi, M. Zein, Ushul Fiqh, Jakarta: Kencana, 2008.
Syafi’i, Prof. Dr. Rachmat, Ilmu Ushul Fiqh, Bandung: Pustaka Setia, Cetakan IV, 2010.
Zahrah, Muhammad Abu, Ilmu Ushul Fiqih, Jakarta: PT. Pustaka Firdaus, 1994.








luvne.com ayeey.com cicicookies.com mbepp.com kumpulanrumusnya.comnya.com tipscantiknya.com