Makalah Tentang Poligami

PANDANGAN ISLAM TENTANG POLIGAMI

PENDAHULUAN

           Pernikahan merupakan salah satu sunnatullah yang umum berlaku pada semua makhluk tuhan, baik pada manusia, hewan maupun tumbuh-tumbuhan. Pernikahan juga salah satu bentuk ibadah yang bertujuan untuk membentuk keluarga yang bahagia sejahtera dan kekal selamanya. Namun pernikahan juga dapat dilakukan anara seorang laki-laki dengan istri lebih dari satu yang dikenal poligami.
         Menurut sejarah poligami merupakan warisan dari orang-orang yahudi dan nasrani sampai pada masa Martin Luther, seorang penganjur besar protestan tidak tampak adanya larangan poligami. Tujuan tersebut dapat dijawab dengan bukti sejarah bahwa poligami sudah berjalan lama sebelum islam datang.

P E M B A H A S A N
1. PENGERTIAN POLIGAMI

      Poligami menurut pandangan Islam merupakan salah satu isu yang disorot tajam kalangan
feminis, tak terkecuali feminis islam. Poligami adalah isyarat islam yang merupakan sunah Rasulullah SAW tentunya dengan syarat sang suami memiliki kemampuan untuk adil diantara para isteri.Sebagai mana pada ayat al-Qur’an yang artiya :
    “Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap(hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya),maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senang, dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak dapat berlaku adil,maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yangkamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat daripada tidak berbuat aniaya.” (QS.An-Nisa ayat ke-3)

   “Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil diantara isteri-isteri(mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalau cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung.” (QS.An-Nisa ayat 129)Selain itu, tidak adanya ayat Al-Quran dan sunah Rasulullah yang menggambarkan diperbolehkan atau dilarangnya poligami. Sesungguhnya poligami yang diatur dalam islam tidak memperbolehkan bagi laki-laki untuk berhubungan dengan wanita yang ia sukai diluar pernikahan.
         Poligami merupakan sistem yang manusiawi, karena dapat meringankan beban masyarakat yaitu dengan melindungi wanita yang tidak bersuami dan menempatkannya ke shaf para isteri yang terpelihara dan terjaga.
        Mayoritas ulama yang angkat bicara soal poligami, dari pernyataan dan komentar-komentar yang disampaikannya, diharapkan dapat menjadi bahan renungan dan masukan, sekaligus menambah wawasan tentang fenomena poligami dan realita yang terjadi di masyarakat sekarang ini.
          Menurut Prof. Dr. Musdah Mulia, MA, dosen pasca sarjana UIN Syarif Hidayatullah,“Poligami itu haram lighairih, yaitu haram karena adanya dampak buruk dan ekses-eskes yang ditimbulkannya.”Ia juga mengaku memiliki data yang menunjukkan bahwa praktik poligami di masyarakat telah menimbulkan masalah yang sangat krusial dan problem sosial yang sangat besar. Begitu juga dengan tingginya Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), keretakan rumahtangga dan penelantaran anak-anak.
        Prof. Dr. Quraish Shihab menyatakan, “Poligami itu mirip dengan pintu darurat dalam pesawat terbang, yang hanya boleh dibuka dalam keadaan emergency tertentu.”Hal senada disampaikan pula oleh Ketua PBNU, KH. Hasyim Muzadi, “Poligami tak ubahnya sebuah pintu darurat (emergency exit) yang memang disediakan bagi yang membutuhkannya.” Dalam kesempatan yang lain, beliau juga mengatakan, “Poligami atau monogamy adalah sebuah pilihan yang diberikan islam untuk manusia, keduanya tak perlu dikontradiksikan.”
       Dr. KH. Miftah Faridh (Direktur PUSDAI Jabar), juga memiliki pandangan yang sama, “Poligami dalam pandangan islam merupakan salah satu solusi yang dapat dilakukan umtuk memecahkan berbagai masalah sosial yang dihadapi manusia. Poligami tidak perlu dipertentangkan , apalagi sampai menimbulkan keretakan ukhuwah Islamiyah, adapun jika ada yang belum siap melakukannya, itu lain persoalan.”
         Direktur utama Pusat Konsultasi Syariah, Dr. Surahman Hidayat, mengatakan , “Nikah itu baik poligami atau monogamy, tidak untuk menzalimi siapa pun. Justru untuk tegaknya kebahagiaan, yang pada gilirannya terwujud rumah tangga yang sakinah mawaddah wa rahman.”
        Pimpinan pesantren Darut Tauhid, KH. Abdullah Gymnastiar atau yang akrab dipanggil Aa Gym, menyatakan sebelum ia berpoligami, “Poligami merupakan syariat Islam yang sangat darurat. Wacana soal poligami itu perlu diketahui dan dipahami. Oleh karena itu, wacana poligami tidak perlu dipertentangkan oleh umat islam. Di berbagai tempat ceramah, saya sering menyebarkan wacana tentang poligami, karena hal itu adalah ajaran islam. Kalau saya sendiri, sampai sekarang masih belum siap berpoligami. Untuk saat ini saya sudah merasa bahagia hidup bersama satu orang istri dan tujuh orang anak titipan Allah Ta’ala.”
         Dan setelah dirinya resmi menikahi isrti keduanya, banyak pernyataan yang beliau sampaikan. Di antaranya beliau mengatakan, “Saya prihatin dengan adanya pandangan kurang baik terhadap poligami. Seakan para pelaku poligami adalah seorang penjahat yang telah melakukan kejahatan yang sangat besar”. Namun beliau juga tidak menganjurkan jamaahnya untuk berpoligami, “Kalau tidak ada ilmunya, lebih baik jangan”, ujarnya.

2. SEJARAH POLIGAMI
         Banyak orang salah paham tentang poligami. Mereka mengira poligami itu dikenal setelah islam. Mereka menganggap islam lah yang membawa ajaran tentang poligami. Bahkan, ada yang secara exstrim berpendapat bahwa bahwa jika bukan karena islam, poligami tidak di kenal dalam sejarah manusia. Pendapat tersebut sungguh keliru dan menyesatkan. Mahmud syaltut (w. 1963), ulama besar di mesir, secara tegas menolak poligami sebagai bagian dari ajaran islam, dan juga menolak bahwa poligami ditetapkan syari’ah.
          Berabad abad sebelum islam diwahyukan, masyarakat manusia di berbagai belahan dunia telah mengenal dan mempraktikan poligami. Poligami dipraktikan di kalangan secara luas di kalangan masyarakat yunani, persia dan mesir kuno. Di jazirah arab sendiri jauh sebelum islam, masyarakatnya telah mempraktikan poligami, malahan poligami yang tak terbatas. Sejumlah riwayat menceritakan bahwa rata rata pemimpin suku ketika itu memiliki puluhan istri, bahkan tidak sedikit kepala suku mempunyai istri sampai ratusan.
       Sejumlah riwayat menjelaskan bahwa setelah ayat yang membatasi jumlah istri hanya 4 turun, yakni QS An- Nisa’: 3. Nabi segera memerintahkan semua laki laki yang memiliki istri lebih dari 4 agar menceraikan istri istrinya sehingga suami hanya boleh punya empat istri. Karena itu, al- Aqqad ulama asal mesir, menyimpulkan bahwa islam tidak mengajarkan poligami, tidak juga memandang positif, apalagi mewajibkan. Islam hanya membolehkan dengan syarat yang ketat. Dalam praktenya di masyarakat, mayoritas umat islam hanya terpaku pada kebolehan poligami, tetapi mengabaikan sama sekali syarat yang ketat bagi kebolehannya itu.
        Perkembangan poligami dalam sejarah manusia mengikuti pola pandang masyarakat terhadap kaum perempuan. Pada masa dimana masyarakat memandang kedudukan dan derajat perempuan hina, poligami menjadi subur, sebaiknya pada masyarakat memandang kedudukan dan derajat perempuan terhormat, poligami pun berkurang. Jadi, perkembangan poligami mengalami pasang surut mengikuti tinggi rendahnya kedudukan dan derajat perempuan di mata masyarakat.
        Ketika islam datang, kebiasaan poligami itu tidak serta merta dihapuskan. Namun setelah ayat yang menyinggung soal poligami diwahyukan, nabi lalu melakukan perubahan yang radikal sesuai dengan petunjuk kandungan ayat . perubahan mendasar yang dilakukan nabi berkaitan dengan dua hal.
1. Membatasi jumlah istri hanya sampai empat . sejumlah riwayat memaparkan pembatasan poligami tersebut diantaranya riwayat dari naufal ibn Muawiyah. Ia berkata: “ ketika aku masuk islam, aku memiliki 5 orang istri. Rasulullah berkata “ ceraikan lah yang satu dan pertahankan yang empat.
2. Menetapkan syarat yang ketat bagi poligami, yaitu harus mampu berlaku adil. Persyaratan yang ditetapkan bagi kebolehan poligami itu sangat berat, dan hampir hampir dapat dipastikan dapat dipastikan tidak ada yang mampu memenuhinya. Artinya, islam memperketat syarat poligami sedemikian rupa sehingga kaum laki laki tidak boleh lagi semena mena terhadap istri mereka sedia kala.
       Dengan demikian, terlihat bahwa praktek poligami di masa islam sangat berbeda dengan poligami sebelumnya. Perbedaan itu menonjol pada dua hal:
1. Pada bilangan istri, dari tidak terbatas jumlahnya menjadi dibatasi hanya empat. Pembatasan ini dirasakan sangat berat, sebab laki laki masa itu sudah terbiasa dengan banyak istri, lalu mereka disuruh memilih 4 saja dan ceraikan selebihnya.
2. pada syarat poligami, yaitu harus berlaku adil. Sebelumnya poligami tidak mengenal syarat apapun, termasuk keadilan. Akibatnya, poligami banyak membawa kesengsaraan dan penderitaan bagi kaum perempuan, karena para suami yang berpoligami tidak terikat pada keharusan berlaku adil, sehingga mereka berlaku aniaya dan semena mena meluapkan nafsunya.

           Alasan berpoligami di masyarakat
a. bahwa poligami merupakan sunah nabi dan memiliki landasan teologis yang jelas yakni ayat 3 surat annisa.
b. Kelebihan jumlah perempuan atas laki laki. Pandangan ini tidak sepenuhnya benar, karena jika mengacu pada data biro pusat statistik yang dimaksudkan dengan kelebihan jumlah perempuan adalah perempuan yang berusia dibawah 12 tahun dan diatas 60 tahun krena usia perempuan rata rata lebih panjang dari usia laki laki.
c. Karena istri mandul atau beristri sakit kronis yang tidak bisa di sembuhkan.

HUKUM POLIGAMI
     Islam memandang poligami banyak membawa resiko atau madharatnya daripada manfaatnya. Zamakhsyari dalam kitab tafsirnya  al-kasyaf mengatakan bahwa poligami menurut syariat islam adalah suatu rukhsah (kelongaaran) ketika darurat. Darurat dalam berpoligami adalah berkaitan dengan tabiat laki-laki dari segi kecenderungan untuk menikah dengan orang lain dikarenakan istrinya tidak dapat memberikan keturunan atau istrinya sakit tidak dapat melayani kebutuhan seksnya. Pendapat yang masyhur adalah bahwa hukum poligami adalah dibolehkan dengan syarat harus adil.
      Tampaklah dapat dipahami bahwa tidak semua suami dapat melakukan poligami dengan amat mudah, tetapi membutuhkan syarat yang tidak mudah seperti syarat adil. Keadilan sangat dilatar belakangi oleh kerelaan dan keikhlasan dari istri pertama. Karena tidak akan mungkin terwujud keadilan jika seorang suami menyembunyikan pernikahan keduanya dari istri pertamanya. Oleh karena itu benar juga yang dikatakan Muhammad Abduh bahwa poligami hukumnya haram bagi mereka yang tidak mampu berlaku adil. Quraish Shihab bependapat bahwa poligami ibadah murni,  melainkan ibadah umum, yaitu aktifitas apapun selama motivasinya karena tuntunan agama. Karena ibadah umum, harus dicari tujuan aktivitas itu dan hukumnya dan karena itu hukumnya dapat beru bahwa sesuai zaman.
      Undang-undang perkawinan No.7 tahun 1974 pun mengatur poligami pada pasal 3 ayat 2 menyatakan: “Pengadilan dapat memberi izin kepada seorang suami untuk beristri lebih dari seorang apabila dikehendaki oleh pihak-pihak yang bersangkutan. Artinya seorang suami boleh memiliki istri lebih dari seorang.” Kemudian pada pasal 5 UU perkawinan menetapkan syarat-syarat yang harus dipenuhi bagi suami yang akan melakukan poligami, yaitu:
1. Adanya persetujuan dari istri.
2. Adanya kepastian bahwa suami akan berlaku adil terhadap istri-istri dan anak-anak mereka.
3. Adanya jaminan bahwa suami akan berlaku adil terhadap istri-istri dan anak-anak mereka.
        Ada beberapa hak yang harus diterima istri yang telah dipoligami yaitu:
1. Memiliki rumah sendiri.
2. Menyamakan para istri dalam giliran
3. Tidak boleh keluar dari rumah istri yang mendapat giliran menuju rumah yang lain.
4. Batas malam pertama setelah pernikahan.
5. Wajib menyamakan nafkah.
6. Undian ketika syafar
7. Tidak wajib meyamakan cinta dan jima diantara para istri.
      Namun islam tatep mengkehendaki orang yang berpoligami adalah orang yang adil. Berkaitan dengan keadilan seorang suami, UU Perkawinan pasal 41 (poni c dan d ) Peraturan pemerintah RI no. 9/1975 tentang pelaksanaan UU no. 1/1974 juga menyebutkan bahwa pengadilan dapat memeriksa ada atau tidakadanya kemampuan suami untuk menjamin keperluan hidup isteri-isteri dan anak-anak dengan memperlihatkan:
1. Surat keterangan mengenai penghasilan suami yang ditandatangani oleh bendahara tempat suami bekerja.
2. Surat keterangan pajak penghasilan.
3. Surat keterangan lain yang dapat diterima pengadilan.

    Menurut Sayyid Sabiq yang menerangkan hikmah poligami cukup panjang, dan disini dikemukakan ringkasannya sebagai berikut:
a. Sebagai karunia dan rahmat Allah, dan menjadi diperlukan untuk kemakmuran dan kemaslahatan.
b. Memperbesar jumlah umat karena keagungan itu adalah bagi yang berjumlah banyak.
c. Mengurangi jumlah janda.
d. Mengantisipasi kenyataan bahwa jumlah wanita berlebih dibandingkan pria.
e. Mengisi tenggang waktu yang lowong berhubung secara kodrati pria itu lebih panjang masa berhubungan seks baik karena dalam usia lanjut yang wanita sudah tidak membutuhkan sementara pria tetap saja.
f. Dapat mengatasi kalau istri (mandul).

KESIMPULAN
         Jadi dari uraian diatas dijelaskan bahwa berpoligami itu tidak dilarang atau diperbolehkan,tetapi harus memenuhi syarat-syarat yang telah ditentukan
Seperti:
1. Adanya persetujuan dari istri.
2. Adanya kepastian bahwas uami akan berlaku adil terhadap istri-istri dan anak-anak mereka.
3. Adanya jaminan bahwa suami akan berlaku adil terhadap istri-istri dan anak-anak mereka.
         Dalam kahasanah islam spesifiknya dalam konteks fiqih secara dhohir sudah di manifestokan bahwa dalam pembahasan fiqih tinggalkanlah sesuatu yang berbau madharat dan ambilah sesuatu yang bersfat maslahah.
          Poligami di perbolehkan namun ada syarat-syarat yang harus dipenuhi, tapi kalau kita mengacu dalam konteks fiqih lebih dalam kata poligami itu sendiri sebenarnya lebih banyak madharatnya dari pada maslahahnya.

DAFTAR PUSTAKA























Artikel Terkait