<script async src="//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js"></script> <!-- iimrohimah --> <ins class="adsbygoogle" style="display:inline-block;width:468px;height:60px" data-ad-client="ca-pub-4533907847127524" data-ad-slot="6841261291"></ins> <script> (adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({}); </script>

Senin, 03 Juni 2013

Makalah Kenakalan Remaja

A. PENDAHULUAN

Masa remaja (adolesensi) adalah masa peralihan dari masa anak-anak menuju masa dewasa, anak-anak mengalami pertumbuhan cepat di segala bidang. Mereka bukan lagi anak-anak, baik bentuk jasmani, sikap, cara berfikir dan bertindak. Tetapi bukan pula orang dewasa yang telah matang. Masa ini mulai kira-kira pada umur 13 tahun dan berakhir kira-kira umur 21tahun.[1]

Persoalan remaja selamanya hangat dan menarik, baik di negara yang telah maju maupun di negara terbelakang, terutama negara yang sedang berkembang. Karena remaja adalah masa peralihan, seseorang telah meninggalkan usia anak-anak yang penuh kelemahan dan ketergantungan tanpa memikul sesuatu tanggung jawab, menuju kepada usia dewasa yang sibuk dengan tanggung jawab penuh. Kegoncangan emosi, kebimbangan dalam mencari pegangan hidup, kesibukan mencari pegangan hidup, mencari bekal pengetahuan dan kepandaian untuk menjadi senjata dalam usia
dewasa.

Banyak di antara mereka yang tidak sanggup mengikuti pelajaran, hilang kemampuan untuk konsentrasi, malas belajar, patah semangat dan sebagainya. Tidak sedikit pula yang telah jatuh kepada kelakuan yang lebih berbahaya lagi. Muncullah julukan kenakalan remaja yang dalam terminologi asingnya disebut juvenile delinquency.

Kartini Kartono menyatakan:

"Fakta kemudian menunjukkan bahwa semua tipe kejahatan remaja itu semakin bertambah jumlahnya dengan semakin lajunya perkembangan industrialisasi dan urbanisasi. Di kota-kota industri dan kota besar yang cepat berkembang secara fisik, terjadi kasus kejahatan yang jauh lebih banyak daripada dalam masyarakat "primitif" atau di desa-desa. Dan di negara-negara kelas ekonomis makmur, derajat kejahatan ini berkorelasi akrab dengan proses industrialisasi. Karena itu Amerika sebagai negara paling maju secara ekonomis di antara bangsa-bangsa di dunia, mempunyai jumlah kejahatan anak remaja paling banyak; jadi ada derajat kriminalitas anak remaja paling tinggi".[2]



B. PEMBAHASAN

1. Pengertian Kenakalan Remaja Menurut Kartini Kartono

Kenakalan remaja seringkali disebut juvenile deliquency (juvenilis = muda, bersifat kemudaan; delinquency dari "delinquere = jahat, durjana, pelanggar, nakal) ialah anak-anak muda yang selalu melakukan kejahatan, dimotivir untuk mendapatkan perhatian, status sosial dan penghargaan dari lingkungannya. Mereka itu disebut pula sebagai pemuda-pemuda brandalan, atau pemuda aspalan yang selalu berkeliaran di jalan-jalan aspalan, atau anakanak jahat nakal. Pada umumnya mereka tidak memiliki kesadaran sosial dan kesadaran moral. Tidak ada pembentukan Ego dan Super-ego, karena hidupnya didasarkan pada basis instinktif yang primitif. Mental dan kemauannya jadi lemah, hingga impuls-impuls, dorongan-dorongan dan emosinya tidak terkendali lagi.

Tingkah-lakunya liar berlebih-lebihan. Fungsi-fungsi psikisnya tidak bisa diintegrasikan, hingga kepribadiannya menjadi khaotis dan menjurus pada psikotis. Anak-anak muda delinquent dengan cacat jasmaniah sering dihinggapi rasa "berbeda", rasa inferior, frustasi dan dendam. Maka untuk mengkompensasikan perasaan-perasaan minder itu mereka melakukan perbuatan-perbuatan "kebesaran/grandieus", kekerasan dan kriminal, menteror lingkungan, bersikap tiranik, agresif dan destruktif, merusak apa saja. Semua itu dilakukan, dengan maksud: mempertahankan harga dirinya, dan untuk "membeli" status sosial serta prestige sosial, untuk mendapatkan perhatian lebih dan penghargaan dari lingkungannya.[3]

2. Faktor-faktor Terjadinya Kenakalan Remaja Menurut Kartini Kartono

Sebab-sebab remaja menjadi delinquent (nakal), antara lain ialah:

a. Instabilitas psikis.

b. Defisiensi dari kontrol Super-ego.

c. Fungsi persepsi yang defektif.

1) Delinquent karena instabilitas psikis.

Tipe ini banyak terdapat pada anak-anak gadis, dengan sikap yang pasif, tanpa kemauan dan sugestible sifatnya. Biasanya mereka itu tidak memiliki karakter, terlalu labil mentalnya. Emosinya tidak matang, dan inteleknya mengalami retardasi; pada umumnya mereka tidak agresif, tapi kemauan dan karakternya sangat lemah. Sehingga mudah mereka jadi pecandu alkohol, dan obat-obat bius; lalu mudah terperosok pada praktek dan perbuatan-perbuatan immoral seksual serta melakukan pelacuran/prostitusi.

b) Delinquent disebabkan defisiensi dari kontrol Superego:

Sebagai akibat dari defisiensi ini, muncul banyak agresivitas. Dorongan-dorongan, impuls-impuls dan sikap-sikap bermusuhannya meledak-ledak secara eksplosif seperti pada penderita epilepsi/ayan. Semua ini mengakibatkan defek intelektual, hingga pasien selalu melakukan reaksi yang primitif, yang ditampilkan dalam gejala: tingkahlaku jahat-kejam tidak berperikemanusiaan, dan suka menteror orang lain serta lingkungan.

c) Delinquent karena fungsi persepsi yang defektif.

Mereka itu tahu bahwa perilakunya jahat kriminal, namun mereka tidak menyadari arti dan kualitas dari kejahatannya. Sebab hati nuraninya sudah menumpul, hingga tingkah-lakunya menjadi buas jahat dan kejam kelewat-lewat.[4]

Laporan "United Nations Congress on the Prevention of Crime and the Treatment of Offenders" yang bertemu di London menyatakan adanya kenaikan jumlah juvenile delinquency (kejahatan anak remaja) dalam kualitas kejahatan, dan peningkatan dalam kegarangan serta kebengisannya yang lebih banyak dilakukan dalam aksi-aksi kelompok daripada tindak kejahatan individual.

Fakta kemudian menunjukkan bahwa semua tipe kejahatan remaja itu semakin bertambah jumlahnya dengan semakin lajunya perkembangan industrialisasi dan urbanisasi. Di kota-kota industri dan kota besar yang cepat berkembang secara fisik, terjadi kasus kejahatan yang jauh lebih banyak daripada dalam masyarakat "primitif" atau di desa-desa. Dan di negara-negara kelas ekonomis makmur, derajat kejahatan ini berkorelasi akrab dengan proses industrialisasi. Karena itu Amerika sebagai negara paling maju secara ekonomis di antara bangsa-bangsa di dunia, mempunyai jumlah kejahatan anak remaja paling banyak; jadi ada derajat kriminalitas anak remaja paling tinggi.

Selanjutnya, gangguan masa remaja dan anak-anak, yang disebut sebagai childhood disorders dan menimbulkan penderitaan emosional minor serta gangguan kejiwaan lain pada pelakunya, di kemudian hari bisa berkembang jadi bentuk kejahatan remaja (juvenile delinquency). Kejahatan yang dilakukan oleh anak-anak muda remaja pada intinya merupakan produk dari kondisi masyarakatnya dengan segala pergolakan sosial yang ada di dalamnya. Kejahatan anak remaja ini disebut sebagai salah-satu penyakit masyarakat atau penyakit sosial.

Penyakit sosial atau penyakit masyarakat adalah segala bentuk tingkah-laku yang dianggap tidak sesuai, melanggar norma-norma umum, adat-istiadat, hukum formal, atau tidak bisa diintegrasikan dalam pola tingkah-laku umum. Ilmu tentang penyakit sosial atau penyakit masyarakat disebut sebagai patologi sosial, yang membahas gejala-gejala sosial yang sakit atau menyimpang dari pola perilaku umum yang disebabkan oleh faktor-faktor sosial. Penyakit sosial ini disebut pula sebagai penyakit masyarakat, masalah sosiopatik, gejala disorganisasi sosial, gejala disintegrasi sosial, dan gejala deviasi (penyimpangan) tingkah-laku.

Disebut sebagai penyakit masyarakat karena gejala sosialnya yang terjadi di tengah masyarakat itu meletus menjadi "penyakit". Dapat disebut pula sebagai struktur sosial yang terganggu fungsinya, disebabkan oleh faktor-faktor sosial. Disebut sebagai masalah sosiopatik karena peristiwanya merupakan gejala yang sakit secara sosial, yaitu terganggu fungsinya disebabkan oleh stimuli sosial.

Penyakit sosial disebut pula sebagai disorganisasi sosial, karena gejalanya berkembang menjadi ekses sosial yang mengganggu keutuhan dan kelancaran berfungsinya organisasi sosial. Selanjutnya dinamakan pula sebagai disintegrasi sosial, karena bagian satu struktur sosial tersebut berkembang tidak seimbang dengan bagian-bagian lain (misalnya person anggota suku, klen, dan lain-lain), sehingga prosesnya bisa mengganggu, menghambat, atau bahkan merugikan bagian-bagian lain, karena tidak dapat diintegrasikan menjadi satu totalitas yang utuh.

Semua tingkah-laku yang sakit secara sosial tadi merupakan penyimpangan sosial yang sukar diorganisir, sulit diatur dan ditertibkan sebab para pelakunya memakai cara pemecahan sendiri yang nonkonvensional, tidak umum, luar biasa atau abnormal sifatnya. Biasanya mereka mengikuti kemauan dan cara sendiri demi kepentingan pribadi. Karena itu deviasi tingkah-laku tersebut dapat mengganggu dan merugikan subyek pelaku sendiri dan/atau masyarakat luas. Deviasi tingkah-laku ini juga merupakan gejala yang menyimpang dari tendensi sentral, atau menyimpang dari ciri-ciri umum rakyat kebanyakan.[5]

Tingkah-laku menyimpang secara sosial tadi juga disebut sebagai diferensiasi sosial, karena terdapat diferensiasi atau perbedaan yang jelas dalam tingkah-lakunya, yang berbeda dengan ciri-ciri karakteristik umum, dan bertentangan dengan hukum, atau melanggar peraturan formal.


3. Pengaruh Sosial dan Kultural Menurut Kartini Kartono

Pandangan bahwa anak seumpama segumpal tanah liat yang bisa dibentuk sekehendak hati menurut keinginan orang tua sudah pudar. Kini semakin disadari kenyataan bahwa tingkah laku anak memang bisa sangat dipengaruhi oleh keluarga dan lingkungan tempat anak tumbuh, tetapi juga banyak perubahan yang dapat terjadi dalam tingkah laku individu ditentukan oleh faktor dari dalam diri anak sendiri. Hal ini tidak berarti bahwa kita cukup sekedar berpangku tangan dan bersikap "biarlah dia tumbuh sendiri".

Pengaruh sosial dan kultural memainkan peranan yang besar dalam pembentukan atau pengkondisian tingkah-laku kriminal anak-anak remaja. Perilaku anak-anak remaja ini menunjukkan tanda-tanda kurang atau tidak adanya konformitas terhadap norma-norma sosial, mayoritas juvenile delinquency berusia di bawah 21 tahun. Angka tertinggi tindak kejahatan ada pada usia 15-19 tahun; dan sesudah umur 22 tahun, kasus kejahatan yang dilakukan oleh gang-gang delinkuen jadi menurun.

Kejahatan seksual banyak dilakukan oleh anak-anak usia remaja sampai dengan umur menjelang dewasa, dan kemudian pada usia pertengahan. Tindak merampok, menyamun dan membegal, 70% dilakukan oleh orang-orang muda berusia 17-30 tahun. Selanjutnya, mayoritas anak-anak muda yang terpidana dan dihukum itu disebabkan oleh nafsu serakah untuk memiliki, sehingga mereka banyak melakukan perbuatan mencopet, menjambret, menipu, merampok, menggarong, dan lain-lain. Menurut catatan kepolisian, pada umumnya jumlah anak laki yang melakukan kejahatan dalam kelompok gang-gang diperkirakan 50 kali lipat daripada gang anak perempuan; sebab anak perempuan pada umumnya lebih banyak jatuh ke limbah pelacuran, promiskuitas (bergaul bebas dan seks bebas dengan banyak pria) dan menderita gangguan mental, serta perbuatan minggat dari rumah atau keluarganya.[6]

Pendidikan anak dalam lingkungan keluarga merupakan awal dasentral bagi seluruh pertumbuhan dan perkembangan si anak menjadi individu yang dewasa. Kiranya kita bisa menamakan keluarga adalah "sekolah cinta kasih". Cinta kasih orang tua yang sebenarnya adalah perpaduan cinta kasih seorang ibu dan cinta kasih seorang ayah.[7]

Anak-anak dalam gang yang delinkuen itu pada umumnya mempunyai kebiasaan memakai uniform atau pakaian yang khas, aneh dan mencolok, dengan gaya rambut khusus, punya lagak tingkah-laku dan kebiasaan khas, suka mendengarkan jenis-jenis lagu tertentu, senang mengunjungi tempat-tempat hiburan dan kesenangan, misalnya ke tempattempat pelacuran, suka minum-minum sampai mabuk, suka berjudi dan lain-lain. Pada umumnya mereka senang sekali mencari gara-gara, membuat jengkel hati orang lain, dan mengganggu orang dewasa serta obyek lain yang dijadikan sasaran buruannya.

Dipelbagai negara mereka itu dikenal dengan nama-nama khusus, yaitu: bar gangs (Argentina), blousons noire (Perancis), bodgies (Australia), chimpira (Jepang), Habstarke (Jerman Barat), hooligans (Polandia), nozem (Nederland), raggare (Swedia), stilyagi (Uni Soviet), tapakaroschi (Yugoslavia), tau-pau (Taiwan), teddy boys (Inggris), vitelloni (Italia), gali (gabungan anak liar) atau jeger (jagoan keker), Indonesia. Gang-gang ini dikenal pula sebagai sebutan bende.

Secara umum mereka dianggap ada dalam satu periode transisi dengan tingkah-laku anti-sosial yang potensial, disertai dengan banyak pergolakan hati atau kekisruhan batin pada fase-fase remaja dan adolesens. Maka segala gejala keberandalan dan kejahatan yang muncul itu merupakan akibat dari proses perkembangan pribadi anak yang mengandung unsur dan usaha:

a. kedewasaan seksual;

b. pencaharian suatu identitas kedewasaan;

c. adanya ambisi materiil yang tidak terkendali;

d. kurang atau tidak-adanya disiplin-diri.[8]

Maka dalam konteks perspektif baru dari periode adolesens dan keremajaan, gang delinkuen tadi mereka interpretasikan sebagai manifestasi kebudayaan remaja, dan tidak dilihat sebagai bagian dari gang kriminal orang-orang dewasa. Kejahatan anak-anak remaja ini merupakan produk sampingan dari:

a. Pendidikan massal yang tidak menekankan pendidikan watak dan kepribadian anak;

b. Kurangnya usaha orang tua dan orang dewasa menanamkan moralitas dan keyakinan beragama pada anak-anak muda;

c. Kurang ditumbuhkannya tanggung jawab sosial pada anak-anak remaja.

Anak-anak remaja yang melakukan kejahatan itu pada umumnya kurang memiliki kontrol-diri, atau justru menyalahgunakan kontrol-diri tersebut, dan suka menegakkan standar tingkah-laku sendiri, disamping meremehkan keberadaan orang lain. Kejahatan yang mereka lakukan itu pada umumnya disertai unsur-unsur mental dengan motif-motif subyektif, yaitu untuk mencapai satu obyek tertentu dengan disertai kekerasan dan agresi. Pada umumnya anak-anak muda tadi sangat egoistis, dan suka sekali menyalahgunakan atau melebih-lebihkan harga-dirinya.

Adapun motif yang mendorong mereka melakukan tindak kejahatan penyimpangan itu antara lain ialah:

a. Untuk memuaskan kecenderungan keserakahan.

b. Meningkatnya agresivitas dan dorongan seksual,

c. Salah-asuh dan salah-didik orang tua, sehingga anak menjadi; manja dan lemah mentalnya.

d. Hasrat untuk berkumpul dengan kawan senasib dan sebaya, dan kesukaan untuk meniru-niru.

e. Kecenderungan pembawaan yang patologis atau abnormal.

f. Konflik batin sendiri, dan kemudian menggunakan mekanisme pelarian diri serta pembelaan diri yang irrasional.

Kartini Kartono mengatakan juvenile delinquency (juvenilis = muda, bersifat kemudaan; delinquency dari delinqucuere = jahat, durjana, pelanggar, nakal) ialah anak-anak muda yang selalu melakukan kejahatan, dimotivir untuk mendapatkan perhatian, status sosial dan penghargaan dari lingkungannya.[9]

Keseluruhan jumlah tindak kejahatan yang dilakukan oleh anak-anak remaja itu tidak dapat diketahui dengan tepat, karena kasus yang dilaporkan kepada polisi dan diajukan ke pengadilan sangat terbatas sekali. Hanya proporsi yang sangat kecil saja dari jumlah kejahatan itu bisa diketahui atau dilaporkan; biasanya berupa tindak kriminal yang bengis dan sangat mencolok di mata umum. Kejahatan kecil pada umumnya tidak dilaporkan, karena orang enggan berurusan dengan polisi atau pihak berwajib, atau orang merasa malu jika peristiwanya sampai terungkap.[10]


4. Penanggulangan Kenakalan Remaja Menurut Kartini Kartono

Delinkuensi sebagai status legal selalu berkaitan dengan tingkahlaku durjana. Anak-anak di bawah usia 7 tahun yang normal, pada umumnya tidak mampu membangkitkan niat untuk melakukan tindak kriminal. Mereka tidak memahami arti kejahatan dan salah-benar. Karena itu mereka tidak bisa dituntut sebagai pelaku yang bertanggung jawab atas suatu "kejahatan" yang dilakukannya. Maka yang dimasukkan dalam kelompok juvenile delinkuensi ialah kelompok anak yang berusia 8-22 tahun. Usia 19-22 tahun disebut sebagai periode adolesensi atau usia menjelang dewasa.[11]

Juvenile delinquency muncul sebagai masalah sosial yang semakin gawat pada masa modern sekarang, baik yang terdapat di negara-negara dunia ketiga yang baru merdeka maupun di negara-negara yang sudah maju. Kejahatan anak remaja ini teristimewa sekali erat kaitannya dengan modernisasi, industrialisasi, urbanisasi, taraf kesejahteraan dan kemakmuran.

Pola delinkuen itu ditentukan oleh pihak-pihak yang kompeten atau berwenang untuk menentukan atribut tersebut, yaitu oleh:

a. Pendefinisian-diri, penentuan-diri, zelf bestempeling, dan kemauan sendiri untuk menjalankan peranan sosial yang menyimpang dari konvensi umum.

b. Oleh orang lain, yaitu teman-teman, tetangga, guru, majikan pemberi pekerjaan, orang tua, kaum kerabat, lembaga-lembaga sosial, dan lain-lain

c. Laporan polisi, pengadilan dan laporan-diri.

d. Laporan klinis, psikologis dan medis; atau kombinasi dari ketiga laporan tadi, ditambah dengan laporan polisi dan pengadilan.[12]

Delinkuensi ini lebih banyak terdapat pada anak remaja, adolesens dan kedewasaan muda (young adulthood). Rasio delinkuen anak laki dengan perempuan diperkirakan 50:1. Anak laki pada umumnya melakukan perbuatan kriminal dengan jalan kekerasan, kejantanan, penyerangan, perusakan, pengacauan, perampasan dan agresivitas. Sedang anak perempuan lebih banyak melakukan pelanggaran seks, promiskuitas, lari dari rumah, dan menggunakan mekanisme melarikan diri dalam dunia fantasi serta gangguan kejiwaan.[13]

Oleh karena tindak delinkuen anak remaja itu banyak menimbulkan kerugian materiil dan kesengsaraan batin baik pada subyek pelaku sendiri maupun pada para korbannya, maka masyarakat dan pemerintah dipaksa untuk melakukan tindak-tindak preventif dan penanggulangan secara kuratif. Tindakan preventif yang dilakukan antara lain berupa:

a. Keluarga: meningkatkan kesejahteraan keluarga

b. Sekolah

1) Mendirikan klinik bimbingan psikologis dan edukatif untuk memperbaiki tingkah-laku dan membantu remaja dari kesulitan mereka.

2) Membentuk badan kesejahteraan anak-anak.

3) Membuat badan supervisi dan pengontrol terhadap kegiatan anak delinkuen, disertai program yang korektif.

4) Mendirikan sekolah bagi anak gembel (miskin).

5) Menyelenggarakan diskusi kelompok dan bimbingan kelompok untuk membangun kontak manusiawi di antara para remaja delinkuen dengan masyarakat luar. Diskusi tersebut akan sangat bermanfaat bagi pemahaman kita mengenai jenis kesulitan dan gangguan pada diri para remaja.

c. Masyarakat

1) Perbaikan lingkungan, yaitu daerah slum, kampung-kampung miskin.

2) Menyediakan tempat rekreasi yang sehat bagi remaja.

3) Mengadakan panti asuhan.

4) Mengadakan lembaga reformatif untuk memberikan latihan korektif, pengoreksian dan asistensi untuk hidup mandiri dan susila kepada anak-anak dan para remaja yang membutuhkan.

5) Mengadakan pengadilan anak.

6) Menyusun undang-undang khusus untuk pelanggaran dan kejahatan yang dilakukan oleh anak dan remaja.

7) Mengadakan rumah tahanan khusus untuk anak dan remaja.

8) Mendirikan tempat latihan untuk menyalurkan kreativitas para remaja delinkuen dan yang nondelinkuen. Misalnya berupa latihan vokasional, latihan hidup bermasyarakat, latihan persiapan untuk bertransmigrasi, dan lain-lain.

C. KESIMPULAN

Menurut Kartini Kartono untuk menanggulangi kenakalan remaja, maka ada beberapa tindakan preventif yang dilakukan antara lain berupa: meningkatkan kesejahteraan keluarga, mendirikan klinik bimbingan psikologis dan edukatif untuk memperbaiki tingkah-laku dan membantu remaja dari kesulitan mereka; membentuk badan kesejahteraan anak-anak, membuat badan supervisi dan pengontrol terhadap kegiatan remaja, disertai program yang korektif. Selain itu mendirikan sekolah bagi anak gembel (miskin), menyelenggarakan diskusi kelompok dan bimbingan kelompok untuk membangun kontak manusiawi di antara para remaja dengan masyarakat luar.











































DAFTAR PUSTAKA

Daradjat, H. Zakiah, Kesehatan Mental, Cet. 10, (Jakarta: PT Gunung Agung,1983).

Kartono, Kartini Patologi Sosial 2 Kenakalan Remaja, cet. 5, (Jakarta: PT. Raja Grafinda Persada, 2003).

----------Patologi Sosial 3 Gangguan-Gangguan Kejiwaan, (Jakarta: Rajawali, 1986).

----------Seri Psikologi Terapan 1, Peranan Keluarga Memandu Anak, (Jakarta: CV Rajawali, 1985).

[1] Zakiah Daradjat, Kesehatan Mental, Cet. 10, (Jakarta: Gunung Agung, 1993), hlm. 101.

[2] Kartini Kartono, Patologi Sosial 2, Kenakalan Remaja, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2003), hlm. 136.

[3] Kartini Kartono, Patologis Sosial 3 Gangguan-gangguan Kejiwaan, (Jakarta: CV.Rajawali, 1986), hlm. 209.

[4] Ibid, hlm. 210.

[5] Kartini Kartono, Patologi Sosial 2 Kenakalan Remaja, hlm. 5.

[6] Kartini Kartono, Patologi Sosial 2 Kenakalan Remaja, hlm. 7.

[7] Kartini Kartono, Peranan Keluarga Memandu Anak, (CV Rajawali, Jakarta, 1985), hlm. 8.

[8] Kartini Kartono, Patologi Sosial 2 Kenakalan Remaja, hlm. 8.

[9] Kartini Kartono, Patologis Sosial 3 Gangguan-gangguan Kejiawaan, hlm 209.

[10] Kartini Kartono, Patologi Sosial 2 Kenakalan Remaja, hlm. 9.

[11] Ibid, hlm. 94.

[12] Ibid, hlm. 94.

[13] Ibid, hlm. 95.

luvne.com ayeey.com cicicookies.com mbepp.com kumpulanrumusnya.comnya.com tipscantiknya.com