GANGGUAN KECEMASAN PADA ANAK

GANGGUAN KECEMASAN PADA ANAK

A. PENDAHULUAN
Kecemasan tidak hanya dapat dialami oleh orang dewasa, tetapi juga dapat dirasakan pula oleh anak. Pada saat-saat tertentu kecemasan yang merupakan hal yang normal bahkan dapat menolong seseorang terhadap ancaman atau sesuatu yang membahayakan mereka. Misalnya saja berupa reaksi ketakutan terhadap ketinggian, orang asing, atau sesuatu yang mengancam jiwa. 

Kecemasan ini sebenarnya bisa dijadikan untuk melindungi diri dari segala sesuatu yang membahayakan. Kecemasan yang dialami anak biasanya berupa reaksi ketakutan akan gelap, lingkungan yang baru atau sesuatu yang baru, keterpisahan dengan orang terdekatnya, juga yang berkaitan dengan tugas sekolah yang diberikan. Fakta yang terjadi bahwa antara 9 sampai 15 persen anak dan remaja di Amerika mengalami gejala kecemasan yang menganggu kegiatan atau rutinitas
keseharian mereka. 

Anak dan remaja yang mengalami kecemasan ini beresiko mengalami underachievement di sekolah yakni ditunjukkan dengan tidak adanya motivasi berprestasi, merasa tidak berharga, dan permasalahan dengan kejiwaan terhadap orang dewasa, terutama berkaitan dengan depressi dan gangguan kecemasan. Ketika strategi pemecahan masalah gagal dilakukan oleh anak ataupun remaja, dan kecemasan yang dialami menjadi cukup berat untuk ditangani maka akan menyebabkan keadaan yang sulit terhadap mereka. 

Keadaan yang sulit ini akan berpengaruh terhadap rutinitas mereka baik di sekolah, aktivitas sehari-hari, atau hubungan dengan teman-temannya. Yang kemudian dapat dikatakan bahwa anak dan remaja tersebut mengalami masalah kecemasan atau anxiety disorder .Untuk itulah dibutuhkan suatu pendekatan untuk membantu anak-anak yang mengalami gangguan kecemasan ini supaya mereka dapat memaksimalkan potensi diri dan meningkatkan prestasinya. Pendekatan ini yaitu dengan adanya bimbingan konseling berupa layanan / treatment yang sesuai dengan kebutuhannya.

B. PEMBAHASAN
1. Definisi dan Tipe-tipe Gangguan Kecemasan 

Menurut Ismira Dewi, anxiety disorder atau gangguan kecemasan merupakan suatu keadaan yang dialami seseorang sehingga menimbulkan perasaan cemas dan khawatir secara berlebihan dalam jangka waktu yang cukup lama. Kecemasan dapat terjadi dalam berbagai situasi dan kondisi, termasuk didalamnya adalah ketakutan yang besar terhadap beberapa kondisi, yang kemudian dikenal dengan sebutan gangguan kecemasan umum atau generalized anxiety disorder (GAD). 

Gangguan kecemasan umum ini ditandai dengan kecemasan dan kekhawatiran yang berlebihan. Keadaan ini membuat seseorang akan sulit mengendalikan ketakutan yang muncul saat itu. Dr. Evalina Asnawi Hutagalung, Sp.Kj. menjelaskan bahwa anxietas adalah perasaan yang difius, yang sangat tidak menyenangkan, agak tidak menentu dan kabur tentang sesuatu yang akan terjadi. Perasaan ini disertai dengan suatu atau beberapa reaksi badaniah yang khas dan yang akan datang berulang bagi seseorang tertentu. 

Perasaan ini dapat berupa rasa kosong di perut, dada sesak, jantung berdebar, keringat berlebihan, sakit kepala atau rasa mau kencing atau buang air besar. Perasaan ini disertai dengan rasa ingin bergerak dan gelisah. Anxietas adalah perasaan tidak senang yang khas yang disebabkan oleh dugaan akan bahaya atau frustrasi yang mengancam yang akan membahayakan rasa aman, keseimbangan, atau kehidupan seseorang individu atau kelompok biososialnya. 

Di dalam Rangkuman Mata Kuliah PGTK2404 Penanganan Anak Berkelainan (Anak dengan Kebutuhan Khusus) yang diterbitkan Universitas Terbuka, diuraikan bahwa kecemasan merupakan ketakutan akan hal-hal yang akan dialami di masa depan dan keadaan tersebut mempengaruhi individu dalam berbagai area fungsional. Kecemasan memiliki tiga komponen dasar, yaitu keadaan subjektif, respons tingkah laku, dan respons fisiologis. Derajat kecemasan yang tinggi terjadi pada anak usia antara dua dan enam tahun. Dalam jumlah tertentu, kecemasan adalah sesuatu yang normal. Kecemasan baru disebut sebagai gangguan jika terdapat pengalaman yang intens, tidak rasional, dan perasaan tidak mampu untuk mengatasi. Terdapat beberapa tipe gangguan kecemasan, yaitu :

a. Fobia
Fobia adalah ketakutan yang berlebihan yang disebabkan oleh benda, binatang ataupun peristiwa tertentu, sifatnya biasanya tidak rasional, dan timbul akibat peristiwa traumatik yang pernah dialami individu. Fobia dibedakan menjadi dua jenis, yaitu:
1) Fobia Spesifik Ketakutan berlebih yang disebabkan oleh benda, atau peristiwa traumatik tertentu, misalnya: ketakutan terhadap kucing (ailurfobia), ketakutan terhadap ketinggian (acrofobia), ketakutan terhadap tempat tertutup (agorafobia), fobia terhadap kancing baju, dsb.
2) Fobia Sosial Ketakutan berlebih pada kerumunan atau tempat umum. ketakutan ini disebabkan akibat adanya pengalaman yang traumatik bagi individu pada saat ada dalam kerumunan atau tempat umum. Misalnya dipermalukan didepan umum, ataupun suatu kejadian yang mengancam dirinya pada saat diluar rumah.

b. Obsesif Kompulsif
Obsesif adalah pemikiran yang berulang dan terus-menerus. Sedangkan kompulsif adalah pelaksanaan dari pemikirannya tersebut. 

c. Post Traumatik-Stress Disorder (Gangguan Stress Pasca Trauma)
PTSD merupakan kecemasan akibat peristiwa traumatik yang biasanya dialami oleh veteran perang atau orang-orang yang mengalami bencana alam. 

d. Generalized Anxiety Disorder (Gangguan Kecemasan Tergeneralisasikan)
Tanda-tanda; kecemasan kronis terus menerus rnencakup situasi hidup (cemas akan terjadi kecelakaan, kesulitan finansial). Ada keluhan somatik: berpeluh, merasa panas, jantung berdetak keras, perut tidak enak, diare, sering buang air kecil, dingin, tangan basah, mulut kering, tenggorokan terasa tersumbat, sesak nafas, hiperaktivitas sistem saraf otonomik. 

e. Gangguan Panik
Tanda-tanda: sekonyong-sekonyong sesak nafas, detak jantung keras, sakit di dada, merasa tercekik, pusing, berpeluh, bergetar, ketakutan yang sangat akan teror, ketakutan akan ada hukuman. 

2. Gejala-gejala Gangguan Kecemasan Umum
Anak dan remaja dengan gangguan kecemasan secara umum atau generalized anxiety disorder (GAD) sering terbelenggu dalam kekhawatiran terhadap kesuksesan dan kemampuan mereka guna mendapatkan pengakuan dari orang lain. Dalam hal ini anak menerapkan target yang cukup tinggi dalam mengerjakan tugasnya agar diperoleh hasil yang sempurna. 

Pencapaian target tersebut muncul karena adanya perasaan ketakutan yang cukup mendalam, ketakutan akan gagal, ditolak, dihina taupun diejek oleh lingkungannya. Adanya tuntutan yang berlebih ini kurang didukung dengan perasaan dan keadaan dirinya karena mereka memiliki keragu-raguan yang besar dan tidak yakin atas kemampuannya, bahkan mengkritik dirinya dengan menilai kelemahan yang ada dalam dirinya.

Selain itu anak juga menunjukkan perilaku yang kaku dan kekhawatiran yang berlebih terhadap suatu aturan. Sebagian anak menunjukkan sikap pemalu, dan tidak merasa nyaman dengan suatu hobbi atau kegiatan rekreasi bersama. Tidak jarang diantara mereka menyadari bahwa keadaan dan kekhawatiran yang dialami lebih disebabkan karena situasi yang sedang terjadi, namun mereka tidak dapat menghentikan kecemasannya tersebut.

Selain itu anak juga menunjukkan perilaku yang kaku dan kekhawatiran yang berlebih terhadap suatu aturan. Sebagian anak menunjukkan sikap pemalu, dan tidak merasa nyaman dengan suatu hobbi atau kegiatan rekreasi bersama. Tidak jarang diantara mereka menyadari bahwa keadaan dan kekhawatiran yang dialami lebih disebabkan karena situasi yang sedang terjadi, namun mereka tidak dapat menghentikan kecemasannya tersebut.

Berikut ini bentuk perilaku dari gangguan kecemasan umum atau GAD (generalized anxiety disorder) pada anak-anak :
• Gelisah, gemetar, berkeringat;
• Jantung berdegup kencang, sesak nafas;
• Sering buang air kecil;
• Sulit berkonsentrasi;
• Menangis, marah (tantrum), berdiam diri, ketakutan, tergantung;
• Mudah merasa lelah;
• Pemalu yang berlebihan;
• Merasa ingin melarikan diri dari tempat tersebut;

Menghindari interaksi dengan orang baru, dan merasa menderita dengan lingkungan sosial yang baru. Gangguan kecemasan umum pada anak ini biasanya terjadi dan menetap selama enam bulan dan berpengaruh pada perilaku sehari-hari baik di rumah, sekolah, atau dengan teman-temannya.

Gangguan cemas mempunyai penyebab multifaktorial, faktor biologis, psikologis, dan sosial. Faktor biologis kecemasan akibat reaksi syaraf otonom yang berlebihan dan terjadi pelepasan katekholamine. Dilihat dari aspek psikoanalisis kecemasan dapat terjadi akibat impuls-impuls bawah sadar yang masuk ke alam sadar. Mekanisme pertahanan jiwa yang tidak sepenuhnya berhasil dapat menimbulkan kecemasan yang mengambang, displacement dapat mengakibatkan reaksi fobia, reaksi formasi, dan undoing dapat mengakibatkan gangguan obsesi kompulsif. Sedangkan ketidakberhasilan represi mengakibatkan gangguan panik.

Dari pendekatan sosial, ansietas dapat disebabkan karena frustasi, konflik, tekanan atau krisis. Menurut psikolog anak dr. Devita Kusindiati, M.Psi. ada beberapa faktor yang menyebabkan anak mengalami kecemasan antara lain : 

1. Merasa tidak aman,
2. Orang tua/guru tidak konsisten dalam mendidik atau mengasuh anak sehingga membuat anak bingung dan cemas,
3. Orangtua yang perfeksionis,
4. Pola asuh permisif (permissiveness),
5. Banyak dikritik oleh orang tua atau teman sebaya, 

Frustasi yang berlebihan. Secara umum bisa disimpulkan bahwa kecemasan timbul akibat adanya respons terhadap kondisi stres atau konflik. Rangsangan berupa konflik, baik yang datang dari luar maupun dalam diri sendiri akan menimbulkan respons dari sistem saraf yang mengatur pelepasan hormon tertentu. Akibat pelepasan hormon tersebut, maka muncul perangsangan pada organ-organ seperti lambung, jantung, pembuluh daerah maupun alat-alat gerak. Karena bentuk respons yang demikian, penderita biasanya tidak menyadari hal itu sebagai hubungan sebab akibat.

Apakah seseorang akan mengalami anxietas atau tidak dan berapa beratnya, sangat tergantung pada berbagai faktor. Faktor itu ada yang bersumber pada keadaan biologis, kemampuan beradaptasi/mempertahankan diri terhadap lingkungan yang diperoleh dari perkembangan dan pengalamannya, serta adaptasi terhadap rangsangan, situasi atau stressor yang dihadapi.

3. Treatment dan Layanan Yang Diberikan 

Beberapa treatment dan layanan yang dilakukan untuk mengatasi masalah ini adalah :
• Menenangkan anak dengan memberi keyakinan pada anak.
• Melatih anak untuk melakukan relaksasi.
• Memandu anak untuk berfikir positif atau sesuatu yang menyenangkan anak.
• Mendorong anak untuk mengekspresikan perasaannya,
• Meningkatkan kemampuan anak untuk memahami dan memecahkkan masalah yang dihadapinya.
• Mendorong anak mengekspresikan perasaannya.
• Menyarankan orangtua untuk melakukan konsultasi lebih lanjut kepada psikiater atau dokter anak untuk penanganan yang lebih memadai.

C. KESIMPULAN
Kecemasan merupakan suatu sensasi aphrehensif atau takut yang menyeluruh. Dan hal ini merupakan suatu kewajaran atau normal saja, akan tetapi bila hal ini terlalu berlebihan maka dapat menjadi suatu yang abnormal. Ciri penderita gangguan kecemasan antara lain : 

Ciri Fisik :
1. Gelisah
2. Berkeringat
3. Jantung berdegup kencang
4. Ada sensasi tali yang mengikat erat pada kepala
5. Gemetar6. Sering buang air kecil
Ciri Perilaku :
1. Perilaku menghindar
2. Perilaku dependen Ciri Kognitif
3. Merasa tidak bisa mengendalikan semua
4. Merasa ingin melarikan diri dari tempat tersebut
5. Serasa ingin mati

Hendaknya orangtua dapat lebih peka terhadap keadaan atau perubahan yang sedang dialami oleh anak. Berbicara secara langsung merupakan salah satu cara yang paling efektif dan memiliki pengaruh luas terhadap jiwa anak. Membicarakan mengenai kekhawatiran dan ketakutan yang dirasakan mereka, diharapkan akan sangat membantu meringankan beban yang dialami. 

Orangtua dapat pula menyampaikan pada mereka bahwa orang lain juga pernah mengalami hal yang serupa. Disamping itu juga orangtua dapat memberikan dorongan dan semangat dengan menggali potensi atau keahlian dalam diri anak. Sehingga mereka dapat mengembangkan kemampuannya dan tidak lagi merasa malu atau minder dengan keadaannya. 

Melalui berbicara ataupun berinterkasi dengan anak diharapkan nantinya kecemasan yang muncul dapat berkurang bahkan hilang. Gangguan kecemasan umum hendaknya ditangani dengan melibatkan bantuan terapis, dokter, pihak sekolah, maupun keluarga. Adanya keterbukaan dan komunikasi baik antara keluarga, sekolah, dan profesional yang lain dapat meningkatkan kualitas hidup pada anak dan remaja yang sedang mengalami kecemasan.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2008. Rangkuman Mata Kuliah: PGTK2404 Penanganan Anak Berkelainan (Anak dengan Kebutuhan Khusus). http://pustaka.ut.ac.id/
Evalina Asnawi Hutagalung, Dr., Sp.KJ. 27 Oktober 2007. Makalah: Tatalaksana Diagnosis dan Terapi Gangguan Anxietas.http://www.idijakbar.com/ prosiding/gangguan_anxietas.htm
Husnul Mubarak, S.Ked. 28 Desember 2008. Artikel: Gangguan Cemas. http:// cetrione.blogspot.com/2008/12/gangguan-cemas.html
Ismira Dewi. 17 Juli 2008. Artikel: Anxiety Disorder: Dapat Dialami Pula oleh Anak dan Remaja. http://www.kabarindonesia.com

Artikel Terkait