<script async src="//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js"></script> <!-- iimrohimah --> <ins class="adsbygoogle" style="display:inline-block;width:468px;height:60px" data-ad-client="ca-pub-4533907847127524" data-ad-slot="6841261291"></ins> <script> (adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({}); </script>

Selasa, 26 Maret 2013

makalah psikologi sosial

INTERAKSI SOSIAL, KETERTARIKAN ANTAR MANUSIA, MANUSIA MAKHLUK SOSIAL


A. PENDAHULUAN

Sejak kecil setiap orang terbiasa bergaul denga lingkungannya, dan mempunyai ketertarikan dengan lingkungan sosialnya. Ketertarikan manusia dengan lingkungan sosialnya, berubah-ubah sejak masa
kecil sampai akhir hidupnya. Oleh karena itu setiap individu melakukan penyesuaian-penyesuaian dalam setiap tahap perkembangannya. Dalam kaitan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya individu harus mnyesuaikan dengan tipe kepribadian yang dimiliki oleh berbagai macam individu.

Di antara orang-orang yang kita kenal baik dan kita senangi, kita maresa bebas berbicara dan bertindak, terasa interaksi berjalan lancar. Sebaliknya di antara orang-orang asing atau bahkan musuh kita kurang memiliki kebebasan berbicara dan bertindak, terasa interaksi kurang lancar. Apakah sebenarnya yang menyebabkan perasaan ini semua terjadi dalam hubungan antar manusia.
Dalam kehidupan sehari-hari manusia tidak dapat hidup sendiri atau mencukupi kebutuhan sendiri. Meskipun dia mempunyai kedudukan dan kekayaan, dia selalu membutuhkan manusia lain. Setiap manusia cenderung untuk berkomunikasi, berinteraksi, dan bersosialisasi dengan manusia lainnya. Dapat dikatakan bahwa sejak lahir, dia sudah disebut sebagai makhluk sosial. Maka timbullah anggapan bahwa manusia itu dalamnya dan perkembangan pribadinya semata-mata ditentukan oleh dunia luar atau dunia sosial yang bergesekan dengan kehidupan orang lain.

B. PEMBAHASAN

1. Interaksi Sosial

a. Pengertian Interaksi Sosial

Interaksi sosial ialah hubungan antar individu satu dengn individu yang lain, individu satu dapat mempengaruhi individu yang lain atau sebaliknya, jadi terdapat adanya hubungan yang saling timbal balik. Hubungan tersebut dapat antara individu dengan individu, individu dengan kelompok atau kelompok dengan kelompok.[1]

Menurut H.Bonner dalam bukunya, Social Psychologi, yang dalam garis besarnya berbunyi sebagai berikut : Interaksi sosial adalah suatu hubungan antara dua atau lebih individu manusia, dimana kelakuan individu yang satu mempengaruhi, mengubah, atau memperbaiki kelakuan individu yang lain, atau sebaliknya.[2]

Dengan demikian maka sebenarnya merupakan keuntungan yang besar bagi manusia, sebab dengan adanya dua macam fungsi yang dimiliki itu timbullah kemajuan-kemajuan dalam hidup bermasyarakat. Jika manusia hanya sebagai obyek semata-mata maka hidupnya tidak mungkin lebih tinggi daripada kehidupan benda-benda mati, sehingga kehidupan manusia tidak mungkin timbul kemajuan.

Sebaliknya jika manusia hanya sebagai subyek semata-mata, maka ia tak mungkin bisa hidup bermasyarakat (tak bisa bergaul dengan manusia lain) sebab pergaulan baru bisa terjadi jika ada give and take dari masing-masing anggota masyarakat itu. Jadi jelas bahwa hidup individu dan masyarakat tidak dapat dipisahkan dan selalu berinteraksi antara yang satu dengan yang lain.[3]

Oleh karena itu setiap individu melakukan penyesuaian-penyesuaian dalam setiap tahap perkembangannya. Dalam kaitan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan sosialnya setiap individu harus dapat melakukan komunikasi dengan berbagai macam tipe kepribadian yang dimiliki oleh berbagai macam individu. Peranan interaksi sosial untuk melakukan penyesuaian diri agar dapat diterima oleh masyarakatnya memainkan peranan penting dalam perjalanan hidup seseorang.[4]

b. Faktor-Faktor Yang Mendasari Berlangsungnya Interaksi Sosial

a). Faktor Imitasi

Imitasi merupakan dorongan untuk meniru orang lain. Menurut Tarde faktor imitasi ini merupakan satu-satunya faktor yang mendasari atau melandasi interaksi sosial.[5] Seperti yang dikemukakan oleh Gerungan[6],

“Menurut Tarde, masyarakat itu tiada lain dari pengelompokan manusia di mana individu-individu yang satu mengimitasi dari yang lain dan sebaliknya; bahkan masyarakat itu baru menjadi masyarakat sebenarnya apabila manusia mulai mengimitasi kegiatan manusia lainnya. Kata Tarde : Ia societe e’est I’ imitation”.

Imitasi tidak berlangsung secara otomatis, tetapi ada faktor yang mempengaruhi dan ikut berperan sehingga seseorang mengadakan imitasi. Bagaimana orang dapat mengimitasi sesuatu kalau orang yang bersangkutan tidak mempunyai sikap menerima terhadap apa yang diimitasi itu. Dengan demikian untuk mengimitasi sesuatu perlu adanya sikap menerima, sika mengagumi terhadap yang diimitasi itu, karena itu imitasi tidak berlangsung dengan sendirinya.

b). Faktor Sugesti

Yang dimaksud dengan sugesti ialah pengaruh psikis, baik yang datang dari diri sendiri, maupun yang datang dari orang lain, yang pada umumnya diterima tanpa adanya kritik dari individu yang bersangkutan. Karena itu sugesti dapat dibedakan (1) auto-sugesti, yaitu sugesti terhadap diri sendiri, sugesti yang datang dari dalam diri individu yang bersangkutan, dan (2) hetero-sugesti, yaitu sugesti yang datang dari orang lain.[7]

Bilakah sugesti itu lebih mudah terjadi pada manusia, dan apakah syarat-syaratnya terjadinya sugesti? Dalam garis besarnya terdapat beberapa keadaan tertentu serta syarat-syarat yang memudahkan sugesti terjadi[8], yaitu :

1) Sugesti karena hambatan berfikir,

2) Sugesti karena keadaan pikiran terpecah-pecah,

3) Sugesti karena otoritas,

4) Sugesti karena mayoritas,

5) Sugesti karena “will to believe”

c). Faktor Identifikasi

Identifikasi dalam psikologi berarti dorongan untuk menjadi identik (sama) dengan orang lain, baik secara lahiriah maupun secara batiniah. Misalnya identifikasi seorang anak laki-laki untuk menjadi sama seperti ayahnya atau seorang anak perempuan untuk menjadi sama dengan ibunya.

Proses identifikasi ini mula-mula berlangsung secara tidak sadar (secara dengan sendirinya) kemudian irrasionil, yaitu berdasarkan perasaan-perasaan atau kecenderungan-kecenderungan dirinya yang tidak diperhitungkan secara rasional, dan yang ketiga identifikasi berguna untuk melengkapi sistem norma-norma, cita-cita dan pedoman-pedoman tingkah laku orang yang mengidentifikasi itu.[9]

d). Faktor Simpati

Sympati adalah perasaan tertariknya orang yang satu terhadap orang yang lain. Sympati timbul tidak atas dasar logis rasionil, melainkan berdasarkan penilaian perasaan seperti jug pada proses identifikasi. Bahkan orang dapat tiba-tiba merasa tertarik kepada orang lain dengan sendirinya karena keseluruhan cara-cara bertingkah laku menarik baginya. Dengan demikian sympati hanya akan berlangsung dan berkembang dalam relasi kerja sama antara dua orang atau lebih bila terdapat saling pengertian.[10]

2. KETERTARIKAN ANTAR MANUSIA

Suatu kenyataan bahwa kita selalu ingin berhubungan dengan orang lain yang berarti kita tertarik kepada mereka, atau kita ingin menarik mereka. Di dalam hal ini akan muncul istilah-istilah : menyukai, mencintai, persahabatan, dan lain-lain hubungan intim lainnya sebagai akibat-akibat adanya ketertarikan antar pribadi. Menyukai, mencintai, persahabatan, dan hubungan intim lainnya dewasa ini telah menjadi kekuatan yang amat penting dalam masyarakat kita. Oleh karena itu dirasa perlunya untuk mencoba menemukan bagaimana hal-hal tersebut terjadi, apa artinya ketertarikan, dan sebagainya.

Ketertarikan melalui hal-hal yang nampak (Appearance). Pendapat umum mengatakan bahwa dasar utama yang menjadikan seseorang untuk tertarik dengan orang lain yang belum saling mengenal adalah hal-hal yang nampak (appearance). Jika hubungan positif itu timbul karena ketertarikan yang bersumber pada hal-hal yang nampak, maka hal-hal yang nampak ini perlu dipelihara.

Pendapat, bahwa hal-hal yang nampak sajalah yang merupakan dasar utama ketertarikan kiranya bertentangan dengan pendapat para ahli psikologi, sebagian karena pendapat ini tidak memperhitungkan kesiapan orang untuk menjadi tertarik ukuran-ukuran yang dimiliki, dan hubungan antara antara aspek-aspek yang nampak pada seseorang dan kepribadiannya.

Ada tiga orientasi teori utama yang saling berbeda, dan masing-masing memenadang tingkah laku dengan cara yang berbeda. Tiga pendekatan ini adalah Cognitive, reinforment dan interactionist.[11]

a. Teori Cognitive

Teori ini menekankan proses berfikir sebagai dasar yang menentukan semua tingkah laku. Manusia dipandang sebagai suatu akal pikiran yang mencoba memecahkan masalah yang kompleks di sekitar kita dengan cara yang rasional.Pendekatan cognitive yang demikian ini oleh ahli Psikologi Sosial yang bernama Theodore Newcomb disebut sebagai “teori balanced”, yaitu suatu kecenderungan untuk mengorganisasi konsepsi tentang orang lain, dirinya sendiri, dan barang-barang lain di sekitarnya dengan dengan cara yang harmonis, balanced atau symeteris.

b. Teori Reinforcement (Penguatan)

Penguatan, atau stimulus/respon adalah teori yang berakar pada teori yang menginterpretasikan ketertarikan sebagai suau respons yang dipelajari. Teori ini berusaha menekankan bagaimana ketertarikan datang untuk peratama kalinya. Orag ditarik oleh hadiah, dan ditolak oleh hukuman. Semua ketertarikan antar pribadi diterangkan dalam hal belajar di mana untuk berhubungan secara positif dengn hadiah dan untuk berhubungan secara negatif dengan perangsang hukuman.

c. Teori Interactionist

Di dalam teori ini beranggapan bahwa setiap oramg dirangsang untuk menyukai orang lain. Setiap keputusan selalu dihubungkan kepada situasi sosial di mana seseorang menemukan dirinya. Faktor yang sangat penting bahwa di dalam suatu hubungan berbeda dari waktu-ke waktu. Seorang suami menyukai isterinya karena sifat penurutnya, tetapi dari waktu ke waktu alasan itu menghilang dan diganti dengan alasan yang lain.

a). Persahabatan Dan Ciri-Cirinya

Persahabatan merupakan konsep sosial yang murni. Persahabatan timbul karena kecenderungan karena adanya kesamaan. Dua orang yang semula berhubungan sebagai teman biasa berkembang menjadi sahabat karena ada kesamaan, berupa kesamaan hobby, berfikir, keinginan atau cita-cita, nasib dan sebagainya.

Persahabatan dan hubungan ke-teman-an merupakan suatu hal yang berbeda. Seorang ahli Psikologi Sosial Suzanne Kurth membedakannya sebgai berikut :

Persahabatan adalah suatu hubungan antar pribadi yang akrab atau intim yang melibatkan setiap individu sebagai suatu kesatuan. Sedangkan hubungan ke-teman-an adalah merupakan hasil dari suatu hubungan formal dan suatu tingkat permulaan di dalam perkembangan suatu persahabatan. Hubungan ketemanan dibutuhkan di dalam masyarakat kita. Hubungan ketemanan dapat berkembang ke persahabatan di dalam kenyataannta, berteman dengan seseorag biasanya merpakan tingkat permulaan dari dikukhkannya suatu persahabatan. Banyak waktu yang dihabiskan dalam hubungan persahabatan.[12]

b). Tertarik dan Cinta

1) Tertarik

Orang yang saling sering bertemu lebih memiliki kecenderungan untuk tertarik daripada mereka yang jarang atau bahkan tidak pernah bertemu. Perkawinan misalnya lebih banyak terjadi pada orang yang mempunyai kedetan yang lebih pada ketertarikan. Tertarik juga berasal dari komunikasi interpersonal[13] yang baik dalam komunikasi antar individu dengan individu lainnya mulai dari brntuk tatap muka dan dalam susunan kelompok sampai dalam bentuk pesan atau komunikasi instan. Hubungan dekat dengan teman, merupakan suatu kondisi untuk tertarik atau menyukai, karena di situ orang sering berhubungan secara langsung, bertatap muka. Dalam bahasa Jawa dikatakan : Witing tresno jalaran saka kulino. Artinya Timbulnya cinta karena seringnya berhubungan atau bertemu.

2) Cinta

Cinta merupakan salah satu bentuk terpenting dari ketertarikan antar pribadi. Pada umumnya cinta melibatkan dua orang berbeda jenis kelaminnya, suatu perwujudan ketertarikan antar pribadi antara pria dan wanita.Meurut K.H. Rahmat Abdullah[14] bahwa cinta itu menghilangkan rasa sakit, sesuatu yang dibungkus dengan cinta maka semuanya bisa terjadi, termasuk hubungan cinta ini juga mendasari berlangsungnya perkawinan. Mula-mula dua orang yang saling tertarik, jatuh cinta, kawin dan mengadakan penyesuaian terus menerus di dalam perkawinan, agar perkawinan tetap terpelihara. Pada dasarnya cinta terdiri atas 4 elemen utama yaitu :

a. Pengertian

b. Kepercayaan

c. Kerjasama

d. Pernyataan kasih sayang

3. KARAKTERISTIK MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK SOSIAL

Telah berabad-abad konsep manusia sebagai makhluk sosial itu ada yang menitik beratkan pada pengaruh masyarakat yang berkuasa kepada individu. Dimana memiliki unsur-unsur keharusan biologis, yang terdiri dari:

1. Dorongan untuk makan

2. Dorongan untuk mempertahankan diri

3. Dorongan untuk melangsungkan jenis

Menurut Komarudin Hidayat[15], manusia mempunyai kesadaran kognitif bahwa manusia begitu kecil, terbatas, dan tak berdaya dihadapan keagungan dan kompleksitas semesta. Dari tahapan diatas menggambarkan bagaimana individu dalam perkembangannya sebagai seorang makhluk sosial dimana antar individu merupakan satu komponen yang saling ketergantungan dan membutuhkan. Sehingga komunikasi antar masyarakat ditentukan oleh peran oleh manusia sebagai makhluk sosial.

Dalam perkembangannya manusia juga mempunyai kecenderungan sosial untuk meniru dalam arti membentuk diri dengan melihat kehidupan masyarakat yang terdiri dari :

1. Penerimaan bentuk-bentuk kebudayaan, dimana manusia menerima bentuk-bentuk pembaharuan yang berasal dari luar sehingga dalam diri manusia terbentuk sebuah pengetahuan.

2. Penghematan tenaga dimana ini adalah merupakan tindakan meniru untuk tidak terlalu menggunakan banyak tenaga dari manusia sehingga kinerja mnausia dalam masyarakat bisa berjalan secara efektif dan efisien.

Pada umumnya hasrat meniru itu kita lihat paling jelas di dalam ikatan kelompok tetapi juga terjadi didalam kehidupan masyarakat secara luas. Dari gambaran diatas jelas bagaimana manusia itu sendiri membutuhkan sebuah interaksi atau komunikasi untuk membentuk dirinya sendiri malalui proses meniru. Sehingga secara jelas bahwa manusia itu sendiri punya konsep sebagai makhluk sosial.

Yang menjadi ciri manusia dapat dikatakan sebagai makhluk sosial adalah adanya suatu bentuk interaksi sosial didalam hubungannya dengan makhluk sosial lainnya yang dimaksud adalah dengan manusia satu dengan manusia yang lainnya. Sebagai makhluk sosial karena manusia menjalankan peranannya dengan menggunakan simbol untuk mengkomunikasikan pemikiran dan perasaanya. Manusia tidak dapat menyadari individualitas, kecuali melalui medium kehidupan sosial.

Manisfestasi manusia sebagai makhluk sosial, nampak pada kenyataan bahwa tidak pernah ada manusia yang mampu menjalani kehidupan ini tanpa bantuan orang lain.

Kedudukan Manusia sebagai Makhluk Sosial

Manusia sebagai makhluk sosial artinya manusia sebagai warga masyarakat. Para psikolog berpendapat, kebutuhan utama kita sebagai manusia dan untuk menjadi manusia yang sehat secara rohaniah, adalah kebutuhan akan hugungan sosial yang ramah, yang hanya bisa terpenuhi dengan membina hubungan baik dengan orang lain[16]. Dalam kehidupan sehari-hari manusia tidak dapat hidup sendiri atau mencukupi kebutuhan sendiri. Meskipun dia mempunyai kedudukan dan kekayaan, dia selalu membutuhkan manusia lain. Setiap manusia cenderung untuk berkomunikasi, berinteraksi, dan bersosialisasi dengan manusia lainnya. Dapat dikatakan bahwa sejak lahir, dia sudah disebut sebagai makhluk sosial.

Hakekat manusia sebagai makhluk sosial dan politik akan membentuk hukum, mendirikan kaidah perilaku, serta bekerjasama dalam kelompok yang lebih besar. Dalam perkembangan ini, spesialisasi dan integrasi atau organissai harus saling membantu. Sebab kemajuan manusia nampaknya akan bersandar kepada kemampuan manusia untuk kerjasama dalam kelompok yang lebih besar. Kerjasama sosial merupakan syarat untuk kehidupan yang baik dalam masyarakat yang saling membutuhkan. Perubahan-perubahan dalam proses sosial tidak lain adalah perubahan dalam kondisi kehidupan, pengorganisasian, reproduksi, produksi, dan distribusi, sesuai dengan bagaimana orang-orang mengalami dan mengonseptualisasikan hidup mereka[17].

Kesadaran manusia sebagai makhluk sosial, justru memberikan rasa tanggungjawab untuk mengayomi individu yang jauh lebih ”lemah” dari pada wujud sosial yang ”besar” dan ”kuat”. Kehidupan sosial, kebersamaan, baik itu non formal (masyarakat) maupun dalam bentuk-bentuk formal (institusi, negara) dengan wibawanya wajib mengayomi individu.

C. KESIMPULAN

Di dalam kehidupannya, manusia tidak hidup dalam kesendirian. Manusia memiliki keinginan untuk bersosialisasi dengan sesamanya. Ini merupakan salah satu kodrat manusia adalah selalu ingin berhubungan dengan manusia lain. Hal ini menunjukkan kondisi yang interdependensi. Di dalam kehidupan manusia selanjutnya, ia selalu hidup sebagai warga suatu kesatuan hidup, warga masyarakat, dan warga negara.

Hidup dalam hubungan antaraksi dan interdependensi itu mengandung konsekuensi-konsekuensi sosial baik dalam arti positif maupun negatif. Keadaan positif dan negatif ini adalah perwujudan dari nilai-nilai sekaligus watak manusia bahkan pertentangan yang diakibatkan oleh interaksi antarindividu. Tiap-tiap pribadi harus rela mengorbankan hak-hak pribadi demi kepentingan bersama Dalam rangka ini dikembangkanlah perbuatan yang luhur yang mencerminkan sikap dan suasana kekeluargaan dan kegotongroyongan. Pada zaman modern seperti saat ini manusia memerlukan pakaian yang tidak mungkin dibuat sendiri.

Dengan demikian manusia sebagai makhluk sosial berarti bahwa disamping manusia hidup bersama demi memenuhi kebutuhan jasmaniah, manusia juga hidup bersama dalam memenuhi kebutuhan rohani.

DAFTAR PUSTAKA

Abu Izzudin, Solikhin. 2012. The Way To Win. Yogyakarta : Pro-U Media.

Ahmadi, Abu. 1999. Psikologi Sosial. Jakarta : PT Rineka Cipta.

Fink, Hans. 2003. Filsafat Sosial. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

Gerungan, W.A. 1988. Psikologi Sosial. Bandung : PT Eresco.

Komarudin, Hidayat. 2006. Psikologi Beragama. Jakarta : Hikmah.

Mulyana, Deddy. 2011. Ilmu Komunikasi. Bandung : PT Remaja Rosda Karya.

Rukminto Adi, Isbandi. 1994. Psikologi, Pekerjaan Sosial Dan Ilmu Kesejahteraan Sosial. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.

Sunyoto, Danang. 2011. Perilaku Organisasional. Yogyakarta : Caps.

Walgito, Bimo. 2003. Psikologi Sosial (Suatu Pengantar). Yogyakarta : Penerbit Andi.

[1] Bimo Walgito, Psikologi Sosial (Suatu Pengantar), (Yogyakarta : Penerbit Andi), 2003, hlm.65.

[2] W.A. Gerungan, Psikologi Sosial, (Bandung : PT Eresco), 1988, hlm. 57.

[3] Abu Ahmadi, Psikologi Sosial, (Jakarta : PT Rineka Cipta), 1999, hlm. 54-55.

[4] Isbandi Rukminto Adi, Psikologi, Pekerjaan Sosial Dan Ilmu Kesejahteraan Sosial, (Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada), 1994, hlm. 196.

[5] Bimo Walgito, Psikologi Sosial (Suatu Pengantar), (Yogyakarta : Penerbit Andi), 2003, hlm. 66.

[6] W.A. Gerungan, Psikologi Sosial, (Bandung : PT Eresco), 1966, hlm. 36.

[7] Bimo Walgito, Psikologi Sosial (Suatu Pengantar), (Yogyakarta : Penerbit Andi), 2003, hlm. 67.

[8] W.A. Gerungan, Psikologi Sosial, (Bandung : PT Eresco), 1991, hlm. 61.

[9] Bimo Walgito, Psikologi Sosial (Suatu Pengantar), (Yogyakarta : Penerbit Andi), 2003, hlm. 63.

[10] Abu Ahmadi, Psikologi Sosial, (Jakarta : PT Rineka Cipta), 1999, hlm. 64.

`[11] Ibid : hlm.229.

[12] Ibid : hlm. 233.

[13] Danang Sunyoto, Perilaku Organisasional, (Yogyakarta : Caps), 2011, hlm.75.

[14] Solikhin Abu Izzudin, The Way To Win, (Yogyakarta : Pro-U Media), 2012, hlm.251.

[15] Komarudin Hidayat, Psikologi Beragama, (Jakarta : Hikmah), 2006, hlm.xiii.

[16] Deddy Mulyana, Ilmu Komunikasi,(Bandung : PT Remaja Rosda Karya), 2011, hlm.16.

[17] Hans Fink, Filsafat Sosial, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar), 2003, hlm. 2.

luvne.com ayeey.com cicicookies.com mbepp.com kumpulanrumusnya.comnya.com tipscantiknya.com