<script async src="//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js"></script> <!-- iimrohimah --> <ins class="adsbygoogle" style="display:inline-block;width:468px;height:60px" data-ad-client="ca-pub-4533907847127524" data-ad-slot="6841261291"></ins> <script> (adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({}); </script>

Kamis, 01 November 2012

Tawuran Peer Keluarga


Tawuran memang merupakan bentuk konflik yang melibatkan banyak orang. Artinya di dalamnya ada solidaritas dan sensitivitas kelompok. Namun bagaimanapun tawuran adalah bentuk kekerasan dan berisi prilaku destruktif yang dapat berdampak negatif baik bagi mereka yang terlibat maupun bagi lingkungan sekitar.
            Sayangnya, selama ini tawuran dilakukan oleh remaja yang statusnya pelajar. Bahkan tawuran seakan sudah menjadi budaya yang mengakar di kalangan mereka dan lebih parahnya pelakunya justru menganggap tawuran adalah sebuah gengsi tersendiri. Mereka merasa gagah dan bangga terlibat dalam aksi tersebut. Padahal perbuatannya menunjukkan ketidak pandaian mereka dalam menyelesaikan konflik.
            Pengambilan sikap dalam menyelesaikan konflik pribadi maupun kelompok ini disebabkan bentuk emosi yang kurang terlatih. Sedangkan pembentukan emosi dilakukan di lingkungan terkecil, yaitu keluarga. Oleh karena itu, budaya tawura dapt diatasi kembali oleh keluarga dengan cara; Pertama, menjalin komunikasi yang baik antara orang tua dan anak. Orang tua hendaknya berperan sebagai teman dalam memberikan feedback agar si anak bisa mengeluarkan keluh kesahnya secara positif tanpa harus menyimapang ke prilaku destruktif.
            Kedua, menjaga keharmonisan keluarga. Karena kondisi keluarga yang harmonis dapat berpengaruh terhadap emosi anak. Hal ini dapat diwujudkan dengan tidak mengekang atau mendikte apa yang dikerjakan sang anak selama itu positif, juga menjaga sikap di depan mereka. Misalnya menghindari pertengkaran dan membiasakan menyelesaikan konflik keluarga dengan cara komunikasi yang baik. Akibatnya mereka akan belajar menghargai orang lain baik dalam keluarga maupun lingkungan sosial di masyarakat.
            Ketiga, menanamkan pendidikan agama. Bagaimanapun agama dapat menjadi benteng bagi para remaja dalam prilaku mereka. Karena di dalamnya terdapat prinsip menghargai hidup dan lebih mengarahkan pada perbuatan yang lebih bermanfaat. Sikap destruktif dalam tawuran jelas menunjukkan tidak adanya sikap tersebut.
            Maka budaya tawuran ini tak hanya menjadi peer bagi sekolah, namun lebih akan berpengaruh bila pengentasannya kembali di lakukan oleh keluarga. Karena keluarga lebih besar pengaruhnya dalam pembentukan emosi anak.

0 komentar:

Posting Komentar

luvne.com ayeey.com cicicookies.com mbepp.com kumpulanrumusnya.comnya.com tipscantiknya.com