Sumpah Pemuda: Jati Diri yang Terlupakan

Pemuda sering disebut sebagai aset bangsa yang berharga. Mengapa tidak, mereka memiliki kemampuan berpikir yang idealis, segar, dan semangat yang meluap-luap. Bila berkaca pada sejarah misalnya, banyak peristiwa besar yang melibatkan para pemuda, bahkan merekalah penggerak peristiwa-peristiwa tersebut. 
            Selayaknya jiwa pemuda sejati itu dimiliki oleh kaum muda saat ini terutama mahasiswa yang bertitel kaum akademis. Mahasiswa adalah kaum muda yang sekaligus memiliki kesempatan mengasah potensi dirinya dalam kancah pendidikan. Dikarenakan memiliki dua potensi tersebut, yakni jiwa muda dan akademisinya, seringkali mahasiswa disebut sebagai “agent of social change”.
            Sebutan tersebut mengandung sesuatu yang disebut sebagai jati diri mahasiswa. Agent of social change mengandung makna kewajiban, kualitas ideal, serta kesadaran akan tanggung jawab mahasiswa atas diri, keluarga, lingkungan sosial, hingga cakupan negara. 
Mayoritas Vs Minoritas
            Sayangnya saat ini mahasiswa masih terbawa arus budaya foya-foya, kenakalan remaja, dan sejumlah prilaku kurangnya jiwa tanggungjawab. Lebih parah lagi banyak mahasiswa yang tak tahu tujuan hidupnya.
            Pernyataan tersebut bukanlah tanpa alasan. Di kalangan mahasiswa, dikenal dua golongan mahasiswa yang sering disebut kaum minoritas dan kaum mayoritas. Mahasiswa yang mendekati ideal sebagai pemuda sejati justru adalah kaum minoritas yang jumlahnya sedikit. Jadi para mahasiswa saat ini didominasi kaum mayoritas, yakni kaum muda yang lupa diri dan kehilangan kesadaran akan jati dirinya.
            Secara kasat mata, kaum mayoritas dapat dikenali dari aktivitas keseharian mereka. Mereka bukan aktivis dan tidak pula layak disebut kaum akademis. Mereka juga tidak menyibukkan diri dengan aktivitas produktif yang dapat menciptakan kemajuan bagi dirinya secara pribadi. Kalaupun tercatat sebagai anggota sebuah organisasi, mereka tak terlibat aktif dalam kegiatan di dalamnya. Lebih memprihatinkan lagi, bila melihat bagaimana mereka belajar di kampus. Seakan tak ada niat menuntut ilmu dengan sungguh-sungguh.
            Ruang kuliah didominasi oleh mahasiswa yang tidur di kelas, ngobrol, main HP, dan sebagainya. Bila masuk kelas, biasanya  memilih duduk di kursi belakang agar mereka leluasa melakukan aktivitas yang mereka inginkan. Hasilnya, waktu terbuang sia-sia begitu saja tanpa adanya pertambahan kualitas intelektual.
            Akibatnya terlahirlah budaya-budaya negatif lainnya seperti copy paste tugas kuliah, membayar orang dalam mengerjakan makalah, hingga menyontek saat ujian. Parahnya lagi, pada akhirnya budaya menyontek mereka maknai sebagai bentuk solidaritas dan kepedulian terhadap sesama. Ini disebabkan kritisnya kondisi  kualitas keilmuan yang mereka miliki itu.
            Berbicara tentang mahasiswa yang sering disebut kaum minoritas pun, tak semuanya memiliki jiwa pemuda sejati sepenuhnya. Kaum minoritas diartikan sebatas perlambang bagi mahasiswa yang nampak aktif, konsisten dalam produktivitas, serta memiliki kesadaran dan tanggungjawab. Mereka masih memerlukan evaluasi dalam kualitas mentalnya. Sebagian mereka masih tergolong “mau bekerja (sadar akan tanggungjawab), tapi tidak tau pekerjaan”.  Mereka aktif bila ada intruksi dan gebrakan dari orang lain. Mental mereka bisa diumpamakan seperti gerobak, yang memiliki fungsi bila di dorong dan bergerak bila ada yang menggerakan. Namun, mental tersebut masih lebih baik dibandingkan orang yang “tak mau bekerja, dan tak tahu pekerjaan”.
            Hanya sebagian kecil dari kaum minoritas ini yang benar-benar “mau bekerja dan tahu pekerjaan”. Sedikit dari mereka yang memiliki jiwa kreatif, konsisten bergerak, semangat dalam produktivitas, serta memiliki inisiatif yang mandiri dalam menciptakan kemajuan diri serta lingkungan sosialnya.
Peer Kaum Muda
            Walaupun saat ini negara kita tak lagi berada dalam jeratan kolonialisme, namun justru kini kita berada dalam jajahan non fisik berupa penjajahan ideologi dan kenyamanan. Sedangkan penjajahan nonfisik ini keberadaannya tidak disadari oleh kaum muda. Imbasnya berpengaruh pada pola pikir pemuda termasuk mahasiswa. Mereka enggan memikirkan negara dan lebih senang memuaskan dahaga muda mereka. Secara tidak sadar, para kaum muda telah terbelenggu oleh penjajahan nonfisik di atas.
            Pemuda memiliki sejumlah peer di pundaknya dengan melihat eksistensi bangsa ini yang semakin rapuh. Juga permasalahan seperti korupsi, terorisme, kemiskinan, rendahnya kualitas pendidikan, dan sederet panjang permasalahan negeri menjadi tantangan bagi para tunas bangsa ini.
            Tak hanya masalah lokal, pemuda harus pula menghadapi tantangan global.            Persaingan dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan kesempatan besar bagi pemuda untuk terjun dalam ranah kompetensi dan perjuangan meningkatkan potensi diri.
            Kaum muda menjadi cerminan nasib bangsa di masa yang akan datang. Karena mereka adalah calon pemimpin yang seharusnya dipersiapkan kualitas dan kuantitasnya sekarang agar nanti terbentuk para pemimpin handal yang dapat membangun negara lebih maju dan sejahtera. Sehingga negara ini menjadi kebanggaan rakyatnya.
            Semua itu selayaknya disadari betul oleh para pemuda khususya mahasiswa. Namun bila kondisi para pemuda ini didominasi oleh kaum yang lupa akan jati dirinya, bagaimana nasib bangsa kita nanti? Maka tugas para pemuda sejati untuk menyadarkan sesama tunas bangsa yang masih terlena dalam ‘tidur’nya. Kesadaran nampakanya merupakan hal yang langka dan mahal harganya. Oleh karena itu, manfaatkan aset berharga ini untuk menciptakan budaya yang dapat memicu kesadaran mereka yang masih ‘terlena’, agar menjadi pemuda sejati.
-->


-->

Artikel Terkait

Komentar