Saling Mengerti


Negara demokrasi memberi kelonggaran bagi rakyat untuk menyampaikan aspirasi. Berbagai aksi dilakukan oleh mahasiswa untuk menyampaikan pendapat, penolakan, atau ketidakberpihakan terhadap suatu kebijakan pemerintah. Cara yang ditempuh bisa dengan  menulis artikel, pernyataan sikap, unjuk rasa, hingga aksi protes seperti kasus  bakar diri yang dilakukan Sondang Hutagalung yang terjadi baru-baru ini.
Mahasiswa dianggap sebagai jembatan antara  rakyat dan petinggi negra. Mereka dikenal intelek dan suaranya lebih didengar. Namun, karena mereka punya kredibilitas ungul dan ada di posisi yang strategis itulah, mahasiswa harus bisa menjaga kredibilitas itu dengan bersikap lebih bijak dan menghindari pandangan negatif dari publik. Mereka harus pandai memertimbangkan apakah cara mereka efektif atau hanya penumpah emosi sesaat.
Efektif dan tidaknya suatu aksi yang dilakukan oleh mahasiswa juga dilihat bagaimana hasilnya.  Apakah pemerintah merespon lalu terjadi perubahan, atau aksi para mahasiswa itu seperti angin lalu saja, tidak terjadi apa-apa. Pemerintahpun harus peka, jangan sampai fenomena demo anarkis yang dilakukan mahasiswa hanya menjadi pegisi dan penghangat berita-berita di media massa.
Walau aksi mahasiswa dipandang negatif, selama aspirasi mereka menyuarakan permintaan yang memang benar, pemerintah harus berusaha mengabulkan aspirasi mereka. Dalam hal ini, pemerintah
harus maklum bahwa mahasiswa adalah kaum muada yang berapi-api, kadang tidak menimbang apa yang mereka kerjakan dengan matang. Mahasiswa pun harus berusaha lebih bijak dalam menyerukan pendapat dengan melakukan komunikasi yang baik dengan pemerintah.

Artikel Terkait

Komentar