Fenomena Keberagamaan Anak Kost

Oleh: Iim Rohimah*

A. Pendahuluan

Menurut para ilmuwan sosial, kehidupan mausia yang terbentang sepanjag sejarah selalu dibayang-bayangi oleh apa yang disebut agama. Bahkan dalam kehidupan sekarang pun –dengan kehidupan teknologi supramodern-- manusia tak luput dari agama. Agama-agama lahir pada bapak sejarah
pramodern, sebelum masyarakat dan dunia diwarnai perkembangan pesat ilmu dan teknik. Peter L. Berger melukiskan agama sebagai suatu kebutuhan dasar manusia, karena agama merupakan sarana untuk membela diri terhadap segala kekacauan yang mengancam hidup manusia.[1]

Hampir semua masyarakat manusia mempunyai agama. Malinowski menyatakan, “Tidak ada bangsa, bagaimanapun primitifnya, yang tidak memiliki agama dan magi”. Agama dapat dipandang sebagai kepercayaan dan pola prilaku yang diusahakan oleh suatu masyarakat untuk menangani masalah penting yang tidak dapat dipecahkan oleh teknologi dan teknik organisasi yang diketahuinya. Untuk mengatasi keterbatsan itu, orang berpaling kepada manipulasi kekuatan supranatural.

Agama memberi makna pada kehidupan individu dan kelompok, juga memberi harapan tentang kelanggengan hidup sesudah mati. Agama dapat menjadi sarana manusia untuk mengangkat diri dari kehidupan duniawi yang penuh penderitaan, mencapai kemandirian spiritual. Agama memperkuat norma-norma kelompok, sanksi moral untuk perbuatan perorangan, dan menjadi dasar persamaan tujuan serta nilai-nilai yag menjadi landasan keseimbangan masyarakat.

Kemudian bagaimana halnya posisi dan peran agama dalam keseharian orang-orang di dunia kost? Kost yang menjadi objek penelitian saya keseluruhan penghuninya beragama Islam. Oleh karena itu, yang menjadi pusat perhatian saya adalah bagaimana mereka menjalankan syariat Islam dalam keseharian mereka, serta peran dan posisi agama dalam kehidupan mereka.

B. Kehidupan Keseharian Anak kost

Jika sekelompok umat muslim tinggal bersamaan di suatu tempat, berarti ketika datang waktu subuh gemercik air wudlu mulai terdengar. Kemudian tak lama setelah itu, alunan bacaan ayat-ayat suci al-qur’an yang syahdu semarak di setiap kamar kost yang semua penghuninya ber-KTP Islam. Namun pada kenyataannya, hingga pukul 05.30 kamar mandi masih sepi dan pintu kamar-kamar masih terkunci rapat. Anak-anak masih terbuai mimpi. Tidak ada yang mengatur agar mereka bangun pukul 04.00 pagi supaya kewajiban mendirikan shalat tidak terabaikan. Bahkan tak ada budaya saling mengingatkan tatkala datang waktu shalat yang lima waktu, kecuali memang sang teman yang diingatkan adalah orang yang rajin shalat. Ibadah ritual tidak dipandang sebagai kebutuhan ruhani, akan tetapi sekedar kepentingan identitas dan harga diri sebagai orang yang memiliki agama formal. Jika tidak mengerjakan ibadah wajib seperti shalat, ada rasa khawatir kalu-kalau ada legalisasi manusia kurang suci di mata orang lain.

Bila kita berbicara tentang kehidupan kost, berarti kita berbicara tentang budaya kebebasan. Bebas dalam arti leluasa mengerjakan apapun selama tidak bertentangan dengan kepentingan orang lain. Keseharian anak kost tidak terikat peraturan yang ketat. Paling banter peraturan supaya tidak diluar kost melebihi pukul 21.00. Mereka dituntut untuk izin kepada ibu kost bila hendak keluar dalam waktu lama, misalnya mau nginep di rumah teman.

Begitu pula dalam hal berpacaran, tidak ada yang mengatur apakah mereka mau jalan atau berpacaran dengan siapa, pergi dengan siapa, asal jam 21.00 sudah ada di kamar. Tujuannya tidak lain untuk menjaga keamanan rumah kost, jangan sampai kemalingan gara-gara pintu tidak dikunci, atau si anak yang keluar dipastikan dalam keadaan selamat. Mereka akan berpikir dua kali bila ada niatan mendakwahi soal ada tidaknya pacaran dalam Islam, menerangkan pacaran dalam kaca mata Islam, atau bahaya pacaran kepada mereka yang hobi gonta ganti pasangan. Karena dapat dipastikan, orang yang didakwahi malah akan mengaggap si pen-dakwah sebagai orang yang tidak laku dan iri padanya karena ‘tidak laris’.

Dalam etika pergaulan sehari-hari, yang menjadi tolak ukur pergaulan mereka adalah berdasarkan etis atau tidaknya sikap mereka, bukan berdasarkan sudut pandang ajaran agama Islam. Tatkala seseorang segan untuk memakai barang milik teman sekamar tanpa izin atau dalam Islam disebut ghasab, bukan karena takut akan hukum Islam yang mengatakan bahwa ghasab itu dosa besar. Melainkan takut dibenci atau menurut nuraninya ghasab itu tidak etis dilakukan.

C. Hubungan Sosial Antar Individu Anak Kost

Kost merupakan suatu rantai proses kehidupan yang menuntut kemandirian serta tanggung jawab yang mutlak dijalani oleh setiap individu sebagai pendatang terutama yang menuntut ilmu di daerah lain. Kehidupan sebagai anak kost membuat mereka harus beradaptasi dengan lingkungan baru, kebudayaan baru dan kebiasaan baru. Kehidupan kost memang sangatlah berbeda dengan kehidupan di rumah yang memang serba cukup dan santai. Sedangkan kehidupan sebagai anak kost identik dengan kehidupan yang serba ada, irit, penuh perhitungan, penuh tanggung jawab dan kemandirian. Tentu saja sebagai pendatang, yang biasanya ada orang tua yang selalu menemani dan menjaga kita di rumah, kini jauh dari mereka. Di kost, kita bisa memiliki banyak teman dari berbagai daerah yang memiliki kebudayaan yang beraneka ragam dan lingkungan masyarakat di sekitar kost yang pastinya baru.

Sepanjang menjalani kehidupan sebagai anak kost terdapat berbagai masalah yang dihadapi dari diri sendiri, teman-teman dan lingkungan sekitar. Dari diri sendiri terdapat banyak konflik yang muncul seperti ketidaknyamanan, keasingan, kerinduan akan situasi dan kondisi yang biasanya. Tetapi lama-kelamaan konflik diri tersebut akan berangsur-angsur hilang sesudah beradaptasi dengan keadaan, kondisi dan kebiasaan. Kehadiran teman juga sangat penting dan berpengaruh. Dalam berinteraksi dengan teman satu kost, dibutuhkan sikap penempatan diri yang bagus, mudah serta bisa diterima oleh dari mulai kakak tingkat, teman seangkatan hingga adik di bawah angkatan.

Memang, dengan ngekost akan malatih jiwa sosial dan kepedulian kepada orang lain. Karena pada dasarnya secara hakiki, manusia memang makhluk sosial yang tak pernah lepas dari kebutuhan interaksi dang hubunagn sosial dengan orang lain.[2] Ada rasa senasib seperjuangan dalam diri mereka, sehingga muncul solidaritas antar individu dalam kehidupan sosial mereka. Ego dan sikap mementingkan diri sendiri akan melebur dengan kepentingan orang di sekitarnya dengan proses sosiaisasi. Selain itu, rasa empati dan kepedulian akan meningkat seiring dengan berjalannya waktu. Realitanya, dapat kita lihat misalnya bila ngangkat jemuran. Seorang anak kost mau repot-repot mengangkat dan mengangkut jemuran teman sekost sebanyak apapun itu bila hujan turun atau hari sudah menjelang sore. Walaupun terlihat sepele, tapi ini merupakan contoh bentuk solidaritas dalam kehidupan mereka.

D. Posisi dan Fungsi Agama Bagi Anak Kost

Istilah kost ada bersamaan dengan tuntutan zaman yang menginjak era modern. Dimana penghuninya sudah pasti merupakan miniatur masyarakat modern dan kehidupan religiusitas mereka dapat menjadi sampel religiusitas masyarakat modern. Dalam kehidupan modern ini, lahir manusia beragama yang berpikiran sekuler memisahkan agama dalam kehidupan dunia. Cara hidup, bekerja, dan berpikir terlepas dari sentuhan agama dan moral. Huxley mengingatkan don't bother about God --- jangan hiraukan Allah dan jangan sebut-sebut lagi Tuhan dalam diskusi. Ironisnya, manusia modern lebih mengandalkan rasio daripada agama.

Roderic C Meredith menyatakan kondisi masyarakat modern itu lebih mendewakan gaya hidup serbaboleh (permissive society). Ini berlaku dalam kehidupan kost. Kasarnya, seakan kebaikan, keburukan, kebenaran, dan kesalahan, manusialah yang berhak menafsirkan. Setiap orang bebas melakukan apa saja sesuka hatinya. Namun perlu digarisbawahi bahwa kebebasan mereka pun akan terbatasi bila terbentur dengan kepentingan orang lain demi perdamaian dan menghindari keributan. Mereka kurang apresiatif terhadap ajaran agama karena meyoritas rendahnya pengetahuan terhadap ajaran agama Islam. Oleh karena itu jarang yang menyadari ketinggian nilai agama.

Agama berfungsi sebagai filter dalam kehidupan manusia. Agama juga berperan sebagai 'kompas pemberi petunjuk' setiap aktivitas. Sistem keyakinan dan aktivitas agama merupakan sistem sosial dan simbolis moral. Para antropolog memandang agama memainkan peran penting dalam masyarakat karena sistem moral dan ketaatan menjadi prasyarat menciptakan masyarakat yang teratur (social order) sehingga tercipta keharmonisan. Namun kenyataannya, agama nampak menjadi sesuatu yang tidak perlu bagi keseharian mereka.

E. Penutup

Pengaruh zaman modern secara tidak langsung menyebabkan mayoritas anak kost kurang menyadari nilai tinggi yang dimiliki ajaran agama. Sehingga mereka tidak memakai agama sebagai patokan etika dan moral dalam kehidupan mereka. Implikasinya, ritual seperti shalat, puasa sunah, dan amalan lainnya menjadi aktivitas yang langka dalam kehidupan sehari-hari. Shalat yang idealnya menjadi kebutuhan, karena berfungsi sebagai scanner ‘firus-firus hati’, hanya menjadi rutinitas semata. Bahkan menjadi rutinitas yang mulai ditinggalkan, karena di mata mereka ritual itu mulai kehilangan maknanya.

Daftar Pustaka

Kahmad, Dadang, Sosiologi Agama, Rosda Karya, Bandung. 2006

‘Ulwan, ‘Abd Allah Nasihin, Indahnya Hidup Bersama, Solidaritas Sosial Dalam Islam, Serambi. Jakarta. 2001

Gerungan, W.A., Psikologi Sosial, Refika Aditama, Bandung. 2002

Hanani, Silfia, Menggali Interelasi Sosiologi dan Agama, Humaniora, Bandung, 2011



[1] Kahmad, Dadang, Sosiologi Agama, Rosda Karya, Bandung. 2006. Hal. 119

[2] Gerungan, W.A., Psikologi Sosial, Refika Aditama, Bandung. 2002